Sebelum baca jangan lupa tekan love!
Selamat membaca guys!
*M a t a h a r i*
Di mata Aya sudah tak ada lagi harapan baginya untuk sekedar menatap Ata lebih dekat. Sosok Ata atau saudara kembar yang kini terasa sangat asing semakin menjauh, kenyataan ini tak pelak membuat gadis itu merasa benar-benar buruk di depan Ata. Pasalnya selama ini yang Aya ketahui adalah perihal yang salah mengenai Ata. Ia pikir Ata sepenuhnya menjauh dari keluarga karena kemauannya sendiri, karena gadis itu hanya merasa hal yang keliru. Padahal kenyataannya Aya yang selama ini keliru menilai tentang keluarganya sendiri. Gadis itu bahkan tak tau siapa ibu kandungnya yang telah meninggal sejak beberapa tahun silam.
"Sepuluh tahun yang lalu, mama kamu meninggal." Aya menggigit pipi bagian dalamnya.
Mencoba menekan emosi dalam dirinya agar tak lepas kendali di depan ratusan raga yang sepenuhnya telah beristirahat dengan damai. Hari itu, Aya sengaja pergi menggunakan seragam, bukan sekolah tujuannya melainkan tempat pemakaman umum. Ia hanya ingin mencari tau siapa mama kandungnya. Untuk kali ini saja, Aya ingin berusaha sendiri tanpa bantuan Bayu. Jika pun kali ini ia tak sanggup menemukan siapa nama mama kandungnya dan kisah apa yang selama ini hilang dari ingatan Aya, atau bahkan kisah yang tak pernah ia ketahui seperti apa ceritanya. Aya pasrah jika Ata akan membencinya seumur hidup, bahkan tak akan pernah memaafkan dirinya.
Beberapa bulan lalu ia masih ingat bagaimana Ata berhenti di depan sebuah pusara saat membuntuti kembarannya tersebut. Meskipun dalam jarak satu meter, Aya masih jelas melihat Ata menatap nyalang pada sebuah nisan yang di mana ia meletakkan seikat bunga krisan putih di sana. Gadis itu memang hanya membatu di sana, tetapi Aya jelas melihat bagaimana Ata menghela napas beberapa kali. Mungkin saja saat itu Ata tengah meredam amarah seperti yang saat ini ia lakukan.
"Tepatnya subuh, masih pagi buta. Jadi, nggak ada saksi mata satu pun selain Ata." lagi-lagi suara itu terasa lembut mengisi telinga Aya.
"Namanya Sheena, cantik, cerdas, dan ekspresif. Dia polos, sekalinya kenal cinta langsung jadi manusia bodoh," ucap wanita yang kini duduk di samping Aya.
Keduanya bertemu saat sama-sama saling ingin mengirimkan bunga. Namun, wanita paruh baya itu datang lebih dulu. Kemudian mempersiapkan Aya untuk datang menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Akan tetapi, wanita itu melihat betapa gamang gadis di depannya. Wanita itu paham gadis muda itu tengah kebingungan, seperti mencari kepastian di mana ia harus berhenti dan mengatakan apa yang selama ini terpendam.
"Tapi, kenyataannya memang begitu. Pengkhianatan dalam suatu hubungan, apalagi ikatan pernikahan itu seperti racun. Kalau dibiarkan akan membunuh kita pelan-pelan. Jadi, aku nggak bisa menyalahkan jalan yang sudah dipilih mama kalian," lanjutnya panjang.
Aya kontan menoleh. Sedikit pun ia tak menyebutkan Sepatah kata saat bertemu dengan wanita itu. Namun, bagaimana bisa wanita itu mengetahui bahwa ia sedang mencari mana kandungnya? Dan lagi, baru saja wanita itu mengatakan mama kalian. Kalian? Jamak, ini bukan mengarah pada satu orang. Kebingungan telak kini memukul Aya dengan tanda tanya besar yang makin membengkak di dalam kepalanya.
"Cahaya Bulan, 'kan? Saudara kembar Cahaya Matahari?" tanya wanita itu hangat.
Ia tatap sepasang manik mata Aya yang diturunkan oleh Sheena sahabatnya. Gadis itu sama cantiknya dengan Ata. Hanya saja Aya jelas lebih mirip dengan Sheena, gadis yang anggun, lugu, dan memiliki kepribadian yang lemah lembut. Sedangkan Ata, gadis itu telah dibentuk oleh keadaan sehingga menjadi sosok yang amat sangat kuat. Menjadi tegar sekelas karang di lautan, meski kenyataannya Ata terlalu banyak menutup diri dari dunia luar. Namun, demikian Ata tetaplah gadis yang luar biasa. Yang memiliki karakter paling asing pada remaja seusianya.
Anggini—nama wanita itu, tersenyum hangat membelai rambut panjang hitam milik Aya. Gadis itu semakin terlihat kebingungan setelah mendengar ucapannya.
"Saya tau, hubungan kamu dan Ata. Juga kisah keluarga kamu yang sebenarnya."
"Tt-tante, siapa?" Aya tergagap saking terkejutnya.
Wanita itu tersenyum padanya. Menarik pundak Aya hingga gadis itu berada dalam pelukannya dan menepuk punggung Aya pelan. Hangat untuk menyalurkan ketenangan pada gadis yang sejak pertama kali ia lihat tadi tampak sangat gugup dan ketakutan.
"Apa pun yang kamu rasain sekarang, lepasin. Jangan ditahan, nggak baik buat diri kamu sendiri," bisiknya hangat.
"Kita cuma manusia biasa, semua kisah yang pernah terjadi itu bukan kehendak kita. Nggak ada yang sepenuhnya salah kamu, atau orang lain. Ada porsinya masing-masing, sayang," ucap Anggini, "lepasin."
Beberapa detik kemudian Aya menangis di pelukan wanita asing tersebut. Di depan pusara mama kandung yang belakangan ini ia cari. Bahkan sebanyak apa pun Aya bertanya pada ayah, lelaki itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan penjelasan padanya tentang hal ini.
*M a t a h a r i*
Pelajaran olahraga yang biasanya menjadi satu-satunya favorit Ata, mulai hari ini dan detik ini juga Ata mungkin saja akan segera meninggalkan sekolah saat jam pelajaran olahraga. Gadis itu kini telah mengenakan kaus olahraga serta celana training panjang, ia tertawa tak percaya melihat siapa yang kini berdiri di tengah lapangan. Seorang pria yang tengah di kerumini oleh anak-anak gadis satu kelasnya alias guru pengajar olahraga yang baru.
Tak lain dan tak bukan pria itu adalah Lembayung Senja. Ata masih terkekeh tak percaya sambil bersedekap d**a di sisi lapangan. Kini tahulah gadis itu alasan Bayu keluar dari kantor kepala sekolah kemarin. Meskipun sejauh ini ia tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Bayu, tetapi Ata benar-benar tak ingin tau. Gadis itu bergegas pergi. Sebelum kemudian mendengar suara peluit berbunyi nyaring.
"Oke, oke sesi perkenalan kita lanjutkan nanti. Sekarang saya kasih waktu kalian sepuluh menit untuk pelemasan. Karena setelah itu saya mau mengetes kecepatan lari kalian," ucap Bayu ramah.
Beberapa siswi menjerit heboh, "saya pasti paling cepet, Kak! Apalagi kalau suruh lari ke masa depan sama Kak Bayu," balas seorang siswi kemudian disusul sorakan panjang dari teman sekelasnya.
Beberapa anak lelaki yang memilih duduk dengan meluruskan kaki di tengah lapangan. Tentunya sambil menatap bosan ke arah kerumunan yang mulai melonggar sebab pak guru penjaskes baru tersebut bergegas pergi dari sana.
"Oke, sepuluh menit pelemasan. Saya tinggal sebentar." Bayu bergegas pergi dari sana.
Meninggalkan anak-anak muridnya untuk mengejar seseorang yang baru saja tertangkap mata untuk melarikan diri dari pelajaran ini. Tepat di sebuah koridor yang sepi dekat dengan tangga menuju ke rooftop, Bayu menarik lengan gadis berambut sepundak tersebut sehingga membuatnya menoleh.
"Kabur? Saya kasih kamu lima poin pelanggaran karena pergi sebelum pelajaran di mulai," ucap Bayu.
Namun gadis itu tak peduli, ia menghempaskan tangannya begitu saja dan bergegas pergi. Akan tetapi, Bayu juga tak menyerah semudah itu.
"Sepuluh poin kalau kamu nggak kembali ke lapangan sekarang," ucapnya lagi.
Saat itu Ata berhenti pada anak tangga ke tiga. Gadis itu memutar tubuh ke arah Bayu dan menatap cowok itu dengan tatapan flat.
"Terserah, saya nggak peduli," balasnya sebelum kemudian bergegas pergi menaiki anak tangga untuk menuju ke atas.
Ata benar-benar sudah kehilangan moodnya untuk mengikuti pelajaran favoritnya kali ini. Gadis itu bertekad di minggu yang akan datang, ia tak akan pernah keluar dari kelas dan mengikuti pelajaran penjaskes lagi. Sedangkan Bayu hanya menatap kepergian Ata dengan segaris senyum. Ia tau mungkin ini terlalu terburu-buru. Namun, hanya ini satu-satunya cara yang ia temukan setelah sekian lama memikirkan bagaimana caranya Bayu melindungi orang yang ia sayangi. Sedetik kemudian cowok itu kembali menatap sekitar, ia ingat sejak pagi tadi belum melihat keberadaan Aya di sekolah ini.
"Kak Bayu!" panggil seorang siswa di tengah lapangan.
Cowok itu mengangguk sambil berlari kecil menuju ke tengah lapangan dan bersiap mengisi kelas pertamanya di sekolah ini.
*M a t a h a r i*
-B E R S A M B U N G-