57

1860 Kata
Sebelum baca jangan lupa tekan love! Selamat membaca gais! *M a t a h a r i* Ata masih menatap kegiatan olahraga di bawah sana di atas rooftop. Gadis itu sekali lagi menghela napas pendek melihat Bayu berdiri di sana. Terlebih kenyataan bahwa cowok itu kini menjadi seorang pengajar di sekolah yang ia tempati. Meskipun berusaha acuh, tetapi dalam benak Ata, gadis itu juga masih menerka-nerka alasan Bayu datang ke sekolah. Padahal di rumah sakit kala itu, ia telah menjelaskan dengan gamblang pada Bayu. Bahwa kehidupan mereka tak lagi sama dengan masa silam. Sebelum keduanya mengenal jarak dan banyak penghianatan. Ata hanya tak ingin menyimpan lebih banyak luka, apalagi menciptakan rasa sakit yang tak ingin ia alami lagi. Kecewa pada seseorang, bagi Ata sakitnya tak pernah main-main. Gadis itu mundur dari pinggiran rooftop, menjauhkan diri dari pagar pembatas setinggi d**a. Lantas mengambil alih tempat duduk kosong yang selalu ia tempati. Ia duduk di sana meluruskan kaki sambil bersedekap d**a menatap lurus ke depan. Tepatnya pada langit yang terlihat sangat biru hari ini, dan matahari tengah bersinar dengan penuh semangat. Mengapa sulit sekali membangun masa depan yang baru untuknya? Padahal Ata hanya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dengan orang-orang yang kini berada di dekatnya. Tanpa masa lalu kelam yang meskipun tak sanggup ia hapus, tetapi setidaknya tak akan lagi terulang kejadian yang serupa. Kecewa itu tak pernah bisa disembuhkan selain oleh penorehnya sendiri. "Tolong bilang ke aku kalo semua ini cuma mimpi," bisik Ata entah pada siapa. Ia harap, semua luka juga rasa sakit yang terlalu nyata itu hanya sebuah mimpi belaka. Sesuatu yang tak pernah terjadi dalam kehidupannya, meskipun harapan itu hanya sesuatu yang terlalu fana untuk sekedar jadi angan-angan. Gadis itu membuka ponsel yang berada dalam saku celana. Memasang earphone hitam yang berwarna serupa dengan ponsel genggamnya. Lalu seperti biasa, Ata memutar sebuah lagu dan mendengarkannya sendirian di atap gedung sekolah. Untuk sekedar memperbaiki mood yang kacau pagi itu. Aku mengerti Perjalanan hidup yang kini kau lalui Ku berharap Meski berat, kau tak merasa sendiri Kau telah berjuang Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah Biar ku menemanimu Membasuh lelahmu Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia Aku di sini Walau letih, coba lagi, jangan berhenti Ku berharap Meski berat, kau tak merasa sendiri Kau telah berjuang Menaklukkan hari-harimu yang tak indah Biar ku menemanimu Membasuh lelahmu Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia, haa-haa Haa-haa Izinkan kulukis senja Mengukir namamu di sana Mendengar kamu bercerita Menangis, tertawa Biar kulukis malam Bawa kamu bintang-bintang 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia 'Tuk temanimu yang terluka Hingga kau bahagia - Melukis Senja - Budi Doremi *M a t a h a r i* Bunda menerima nampan berisi dua cangkir teh chamomille, juga sebuah roti bakar dengan topping keju di atasnya. Ia mengangguk pada anak lelakinya, meminta cowok itu untuk turun dan menutup akses tamu lain untuk naik ke atas. Sebab siang itu bunda memutuskan untuk membicarakan hal-hal yang selama ini ia simpan. Bukan berniat untuk melukai, tetapi ketidaktahuan gadis itu justru akan menjadi hal paling disesali jika tak diungkapkan saat ini juga. Benar saja, wanita bernama Anggini yang bertemu dengan Aya di tempat pemakaman umum tadi pagi adalah bundanya Senja. Wanita itu memang berencana mengunjungi makam sahabatnya, tetapi siapa sangka ia malah bertemu dengan anak dari Sheena. Seorang teman yang sudah seperti saudara baginya, yang mati dengan luka pun meninggalkan luka untuk anak gadisnya. "Shee, inget kamu masih punya Ata. Kalau kamu seperti ini terus, kasihan anakmu," ucap Anggini kala itu. Tepat saat Sheena menghubunginya lewat telepon. Sayang posisi Anggini saat itu sedang berada di luar kota, mengurus pemakaman suaminya yang meninggal karena kecelakaan. "Aku titip anakku sama kamu, Gin." "Jangan gila, Sheena!" sentak Anggini dari seberang. Ia bahkan menjauh sejenak dari para pelayat yang sibuk membacakan surat Yasin di depan jenazah suaminya. Seraya mengusap sisa air mata mencoba untuk tegar, terlebih mendapat cerita dari sahabatnya tentang pengkhianatan seperti ini membuatnya merasa cukup tertekan. Untung saja, Senja sudah terlelap di kamar bersama neneknya. Jadi Anggini bisa sedikit lebih tenang hari itu. Kini yang terdengar dalam sambungan telepon itu hanya isak tangis Sheena, Anggini pun tak sanggup mengatakan kalimat lain, sebab ia sendiri tengah berada dalam titik kritis. Wanita itu meraup wajahnya dengan telapak tangan. "Tunggu aku dua minggu lagi, Shee. Aku bakal ke sana jemput kamu sama Ata," ucap Anggini, "enggak, enggak. Seminggu. Satu minggu aja, tolong diam di sana sebentar, aku pasti datang buat kamu nanti." Namun, tak ada balasan selain tangis yang di dengar oleh Bunda hari itu. "Jawab, Shee. Kamu pasti baik-baik, aja. Tolong, jangan ke mana-mana," panik Anggini yang masih mencoba untuk setenang mungkin membujuk sahabatnya tersebut. Tepat setelah ia meluncurkan satu kalimat tersebut, sambungan telepon terputus begitu saja. Sejak hari itu juga tak lagi ada kabar dari Sheena, bahkan saat Anggini mencoba menghubungi wanita itu. Tak sekalipun panggilannya terjawab. Selang satu minggu kemudian, Anggini mendapatkan telepon dari nomor Sheena. Akan tetapi, bukan suara Sheena lagi yang ia dengar, melainkan seorang petugas kepolisian yang mengabarkan tentang kematian sahabatnya itu. Anggini tersenyum hambar mengingat semua memori yang masih tersimpan rapi dalam benaknya hingga detik ini. Andai saja hari itu ia datang lebih cepat, mungkin Ata tak akan pernah mengalami luka sedalam ini. Pun dengan sahabatnya, mungkin saja mereka masih bisa bersama sampai detik ini juga. "Minum dulu, perutmu pasti belum diisi apa pun dari pagi, 'kan?" pinta Anggini menatap Aya yang sedari tadi tertunduk diam. "Nggak ada gunanya menyesali semua itu terlalu dalam, karena itu nggak akan bikin semuanya kembali baik-baik aja," katanya, sontak hal itu membuat Aya mendongak, "yang kita lakukan cuma harus memperbaiki semuanya, sebisa mungkin. Sekeras mungkin. Kalau cuma menyesal, nggak akan ada yang bisa diselesaikan, Aya." "Tante mamanya, Kak Senja?" Anggini mengangguk, kemudian menyodorkan teh yang masih mengepulkan uap hangat lebih dekat ke tangan Aya. "Minum, habisin dulu makanannya. Baru saya lanjut cerita," balasnya. "Saya nggak mau kamu sakit, karena ke depannya. Kamu harus lebih kuat lagi dari pada hari ini, Cahaya Bulan." Untuk beberapa detik kemudian, kedua pasang mata itu saling bertemu, beradu pandang dalam diam dan menyorot semakin dalam. Saat itu juga, Anggini seperti kembali dipertemukan dengan Sheena. Sahabatnya yang lebih baik dari apa pun yang pernah ia punya. Gerak-gersik Aya, cara gadis itu bicara, bahkan caranya menangis sangat persis seperti mamanya. Anggini tertawa skeptis menghadapi semua yang kini melintas dalam benak. Ia memalingkan wajah lebih dulu, membiarkan Aya menikmati suguhan di kafe yang telah didirikan oleh Ata tersebut. Membuat sepi lebih banyak mengisi waktu di antara keduanya. Karena selain suara alunan biola yang dimainkan oleh piringan hitam jadul tersebut, tak ada hal lain yang terdengar. Sesekali suara klakson dari jalanan cukup sampai ke lantai dua. Membuat salah satu dari mereka saling mencuri pandang atau membuang pandangan ke bawah sana. Pada jalanan yang dipenuhi kendaraan penuh lalu lalang. Surabaya tak pernah sepi. Kota ini hampir tak pernah tidur setiap harinya. Penuh sesak menelan kesibukan manusia dengan tawanya, duka, bahkan perasaan hampa. Sudut-sudut kota besar yang dihuni oleh bocah-bocah paling berani tanpa alas kaki. Paling kuat berlari meski perut kelaparan setengah mati. Juga paling tegar, meski berulang kali dipaksa tumbang oleh keadaan. Semesta memang tak sepenuhnya adil untuk semua umat. Akan tetapi, semesta selalu memiliki waktu yang tepat untuk menunjukkan kapan manusia harus tertawa atau pun terluka. "Saya dan Sheena, mama kamu dan Ata. Kami bersahabat sejak SMP," kata Bunda membuka percakapan kembali. Membuat fokus Aya kembali tertuju hanya pada wanita paruh baya tersebut. "Seperti yang saya bilang, dia wanita baik, cantik, dan pintar. Ayahnya orang rusia, ibunya asli jawa. Kalau kamu penasaran dia seperti apa, lihat ke cermin." Anggini tersenyum lagi. Menatap Aya seolah sedang kembali mengobrol dengan Sheena. "Satu tahun menikah dengan Rama, Sheena melahirkan kalian berdua di Surabaya. Dan menetap di kota ini, saya masih inget. Gimana bahagianya dia waktu punya kalian berdua." Bunda mengenang masa yang tak akan pernah hilang. Sedangkan gadis di depannya juga tak melewatkan satu kata pun yang keluar dari bibir Anggini. Aya menyimak semua cerita itu sambil menguatkan hati, meski perih sebab tak satupun memori tentang ibu ia miliki. Namun, Aya harus mengetahui semuanya. Gadis itu meremas kesepuluh jemarinya di bawah meja. "Kehidupan kalian baik-baik saja selama tujuh tahun. Waktu itu Sheena bilang mau mendirikan kafe bersama ayah kalian. Tapi, hal itu nggak pernah terjadi setelah dia mendadak ditalak." "Tujuh tahun?" tanya Aya. Anggini menggangguk, "Tepatnya sepuluh tahun silam. Saat ayah kamu memutuskan untuk melepaskan Sheena, wanita yang menemani kariernya dari nol. Untuk tinggal bersama Anna, anak seorang investor yang memiliki banyak tanah dan bangunan di kota-kota besar." "Tapi, kenapa aku nggak inget apa pun soal mama?" tanya Aya kembali, suaranya parau kali ini. Anggini beranjak dari kursi, wanita itu berpindah ke sisi Aya dan mengusap kedua lengan gadis itu pelan. "Karena sejak usia kamu tujuh tahun, kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Anna. Setiap waktu, Anna bilang ke saya kalau dia rindu sama Cahaya Bulan. Sheena bilang, kasihan Ata sendirian. Cahaya Mataharinya redup, karena Cahaya Bulan pergi." Aya menggeleng pelan, berkali-kali menghapus air mata yang tak pernah bisa dihentikan dan mengalir begitu saja melewati kedua pipinya. "Sekali lagi kamu harus inget pesan saya, ini bukan salah kamu, Sayang. Semuanya memang udah di tata seperti ini," jelas bunda. Tak ada sahutan, Aya masih sesenggukan menelan tangis yang tak bisa ia kendalikan. Membiarkan wanita di sebelahnya menepuk punggungnya dengan hangat. Rasanya, setelah sekian lama Aya seperti dibawa kembali pulang ke rumah yang sesungguhnya. Pelukan wanita asing di sebelahnya, terlalu hangat. Sehingga Aya enggan untuk melepaskan. "Jadi, bukan salah Ata juga dia bersikap seperti itu. Karena Ata melihat gimana cara mamanya mengakhiri hidup pagi itu. Bahkan selama satu minggu penuh, Ata sendirian di pusara mamanya. Nggak ada satu orang pun yang datang buat dia, bahkan Rama. Ayahnya," terang bunda panjang lebar. Detik itu juga, mendengar kenyataan yang terlalu mengerikan untuk sekedar dibayangkan, membuat hati Aya seperti disayat ribuan silet secara bersamaan. Pedih. Lalu bagaimana selama ini Ata mengatasi semua ketakutan itu sendirian? Sebagai saudaranya, Aya bahkan tak pernah tau apa yang terjadi pada Ata. Gadis itu gemetar, memeluk dirinya sendiri, sesekali menutup wajahnya yang sudah berantakan karena terlalu banyak menangis. "Ata sakit. Mentalnya terluka terlalu banyak, makannya dia sering menjauh dari orang-orang baru atau beberapa orang tertentu. Bagi Ata, masa lalu itu luka, dan selama ini dia pendam semuanya sendirian. Saya juga tau semua keluhan Ata dari dokter sikolog yang menangani Ata," jelas Anggini panjang, "jadi, tolong. Maklumi sikap dingin, Ata, ya?" "Mm-maaf, mm-maaf ... maafin aku, Ta," isak Aya hebat. Diam-diam Anggini menghela napas panjang. Meski melukai, tetapi ia yakin telah mengambil jalan yang benar. Karena bagaimanapun juga, Aya harus tau kebenaran yang sesungguhnya. Wanita itu mendekap erat gadis belia dalam pelukan. Mencoba memperbaiki semuanya sebisa mungkin. Setidaknya, untuk anak-anak Sheena agar tak lagi terluka. *M a t a h a r i* -B E R S A M B U N G- Terima kasih sudah baca!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN