Matanya menatap luas ke depan penuh dengan gedung-gedung tinggi. Sementara matahari mulai kembali pulang. Pulang ke singgasananya untuk tenggelam dan beristirahat sejenak setelah seharian memancarkan sinarnya. Untuk esok kembali lagi menjadi satu-satunya cahaya paling terang. Meski kehadiran Bunda dan Senja selalu berhasil mengusir kesunyiannya, namun tidak sepenuhnya pergi. Ata masih merasa sendiri. Dengan ingatan yang pelan-pelan merengkuhnya untuk tetap tinggal dalam kesakitan. Dengan kenangan yang tanpa ia sadari membunuh hatinya di dalam. Termasuk orang-orang dari masa lalunya. Juga seorang Senja yang lenyap tanpa jejak meninggalkan seuntai janji pada Ata. Gadis itu tersenyum mengingat serangkaian kejadian yang melintasi pikirannya. Ia tidak pernah tau bahwa masa remajanya akan menj

