31

1706 Kata
Malam itu cuaca dingin semakin terasa menggigilkan. Hujan juga masih turun dengan intonasi yang sama, rintiknya hanya berupa titik-titik kecil yang perlahan pasti membasahi bumi. Seperti tak memiliki hasrat untuk kembali bangun dan menatap Bayu, kini Ata duduk memeluk kedua lutut di depan d**a. Kepalanya di letakkan di antara lipatan lengan sambil terus mengamati setiap titik yang tercipta pada jendela kaca kamarnya. Meski tak sepenuhnya mengerti, tetapi ucapan Bayu yang dilontarkan kepadanya kemarin malam cukup membuat Aya shock. Gadis itu benar-benar tak mengerti, bagaimana mungkin ia tak mengingat apa pun tentang masa kecilnya, selain kebersamaannya dengan Ata. Hanya itu. Sosok mama Anna adalah satu-satunya ingatan yang tertinggal dalam pikiran Aya. Tawa wanita paruh baya di antara kepulan asap kopi dan cokelat panas itu adalah tawa mama Anna. Tangan hangat yang senantiasa mendekapnya setelah seharian lelah bermain dengan Ata dan ayah, adalah tangan mama Anna. Aya masih tak sepenuhnya paham bagaimana mungkin ia bisa melupakan sosok mama yang sesungguhnya. Kini bukan hanya perihal itu yang terus mendesak dalam kepala Aya. Sosok saudara kembarnya yang keras kepala dan kepergian Ata. Semua itu tersusun secara abstrak di dalam kepala Aya malam itu. Ia ingin tahu, tetapi tak berani menanyakan apa pun kepada Bayu. Lebih tepatnya, Aya tak sepenuhnya siap menerima kenyataan yang ada. Helaan napas terdengar lagi dari bibir ranum Aya. Perlahan cewek itu menenggelamkam wajah di antara lipatan tangan, sehingga setitik demi setitik air mata mulai jatuh merem es dari kedua matanya yang indah. Saat ini hanya sesak dan perasaan bersalah yang menguasai d**a Aya. Terlebih pada Ata. Bukankah ia terlalu egois selama ini? Ia tak pernah tau alasan kenapa Ata memilih pergi dari rumah, sedangkan ia sendiri selalu memaksa Ata untuk kembali. Pintu kamar terbuka, tetapi tak membuat Aya bergeming. Gadis itu masih sesenggukan tanpa suara. Selain suara cairan dari hidung yang naik turun. Bayu mendekat, menatap melas pada saudara tak sedarahnya tersebut. Ia tahu, ini bukan sepenuhnya salah Aya, tetapi kebenaran adalah kebenaran yang harus diungkapkan. "Makan dulu, yuk. Setelah ini mas mau ke rumah sakit lagi," tutur Bayu pelan. Tangannya masih hangat mengusap pundak Aya yang naik turun. Akan tetapi, gadis itu tak bergerak sedikitpun. Aya enggan melihat Bayu untuk saat ini, lelaki itu juga paham bahwa gadis di depannya butuh waktu untuk mencerna maksud dari perkataannya kemarin malam. Namun, setidaknya Aya harus makan. Sesuap pun tak ada makanan yang masuk ke perut Aya sejak kemarin. Hal ini tentu saja membuat Bayu khawatir. Ia kembali mendekati Aya, mencoba menarik lengan gadis itu selembut mungkin. "Apa pun yang terjadi, Aya tetep akan jadi adiknya Mas Bayu. Mas cuma nggak mau kamu jadi satu-satunya orang yang nggak tau apa-apa," ucap Bayu jujur. "Kenapa baru sekarang?!" teriak Aya kemudian. Sontak Bayu menatap nanar pada adik perempuannya tersebut. Wajah manis Aya yang biasanya tak pernah absen dihadiri sebuah senyuman, kali ini terlihat begitu sembab. Bayu pun tak ingin menyakiti Aya, tetapi memang sudah seharusnya ia melakukan ini. "Kenapa Mas Bayu baru bilang sekarang? Setelah aku mati-matikan berusaha bawa Ata pulang ke rumah dengan nggak tau malunya." Bayu menghela napas pendek, "Karena bukan Mas yang seharusnya kasih tau ini ke kamu, Ay." Aya menatap lelaki di depannya nyalang, berkali-kali ia menghapus air mata yang masih meleleh membasahi pipi. Meskipun hal itu tak berarti sebab ia tak bisa menghentikan tangisnya saat itu juga. "Mas nunggu ayah kasih penjelasan ini ke kamu, mas nggak mau lancang karena ini urusan keluarga kalian," jelas Bayu. "Bukan keluarga Mas Bayu juga?" sambar Aya menyipitkan sepasang matanya menatap Bayu. "Kamu harusnya tau, bukan itu maksud Mas." Aya menangis lebih kencang, membiarkan air matanya meluluh malam itu. Melepaskan segala sesak yang menaungi d**a. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar, menghela napas pendek sebelum kemudian menarik kepala Aya ke dalam pelukannya. Di tepuk-tepuk punggung Aya dengan pelan, sebisa mungkin Bayu menyalurkan ketenangan di sana. "Aku beneran nggak inget apa-apa." Tangis Aya sesegukan dalam dekapan Bayu. Gadis itu membalas erat pelukan Bayu, bahkan meremas kaos yang dikenakan lelaki itu. "Nggak apa-apa. Bukan salah kamu, Aya. Kita perbaiki semuanya mulai dari sekarang," kata Bayu mencoba menenangkan, "Mas mau ke Rumah sakit lagi, nganter keperluan Mama yang kemarin ketinggalan. Kalau kamu mau ikut makan dulu." Tepukan di pundak Aya masih dirasakan. Sehingga saat gadis itu mulai tenang, ia menegakkan tubuh. Mengusap sisa air mata di pipinya tanpa mengalihkan pandangan dari Bayu. "Mas bilang Ata juga di Rumah sakit?" pertanyaan itu diangguki oleh Bayu. "Aku ikut ke sana." *M a t a h a r i* Sudah kali ke dua Senja mendapat sentilan di telinga dari bunda. Pasalnya bunda sudah panik melihat kamar Ata yang mendadak kosong saat wanita itu kembali setelah mencari makanan untuk anak lelakinya. Setelah cukup lama menunggu, hampir seharian ... Ata kembali dengan digendong oleh Senja di punggung. Senyum menghiasi wajah Ata yang pucat membuat bunda malah semakin khawatir pada gadis itu. "Udah, Nda. Bukan salah Adit, kok. Tadi, Ata yang ngajak keluar cari angin," ucap Ata mencoba menenangkan wanita paruh baya tersebut. "Bunda ngerti. Tapi, kondisi kamu belum bener-bener pulih, Sayang. Bunda cuma khawatir." Wanita itu mengelus kedua pipi putih Ata. "Bunda nggak perlu khawatir, Adit selalu jagain Ata lebih dari dirinya sendiri." Ucapan Ata tersebut tulus dari hati. Membuat cowok yang sejak tadi menunduk mengangkat kepalanya untuk melihat Ata. Cowok yang sejak tadi tertunduk bukan karena dimarahi oleh bunda. Melainkan karena telah membuat Ata merasa kesakitan. Tanpa sengaja Senja telah mengungkit masalalu Ata dan membuat gadis itu harus kembali menghadapi traumanya. "Yaudah, kalian tunggu di sini. Bunda cari makanan sama minuman anget dulu," pamit wanita paruh baya tersebut. Ata mengangguk antusias sambil menatap wanita yang selama sepuluh tahun telah memberikan kasih sayangnya tanpa tapi. Di mata Ata, bunda adalah wanita paling bijaksana. Ia wanita sederhana yang yang tak ingin mempersulit segalanya. Seperti kehadiran Ata yang kerap kali dipertanyakan, bunda akan berada di barisan paling depan untuk mengatakan bahwa Ata adalah anaknya. Ata adalah anugerah dari Tuhan. Jika saja Maryam bisa mengandung Isa tanpa bersuami, maka ia juga bisa memiliki Ata tanpa harus mengandung terlebih dahulu. Bukankah hal ini sebuah mukzijat? Tuhan begitu menyayanginya sehingga mengizinkan dirinya memiliki seorang anak perempuan tanpa harus melalui kesakitan. Begitu kata bunda. Karena baginya melahirkan atau menemukan, semua itu hanya perihal cara, dan untuk Bunda menemukan Ata adalah suatu anugerah yang tak pernah ia sesalkan. Ata masih tersenyum menatap pintu yang menelan bunda. Wanita yang sempat menepuk pundak putranya sambil berjalan melewati Senja. "Ngapain masih di situ?" tanya Ata membuat Senja tersadar dari lamunan. Gadis itu menunjuk kursi yang tak jauh dari brankar tempatnya duduk bersila. Tak banyak bicara Senja hanya menuruti perintah Ata. Cowok itu sudah duduk di sana dengan kepala tertunduk. "Nggapain sih, Dit? Nggak asik tau," ucap Ata bosan. "Sorry!" Ata menghela napas pendek, sebelum kemudian berkata, "bukan salah kamu." "Tetep, aja. Kamu jadi sakit gara-gara aku nanya—." "Emang harusnya gitu." Kini pandangan Senja terangkat cowok itu menatap wajah Ata dari samping. Gadis itu menunduk memainkan jemarinya di atas kasur berlapis sprei. "Kalau kamu nggak nanya, selamanya aku nggak akan cerita." Giliran Ata, ia menoleh pada Senja. Menatap ekspresi datar yang disuguhkan cowok itu untuknya. "Sama kayak yang kamu bilang, aku kira Aya nggak inget apa-apa soal masa lalu kami." Baru saja Ata hampir membuka mulutnya untuk kembali bersuara, tangan Senja sudah menahan tangan Ata. Reflek Ata terdiam menatap tangannya yang digenggam erat oleh cowok di depannya. Pandangan keduanya saling bersirobok dalam diam. "Jangan dilanjutin, aku nggak mau kamu sakit lagi, Ta," ujar Senja. Namun demikian, Ata menolak berhenti. Karena ia sudah memutuskan untuk membagi lukanya dengan lelaki di depannya itu. Ia sudah memutuskan untuk mengajak Senja tersesat di hutan belantara yang begitu gelap dan telah mengurungnya selama sepuluh tahun lamanya. Ia ingin, Senja di depannya menjadi satu-satunya penuntun jalan untuk menukan celah keluar dari segala jalan buntu yang pernah Ata temui. "Aku pasti baik-baik aja, selama kamu di sini, Dit." "Yakin?" tanya Senja meragu dan dengan cepat diangguki oleh Ata. Sedetik kemudian, setelah melihat kesungguhan di wajah Ata. Senja mengangguk, ia kembali menyimak setiap cerita yang akan dijabarkan oleh Ata. Berbagai mimik ekspresi ditampilkan oleh Ata, tetapi gadis itu masih baik-baik saja. Ia terlihat sangat antusias untuk membagi segalanya dengan Senja. "Jadi, Aya nggak pernah tau karena dia nggak pernah ada di sana saat kejadian itu?" Senja mengulang untuk memperjelas. Diangguki singkat oleh Ata, Senja juga ikut mengangguk secara alamiah. "Tapi, aku juga nggak tau, apa yang bikin Aya sepenuhnya lupa sama mama." "Selama ini aku selalu lihat dia baik-baik aja dari jauh. Dia dapet kasih sayang yang cukup dari keluarganya yang baru, dia tumbuh layak kayak anak-anak pada umumnya," jelas Ata. "Mungkin nggak, kalau Ayah kamu nggak pernah nyoba buat cerita ke Aya," terka Senja, "eum ... maksudku, ayah kamu sengaja bikin memori Aya cuma inget kalau keluarga mereka itu cuma mereka. Dan lupain mama kamu?" Ata tampak tersenyum miring, sebelum kemudian ia mengulum bibirnya sendiri. Sialnya sampai saat ini pun ia tak sepenuhnya mengerti mengapa ayah yang dulunya sangat menyayangi mama, berpaling menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teramat sangat membenci mama. "Nggak tau," jawab Ata pendek. Senja tersenyum, ia berdiri dari kursi dan menyodorkan segelas air putih pada Ata. Begitu gelas beralih ke tangan Ata, Senja tersenyum sambil menepuk puncak kepala Ata. "Makasih udah ceritain semuanya ke aku, Ta." Ata menghukum senyum, gadis itu meneguk air putih hingga setengah kosong. Kemudian memberikan kembali gelas kepada Senja untuk di kembalikan pada tempatnya. "Dit?" "Hmm, kenapa?" "Kalau aku pulang, menurut kamu gimana?" tanya Ata masih belum sepenuhnya mendongak menatap Senja. "Kamu pasti pulang. Paling besok." Gadis itu menggeleng, Ia tatap Senja tepat pada sepasang manik matanya. "Pulang ke rumah mereka," tanya Ata. Senja bergeming menatap Ata penuh tanya. Sedangkan seseorang di balik pintu yang hampir saja masuk itu menghentikan langkah mendengar sebuah kalimat yang baru saja diucapkan oleh gadis berambut sepundak tersebut. *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Haii hai hai, Guys! Apa kabar? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Setelah baca cerita ini, jangan lupa tap love dan komen. Apa aja kekurangan dalam tulisan ku, aku selalu menerima kritik dan saran. Okke? So, jangan sungkan-sungkan. Dan lagi, jangan lupa baca cerita ku yang lain yak. TERIMA KASIH :*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN