58

1771 Kata
Sebelum baca jangan lupa tekan love! Happy reading, guys! *M a t a h a r i* "Makasih banyak Tante," suara parau milik Aya terdengar mengisi kesepian setelah cukup lama gadis itu berusaha meredakan sesenggukannya. Sepasang manik mata hazel itu masih menatap Anggini. Terlihat jelas kedua mata sembab Aya semakin membuatnya tampak menggemaskan di mata Anggini. Wanita itu mengusap kedua pipi Aya, kemudian beralih pada rambut hitam panjang gadis tersebut. "Semoga kamu nggak berpikir, saya ingin melukai kamu dengan cerita ini, ya." Gadis itu menggeleng cepat mendengar penuturan Anggini. Ia jelas merasa sangat bersyukur sebab wanita itu mau menceritakan semua kisah yang pernah terlewat olehnya. Aya menyentuh tangan Anggini, menggenggam dan menatapnya sebentar sebelum kemudian berkata, "nggak sama sekali." Ia tersenyum tipis, sangat samar bahkan jika Anggini tak memerhatikan gadis itu dengan sungguh-sungguh, ia tak akan pernah melihat senyum itu. "Aku justru bersyukur banget Tante mau ceritain semuanya ke aku." "Inget. Jangan merasa jadi orang paling bersalah, semua ada porsinya masing-masing, Aya." Orang asing di depannya itu begitu hangat. Bahkan untuk sesaat saja Aya lupa bahwa Anggini, wanita di depannya baru saja ia kenal dalam hitungan jam. Namun, ia telah mendengar banyak cerita tentang masa lalunya. Sesuatu yang tak pernah diucapkan oleh Rama bahkan saat Aya meminta untuk dijelaskan. "Ata—." Anggini menggeleng pelan. Merangkul pundak Aya tanpa berkata apa-apa. Cukup lama, sebelum kemudian mengatakan sesuatu pada gadis tersebut. "Untuk sekarang tahan dulu, nanti ... mungkin beberapa hari lagi. Tante bantu kalian ketemu buat bicara." "Tante serius?" Pertanyaan itu diangguki pelan oleh Anggini, membuat segaris senyum kembali tercipta di bibir Aya. "Gimana pun juga, kalian saudara. Seenggaknya, harus ada titik temu yang bisa menuntun kalian ke jalan yang lebih terang lagi." Diam-diam Aya merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Anggini. Tepat di makam mama, seseorang yang bahkan ia lupa namanya. Yang bahkan ia lupa rupanya seperti apa. Namun tak lagi sekarang, karena cerita dari masa silam juga beberapa lembar foto itu akan membuat semua kenangan baik tersebut hidup dalam benak dan hati Aya. Sebisa mungkin, sekeras mungkin Aya akan berusaha mengingat lebih banyak tentang mama. "Udah hampir sore, bentar lagi Ata pulang." Anggini mengingatkan. Meski tak bermaksud menyembunyikan pertemuannya dengan Aya, tetapi ia juga tak berniat menunjukkan hal ini pada Ata untuk saat ini. Mengingat anak gadisnya tersebut baru saja pulih dari sakit, ia tak ingin mengambil resiko dengan Membuat Ata kembali tertekan dan banyak pikiran. "Yaudah, aku pamit, Tan." sesaat Aya beranjak dari kursi, Anggini pun melakukan hal yang serupa. Wanita itu meraih lengan Aya dan mengikuti langkah gadis itu untuk turun ke lantai bawah. "Biar Adit yang nganter, ya. Sekalian jemput Ata," ucap wanita itu begitu sampai di depan meja pemesanan. Di mana Senja mengenakan celemek dan topi seperti biasa berdiri di belakang mesin pembuat kopi sebagai barista. Mendengar hal itu kontan Senja mendelik menatap bundanya. "Dit, anter Aya pulang, ya. Jangan sampai lecet," pinta bunda menatap putra sulungnya. "Ndaa?" Sebelum anak lelakinya itu kembali merengek seperti biasanya, Anggini sudah lebih dulu memalingkan wajah. Tak pelak hal itu membuat Senja merengut kesal, tetapi meski demikian. Cowok itu juga tetap mematuhi perintah mamanya. Ia melepaskan celemek dan memberikannya kepada Lukman yang berdiri di sebelahnya. "Nitip bentar," bisik cowok itu. Ia bergegas menarik jaket denim dan menyusul bunda yang sudah berdiri di teras kafe bersama Aya. Padahal sejujurnya Senja tak pernah ingin berurusan dengan orang-orang di masa lalu Ata. Selain tak ingin membuat Ata terluka lagi, Senja juga takut jika orang-orang itu sewaktu-waktu merebut Ata darinya. Dan Senja tak bisa kehilangan gadis itu. Ia tatap raut wajah sembab Aya sekilas, kemudian berpaling mengenakan helm. Begitu Senja duduk di atas motor matic ia menyerahkan helm yang biasanya dikenakan Ata kepada Aya. Bagaimapun juga, setidak sukanya Senja pada Aya, gadis itu sedang tidak dalam kondisi baik. Jadi, Senja tak punya pilihan lain selain mematuhi perintah bunda, 'kan? "Hati-hati, Dit." Anggini kembali mengingatkan putranya. Akan tetapi, tak ada jawaban dari Senja. Dan hal itu membuat Anggini semakin merasa ingin menjahili Senja. "Ngambek sama Bunda? Nggak mau jawab?" "Iya, iya. Pasti hati-hati, bawa anak orang, nih," balas Senja setengah dongkol. Melihat reaksi Senja yang sesuai dengan dugaannya, tentu saja hal itu membuat tawa kecil lolos dari bibir Anggini. Ia mengusap punggung Senja dan mengulas senyum pada Aya yang terlihat canggung. "Udah, aku berangkat dulu." Seperti biasa Senja menyempatkan salim kepada bunda. Sebelum benar-benar menyalakan mesin motor dan bergegas pergi dari pelayaran kafe. Begitu motor melenggang meninggalkaan pelataran kafe, Aya berbisik pada Senja cukup keras karena cowok itu melanjutkan motornya kencang. "Aku bisa pulang sendiri, Kak," teriak Aya dari belakang. Spontan Senja menghentikan motornya di tepi jalan. Namun, cowok itu tak menurunkan standar motornya. Dan perbuatan senja tersebut berhasil membuat Aya terdorong ke depan dan tak pelak, sebuah tabrakan antara kedua kepala yang terbalut helm itu pun terjadi. "Aish!" desis Senja memegang kepalanya yang terbungkus helm. Sedangkan Aya mulai merutuki dirinya sendiri yang sok-sokan ingin pulang sendiri dengan keadaan mata sembab parah. Sekarang Senja benar-benar berhenti, maka ia harus mencari angkot atau ojek untuk sampai ke rumah. Akan tetapi, siapa sangka cowok itu melepaskan jaketnya saat Aya hendak turun. Senja bahkan menyilangkan tangan ke samping menahan Aya agar diam di jok belakang. "Diem di situ," peringat Senja membuat Aya kembali diam. "Nih, pakek," ucapnya lagi, sambil menyodorkan jaket denim miliknya kepada Aya, "nggak usah ke-pedean, ya. Kamu masih pakai seragam soalnya, kalo saya dikira nyulik anak sekolah 'kan, nggak lucu." Di balik punggung Senja, Aya mengulum senyumnya. Menatap cowok itu dari kaca spion sambil mengenakan jaket Senja yang terlihat kebesaran padanya. Cowok itu kembali melajukan motor dengan kecepatan sedang, karena kendaraan juga cukup padat siang itu, Senja tak mau ambil resiko dengan ngebut membawa anak orang yang sedang kalut. Maklum, jam pulang kantor. Dalam hati Aya, ia menyesal telah salah menilai Senja. Meski cowok itu bersikap acuh padanya, nyatanya Senja juga peduli kepada Aya. Buktinya cowok itu mau mengatarkan Aya pulang bahkan meminjamkan jaketnya kepada cewek itu. *M a t a h a r i* Setelah lomba olimpiade matematika ipa selesai, Keke langsung di antarkan pulang ke rumahnya oleh pihak sekolahan. Dengan hasil sebagai juara pertama dengan seratus poin sempurna, gadis itu berhasil mengalahkan dua peserta lain afi SMA tetangga. Namun, hal itu tak sedikit pun membuat Keke merasa bangga apalagi senang. Sesampainya di rumah, hanya bibi yang menyambutnya dengan hangat. Jangan tanyakan di mana mama Keke. Wanita itu hanya datang saat ia menerima surat peringatan, poin pelanggaran atau nilainya turun. Karena bagi mama Keke hanya itu yang lebih penting ketimbang anak kandungnya sendiri. "Mau langsung mandi atau makan dulu?" tanya bibi. Wanita paruh baya yang sudah menjaga Keke seperti anaknya sendiri itu, meraih tas dipunggung Keke dan membawakannya sampai ke lantai dua. Tepat di kamar Keke. "Mandi aja, Bi. Capek," balas Keke pendek. "Bibi siapin dulu air angetnya." tanpa menunggu lebih lama lagi. Bibi bergegas ke atas untuk menyiapkan air. Membiarkan Keke melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan lesu. Gadis itu bahkan tak mempedulikan tentang piala juga piagam miliknya yang masih berada di sekolah. Untuk hari ini, Keke hanya ingin beristirahat lebih banyak lagi. Ia cukup lelah melakukan hal hal yang sama sekali tak sesuai dengan keinginannya. Gadis tujuh belas tahun itu, ingin menghentikan semuanya sampai di sini. Semua keinginan mama yang selalu mengekangnya untuk bahagia. *M a t a h a r i* Motor matic milik Senja berhenti di depan gerbang setinggi dua meter. Di balik pintu gerbang megah berwarna putih tersebut terdapat sebuah rumah besar nan mewah dengan pekarangan yang sangat luas. Cowok itu mematikan mesin motornya, membiarkan Aya turun sambil matanya terus mengamati rumah berat putih Gading tersebut. Mirip seperti rumah rumah orang kaya dalam sinetron yang sering ditonton oleh Bunda. Untuk sesaat cowok itu terkesiap kagum, bukan karena kemewahan rumah, tetapi lebih kepada manusia yang ada di dalamnya. Rama, lelaki paruh baya itu hidup dengan baik selama ini tanpa memikirkan Ata yang sempat terlunta-lunta di luar sana sendirian. Tanpa sadar cowok itu melengos begitu saja, hanya sedetik sebelum tepat Aya menyerahkan helm yang dikenakan kepadanya. Senja mengamati Aya sejenak, kemudian meraih helm dari tangan gadis itu dan menggantungkannya di salah satu lengan. "Jaketku," pinta Senja, melihat Aya tak memiliki gerak-gersik untuk melepaskan jaket miliknya. Benar saja dugaan Senja bahwa cewek itu tak sadar sudah mengenakan jaketnya selama ini. Aya menggigit bibir bawahnya, tetapi tangannya cekatan melepas jaket kebesaran Senja dari tubuhnya. "Makasih banyak, Kak." Tangannya terulur menyerahkan jaket pada pemiliknya. Dan hal itu langsung di sambut oleh Senja dengan cepat. Ia terburu-buru menyalakan mesin motor dan melaju cepat dari sana sebelum mendengar apa apa lagi dari Aya. Lagi pula sekarang sudah waktunya Ata pulang, tentu saja Senja tak ingin terlambat menjemput gadis itu. Dari tempatnya berdiri Aya menatap punggung Senja yang makin menjauh sampai kemudian menghilang. Cewek itu menghela napas sesak yang tak kunjung hilang. Untuk beberapa detik setelah cukup lama terdiam di posisinya, Aya memutar tubuh. Mengamati pintu gerbang yang telah berkali-kali ia lewati dengan tawa dan penuh kenangan manis lainnya. Hanya saja, setelah mendengar semua cerita dari Anggini, bundanya Senja semua perasaan itu tak lagi sama. Pulang tak lagi membuatnya merasa nyaman. Bahkan untuk melihat bangunan megah itu saja, rasanya sudah membuat Aya seperti tercekik dengan penuh rasa bersalah. Sepuluh tahun lamanya ia hidup dengan bahagia, selain memikirkan Ata. Namun, saudara kembarnya di luar sana justru merasakan perih yang tak pernah dibagi dengan siapa pun itu. Kini Aya merasa sangat berdosa untuk sekedar tertawa tanpa beban. Sebab selama sepuluh tahun itu pula, tanpa ia sadari dirinya telah melepaskan Ata untuk pergi semakin menjauh darinya. "Kalau ada kata yang lebih pantas aku ucapin ke kamu selain maaf, aku bakal bilang itu ke kamu, Ta." Akan tetapi, ia tak boleh lemah seperti ini. Seperti kata Anggini bahwa menyesali semuanya tak akan merubah masa depan, pun dengan masa lalu yang telah berakhir dengan karam. Aya menegakkan punggung, ia berjalan melewati gerbang untuk kembali masuk ke dalam rumah yang akan membuatnya tersesat dalam kemelut. Gadis itu hanya perlu bersabar, ia yakin bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Bahwa ia bisa memperbaiki semua, termasuk hubungannya dengan Ata. Setidaknya, itulah hal yang amat sangat ingin Aya perjuangan untuk saat ini. Agar tak ada kesalahpahaman lagi, antara ia dan saudara kembarnya sendiri. "Kuat, kamu kuat, Aya!" Gadis itu menepuk dadanya sendiri, sebelum kemudian melenggang pergi memasuki pekarangan rumah yang rapi, tapi selalu sepi. *M a t a h a r i* -B E R S A M B U N G- Silahkan mampir ke ceritaku yang lain ya! Jangan lupa kasih dukungan dengan tekan love dan share biar orang lain ikut baca, yes. Sekian dan, terima gaji! ? Lav yu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN