7

705 Kata
Lembayung Senja Di atas tanah merah dulu seorang gadis kecil berdiri menggenggam erat pita jingga. Satu-satunya benda yang mampu menguatkan raga kecil yang rapuh seperti kamboja putih yang gugur di terpa angin. Saat itu satu kamboja yang gugur tepat di atas merahnya tanah yang basah karena air mata, menjadi saksi duka mendalam menaungi gadis berambut hitam panjang. Sepekan berlalu masih sama, gadis kumal masih berdiri di dekat pusara. Menyentuh tanah basah yang diguyur hujan juga air mata. Pita jingga di tangannya tidak lagi berwarna cerah menyala. Tangisnya di sana sendirian, di antara ribuan raga mati yang terlelap untuk sementara waktu yang lama. Dengan pakaian kotor, wajah pucat dan cemong, serta perut yang kelaparan. Kala itu ia bersembunyi di balik mata yang terpejam untuk menghilangkan ketakutan dari beberapa orang yang melihat tanpa ingin menolong. Hingga elegi itu mengisi kekosongan kepala yang masih dihiasi oleh luka kehilangan. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu tersentak menoleh ke belakang dengan wajah takut ia memberanikan diri menatap seorang wanita di dekatnya. Genggaman tangan hangat, pelukan, dan sentuhan lembut membuat ketakutan sirna. Di belakang wanita itu berdiri bocah lelaki yang menatapnya tidak suka. Lantas gadis kecil itu pergi bersama seorang wanita dan bocah lelaki yang menghampirinya. Tanpa meninggalkan pita jingga yang tergenggam kuat di tangan. "Kamu jangan menghilang, aku pasti datang buat temenin kamu." Satu kalimat yang menarik Ata dalam kesadaran nyata. Ia tersentak kembali di atas tempat tidur dengan napas memburu dan keringat yang deras membasahi wajah. Sesegera mungkin ia duduk, meneguk air putih dalam gelas di atas nakas hingga setengah kosong. Tanpa melihat jam, pun, Ata tau ini masih pukul empat pagi. Masih berusaha menormalkan pernapasan yang kacau, ia menyisir rambut pendeknya ke belakang dengan jemari. Kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Kembali Ata berjalan mendekati jendela yang tirainya tersibak menciptakan celah kecil untuk mengintip. Di luar sana masih ada bintang dan bulan yang mengintip dari balik awan kelabu. Ia mendudukkan diri di sofa tanpa mengalihkan pandangan dari angkasa. Sejenak kemudian matanya beralih pada tangannya sendiri. Tepat di bagian cowok kemarin menyentuhnya. Ada rasa tak asing yang membuat Ata cepat menepis cowok yang membantunya. "Nggak mungkin!" ucap Ata menggeleng kuat. "Ini nggak mungkin!" Matanya terpejam menolak kemungkinan yang tidak ingin diterima olehnya. Hingga elegi kembali mengalun memenuhi kepala membayangi telinga. "Ata cantik." Suara panggilan dari masa lalu menenggelamkan Ata dalam ketakutannya saat pagi datang. Untuk hari ini, esok dan seterusnya elegi mengalun, menenggelamkan sosok tangguh itu dalam kegelapan. *** Lelaki itu duduk di balik jendela kaca. Melipat secarik kertas yang penuh dengan coretan tinta merah. Lalu meletakkannya di atas meja dengan menindih kertas tersebut dengan tempat tisu yang tersedia. Pagi yang basah di Surabaya. Aroma petrichor semerbak memenuhi indera pembaunya. Duduk sendirian di dalam kafe yang sebetulnya belum benar-benar di buka. Cowok itu memaksa masuk untuk berteduh sambil menghangatkan diri dengan secangkir kopi hitam tanpa gula. Kecapan pertama membuat Bayu tertegun dengan rasa pahit di lidahnya. Rasa kopi pahit itu berbeda, tidak seperti kebanyakan kopi pahit yang pernah ia teguk sebelumnya. Sekali lagi Bayu menyesap kopi pahit tersebut dengan mata terpejam. Detik itu ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk sering berkunjung ke Kafe itu. Sesaat berlalu, setelah satu jam duduk di sana, menghabiskan secangkir kopi di temani musik klasik yang mengalun pelan juga rintik hujan yang membasahi jendela kaca. Pikiran Bayu berkelana pada seseorang dari masa lalu yang selalu datang memanggilnya setiap malam. Dalam mimpi juga kenyataan, lelaki itu berharap seseorang yang ia rindukan akan ia temukan dalam keadaan baik-baik saja. Setelah dahulu ia tinggalkan dalam keadaan terluka. "Mas?!" panggil Bayu melambaikan tangan pada salah satu karyawan untuk meminta bill. Selepas membayar dan mengamati kafe bernuansa klasik dalam setiap langkahnya untuk berjalan keluar. Lelaki itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket parasut bercorak tentara yang ia kenakan. Tanpa sengaja saat matanya mengelilingi kafe yang membuatnya jatuh cinta pada kopi pahitnya, ia merasakan dirinya tersentak ke belakang. Seseorang dari arah berlawanan berlari menerobos hujan, memakai tudung jaket hitamnya hingga menutupi wajah. Bayu sempat akan mengucapkan maaf, tetapi sepertinya orang yang baru saja bertabrakan dengannya tidak peduli. Terbukti setelah orang itu berjalan melewatinya begitu saja. Bayu melenggang pergi, menapaki trotoar bersama titik-titik kecil yang masih tersisa dari langit. Dinginnya kota Surabaya yang membuat kenangan semakin terasa nyata. B e r s a m b u n g! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN