36

1530 Kata
Sebelum baca, jangan lupa tap love dan juga komen, ya! Selamat membaca, Guys! *M a t a h a r i* ASMARADHANA Kepada cinta yang tak mampu kuucapkan lewat kata yang sempurna Kepada sang pemilik rasa yang tak sanggup kurengkuh dalam pelukan nyata Kepada matahari yang sinarnya semakin sirna ditelan senja Kepada pemilik bumi dan sisinya Ragaku utuh meski tak sepenuhnya sembuh Lukaku masih baru, bertambah berpuluh-puluh Setiap detik adalah keluh Maka setiap langkah adalah peluh yang jatuh Pada debur yang mendebarkan hati Pada pandang mata yang membiaskan sunyi Jika cinta memang tak dapat kumiliki Maka hatimu akan senantiasa terpatri dalam kata suci Kujaga sepenuh hati tanpa tapi Mencintaimu dalam sunyi dan sepi, tetap menjadi kesibukanku sampai detik ini. - Bumi, 16 Oktober 2025 - Senja Praditya. Cowok itu melipat kertas putih yang penuh dengan coretan tangannya berbentuk pesawat kertas. Sesekali melirik Ata dan bunda yang sibuk mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah. Cewek itu sudah lebih baik, sudah cukup pulih dari rasa lelah fisik yang mendera setelah selama dua hari di rawat di rumah sakit. Hanya saja, Dokter masih sangat mewanti-wanti Senja dan bunda untuk sebisa mungkin menjaga kondisi emosi Ata agar tetap stabil. Agar gadis itu tak lagi terlalu banyak menekan dirinya sendiri yang pada akhirnya hanya menyakiti diri. Senja berdiri dan menghampiri kedua wanita paling penting dalam hidupnya. Sementara tangannya masih sibuk melipat kertas membentuk pesawat kertas. Cowok itu mengintip Ata sambil tersenyum tipis. Ada wajah kelegaan yang terpancar pada sepasang mata Ata. Tentu saja gadis itu tak akan betah berlama-lama di rumah sakit. "Udah semua?" tanya Senja memecah kesibukan kedua wanita berbeda usia tersebut. Bunda mengangguk, lalu meraih tas besar yang ada di ranjang Ata kemudian di berikan kepada anak lelakinya. "Udah, ayo. Kamu bawa ini, sekalian keluar dulu berdua. Bunda mau ngurus administrasi sebentar," ucap wanita itu terburu-buru. Senja mengangguk kemudian mengangkat barang bawaan yang akan di bawa pulang. Ata yang kini tengah mengenakan jaket levisnya melirik Senja yang sedari tadi sibuk, sambil sesekali membetulkan tatanan rambut sepundaknya. Kemudian menyanbar ransel kecil berwarna hitam berisi kebutuhan pribadinya. "Apaan tuh?" tanya Ata ingin tahu. "Ini?" balas Senja mengangkat kertas yang sudah terlipat rapi di tangannya tepat di depan wajah Ata, "Bukan apa-apa." Kekehan Senja berhasil membuat tawa sinis tercipta dari bibir Ata. Cewek itu berdecak malas, pasalnya sejak kemarin Senja memang bertingkah sok misterius dan sangat menyebalkan. Ia bergegas berjalan melewati cowok itu dan pergi keluar kamar rawat lebih dulu. "Heh, tungguin, woi!" Sialnya Ata tak menggubris. Cewek itu terus berlalu meninggalkan Senja yang mengekorinya melewati lorong rumah sakit. Akan tetapi, baru saja Senja menutup pintu dan berjalan selangkah untuk mengikuti Ata. Cowok itu berhenti melihat Ata yang juga mematung di depannya. Ketidak tahuan Senja hanya sebatas satu detik yang berlalu dengan cepat saat sepasang mata cowok itu memaku lelaki paruh baya yang berdiri tak jauh di depan Ata. Siapa lagi jika bukan ayah, yang tak sepantasnya dianggap ayah oleh gadis itu. Dengan cepat, dan gestur yang sangat mencolok untuk melindungi Ata, cowok itu berdiri di depan Ata. Menyembunyikan cewek itu dari pandangan ayahnya. "Ngapain berhenti, ayo pulang." Senja berbisik. Namun, kedua mata cowok itu tak sedikit pun melirik Ata melainkan terus menyorot sosok lelaki yang menatapnya kecewa. Tanpa persetujuan Ata, Senja menarik pergelangan tangan cewek itu sehingga keduanya kembali berjalan melewati lelaki yang sangat asing bagi Ata. "Mama pengen ketemu Ata," ucap ayah detik itu pada saat Ata dan Senja berjalan melewatinya. Tak pelak ucapan itu membuat Senja juga Ata menghentikan langkahnya secara bersamaan. Sedikitpun Senja tak menoleh untuk siapa pun selain Ata yang menatap ayahnya sendiri dengan pandangan kecewa. "Jalan, ngapain berhenti?" titah Senja menarik kembali lengan Ata. Akan tetapi, kali ini gadis itu berhenti dengan terang-terangan pula menatap sepasang manik ayahnya yang menyorot Ata dengan tenang. Senja berdecih kesal, tak habis pikir dengan lemak yang mengaku sebagai seorang ayah, tetapi tak henti menyakiti hati putrinya sendiri. "Mau ngapain sih, Ta? Ayo pulang," sentak Senja lagi. Kalo ini tepat di telinga Ata. "Sekali ini, aja. Ayah mohon ... Ata lihat mama sebentar, ya? Mama sakit, Ta." Gadis itu masih bungkam seribu bahasa. Tak mengerti dengan apa yang coba disampaikan ayahnya saat ini. Apakah hal ini adalah upaya ayah yang lain untuk menyakiti dirinya atau menunjukkan betapa ayah sangat tak menyukai dirinya. "Nggak bisa. Ata juga masih sakit, dia butuh banyak istirahat. Kami permisi," tegas Senja menjawab ucapan lelaki itu. Namun, baru selangkah Senja berpaling dari sana. Ia tak merasakan Ata bergerak mengikutinya. Sehingga hal itu membuat Senja mengumpat pelan dalam hati. Ia menarik pundak Ata yang masih tertegun membatu untuk segera pergi. Dan, sayangnya ayah Ata juga sosok yang sangat keras kepala. Lelaki tak tahu diri itu bahkan meraih tangan Ata dan meminta pada putrinya itu untuk segera mati hari ini. Bagaimana tidak? Lelaki yang mengklaim dirinya sebagai seorang ayah untuk Ata, baru beberapa hari lalu meminta maaf pada putrinya bahkan membuat Ata hampir sekarat. Saat ini, justru meminta anak gadisnya untuk menemui wanita lain yang membuatnya meninggalkan Ata juga mama. Dan apa barusan? Lelaki itu menyebut wanita itu mama di depan Ata? Sungguh tak berperasaan. Senja geram. Ia menarik lengan Ata untuk menjauhkan gadis itu dari ayahnya. "Sekali lagi, tapi maaf Ata nggak bisa," tolak Senja. Lelaki itu bahkan kini berdiri di antara ayah dan Ata, "Om, nggak lihat kondisi Ata kayak gimana? Anak Om ini, lagi sakit, loh!" "Oke," ucap Ata membuat Senja praktis menoleh pada cewek di belakangnya dengan tatapan tak percaya. Ata tersenyum pada Senja, cowok itu jelas bisa merasakan betapa Ata meremas jemari tangannya dengan sangat erat. "Udah gila kamu?" Senja melotot pada Ata. Sedangkan ayah hanya membantu di sana menatap Ata penuh harap. "Nggak apa-apa, Dit." "Nggak apa-apa matamu, Ta!" sentak cowok itu pada akhirnya mencapai puncak. Ia menghempaskan tangan Ata dengan kesal. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Ata yang tak pernah bisa ia susuri ke mana arah tujuannya. "Kamu baru aja sembuh, mau ngapain nengok orang sakit? Kamu sakit aja mereka nggak peduli, kok." Secara terang-terangan Senja mengucapkan kalimat barusan tepat di depan Ata membuat lelaki di belakangnya menunduk merasa bersalah. Namun, bagaimana bisa cewek itu masih tersenyum di depannya. Ata kembali meraih tangan Senja dan digenggam sangat erat jemari cowok itu. Meskipun sejujurnya ia juga merasa sesak dan sudah pasti akan kembali terluka. Akan tetapi, bagi Ata ... mungkin kali ini adalah kesempatannya untuk melihat dan mendengar permintaan maaf dari wanita yang telah merenggut bahagianya dulu. Ata tak sepenuhnya siap, hanya saja cewek itu percaya sebab Senja selalu berada di sampingnya. "Kali ini Aja, Dit." "Tapi, Ta ...," ucap Senja menggantungkan kalimatnya. "Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." bisiknya kemudian. Dengan tenang gadis itu menampar pipi Senja pelan. Ia terkekeh, sebelum kemudian berkata, "kamu pikir aku sama kayak cewek di luar sana?" Ata menggeleng pelan. "Tenang aja, aku nggak selemah itu," bisiknya, "lagian 'kan, ada kamu yang bakal nemenin aku, Dit." Jika sudah seperti ini, Senja tak tau lagi harus bicara apa. Matanya menyorot sepasang mata Ata dengan sesama. Mencoba mencari tahu apakah gadis di depannya itu bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan barusan. Namun benar saja, tak sedikit pun ia temukan celah kebohongan pada binar cokelat menawan tersebut. Yang pada akhirnya membuat Senja meluluh. Sedetik kemudian Senja menoleh, menatap lelaki tak tau diri yang masih berdiri di belakangnya. "Nggak lebih dari sepuluh menit," ucap Senja tak terbantahkan, masih sambil menggenggam jemari Ata. *M a t a h a r i* Silence of Amour "Dengan menyebut nama Sang Pengendali Kalbu aku bertekad mengusung semua rindu ke masa lalu --- goa sunyi tempat kenanganmu khusuk bertapa juga di hatimu, Modric Cha. Muara dari renjana-loka Demi bisa diam aku akan berguru kepada bongkah batu yang selalu teguh tak mengadu setiap ditikam badai-deru Agar mampu setia aku akan mengaji kepada desir udara yang tak letih mengembara ke huma hingga rimba-rawa Begitu Titah Nirmala yang kau lepas dari nuranimu sampai ke batinku seketika syahwatku melayang, jauh. tertepis oleh rinduku padamu Dan ketika hasrat-birahi merumrum benakku untuk mengkhayalkanmu aku berjihad menjinakkan Asmara-Tantra yang berdebum merasukiku Kau membuatku percaya betapa cinta adalah bagian dari keyakinan : bagian yang terpendam begitu dalam, rahasia yang luput oleh pandangan --- di sukmaku, Kekasih. ruang bersemayam cintaku, juga keimanan di sanalah kesedihanku bangkit menghayati hakekat kehampaan Basuhlah puisiku dengan sisa tangismu agar ia menemukan nasibnya sebab hendak kemana lagi katakataku mesti mencari sumber airmata Senyummu yang bersahaja dulu masih terus menggeliat dari ingatanku bagaimana bisa lupa jika mimpiku pun meratapi kenanganku akanmu Untuk memperjuangkan kesunyian, aku memahami sorot matamu manik cahaya tembus pandang yang tak sanggup dihalau debu-kelabu Aku merunduk di haribaanmu, berserah diri sebagai manifestasi cintaku ampuni aku manakala tak bisa perkasa menyambut perpisahan itu - Usman Arrumy. -B E R S A M B U N G! Gais, kalian suka baca puisi juga? Wajib banget kepoin karya Usman Arrumy, udah pasti bikin melted asli nggak bohong wakakak. Kalau kalian punya penyair favorit, boleh Sharing sama aku kuy. Bisa jadi buat referensi bacaan aku juga. Dan nggak lupa, jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Wkwkwk. Sekali lagi terima kasih guys!. Sehat sehat kalian. Love u ? :v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN