Selamat membaca *^^
*M a t a h a r i*
Putra Dewa Matahari
Raja Angga Karna, putra Ibu Kunti dari Dewa Matahari. Beberapa orang mungkin asing dengan nama tersebut. Sebuah nama yang malam ini melintas di benak Ata. Gadis itu ingin berbagi sedikit hal yang (mungkin) penting untuk diketahui.
Pembaca baik, dalam tulisan kali ini Ata hanya ingin berbagi tentang apa yang ia lihat. Apa yang Ata pikirkan juga yang di rasakan. Beberapa dari kita mungkin pernah menangis saat membaca atau menonton sebuah film. Hal itu di alami Ata saat menyaksikan kematian Angga Karna yang tewas diakhiri oleh adiknya sendiri yakni Raden Arjuna. Dalam kisah peperangan mahabharata.
Sebuah kisah peperangan antar saudara yang penuh dengan pesan moril di dalamnya. Dan sejak dulu, Ata suka sekali membaca cerita sejarah para pewayangan.
Angga Karna adalah seorang anak yang dihanyutkan di sungai, kemudian dirawat oleh keluarga kusir yang miskin. Angga Karna memiliki kemampuan memanah yang luar biasa. Selain itu, sifatnya yang ramah berbakti, juga penuh dengan kasih sayang. Namun, semua itu tidak berarti jika ia bukanlah seorang brahmana—keturunan dari keluarga kerajaan. Kenyataannya Angga Karna tumbuh dalam kalangan bawah (rakyat biasa), bukan dari kalangan brahmana. Ia hanyalah seorang anak kusir yang dirawat oleh Ibu Rada.
Awalnya Angga Karna tidak begitu memedulikan siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Sampai banyaknya serangan dari penduduk sekitar yang mengoloknya tanpa melihat kebaikan Angga Karna. Tanpa melihat kemampuannya, bak setitik tinta hitam di atas kertas putih pun tak nampak. Seluruh penduduk menghinanya untuk keluar dari area peperangan. Mencelanya sebagai rakyat kecil yang hanyalah seorang anak kusir. Angga Karna tidak diperbolehkan untuk unjuk kemampuan. Ia di remehkan di depan banyak orang dengan sangat mengerikan.
Lantas apa yang salah jika seeorang yang memiliki kelebihan tidak terlahir dari keluarga yang berada? Bukankah kita tidak pernah bisa memilih oleh siapa kita akan dilahirkan? Dari mana kita berasal? Dan bagaimana tulisan takdir yang telah disuratkan?
Haruskah seseorang yang memiliki kelebihan terlahir dari keluarga yang terpandang? Atau mungkin, haruskah seseorang menjadi besar dulu agar bisa diakui keberadaanya.
Pada akhirnya Angga Karna hanyalah manusia biasa kala itu. Mungkin ia masih sanggup untuk tak dihargai sebab tak memiliki keluarga bertahta, tetapi seringkali manusia paling tak bisa menahan diri saat direndahkan oleh sesamanya. Apalagi di depan banyak orang.
Sayangnya, itulah jalan yang dipilih oleh Angga Karna. Ia memilih untuk menjadi Raja agar dipandang oleh penduduk yang pernah menghinanya meski caranya keliru. Angga Karna memilih untuk bersekutu dengan Duryudana demi mendapatkan perhatian dari penduduk yang pernah mengoloknya. Pada kenyataannya, Karna belum menyadari bahwa ia tetaplah seorang anak kusir.
Manusia kadang lebih buas dari macan tutul yang kelaparan. Sebuas-buasnya macan tutul mereka tidak akan menyerang spesiesnya sendiri. Justru manusia ini yang lebih menakutkan dari hewan buas sekalipun. Meski tidak semuanya, tetapi memang ada beberapa dalam dunia nyata.
Mereka menertawakan hal tabu yang seharusnya membutuhkan dukungan. Seseorang yang memiliki kelebihan mereka jatuhkan karena tidak memiliki kasta. Sementara seseorang yang jelas tidak mampu berbuat apa pun mereka puja karena tahta.
Yang terjatuh butuh uluran tangan untuk kembali bangkit dan berdiri tegak. Sedangkan mereka yang sudah berdiri tegak membutuhkan keyakinan untuk melangkah maju ke depan. Mereka yang mulai melangkah maju ke depan, juga membutuhkan keberanian untuk mencapai keinginan. Agar luka dari ketakutan, keputus asaan, dan kejatuhan yang tak tertolong itu mampu mereka hadapi. Tidak banyak, cukup satu uluran tangan dan sebuah senyuman.
Katakan pada mereka yang berada di bawah. Bahwa mereka tidak sendirian, dan ... semuanya akan baik-baik saja.
Kita sama-sama manusia. Sama-sama memiliki rasa kepekaan. Untuk apa saling membedakan kalau nyatanya di mata Tuhan kita adalah sama? Untuk apa saling menghina kalau nyatanya kita sendiri sama-sama hina di mata sang kuasa?
Tulisan ini adalah jeritan hati Angga Karna yang Ata tangkap melalui radar tak kasat mata. Seseorang yang berbakat terbuang, tidak seharusnya dijauhi karena kastanya. Akan tetapi, merangkulnya untuk tetap maju melawan kerasnya dunia.
Meski pada akhirnya ia menyadari betapa banyak jalan rusak yang ia tempuh untuk banyak kesalahan tepat di akhir hayatnya. Pada Dewa Matahari ia memohon ampun, atas kesalahan dan kekalahannya melawan hawa nafsu. Karna tewas, dengan senyum dalam pelukan Ibu Kunti.
Angga Karna si Putra Dewa Matahari.
*M a t a h a r i*
Ata menutup buku yang telah penuh dengan coretan tinta hitam. Gadis itu menghela napas pendek sambil menyadarkan punggung pada sandaran kursi belajar. Menatap buku mahabarata yang baru saja selesai ia baca. Bukan sosok Yudhistira yang penuh dengan wibawa, Arjuna yang gagah dan rupawan, Werkudara yang paling kuat dan tak pernah mengenal rasa takut, atau pun pesona si kembar Nakula dan Sadewa yang berhasil menarik perhatian Ata.
Melainkan sosok Karna.
Pria perkasa itu telah mengambil jalan yang salah untuk mendapat pembuktian dari orang lain. Dan kenyataannya, sampai di zaman ini hal seperti ini tetap terjadi dan terus berulang. Ata yakin setiap hari selalu ada Angga Karna yang baru di dunia ini. Mereka yang dihina dan tindas oleh orang-orang yang berkuasa dan merasa paling hebat. Mereka pula yang menciptakan manusia serakah tanpa sadar.
"Nggak akan aku biarin orang-orang itu berulah terus." Ata menatap ke luar jendela.
Udara malam yang basah membuat cewek itu merasa lebih baik setelah melihat kedatangan Bayu di sekolah yang sangat tiba-tiba dan penuh dengan rahasia.
"Tenang aja, Ke. Kamu nggak akan mengalami hal-hal buruk lagi di sekolah," bisik gadis itu.
Tangannya menyentuh sebuah kalung berbandul cincin yang menggantung di leher. Lalu digenggam dengan erat kalung tersebut sambil mengukir segaris senyum hampa.
Mendadak cewek itu menoleh mendengar pintu kamarnya yang terbuka dengan kasar. Menampakkan Senja yang datang membawa dua porsi seblak pesanannya.
"Makan sekarang, yok!" Cowok itu berdiri di sana mengangkat bungkusan kresek putih di depan Ata.
Gadis itu menoleh sejenak, sebelum kemudian tertawa kecil. Untung saja malam ini Ata sedang berada dalam suasana hati yang baik. Jika tidak mungkin Ata sudah menghadiahi Senja dengan tamparan keras karena menerobos kamarnya tanpa permisi.
"Tunggu di sofa. Aku bikin s**u anget dulu," ujar Ata beranjak dari kursinya.
"Pake es, ya!"
Ata mendelik sambil menutup pintu kamarnya. Cewek itu menatap Senja yang sibuk membuka bungkusan.
"Gimana ceritanya s**u anget pake es. Dodol banget sumpah." Ata melenggang ke dapur sambil mengocehi Senja.
Membuat cowok itu terkekeh di sana sambil mencolek kuah seblak yang cukup untuk meredakan keresahannya hari ini.
"Jangan lupa sendok sama piring, Ta!" teriak cowok itu.
*M a t a h a r i*
-B E R S A M B U N G-
Terima kasih sudah baca.
Jangan lupa follow aku juga ya, lavyu!