30

1316 Kata
Jangan lupa tap love yaa. Selamat membaca, Guys! *M a t a h a r i* Di atap rumah sakit kedua insan itu masih duduk menatap langit yang mulai mengelam. Jingga di langit mulai memudar saat sang bintang raksasa tenggelam kembali pulang ke singgasana. Diiringi cericit burung walet yang berhamburan di angkasa seolah berlomba untuk sampai ke sarangnya lebih cepat. Setelah seharian letih beterbangan. Senja menghela napas setelah menyesap habis kopi hitam dalam gelas sterofoam tersebut. Matanya masih senantiasa menatap lurus ke depan, sama dengan Ata. Meski tak banyak yang mereka bicarakan, entah kenapa sore ini Ata terdengar seperti orang lain. Bukan, maksud Senja. Gadis itu menjadi sosok yang sedikit lebih hangat. Mungkin karena Matahari mulai belajar tersenyum dengan tulus, melepas dengan ikhlas. "Masih nggak mau cerita?" Senja mengisi kesunyian di antara mereka dengan sebuah tanya. Gadis di sebelahnya melirik sekilas, sebelum kemudian menatap kedua kakinya yang selonjoran. Membiarkan anak rambut sepundaknya itu diterbangkan angin tak terarah. "Gimana aku mau cerita, kalau kamu nggak bener-bener mau tanya?" balas gadis itu. Senja berdehem. Cowok itu akhirnya menegakkan tubuh dan berpindah posisi tepat di depan Ata. Sehingga atensi gadis itu murni hanya tertuju pada Senja. Melihat hal itu Ata berkedip beberapa kali, tak mengerti dengan apa yang tengah Senja lakukan dengan duduk di depan sana sambil memegang tangannya. "Aku mau denger semuanya, dari hal yang paling kamu benci, sampai paling kamu sukai." Ata mengerjap, menunjukkan manik kayunya yang menawan pada Senja. Sosok lelaki yang kerap ia bentak dan diminta pergi, tetapi sesungguhnya amat sangat ingin dipertahankan di sisinya. Di amati sepasang mata Senja. Manik sehitam jelaga itu tak pelak selalu memberikan ketenangan yang nyata. Ata serasa dibawa terbang ke nirmala, memutari semesta dan isinya. Sebab tak pernah ada keraguan dalam tatapan Senja. Sejauh ini ketulusan itu murni dirasakan oleh Ata. "Aku paling suka saat ini," lirihnya. Sebelah alis Senja terangkat, tetapi matanya masih terus menyoroti Ata yang tersenyum manis padanya. "Duduk lihat Senja sama kamu. Biarpun nggak sempurna, tapi ... aku suka," ucap Ata kalem. "Apa yang bikin nggak sempurna? Kamu masih belum lepasin dia?" potong Senja. "Kopi." Sebuah kata singkat itu membuat Senja tertawa tanpa suara. Cewek macan di depannya kadang garang, kadang juga menggemaskan. Saat berada dalam fase seperti ini, tak pelak Senja menekan dirinya agak tak banyak berharap. Cukup melihat Ata bahagia maka sudah cukup pula bahagianya. Senja tak mau perasaannya yang terlanjur dalam terlibat lebih jauh dalam hubungannya dengan Ata. Karena Senja jelas tak ingin merusak semuanya, hanya karena sebuah perasaan cinta. Hanya karena? Senja juga gamang perihal itu. Nyatanya, melihat gadis itu terluka saja ia tak sanggup. Cowok itu bahkan rela jika memang harus memberikan hidupnya untuk Ata. "Ngapain senyum-senyum?" tanya Ata, "Ini, nggak usah halu ke mana-mana. Okey!" Cewek itu menegaskan sambil menunjuk pelipis Ata. Seketika tawa di bibir Senja lenyap. Seperti dibawa angin begitu saja, cowok itu menatap gadis di depannya dengan tatapan bodoh. Membiarkan Ata memasang tampang annoying seperti biasa. Gadis itu terlalu unik, tak mudah dipahami. "Kamu suka 'kan, sama aku, Dit?" Mampus! Setengah mampus Senja menelan salivanya susah payah. Mendapati cewek itu menatapnya lurus tepat pada manik hitam, Senja berusaha memalingkan wajah mencari objek lain. "Ap-apaan?" Melihat reaksi tersebut, Ata tersenyum geli. Cewek itu mendorong pundak Senja agar menjauh dari sana. Memberikan waktu pada cowok itu untuk menikmati semburat merah yang menghiadi kedua pipinya. Bagaimana mungkin Senja terlihat begitu menggemaskan. Cowok petakilan yang biasanya selalu mengganggu kedamaian Ata itu mendadak terlihat salah tingkah. Keduanya kembali diam, membiarkan masing masing mata mereka asik memahat keindahan angkasa yang sedang menggoda menunjukkan keagungannya. "Nggak banyak yang aku suka. Selain minum kopi, nikmati senja dan ngelihatin rintik hujan." Ata mengenang masa silam. Memang jika sudah dihadapkan dengan tiga hal itu, Ata bisa saja tak membutuhkan yang lainnya. Sebab sejak kecil ia terbiasa dengan kesepian yang mengungkung. "Meskipun ayah itu cinta pertama buat anak perempuannya, tapi buatku ayah juga patah hati paling besar yang belum ada obatnya," ujarnya berkata jujur. Netra cokelat terang itu masih menyeruak ke angkasa. Menatap gulungan awan yang terlihat begitu menawan. Entahlah, belakangan ini langit sedang menggila, kerap kali menunjukkan pesonanya yang tak main-main. "Nggak cukup sekali aku lihat mama dipukul sama ayah. Setiap malem, aku kebangun karena suara barang pecah, atau minimal tangisan mama. Kalau suasana lagi kondusif paling mereka cuma adu argumen, paling kacau kalau mama udah banting barang terus ayah balik pukul mama," celoteh Ata panjang lebar. Gadis itu tersenyum samar, entah pada siapa. Hanya saja ia tak sanggup menahan kurva simetris yang kini membuat lekungan indah di bibirnya. Di mata Senja, semua itu tak lagi terlihat pedih. Setidaknya senyum milik Ata kali ini benar-benar sebuah ketulusan. Yang datang dari hati saat duduk bersamanya. "Kembaran kamu?" tanya Senja. Sebab ingatan cowok itu berputar pada kejadian saat ia berbincang dengan Aya. Gadis itu, benar-benar tak seperti saudara Ata. Sebab kisah yang mereka ceritakan jelas-jelas saling bertolak belakang. Ah! Senja lupa, Aya tak pernah mengungkit lebih banyak tentang masa kecil mereka. "Aku nggak tau, dan ... nggak mau tau," balas Ata sempat ragu beberapa detik. "Dia pernah kecelakaan? Gegar otak? Kenapa keliatannya dia nggak inget apa-apa soal ini?" tanya Senja lagi. Cowok itu jelas berpikir, bahkan wajahnya terlihat begitu serius. Pasalnya Aya mendatangi dirinya, memohon untuk dipertemukan dengan Ata, gadis itu selalu terlihat seolah dialah yang paling terluka. Sedangkan Ata, jelas gadis itu telah memilih jalan untuk keluar dari rumahnya sendiri. "Dia beneran ngira kalau kalian itu saudara satu ibu? Janggal banget, 'kan?" Mencoba untuk tak merespon, tetapi sialnya cowok di sebelahnya itu masih saja mengungkit tentang Aya. Ia jelas ingat bahwa ayah selalu membawa Aya pergi entah ke mana. Bahkan kebersamaan keduanya saja bisa dihitung dengan jari ketimbang saat mereka berpisah. Sebab itu Aya tak pernah tau kejadian yang dialami Ata, saat-saat mana dipukul ayah, pun dengan ... detik-detik mama menunjukkan bagaimana caranya menyayat nadi kepada anak gadisnya yang baru berusia tujuh tahun. Sebelum kemudian menarik tangan mungil Ata untum masuk ke dalam kolam saat subuh tiba. Ata mendadak menyentuh d**a yang terasa nyeri. Menekan tepat pada jantungnya yang terasa perih. Gadis itu mengerang kecil, sehingga mengundang perhatian Senja yang menghujaninya dengan tanya khawatir. "Kenapa? Kamu kenapa? Mana yang sakit, Ta?" Ata menggeleng pelan, ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin meski sesak terus membuat napasnya tersengal pendek-pendek. Kedua tangan Ata berpindah menutup kedua telinga, saat suara tawa Bayu, Aya, dan kedua orang tuanya mendadak mengisi seluruh indra pendengarannya. Saat itu juga pandangan Ata memburam, bersamaan dengan suara tangis mama yang mulai mendominasi isi kepala. Semuanya datang secara bersamaan, seolah ingin mencekik Ata tanpa ampun. Cewek itu sudah terengah-engah, sedangkan Senja juga mulai panik. Ia bergegas membawa Ata di atas punggung untuk kembali ke kamar perawatan. Namun, tangan dingin Ata menyentuh pergekangan tangan Senja. Yang spontan membuat cowok itu berbalik menatapnya. Sepasang mata Senja hampir saja menciptakan aliran sungai kecil yang akan jatuh, tetapi Ata malah tersenyum sambil menahan kesakitannya. Gadis itu bergerak cepat menarik lengan Senja sehingga ia dapat memeluk cowok itu dengan leluasa. "Maaf, Ta. Aku nggak berm—." "To-long ... sebentar, aj-aa." Sangat jelas suara terbatas milik Ata di telinga Senja. Paham dengan apa yang terjadi, ia segera merengkuh tubuh kurus di depannya itu dengan erat. Senja yakin Ata banyak kehilangan berat badannya. Ia mengusap punggung dan rambut Ata dengan lembut, membiarkan cewek yang menegang dalam pelukan itu kembali rileks seperti semula. "Maafin aku." Sedangkan Ata terus memejamkan mata, mencoba mengatur napas sambil terus berhitung. Sebab dengan demikian Ata bisa kembali tenang. "Aku mau pulang!" Sebuah kalimat pendek yang diucapkan dengan sangat lirih pada telinga Senja. Cowok itu mengangguk tanpa menghentikan aktivitasnya mengelus punggung Ata. "Sebentar lagi, kita pasti pulang," balas Senja. *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Jangan lupa tap love, dan komen ya. Woiya gaiiis, jangan lupa baca juga ceritaku yang lain. Masih gratis wkwk. Sekian terima gajii Love u, gais!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN