32

1665 Kata
"Ata cantik, jangan nangis lagi. Ayo main, mamaku udah pergi, kok." Bayu mengulurkan tangannya pada sosok bocah perempuan berambut panjang. Namun, tak ada balasan selain gelengan kepala. Matanya basah, rambut hitam sepunggung miliknya terurai bebas tak rapi. Ata masih menatap Bayu, tetapi enggan menerima uluran tangan bocah lelaki yang lebih tinggi darinya tersebut. "Nggak apa-apa, Ta. Ada aku di sini, jangan takut lagi," sambung Bayu mengusap sisa air mata yang menggengang di pelupuk. "Ayahku jahat." Sepotong kalimat itu mewakili perasaan Ata pada hari yang kian gelap. Sore itu kedua bocah kecil tengah duduk di bibir dermaga. Menggantungkan kakinya, membiarkan sesekali riak air laut yang dingin membelai telapak kaki mungil tersebut. Ata memilih pergi dari rumah, setelah gadis itu tak menemukan tempat untuk bersembunyi di rumah. Pasalnya ayah pulang lebih cepat dari hari biasanya, dan Ata tak bisa lagi menyambut Aya seperti dulu. Kedatangan ayah yang dulu membawa sebuah kantung kresek berlogo kue bolu untum dinikmati bersama keluarganya dan menciptakan tawa. Kini sudah tak lagi sama. Kehadiran ayah hanya membawa sebuah amplop cokelat di tangan, wajah ayah tak pernah tersenyum bahkan di depannya. Menatap Ata saja ayah tak pernah, apa lagi sekedar tersenyum pada Ata. Ata tak tau apa isi dalam amplop yang di bawah ayah. Hanya saja, setiap kali pulang dengan benda itu mama selalu menangis terisak. Sebelum kemudian dihadiahi pukulan keras hingga mama tersungkur jatuh. Bayu tak lagi memaksa Ata untuk bangkit dan pergi dari dermaga. Bocah lelaki itu kini duduk di sisi Ata, mengamati wajah manis yang jarang sekali tersenyum padanya. Ata selalu datang ke dermaga untuk memangis, atau pergi ke taman untuk bersembunyi. Ia seperti bocah tak terurus, dan memang demikianlah kenyataannya. Gadis tujuh tahun itu melakukan segalanya sendirian sebab mama tak lagi peduli padanya. Yang mama pikirkan hanyalah papa dan rasa sakitnya sendirian. Mama lupa bahwa Ata ada bersamanya, butuh kasih sayang atau setidaknya perhatian. Tangan Bayu terulur, menarik pita jingga dari kantung celana yang dikenakan. Lantas merapikan rambut Ata dan mengikatnya ekor kuda dengan pita tersebut. "Selesai, Ata udah lebih cantik." Bayu menatap pita yang ia ikat pada rambut panjang Ata dengan puas. Sontak Ata menoleh pada sosok Bayu, lelaki yang baru ia temui satu minggu lalu. Yang tak sengaja menumpahkan minuman dingin di bajunya dan membuat Ata menangis. Padahal waktu itu Ata menangis bukan perkara tumpahan minuman dari Bayu. Gadis itu memang sudah ingin menangis setelah melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Namun, Bayu terus saja merasa bersalah dan sampai detik ini. Cowok itu selalu menemani Ata. Meskipun tak sekali dua kali mamanya memarahi Bayu untuk menjauhi Ata. Sehingga Ata juga terkadang takut mendekati Bayu. Keduanya sering bertemu secara diam-diam untuk sekedar bercerita atau menenangkan. Lebih tepatnya, Bayu yang mendengarkan cerita Ata. "Buat apa jadi cantik, kalau keluargaku aja udah nggak peduli sama aku?" tanya gadis itu polos. Menatap kaki mungil yang menggantung jauh dari air laut. "Bayu peduli sama Ata." Sebuah kalimat yang diucapkan bocah berusia dua belas tahun tersebut seperti menyihir Ata. Gadis itu menatap Bayu tanpa berkedip sedikit pun. Sedangkan Bayu, ia tersenyum pada Ata lewat kedua matanya yang teduh. "Kapanpun Ata butuh teman, Bayu pasti ada. Kalau nggak di taman, ya di dermaga. Oke?" "Bayu peduli sama Ata?" ulang gadis itu tak sepenuhnya percaya. Anggukan semangat dari Bayu akhirnya menciptakan sebuah kurva simetris yang menghiasi bibir Ata. Gadis kecil itu tersenyum tipis pada Bayu yang mengusap sisa air mata di pipi gembul Ata. "Jadi, Ata nggak boleh nangis lagi." "Bayu nggak boleh pergi, ya. Janji jangan tinggalin Ata sendirian?" Gadis itu mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan wajah Bayu. Dengan cepat Bayu menyambut, menyatukan kelingking mereka untuk mengikat janji juga bayangan dari masa silam. Hingga detik ini bayangan yang sebenarnya fana itu masih saja menghantui Bayu untuk tetap melindungi Ata dalam keadaan apa pun. Sayangnya semesta tak berkehedak demikian. Ia dipaksa pergi bahkan oleh mamanya sendiri, dengan alasan menuntut ilmu di negeri orang lain. Bahkan saat usianya masih terlalu dini. Dua belas tahun Bayu kecil dikirim ke luar negeri hidup bersama paman yang tak begitu akrab dengannya. Memang apa yang bisa Bayu lakukan saat itu selain menuruti semuanya? Ia bahkan tak memiliki hak untuk sekedar menolak. Bayu menghela napas pendek, mencoba meredam segala perasaan yang belum juga sepenuhnya membaik. Mendengar ucapan Ata barusan, seperti mendapat secercah harapan dalam lorong panjang gelap tak berujung yang tengah ia susuri. Cowok itu datang lagi menemui Ata bermaksud mengatur waktu pertemuan untuk Ata dan Aya. Hanya saja cowok itu masih ragu untuk masuk ke dalam ruangan Ata. Terlebih percakapan Ata dan Senja sepertinya terlalu serius, ia hanya tak ingin merusak suasana di dalam sana. Sebab itu Bayu mengurungkan diri untuk masuk dan memilih mematung sejenak menatap kenop pintu. "Mau ketemu Ata?" Sebuah suara seorang wanita sukses membuat Bayu terperanjat dari lamumannya. Cowok itu memutar tubuh, mendapati seorang wanita paruh baya berwajah kalem menatapnya dengan tanya. Namun tak kunjung menjawab, Bayu masih bungkam menerka bahwa wanita di depannya pasti mama dari Senja. Cowok yang kemarin bersikukuh mengusirnya dengan pukulan keras. Sehingga ia merasakan tepukan halus di pundak. "Kok bengong. Ayo masuk, Ata di dalem sama Adit," ucap bunda tersenyum. "Oh, enggak terima kasih. Lain kali saja. Saya permisi." Bayu membungkukkan tubuh sambil perlahan pergi dari sana. Hal itu tentu saja membuat bunda menakutkan kedua alisnya heran. Wanita itu menggelengkan kepalanya sejenak sebelum kemudian memutar kenop pintu dan mendorongnya. Ia tersenyum mendapati Ata dan Senja yang masih saling pandang, entah apa yang tengah dibicarakan oleh kedua anaknya tersebut. "Ngobrol apaan, sih? Serius banget?" tanya Bunda menutup pintu. Ata menoleh pada arah datangnya suara, tetapi ia tak melepaskan tangan Senja yang berada dalam genggamannya. "Ndaa bawa apa? Pesenan Ata ada?" tanya gadis itu antusias di atas ranjangnya. "s**u jahe?" Bunda mengangkat gelas plastik yang berisi minuman hangat pesanan Ata. Hal itu diangguki Ata dengan senang. Ia melepaskan tangan Senja dan meraih minuman hangat yang dibelikan oleh bunda. Sedangkan Senja masih berdiri di sana, berusaha mencerna sebisa mungkin kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ata. Menatap binar kayu yang terpancar sendu yang kini tak lagi menatapnya. Apakah gadis di depannya itu sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan? Sedangkan untuk bertemu mereka saja sudah membuat Ata kesulitan bernapas, lalu bagaimana jadinya jika mereka harus tinggal satu atap bersama Ata? "Dit, ayo makan dulu. Keburu dingin buburnya." Tiga porsi bubur ayam itu sudah tertata di atas meja. Dua gelas teh hangat, dan satu s**u jahe dalam genggaman Ata. Juga beberapa kue tradisional seperti mendut, jajanan dari tepung ketan yang berisi parutan kelapa muda dan gula aren. Kue putu ayu, lapis dan juga mancho wijen kesukaan Ata. "Ayo makan! Malah ngebeo lagi," tukas Ata menyenggol lengan Senja pelan. Cowok itu tersadar dan menoleh menatap Ata dan mengikuti langkah tertatih Ata yang mendorong tiang infus dari belakang. Sesampainya di sofa gadis itu duduk dan mulai menyeruput s**u jahe hangat yang membuat perutnya terasa lebih baik. "Nggak seenak buatan Bunda," komentar Ata mengernyitkan dahi. Wanita paruh baya itu terkekeh pelan lalu memberikan sendok kepada Ata, memberi isyarat pada anak gadisnya untuk segera makan. "Nanti Bunda buatin kalau kita pulang, ya?" Hal itu diangguki Ata, ia menyuap bubur setelah meletakkan gelas minuman. Meski sejujurnya Ata tak menyukai makanan ini, tetapi bagaimanapun juga Ata ingin segera sembuh dan pulang ke rumah. Jadi, gadis itu benar-benar tak memiliki pilihan lain kali ini. "Dit, ayo. Keburu dingin, kok!" Teguran itu akhirnya membuat Senja tersadar sepenuhnya. Cowok itu duduk di salah satu sisi sofa sambil mengangkat sendok. Ia mengamati makanan yang berjejer di sana tanpa selera, apa lagi ... bubur? Cowok itu mendesah malas. "Kan cuma Ata yang sakit, Nda. Kenapa jadi bubur semua, sih?" protesnya. "Kamu tadi nggak bilang mau makan apa, yaudah Bunda samain, aja." "Tapi, ya enggak bubur juga, Ndaa." Tangan cowok itu sibuk mengadu-aduk bubur sebelum kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dengan suapan penuh. "Kalau nggak mau nggak usah dimakan. Kamu beli sana ke luar, mau makan apa terserah, yang penting jangan macem-macem," ujar Bunda panjang, "Bunda nggak terima protes lagi, ya." Mendengar itu Senja makin mempercepat ritme menyuap makanan ke dalam mulut. Mengabaikan bunda dan Ata yang seperti biasa selalu kompak menertawakan dirinya. Di balik pintu itu seseorang meremat tali tas selempang dengan erat. Air matanya luruh menatap tawa yang tak bisa tercipta di antara dirinya. Seseorang yang sebenarnya tak asing, yang seharusnya menjadi orang paling dekat dan saling mengerti, mendadak menjadi benar-benar jauh. Padahal dulu keduanya pernah sama-sama berada dalam rahim mama. Keluar hanya dalam perbedaan menit, Ata selalu melindunginya dari segala yang membuat Aya ketakutan. Ata saudaranya yang akan berdiri paling depan saat ada anak tetangga lain yang mengganggunya. Kini, untuk sekedar menyapa saja ... keduanya seperti tak memiliki alasan itu untuk memulai pembicaraan. Bahkan, untuk sekedar saling tatap saja ... sepasang manik mata yang sama persis itu terasa jauh dan amat sangat asing. Tak ada kehangatan, yang tersisa hanya dingin yang menggigilkan. Aya menoleh sejenak merasakan pundaknya disentuh dengan hangat. Ia tau itu Bayu, yang membujuknya untuk pergi lebih dulu. "Bukan sekarang. Nanti Mas yang bicara sama Ata, supaya kalian bisa ngobrol baik-baik, oke?" Aya menghapus air mata di pipi, ia tersenyum pada Bayu sambil melangkah menuju kamar mama Anna. "Nggak apa-apa, Aya mau coba dulu ngomong sama Ata. Kalau nggak bisa, nanti Mas Bayu baru bantuin," kata Aya mencoba tegar. Tak ada yang bisa Bayu lakukan selain mengangguk dengan menyuguhkan sebuah senyum pada Aya untuk menguatkan gadis tersebut. Dirangkul pundak adik perempuannya itu dengan hangat sambil ditepuk dengan pelan. Supaya Aya tau bahwa ia tak melewati semua ini sendirian. Dan Bayu bersungguh-sungguh bahwa apa pun yang terjadi, Aya tetaplah adik baginya. "Maafin Mas Bayu, Ay." *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Haii hai hai, Guys! Apa kabar? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Setelah baca cerita ini, jangan lupa tap love dan komen. Apa aja kekurangan dalam tulisan ku, aku selalu menerima kritik dan saran. Okke? So, jangan sungkan-sungkan. Dan lagi, jangan lupa baca cerita ku yang lain yak. Terima Kasih banyak yaak :* Luv u guys!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN