Langit terlihat lebih dekat dengan bumi pagi ini.
Meski mendung yang menghiasi membuat matahari tak menampakkan cahaya.
Rintik hujan bagai simponi saat mereka bersamaan menjatuhkan diri di atas jendela kaca.
Suara rinduku pun sama seperti mereka.
Selalu datang bersamaan di waktu yang bersamaan pula.
Aku pernah berjanji akan membawamu berlari di tengah hujan bersamaku.
Namun, kenyataan memilukan yang kuterima.
Ketika rindu hadir menciptakan cinta.
Justru kamu yang hilang entah ke mana.
Ia lipat kembali kertas tersebut setelah cukup lama memandangi tulisan rapi dengan tinta merah itu. Setelah ia baca semua isi dan arti dari puisi tersebut. Kenyataan yang tidak bisa ia terima itu terasa semakin dekat dengan kehadirannya. Seseorang yang dulu dekat dengannya.
Ata memasukkan lipatan kertas bertuliskan puisi tersebut ke dalam saku jaket. Ia remas kertas kecil itu di dalam sana, seolah ingin menumpahkan emosi sesaat yang hadir entah karena apa.
"Ma, kayak biasanya dong!" ucap Ata setengah berteriak.
Gadis yang dikucir kuda itu mengangguk pada Ata. Lalu segera menyiapkan apa yang diinginkan oleh majikannya itu. Kopi hitam pahit tanpa ampas. Tidak sampai lima menit Rahma datang dengan nampan bundar yang berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Menyajikannya di depan Ata yang diam menatap titik-titik air di jendela kaca.
"Kopinya, Kak." ucap Rahma mempersilakan.
Saat itu juga Ata menoleh, menarik celemek Rahma membuat gadis itu berhenti dan memutar tubuh ke arah Ata.
"Duduk!"
Rahma yang tadinya merasa takut karena mungkin Ata akan marah karena menerima pelanggan sebelum jam buka, duduk menyembunyikan tangan yang meremas rok hitam dengan gelisah.
"Nggak usah tegang gitu, cuma mau nanya," ucap Ata mulai menyentuh cangkir kopinya.
Mendengar ucapan Ata tidak membuat perbedaan untuk Rahma. Ia tahu Ata adalah orang baik, sangat baik tetapi ia juga terlalu tahu bahwa Ata adalah orang yang pedas ketika sudah marah.
"Kenapa Kak?"
"Pelanggan pertama kita hari ini cowok?" tanya Ata tanpa melihat Rahma.
"Iya, Kak!" Rahma menjawab cepat.
"Pesen apa dia?" tanya Ata lagi.
"Sama kayak kesukaan, Kakak. Kopi hitam tanpa gula," jawab Rahma jujur.
Ata mengangguk mengerti. Matanya terpejam menghirup aroma kopi yang menenangkan. Satu-satunya minuman yang membuat ketakutannya sedikit memudar. Lalu menyesapnya sekali.
"Ya udah." kata Ata menyudahi.
Rahma mengangkat kedua alis menatap Ata. "Udah Kak?" tanya Rahma memastikan.
"Emang mau apa lagi?" kini Ata yang balik bertanya murni karena ketidak tahuan.
Gadis berkucir kuda itu menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Kalau gitu aku balik kerja lagi, ya Kak. Permisi," pamit Rahma sopan.
Setelah menerima anggukan dari Ata, Rahma bergegas kembali ke pantry untuk membantu karyawan yang masih sibuk untuk mempersiapkan kafe. Membiarkan Ata duduk sendiri seperti biasa di tempat favoritnya.
***
Di dalam kamar sunyi bernuansa biru muda itu seorang gadis sudah siap dengan seragam sekolahnya. Meski waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, namun tidak ada alasan untuknya menikmati waktu lebih banyak di atas kasur. Setelah semua pelajaran hari ini ia masukkan ke dalam tas, sekali lagi ia mengamati sekeliling kamar yang di d******i dengan berbagai buku. Matanya terpejam sejenak lalu membuang napasnya pendek.
Lintang Kejora yang kerap disapa Keke. Ia memiliki mimpi yang sejak kecil begitu didambakan. Satu mimpi yang benar-benar ingin ia wujudkan meski hanya untuk dirinya sendiri. Namun, beranjak ke bangku SMP hingga kini ia mulai melupakan mimpi yang sampai detik ini masih menghantui. Karena Keke yakin, tidak ada hal lain yang boleh ia lakukan kecuali belajar. Mama tidak akan membiarkannya tertinggal bak selangkah. Karena itu mama selalu melakukan apa, pun yang terbaik untuk Keke. Bukan..., lebih tepatnya apa yang menurut mama baik untuk Keke.
"Ke, udah siap?" tanya mama yang datang dari balik pintu.
Wajah murung itu masih sama. Hanya seulas senyum kepalsuan yang terlukis di wajah Keke.
"Udah."
"Sarapan dulu, yuk! Nanti kamu bisa pelajari ini di mobil. Mama baru dapet dari tutor kamu. Katanya kisi-kisi buat olimpiade MIPA." kata mama panjang lebar. "Kamu harus jadi kandidat pertama, ya?"
"Ada Vela, Ma. Dia anak ketua yayasan. Pasti dia yang bakalan jadi perwakilan sekolah," balas Keke.
"Cuma karena dia anak ketua yayasan. Kamu mau disaingi sama dia? Kamu harus selalu jadi yang nomer satu Ke."
Anggukan kecil yang Keke sendiri tidak bisa mengartikan membuat senyum mama mengembang. Gadis itu mengikuti langkah mama yang sudah lebih dulu meninggalkan kamarnya.
Perhatian semacam ini dari seorang mama, justru membuat Keke muak dengan segala yang ada di hidupnya. Sesekali ia ingin berlari tanpa kembali lagi. Meninggalkan mama dengan sifat pengekang yang mengurungnya bagai burung dalam sangkar.
***
Gadis berambut panjang itu masih menatap penuh permohonan. Sementara lelaki di sebelahnya masih mencoba untuk bersikap acuh. Bahkan ketika gadis itu nekat menarik-narik lengannya.
"Pliss, Kak!" Aya memohon untuk kesekian kalinya.
Entah untuk yang keberapa kali pula Senja memenghembuskan napas kesal sambil menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Aya.
"Nggak mau!" tolak Senja tegas.
"Kalau kamu punya urusan sama Ata, ngomong sendiri sama orangnya," imbuh Senja berdiri lalu menatap Aya sejenak.
Dalam hitungan detik kemudian lelaki itu berjalan pergi meninggalkan Aya yang masih belum putus asa. Buru-buru gadis itu berlari dan menarik jaket denim yang Senja kenakan.
"Kak Adit?!" katanya setengah berteriak.
Lelaki itu tampak mengatupkan rahang kuat bersamaan dengan sepasang mata yang terpejam erat. Menahan emosi agar tidak melukai gadis menyebalkan itu. Bayangkan saja, sudah satu jam Aya mengikuti kemana pun Senja pergi hanya untuk menanyakan di mana rumah Ata. Dan jelas Senja menolak keras hal itu, beberapa hari yang lalu Ata telah memperingatkannya untuk tidak mencampuri urusan pribadi, seperti seseorang yang coba mencari tahu tentangnya.
Ata bahkan sudah berpesan pada Rahma, tangan kanannya di kafe matahari senja untuk tutup mulut jika ada yang bertanya apa pun tentangnya.
"Keras kepala banget sih! Kalau emang ada urusan sama Ata, cari dia. Tanyain sendiri di mana Rumahnya!" bentak Senja berhasil menarik perhatian pejalan kaki hingga menatap kedua manusia di trotoar itu.
"Karena Ata cuma deket sama Kakak," ucap Aya yang tidak pernah Senja bayangkan.
Ata hanya dekat dengannya? Pertanyaan itu lantas muncul sesaat dalam benak Senja. Pandangannya masih tertuju pada Aya yang masih menatapnya dengan memohon.
"Maaf ya, Dek. Aku nggak bisa bantuin, besok-besok jangan temui aku lagi." ucap Senja kemudian berlari meninggalkan Aya yang diam mematung.
Gadis itu masih menatap Senja yang menghilang di telan kelokan. Rintik kecil air hujan masih turun pagi itu seperti serpihan kristal yang indah. Aya mengadahkan tangan membiarkan titik-titik kecil itu jatuh di tangan lalu menggenggamnya erat. Ia teringat, dulu selalu bersama menari di bawah guyuran air hujan bersama Ata.
Setitik air mata lolos dari pertahanan Aya. Setitik air bening berharga itu menjadi saksi sebuah pengharapan yang ingin dipertemukan dengan kenyataan membahagiakan. Sampai ia tersadar ketika sebuah tangan menepuk bahunya pelan. Ia menoleh, mendapati Bayu yang berdiri menatapnya dengan senyum kemudian berganti dengan dahi yang berkerut karena melihatnya menangis.
"Kenapa? Kecopetan?" tanya Bayu serius.
Tanpa menjawab Aya memeluk kakaknya erat. Menumpahkan tangis dalam pelukan Bayu.
"Ada apaan sih, Ay?" tanya Bayu lagi heran.
Lelaki itu menarik Aya agar menjauh darinya. Supaya ia bisa melihat wajah Aya.
"Ata," hanya sepotong nama yang keluar dari bibir Aya.
Kini, tahulah Bayu apa sebab adiknya menangis sendirian di tepi jalan. Lelaki itu mengangguk mengerti, lalu tersenyum pada Aya.
"Oke, sekarang elap dulu ingusmu. Nanti kamu telat ke sekolah."
Keduanya lalu berjalan mendekati motor besar berwarna hitam di parkiran sebuah toko bunga. Tentunya setelah Aya menghapus air mata yang membekas di kedua pipi.
Sementara itu di tengah perjalanan tanpa Aya tahu. Pikiran Bayu turut berkelana memikirkan orang yang sama. Ia tau siapa Ata yang dimaksud oleh Aya. Namun, sepertinya Aya tidak pernah tau bahwa Bayu juga telah mengenal Ata jauh sebelum Bayu mengenalnya.
Matahari yang ia tinggalkan, sejak saat itu pula ia berusaha untuk temukan. Kini terlalu banyak yang berubah. Terlalu banyak pula yang terjadi dalam perpisahan panjang yang menyesakkan. Apa pun itu yang berimbas pada sesak dalam d**a, Bayu bertekad kuat untuk mengembalikannya. Sebuah kepercayaan, juga kembalinya satu ikatan atas dasar cinta.
Terkadang jarak yang membentang tidak hanya menciptakan rindu yang tak berujung. Namun, juga tentang perasaan cinta pula kasih sayang.
B e r s a m b u n g!