33

761 Kata
Sebelum baca, jangan lupa tap love dan komen :) Happy reading guys! *M a t a h a r i* Di balik pintu itu seseorang meremat tali tas selempang dengan erat. Air matanya luruh menatap tawa yang tak bisa tercipta di antara dirinya. Seseorang yang sebenarnya tak asing, yang seharusnya menjadi orang paling dekat dan saling mengerti, mendadak menjadi benar-benar jauh. Padahal dulu keduanya pernah sama-sama berada dalam rahim mama. Keluar hanya dalam perbedaan menit, Ata selalu melindunginya dari segala yang membuat Aya ketakutan. Ata saudaranya yang akan berdiri paling depan saat ada anak tetangga lain yang mengganggunya. Kini, untuk sekedar menyapa saja ... keduanya seperti tak memiliki alasan itu untuk memulai pembicaraan. Bahkan, untuk sekedar saling tatap saja ... sepasang manik mata yang sama persis itu terasa jauh dan amat sangat asing. Tak ada kehangatan, yang tersisa hanya dingin yang menggigilkan. Aya menoleh sejenak merasakan pundaknya disentuh dengan hangat. Ia tau itu Bayu, yang membujuknya untuk pergi lebih dulu. "Bukan sekarang. Nanti Mas yang bicara sama Ata, supaya kalian bisa ngobrol baik-baik, oke?" Aya menghapus air mata di pipi, ia tersenyum pada Bayu sambil melangkah menuju kamar mama Anna. "Nggak apa-apa, Aya mau coba dulu ngomong sama Ata. Kalau nggak bisa, nanti Mas Bayu baru bantuin," kata Aya mencoba tegar. Tak ada yang bisa Bayu lakukan selain mengangguk dengan menyuguhkan sebuah senyum pada Aya untuk menguatkan gadis tersebut. Dirangkul pundak adik perempuannya itu dengan hangat sambil ditepuk dengan pelan. Supaya Aya tau bahwa ia tak melewati semua ini sendirian. Dan Bayu bersungguh-sungguh bahwa apa pun yang terjadi, Aya tetaplah adik baginya. "Maafin Mas Bayu, Ay." *M a t a h a r i* "Apa yang membuat kita begitu berbeda? Hal yang membuatmu enggan untuk datang bersamaku lagi. Mungkinkah karena kamu adalah Matahari yang menyinari bumi dengan kehangatannya. Sementara aku hanyalah Bulan yang menyinari gelapnya Bumi di malam hari. Jika memang begitu alasannya. Aku mengerti, mungkin kita tidak bisa bersama lagi. Setidaknya bisakah kita memiliki ikatan yang baik tanpa harus dipersatukan? Matahari dan Bulan, mereka menjalin hubungan yang baik untuk saling melengkapi. Meski perbedaan jelas terlihat di antara dua benda langit itu, mereka tidak pernah bermusuhan karena tujuan mereka adalah sama. Sama-sama memberikan cahaya. Untuk hati yang dingin. Untuk jiwa yang tersesat dalam kegelapan." - Cahaya Bulan - Aya menghela napas berat yang menyesakkan. Gadis itu kini duduk di kantin rumah sakit untuk mencari minuman hangat. Namun, pikirannya jelas melanglangbuana memikirkan Ata seorang. "Kenapa kamu benci aku?" "Aku nggak benci siapa pun, tapi bukan berarti aku suka sama kamu. Aku nggak dendam, tapi aku nggak bisa lupain semuanya gitu aja," ucap Ata kala itu. "Kamu bukan nggak bisa lupain, tapi kamu justru ngelupain semuanya Ata. Semua orang-orang yang sayang sama kamu." "Kamu minta aku pulang? Satu atap sama wanita yang udah bikin Ayah ninggalin Mama? Satu atap sama Ayah yang nggak pernah mau ngelihat kalau aku itu juga anaknya? Itu mau kamu? Iya, Cahaya?!" Ata berucap penuh penekanan. Dalam ketenangan itu tersimpan ribuan belati yang siap menghunus hingga mati. Aya diam, namun sepasang matanya masih menantang untuk penjelasan yang sepenuhnya. "Aku nggak gila. Aku lebih baik tidur sendirian dari pada harus satu atap sama kalian. Sama orang-orang yang udah bikin Mama meninggal! Aku nggak mungkin balik ke Rumah itu, Aya! Kamu tau kenapa?" tanya Ata mengadu rahang. "Karena aku bukan Ata yang dulu." sambungnya. "Lupain, Ya. Kita sama-sama udah dewasa. Buang harapan kamu tentang keluarga yang utuh. Anggap aja aku udah mati, kalau pun kamu ngelihat aku atau saat aku bantuin kamu anggap aja aku arwah yang gentayangan. Atau ... Seseorang yang nggak pernah kamu kenal." ujar Ata mencoba tenang. "Lagian, apa Ayah pernah peduli sama aku?" tanya Ata masih terlihat tenang. Setitik air mata jatuh lagi membasahi kedua pipi merah jambu Aya. Gadis itu menelungkupkan kepala di antara lipatan tangan yang berada di atas meja. Punggungnya naik turun sesenggukan terisak tanpa ada siapa pun selain orang asing yang menatapnya biasa saja. Aya merasa buruk di depan Ata nanti. Sebab ia terlalu banyak memikirkan hal negatif tentang apa tanpa menempatkan diri sebagai saudaranya. Setiap kata kata Ata yang pernah di sampaikan padanya saat itu benar-benar membuat Aya merasa sesak detik ini. B e r s a m b u n g! Haii hai hai, Guys! Apa kabar? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Setelah baca cerita ini, jangan lupa tap love dan komen. Apa aja kekurangan dalam tulisan ku, aku selalu menerima kritik dan saran. Okke? So, jangan sungkan-sungkan. Dan lagi, jangan lupa baca cerita ku yang lain yak. Terima Kasih banyak :* Luv u guys!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN