Berdiri membeku di atas tanah merah yang masih basah. Gadis kecil berambut panjang menggenggam pita jingga di tangan mungilnya. Pagi itu elegi mengalun sendu, bersama setiap tetes yang menghiasi pipi gembulnya. Tidak ada tangan yang bisa ia genggam kala sendirian, tidak ada pula pinggang yang mampu ia rengkuh untuk meredakan ketakutan. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu sesenggukan di depan pusara Mama. Setelah ia melihat bagaimana mama mengakhiri hidupnya dengan mata kepalanya sendiri, saat itu Ata kecil sudah tidak tertolong lagi. Alunan lagu menyayat hati terus berputar di telinganya. Menghantui saat pagi menyapa. Elegi yang mengalun dalam delusi yang terasa nyata. Ata terhenyak membuka mata. Keringat dingin membasahi tubuh di waktu subuh. Napasnya naik turun, seperti atlet lari yan

