Sebelum baca jangan lupa tap love!
Happy reading guys!
*M a t a h a r i*
Ayah menatap mama yang masih betah terlelap dengan pandangan nelangsa. Lelaki itu tak sedikit pun beranjak dari kursi di mana ia menunggui seorang wanita cantik yang tengah berjuang melawan maut. Penyakit jantung lemah yang diderita Anna sejak kecil, nyatanya semakin parah. Sedangkan usahanya untuk mencari pendonor jantung juga belum membuahkan hasil. Lelaki berusia setengah abad itu menunduk, sesekali menghela napas sesak yang membuat dadanya begitu sakit melihat seseorang yang begitu ia cintai terbaring lemah tak berdaya. Kedua tangannya terulur, menyentuh telapak tangan mama Anna yang dihiasi selang infus. Dengan segala permohonan ayah meminta pada sang pemilik kehidupan bahwa ia ingin memiliki waktu lebih panjang dengan Anna. Wanita yang ia cintai dan membuatnya jatuh hati.
"Mas ...," lirih suara itu benar-benar terdengar lemah.
Jika saja ayah tak memasang telinga dan selalu terjaga, ia mungkin tak tau wanita yang menjadi pujaan hatinya itu telah siuman kembali. Anna menatap ayah dengan matanya yang satu, masker oksigen semakin berembun kala bibirnya berusaha mengucap sepatah kata. Hal itu tentu saja membuat ayah mendekat, memperpendek jarak antara dirinya dan Anna sambil terus mengganggam tangan wanita tersebut.
Sekuat tenaga kakinya dipaksa untuk tetap tegap menopang beban yang semakin menindih pundak juga dadanya. Namun, tak pelak sepasang mata cokelat karamel itu berair juga. Setetes air mata itu ia biarkan jatuh di sana sebagai saksi dan tanda bahwa anak berusia delapan belas tahun ini tengah terluka. Sambil memegang tiang infus, Ata masing menyorot pemandangan di depannya dengan nyalang. Sesekali ia menahan napas, menahan isak, dan berulang kali menahan sesak yang membuatnya selalu terdesak oleh kenyataan yang berulang kali mencoba menumbangkan dirinya. Ata rapuh saat itu.
"Kenapa ayah nggak pernah sepeduli itu sama mamanya dulu? Saat mana benar-benar butuh teman, butuh didukung, butuh pengertian ... ayah malah pergi. Bukan sekedar meninggalkan pukulan untuk mama, tapi juga luka paling mematikan untuk anaknya." Ata menbatin dalam hati.
Sesak itu membuat Ata menekan d**a bagian kirinya yang terasa nyeri. Perlahan tanpa suara, seperti awal mula kedatangannya mengintip dari balik pintu kaca. Gadis itu berlalu pergi membawa rasa sakit dan kebencian mendalam pada sosok lelaki yang tak pernah sekali pun menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Apa sih yang kamu mau, Ta? Nggak akan pernah ada celah buat kamu di hati ayah," bisik gadis itu dalam setiap langkah yang lemah.
'Ayah? Kamu bahkan nggak pernah punya sosok itu Matahari." Jawaban itu datang entah dari mana, yang mendadak masuk menelisik ke dalam telinga hingga terus terngiang di kepala Ata.
Di setiap lorong rumah sakit yang senyap itu, Ata menapakkan langkahnya yang penuh dengan luka berderai berai. Perasaan ini membuat gadis itu benar-benar tersiksa. Perasaan merindukan hangat pelukan kasih sayang seorang ayah, juga kebencian mendalam yang teramat sangat ia rasakan.
Sejujurnya, Ata hanya rindu. Sedangkan yang dirindukan sama sekali tak pernah ingin menyatakan sebuah temu. Sehingga tak khayal rindu itu membelenggu Ata dalam luka yang tak kasat mata.
Untuk yang keberkian kalinya, gadis itu mati di dalam. Setelah berkali-kali dibunuh oleh keadaan. Ata sungguh tak dapat lagi bertahan dalam kelam yang menjatuhkan.
*M a t a h a r i*
Ata masih menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. Matanya tak henti mengamati Senja yang terlelap di atas ranjang sakitnya. Mulai dari alis tajam cowok itu, sepasang mata yang ditumbuhi bulu mata lentik, hidung mbangir, bibir yang tak begitu tebal pun tipis, juga sepasang manik hitam jelaga yang kini sudah terbuka. Dengan terang-terangan Senja menatap Ata yang tengah mengamatinya.
"Ng-ngapain, Ta?" tanya cowok itu gugup.
Jarak di antara keduanya tak lebuh dari sepuluh senti. Senja masih diam pada posisinya miring menghadap Ata. Cowok itu membeku di sana hanya karena tatapan dari Ata yang begitu manis malam ini. Namun, nyatanya keterkejutan itu bukan semata milik Senja. Sebab Ata pun merasakan hal yang serupa, gadis itu terdiam mendadak mematung di sana. Hanya kelopak matanya yang beberapa kali berkedip menatap Senja dengan jarak sedekat ini.
"Ma-mau ngapain?" ucap Senja kali kedua sambil menyilangkan kedua lengannya di depan d**a.
Sorot matanya menatap Ata seperti seseorang yang m***m dan telah mengganggunya. Hal itu sontak membuat Ata mengerutkan dahi tak suka. Ia bersiap mengangkat tangan untuk menghadahi Senja yang memasang tampang perawan habis dibobol. Namun, secepat kilat Senja menarik lengan Ata sehingga cewek itu semakin merapat padanya.
"Nggak usah macem-macem!" sentak Ata hendak berontak.
Akan tetapi, Senja telah lebih dulu merengkuh pinggang ramping Ata sehingga cewek itu lebih dekat dengannya. Jarak di anatara kedua anak muda itu kini hanya setipis kaca. Keduanya sama-sama diam, mengatur seru napas yang saling bisa di dengarkan. Ata menatap Senja dengan gelisah. Jujur saja, diperlakukan seperti ini seperti lelaki macam Senja juga membuat jantung ya berdegup tak beraturan.
"Kalau seandainya aku bilang, aku suka sama kamu. Besok kamu masih mau nggak main dan ketemu sama aku lagi." Senja mengucapkan kalimat itu secara lirih tepat di telinga Ata.
Jujur saja, hal itu membuat Ata membulatkan kedua matanya. Ia tatap Senja dengan ekspresi tak percaya dan bingung. Berbeda dengan Senja yang terlihat datar, tak banyak berekspresi seperti Senja yang biasanya selalu petakilan. Cowok itu terlalu tenang sehingga membuat Ata gamang dengan perasaannya.
"Setelah setiap malam rembulan dibasuh hujan. Semesta seakan kehilangan arah. Kepada sepasang binar bola mata cokelatmu, Senja mengantarkan matahari untuk kembali pulang ke singgasana. Itu ... aku, laksana Senja dan Cahaya Matahari-nya."
Sekali lagi Ata berkedip menatap Senja yang begitu tenang dan gamblang mengucapkan kalimat panjang yang begitu manis. Sialnya, Ata adalah tipikal gadis yang menyukai puisi. Selama sisa waktu yang ia miliki untuk sendiri adalah tentang membaca puisi atau menulis sajak mati.
Saat itu juga Senja mengangkat kepalanya sehingga Ata mundur secara alami. Kedua tangan gadis itu menahan pundak Senja agar tak lebih dekat lagi dengannya.
"Ma-mau ngapain?!" ucap Ata terdengar sangat gugup.
Namun, Senja tak menggubris hal itu. Cowok itu menyembunyikan segaris senyum miring di bibirnya sambil membantu Ata untuk menegakkan tubuh, sedangkan ia sendiri duduk di atas dipan dengan nyaman. Cowok itu bahkan melakukan gerakan peregangan tanpa beban dan rasa berdosa di depan Ata. Yang tentu saja membuat Ata menatap Senja dengan tatapan tak percaya. Sedetik kemudian sebelum kemudian Senja juga berbalik menatap Ata dengan sebuah senyum mereka yang terlihat begitu menyebalkan di mata Ata.
"Gimana? Menurut kamu bagus nggak, kalau aku nembak cewek dengan cara kayak barusan?" tanyanya cengingisan.
Mendengar kalimat itu sepasang mata Ata sontak makin membulat sempurna. Ia tatap Senja dengan tawa skeptis, kedua tangan cewek itu menyugar rambut ke belakang sambil tertawa geli. Sedangkan Senja malah asik mengikuti arah pandangan Ata sambil tersenyum menyebalkan.
"Bagus, 'kan? Butuh waktu lama buat bikin kalimat kayak gitu, Ta. Wah ... nggak nyangka kalau ternyata aku punya bakat jadi pujangga."
Ata tak menjawab, cewek itu duduk di atas kasur tepat di dekat Senja yang menyilangkan kaki di atas ranjangnya. Merasa tak mendapat respon, cowok itu kembali bersuara.
"Ah, kayaknya aku harus jadi penulis buku, deh, Ta. Bikin puisi paling khusyu kayak Usman Arumy, atau puisi paling manis kayak almarhum Eyang Sapardi? Keren nggak tuh?!" Senja bahkan saling menepuk tangan dan terlihat amat bersemangat tepat di depan Ata.
Sayangnya hal itu tak berlangsung lama. Tawa Senja malam itu lenyap digantikan teriakan mengadu saat Ata menyerangnya dengan bantal secara membagi-buta tanpa ampun. Senja mencoba melindungi diri, tapi bahkan tenaga Ata yang sedang tak sehat ini cukup kuat membuatnya kualahan untuk menahan serangan dari gadis tersebut.
"Penulis matamu! Minggat sana," teriak Ata kesal.
Akan tetapi, hal itu malah membuat tawa Senja meledak. Meski kini posisi cowok itu sudah terjatuh dari atas ranjang istirahat Ata. Ia malah terbahak-bahak menatap Ata yang terlihat begitu kesal.
*M a t a h a r i*
Kwatrin Tsuroysme
Selain puisi, adakah jalan untuk menujumu?
Aku mengandaikan kau sebagai kertas putih,
yang berkenan menampung katakata sedih
sebab aku percaya betapa kaulah kekasih
di hadapanmu yang sentosa,
seluruh kataku moksa,
sefana dunia seisinya
bagaimana kutulis kau, Cinta
sedang tatapanmu lebih puisi,
ketimbang berlaksa sang pencipta aksara
Puisi adalah satu-satunya kendaraan,
yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan
menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan
di banding Pujangga terkenal
tatap matamu lebih kekal
nyatanya detakku fasih menyebutmu tanpa sesal
sembari mengembarai semesta,
aku mencari kata paling luka
untuk kusampaikan kepadamu wahai sengsara
Selain puisi, adakah yang lebih kenangan?
aku menghayalkan jadi kata yang terselip di sela kalimatmu
di antara larik lirik di balik bilik yang kaulafalkan dengan rindu
aku akan tumbuh sepenuh yang tak bisa direngkuh
aku akan mengembara sejauh yang tak bisa ditempuh
- Usman Arrumy.
*B e r s a m b u n g!
Gais, kalian suka baca puisi juga? Wajib banget kepoin karya Usman Arrumy, udah pasti bikin melted asli nggak bohong wakakak.
Kalau kalian punya penyair favorit, boleh Sharing sama aku kuy. Bisa jadi buat referensi bacaan aku juga.
Dan nggak lupa, jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Wkwkwk.
Sekali lagi terima kasih guys!.
Sehat sehat kalian.
Love u ? :v