34

1505 Kata
Sebelum baca, jangan lupa tap love! Happy reading, guys! *M a t a h a r i* Ata membeku di tempatnya berdiri sambil memegang tiang cairan infus. Matanya lurus menyorot seseorang yang sejak tadi membuat perhatiannya teralihkan. Meski pada kenyataannya Ata ingin benar-benar melupa tentang segala yang datang dari masa lalunya, tetapi ucapan Aya waktu itu mutlak. Sesuatu yang tak akan pernah bisa ia pungkiri kebenarannya. "Sebenci apa pun kamu sama aku, itu semua nggak akan merubah status saudara kita, jadi orang asing, Ata." Sebuah kalimat singkat dari Aya itu sejujurnya menohok Ata tanpa ampun. Dalam setiap malam panjang yang ia lalui sendirian, terlalu banyak mimpi buruk yang datang menghampiri Ata karena ucapan Aya. Sebab apa yang dikatakan Aya adalah fakta yang selama ini ia coba hapus dan sembunyikan dari dunia. Gadis itu menghela napas berat. Entah kenapa melihat Aya membuatnya merasa sesak. Ia tertunduk menatap kedua kakinya ragu. Apakah ia harus tetap berdiri di sana mempertahankan egonya sendiri. Atau, mengalah lebih banyak pada keadaan yang membuatnya kembali tertekan? Tapi, Ata sudah terlanjur lelah. Gadis itu menghela napas, merasakan pundak ya disentuh. Ia menoleh, mendapati Bayu berdiri di sana membawa sebuah gelas sterofoam yang entah berisi apa. Melihat itu Ata sontak cukup terkejut, ia segera memutar tubuh dan berniat untuk pergi dari sana. Akan tetapi, Bayu menahan lengannya sehingga Ata kembali terdiam di tempat. "Lepasin," bisik Ata sangat pelan. Ia tak menatap Bayu sedikit pun, bahkan melirik pun enggan. Namun, dengan jelas dan sangat terang-terangan, Bayu menelisik sepasang manik karamel Ata lebih dalam. Kepada sepasang mata itu ingin ia sampaikan pesan dari hati, tetapi nyatanya Ata tak pernah ingin menerimanya lagi. Gadis itu ternyata bersungguh-sungguh dengan ucapan peroisahannya kemarin. "Aya nggak tau apa-apa soal pernikahan mama sama ayah." Sontak Ata menoleh menatap Bayu penuh selidik. Pertahanan Ata untuk tetap acuh pada akhirnya goyah juga. Gadis itu jelas ingin tahu, selama ia berpisah dengan Aya, apa saja yang telah terjadi pada saudara kembarnya tersebut. Meskipun demikian, Ata juga tak kunjung bicara. Begitu tersadar, Ata kembali membuang pandangan dari lawan bicaranya. Ia menekan rasa ingin tahunya untuk tetap diam karena tak lagi ingin berurusan dengan Bayu. Sebab bisa saja sewaktu-waktu Ata luluh dengan kata maaf dari lelaki yang pernah menjadi pundak sandarannya sejak dulu. "Dia nggak inget apa-apa selain masa kecil kalian yang bahagia. Dia juga nggak inget kalau mama kalian udah nggak ada," timpal Bayu. Gadis itu melengos, menahan gemuruh dalam dadanya yang tak ia mengerti mengapa datang secara tiba-tiba. Hanya saja Ata paham bahwa ia marah, mengapa selama ini ia tak mengetahui lebih banyak hal tentang Aya? Padahal setiap saat, keberadaan Ata di sisi Aya adalah untuk melindungi saudara kembarnya sendiri. Ata tak akan memungkiri bahwa selama ini, sejak ia melihat Aya hidup dengan layak, bahagia dan penuh kasih sayang dari ayah. Hal itu kerap kali membuat dadanya sesak tanpa alasan. Meski rasa syukur dan perasaan lega itu tak bisa diungkapkan lebih dari kekesalannya. Lebih dari itu, ia menyayangi Aya. Sebanyak ia membenci ayah yang selalu mengabaikannya. "Aku bilang lepas!" sentak Ata untuk yang kedua kali. "Ta, please ...." Bayu menatap nanar pada Ata, masih memohon agar gadis di depannya memberikan sekali saja kesempatan setidaknya hanya untuk Aya. "Kasih kesempatan Aya buat ngomong sama kamu. Dia sama sekali nggak tau apa-apa soal ini, Ta." Mendengar itu membuat Ata memutar kepalanya menatap Bayu. Gadis itu menelan salivanya kasar, beberapa kali menghela napas sebelum kemudian berkata, "Kamu juga nggak tau apa-apa, 'kan?" Bayu tercengang, terdiam menatap Ata tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu. "It's okey! Nggak masalah, nggak penting juga, jadi sekarang tolong lepasin aku," ucap gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Karena Bayu tak kunjung merespon selain terus memandangnya tepat pada manik mata. Ata berusaha sekuat mungkin menarik pergelangan tangannya dari Bayu. Sial, bukan perkara mudah. Genggaman cowok itu mendadak semakin erat membuat lengannya terasa panas. Hingga kedatangan Senja yang tiba-tiba dan entah dari mana membuat lengan Ata terlepas dari genggaman Bayu, membuat atensi kedua manusia itu beralih pada sosok lelaki yang datang tanpa permisi. Senja menatap lekat penuh ketidaksukaan pada Bayu, ia bahkan melindungi Ata di belakang punggungnya sambil menggenggam tangan Ata hangat. "Gue kira lo cukup paham sama bahasa manusia 'kan, nggak usah maksa," tekan Senja, "lepasin Ata!" Ia merangkul pundak Ata untuk menuntun gadis itu kembali ke kamarnya setelah Ata berpamitan untuk mencari udara segar di malam hari karena tak bisa tidur. Tepat saat Senja melewati Bayu, lelaki itu sengaja mengadu pundaknya dengan Bayu. Tak pelak hal itu membuat Bayu terhuyung ke samping. Di tatap kedua punggung yang semakin menjauh itu, Bayu menelan amarahnya bulat-bulat. Ia bergegas mendatangi Aya dengan minuman hangat kesukaan gadis tersebut. Kini punggung yang bergetar itu semakin terlihat jelas. Bayu menepuk punggung Aya dengan hangat, tetapi tak juga membuat Aya mengangkat kepalanya demi melihat siapa yang datang. "Ay?" panggil Bayu. Lelaki itu duduk menarik kursinya hingga lebih dekat dengan Aya. Saat itu juga Bayu menyodorkan minuman hangat pada Aya yang mengangkat wajah. Gadis itu sibuk mengusap air mata yang tak bisa ia hentikan. "Minum dulu." "Sumpah, demi apa pun aku nggak inget apa-apa, Mas Bayu," isaknya. Bayu menggeleng, ia meraih kedua tangan Ata dan meremasnya pelan. "Ssst, nggak apa-apa, bukan salah kamu, Aya." "Ata pasti makin benci banget sama aku, 'kan?" Aya masih sempat mengatakan keresahan yang membuat dadanya sesak. "Nggak, stop dulu, Ay," ucap Bayu pelan, "kita jelasin pelan-pelan. Ata pasti ngerti. Kalau kamu kayak gini terus, justru semuanya nggak akan kelar, okey?" Bayu menatap kedua mata Aya yang basah, sebelum kemudian gadis itu mengangguk, Bayu menarik Aya ke dalam pelukannya untuk menenangkan adiknya tersebut. "Udah, jangan nangis lagi. Mas Bayu nggak mau kamu kenapa-kenapa," tutur Bayu. *M a t a h a r i* Dalam kamar yang sepi itu Senja merebahkan tubuh di atas ranjang sakit milik Ata. Matanya terpejam, bahkan sesekali terdengar dengkuran halus dari cowok itu. Ata yang sedari tadi merebahkan diri di atas sofa panjang yang tak jauh dari jendela tertawa konyol menatap Senja yang tidur dengan nyaman. Bagaimana mungkin cowok itu menggusur tempat istirahatnya? Bahkan mendengkur? Kalau bunda di sini dan melihat kelakuan Senja, Ata sudah tidak bisa menjamin keselamatan cowok itu. Sudah pasti kejadian jewer telinga, tabok p****t, dan ocehan Senja akan terjadi. Tanpa sadar Ata terkekeh mengingat moment tersebut. Semua memori masa kecilnya yang rapuh, begitu manis bersama Senja yang senantiasa mengajarinya untuk tertawa lepas. "Ata nggak bisa hidup tanpa Adit." Sekali lagi kalimat itu diucapkan oleh bocah lelaki berusia sepuluh tahun yang lebih tinggi dari Ata kecil. Keduanya duduk di teras, di atas sebuah dipan yang terbuat dari anyaman bambu. Menunggu bunda pulang dari pasar sambil masing-masing memegang sebuah es loli. "Ayo bilang gitu, Ta." Senja tak menyerah untuk mengajari Ata mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, gadis kecil di sebelahnya hanya menatap Senja sekilas tanpa berniat untuk mengeluarkan suara atau sekedar memasang ekspresi yang sepadan. Hal itu tentu saja membuat Senja kesal. "Ata nggak sayang sama Adit? Ata bisa hidup tanpa Adit? Kalo Adit, sih, nggak bisa. Soalnya Adit harus selalu jagain Ata biar nggak nangis karena sendirian lagi," celoteh bocah lelaki tersebut menatap es loli di tangannya putus asa. Ia memang sempat tak suka saat bunda memutuskan membawa gadis kecil ini ikut pulang, tetapi jika dilihat lihat Senja cepat beradaptasi dengan Ata. Gadis itu, meski pendiam ia manis. Seperti saat ini. Meskipun Ata tak menjawab ucapan Senja, tetapi Ata menyentuh tangan Senja yang menganggur. Lalu menyerahkan es loli miliknya yang masih utuh ke tangan Senja sebagai ungkapan bahwa ia juga menyayanginya. "Adit sayang banget sama Ata. Kita main sama-sama terus, ya!" Ekspresi bocah lelaki itu kini jelas berbeda. Senja tersenyum lebar, ia merentangkan kedua tangan kemudian memeluk Ata, malah sesekali mengecup pipi gembul merah jambu Ata yang menggemaskan. Begitulah keduanya tumbuh dan saling menjaga. Senja dengan segals keceriaannya, dan Ata yang lebih banyak diam. Meski tak pernah berbagi tempat di rahim yang sama, bunda selalu mengajarkan bahwa mereka adalah saudara yang harus saling menyayangi dan menjaga. Mereka berdua adalah anak bunda seutuhnya, dan tak ada satu pun yang dapat merubah kenyataan itu. Ata tersenyum mengingat masa kecilnya bersama Senja. Gadis itu kini sudah duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang, sambil menopang ragu mengamati Senja yang terlelap seperti bayi. Cowok petakilan yang sering mengeluh padanya itu sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan. Dan tentunya selalu melindungi Ata apa pun yang terjadi, lebih dari dirinya sendiri. Tanpa sadar, sebuah kurva simetris tercipta di bibir merah jambu Ata yang tak lagi pucat. Untuk pertama kalinya Ata merasa bersyukur Memiliki Senja dalam hidupnya. 'Makasih buat semuanya, Senja Praditya.' *M a t a h a r i* *b e r s a m b u n g! Haii hai hai, Guys! Apa kabar? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Setelah baca cerita ini, jangan lupa tap love dan komen. Apa aja kekurangan dalam tulisanku, aku selalu menerima kritik dan saran. Okke? So, jangan sungkan-sungkan. Dan lagi, jangan lupa baca cerita ku yang lain yak, haha. Terima Kasih banyak :* Luv u guys!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN