6

1837 Kata
Di beranda rumah berlantai dua Ata duduk bersama bunda seperti biasa. Usai dengan acara makan bersama dan bercanda di depan televisi. Ditemani secangkir cokelat hangat dan singkong mentega. Olahan dari singkong yang di rebus dengan gula merah juga santan dan sedikit mentega, rasanya legit dan manis. Ata merebahkan kepalanya di pangkuan bunda, membiarkan bunda memainkan surai cokelat tuanya penuh sayang. Hal ini pula yang membuat kerinduan Ata akan sosok mamanya terobati. Perempuan berhati malaikat yang dulu memeluknya saat menangis sendirian. Hingga mengajaknya tinggal bersama, bahkan mengijinkannya untuk memanggil julukan yang sama dengan anaknya. "Makasih banyak ya, Nda." ucap Ata memecah hening. "Makasih juga Ata. Udah menganggap Bunda seperti Ibumu sendiri," balas bunda tersenyum keibuan. "Nginep, aja, ya? Kamu, kan, lama nggak main ke sini." Perempuan itu masih tersenyum hangat. Tanpa disadari turut menghangatkan hati Ata yang sempat membeku untuk beberapa saat. Ia mengangguk menanggapi pertanyaan bunda. "Abis banyak tugas Sekolah, Nda. Aku sama Adit juga sibuk ngurus cabang Kafe baru yang di Madiun." Bunda tersenyum tipis. Membelai lembut pipi Ata. "Kalau capek istirahat, Mama juga pasti lebih tau sekeras apa perjuangan kamu buat berdiri sendiri. Yang dulu-dulu jangan terlalu diingat, Ta. Fokus ke depan. Ada banyak kebahagiaan buat kamu," kata Bunda menasehati sambil terus mengelus kepala Ata penuh sayang. Ata hanya tersenyum tipis mengiyakan ucapan bunda. Tapi, di dalam hati ia masih belum sepenuhnya menerima segala yang terjadi. Bahkan tentang masa lalunya, Ata tidak akan pernah melupakan kenangan tersebut. Mama seolah telah mempersiapkan segalanya untuk masa depan Ata. Kebutuhan dan biaya hidup seorang gadis tanpa sosok mama. Buku tabungan peninggalan mama yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit kini menjadi sebuah gedung bergaya klasik tradisional yang tidak pernah sepi pelanggan. Membangun kafe yang ia dirikan dari nol dibantu bunda dan Senja mulai membantu di masa-masa tersulit. Sejak usianya tujuh belas tahun, Ata memulai bisnis dari kecintaannya pada rasa dan aroma kopi. Ia akan menunjukkan pada mama, bahwa ia tumbuh menjadi gadis kuat yang mandiri. Ia tidak akan menyerah dan berakhir seperti mama meskipun ia tau betapa gelap jalan di depannya. Malam terang bertabur bintang. Sunyi dalam keheningan tiba-tiba sirna saat Senja muncul menyanyikan sebuah lagu koplo sambil berjoget di halaman. Mendadak cowok tinggi itu menarik tangan Ata dan mengajaknya berjoget. "Sayang opo kowe krungu jerite atiku mengharap engkau kembali ... Sayang nganti memutih rambutku ra bakal luntur tresnaku ... asek!" kicau Senja menyanyikan lagu koplo dari biduan cantik Via Vallen yang sedang naik daun. Ata tertawa mengikuti gerakan tangan Senja yang masih menggenggam kedua tangannya. Bunda yang duduk di kursi ikut tertawa kecil sambil memasukkan sesuap singkong mentega. Hanya di depan bunda dan Senja, cewek kaku dan kasar itu bisa tertawa lepas. Di depan bunda dan Senja pula Ata bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu berpura-pura. *** Senja Matahari Café Pagi itu Ata sudah berdiri menyilangkan tangan di seberang jalan. Tepat di depan bangunan berlantai dua dengan desain klasik tradisional yang kental. Dinding dari kayu berukir rumit, lantai kayu juga ornamen tokoh Pandawa yang terpajang di dinding dan di setiap sudut ruangan. Minatur tokoh pewayangan, vespa bahkan sepeda unta yang terlihat manis. Papan tulis berwarna hitam yang dihiasi tulisan aksara jawa, berisi tentang nama-nama pandawa lima. Beberapa vespa tua di sudut ruangan bahkan kaset-kaset lawas yang terpajang apik. Tidak melupakan alunan lagu yang selalu menemani. Ata tidak keberatan dengan jenis lagu yang di putar, asalkan tidak terlalu bising sampai mengganggu para penghuni sekitar. Mendasak suara keras menusuk telinga Ata. Tepat saat ia menapakkan kaki ke dalam kafe. Ata melotot galak pada Senja yang asik jejogetan di dekat sound sistem tanpa menyadari tatapan galak Ata. Para karyawan yanh memberi kode pada Senja supaya cowok tersebut berhenti berjoget malah diajak serta berdendang di pagi buta itu. "Gila, ya, kamu?!" Teriak Ata sambil mengeplak punggung Senja kuat. Cowok itu meringis sambil berbalik arah. Begitu melihat Ata berdiri melayangkan tatapan singa betina kelaparan, ia buru-buru mematikan musik koplo tersebut. "Pagi buta kayak gini udah nyalain musik sekenceng itu, joget-joget kayak orang kesetanan. Perhatiin suasana dong, Dit. Jangan mentang-mentang masih pagi dan belum ada pelanggan, kamu bisa seenaknya gitu!" maki Ata keras. "Di lingkungan ini bukan cuma kita yang hidup. Banyak penghuni lain yang pasti ngerasa keganggu." Senja menunduk menyadari kesalahannya. Ini memang bukan kali pertama Ata memperingatkan hal semacam ini. Tentang menyesuaikan musik dengan suasana. Tentang menjaga kenyamanan kafe meskipun belum ada satu pelanggan yang masuk. Tentang kedisiplinan dan menjaga etika. Ata benar-benar tegas dalam urusan disiplin di tempat kerja. "Kalau mendadak ada orang dateng ngamuk-ngamuk gimana?" sambung Ata. "Maaf." kata Senja pendek. Ata memutar bola mata menatap para karyawan yang juga terdiam menunduk di tempat. Cewek itu berjalan cepat meninggalkan kafe, juga Senja yang mencebik menatap punggung Ata yang semakin menjauh. Di belakangnya seseorang tertawa cekikikan saat sosok Ata menghilang dari balik pintu kaca. "Jancuk, kon! Kenapa nggak ngasih tau, sih? Minimal kode, gitu!" kata Senja melemparkan kemonceng yang berada di atas meja ke arah cowok cungkring yang nyengir puas. "Lah, sampean udah dikode nggak peka juga, kan sakit Bos!" jawabnya lalu menggunakan kemonceng untuk membersihkan meja. Senja memberengut. Setelah mengecek segala sesuatu yang ada di kafe ia memutuskan untuk menyusul Ata. Waktu masih menunjukkan jam setengah enam pagi, tetapi cewek kasar itu bahkan sudah berpakaian seragam, duduk di pinggir jalan sambil meneguk minuman kaleng. Senja mendekat, namun tidak ada reaksi yang berarti dari Ata. Ia tau Ata tidak marah, hanya mendinginkan hati karena emosi yang mudah naik ke ubun-ubun. Dengan sengaja Senja menyenggol bahu Ata dengan bahunya saat Ata menempelkan kaleng minuman tersebut ke bibir. Membuat setetes s**u sapi bergambar beruang itu tumpah. "Sengaja?" tanya Ata datar. Senja hanya tersenyum lalu ikut membuka s**u kaleng dan meminumnya. Pagi itu kendaraan tidak terlalu ramai di jalanan kota Surabaya. "Maaf, Ta." "Nggak guna kalau maaf berkali-kali, tapi masih nggak berubah," jawab Ata datar. "Janji, nggak akan ngulang lagi. Beneran khilaf aku, tuh." kata Senja merangkul bahu Ata akrab. Meski kini Ata menatapnya sengit, Senja tidak kunjung melepaskan rangkulannya. Malah cowok itu tersenyum lebar dengan jarak wajah yang tidak jauh dari Ata. Raut wajah sengit itu semakin kusut. Ata menangkupkan kelima jarinya tepat di wajah Senja dan mendorongnya ke belakang. Cowok itu bahkan sampai terjengkang. Mendapatkan tatapan protes dari Senja. Ata malah menyatukan alis sambil menatap cowok itu jijik. "Ya Allah, aku manusia nih, jangan dianiaya melulu kenapa, sih?" protes Senja gemas sendiri. "Kamu nggak sikat gigi ya?!" terka Ata tak menghiraukan ucapan Senja. Senja menggeleng sambil tersenyum lebar. "Kok tau, sih? Ngintipin aku di kamar mandi ya?" "Ngintipin mbahmu! Napasmu, tuh bau badak!" ucap Ata pergi meninggalkan Senja yang masih duduk di trotoar menatap kepergiannya. Sedetik kemudian, Senja menangkupkan kedua tangan di depan mulut. Lalu membuang napas di sana, cowok itu merasakan sesuatu akan naik dari lambungnya. "Uh, pantes aja mukanya kayak kucing nggak bisa eek, " bisik Senja membenarkan ucapan Ata. Ia memutuskan untuk membeli permen karet mint, nanti. Untuk saat ini biarlah dia duduk menikmati pagi indah di Surabaya bersama s**u sapi bergambar beruang. Sampai ketenangannya menghilang saat seorang cewek cantik berdiri di dekatnya dengan senyum manis. Senja mendesah pelan, Ia teguk hingga tandas susunya lalu melemparkan kaleng kosong ke dalam tong sampah dengan malas. "Ngapain lagi, sih?!" "Pagi, Kak Senja!" *** Pada akhirnya luka adalah rasa sakit yang harus ia tekan ke dasar hati paling dalam. Untuk dilupakan juga diabaikan, tetapi semakin kuat usaha untuk melupakan itu dilakukan, semakin kuat pula luka muncul ke atas permukaan. Namun, dengan kepiawaiannya bersembunyi di balik karakter baru yang jelas bukan dirinya sendiri. Hal itu seolah membiaskan semua kesedihan yang didapat dari masa lalu. Siang itu mendung bergulung di lagit gelap. Tetes-tetes kecil air hujan mulai jatuh ke bumi, Ata tersenyum tipis lalu melangkahkan kaki dengan mantap untuk pulang tanpa meminta Senja menjemputnya. Dua, tiga, empat, lima..., Langkah kaki panjang itu berhenti tepat di halte yang berada di dekat sekolah. Tidak ada banyak orang di sana, hanya seorang gadis yang Ata kenali dan tiga orang lainnya terlihat asing. Tanpa berpikir panjang Ata mendekat. Tanpa melihat dari dekat pun ia tau, tiga orang asing itu adalah sekumpulan anak putus sekolah yang menjadi berandalan. Semakin dekat, pandangan Ata semakin terganggu ketika buku serta alat tulis sudah berantakan di mana-mana. Tanpa banyak bicara, Ata menepuk salah satu pundak cowok berjaket hitam lalu melayangkan sebuah tinjuan keras tepat di wajahnya. "Eh, b*****t! Ngapain lu ikut campur? Mau jadi pahlawan kesiangan?" bentak cowok yang baru saja tersungkur sambil memegangi pipi. Ata tertawa mendengus, lalu melepaskan tas dan melemparkan ke sembarang arah. Sedetik, ditatapnya Keke yang duduk ketakutan. "Nggak usah banyak omong, deh. Pergi sana!" ucap Ata mengusap telinga geli. Ketiga cowok itu tertawa. Yang paling muda, sepertinya masih di bawah Ata maju hendak melayangkan tinjuan. Namun, belum sempat kepalan tangan itu mendarat di tubuh Ata, Ia sudah lebih dulu menjejak perut lawan tanpa bergerak dari tempatnya. "Cari mati, nih bocah!" ucap salah satu dari mereka. Adu hantam pun tidak terelakkan. Satu lawan tiga, tidak begitu buruk untuk Ata. Ia mengakui skil berkelahi preman kecil itu patut diacungi jempol. Tetapi, amat di sayangkan karena mereka hanya berkelahi dengan emosi. Bug!!! Satu hantaman kuat itu berhasil mengenai perut Ata. Ia tersentak mundur, namun tidak tumbang. Sambil menyembunyikan seringai nyeri di bibir, Ata menendang salah satu dari mereka hingga tumbang. Lalu si cowok berjaket hitam yang tadinya akan menendang berhasil Ata gagalkan dengan menendang keras tulang kering cowok itu. Keke sudah ketar-ketir sambil berteriak minta tolong. Tetapi, tidak seorang, pun, datang. Sedangkan kini sudut bibir Ata sudah berdarah karena lengah. Waktu Ata sudah tersungkur di atas hitamnya aspal sambil merasakan nyeri di bagian perut juga bibirnya, seseorang dari preman kecil itu membawa batu untuk di lemparkan. Hingga seorang malaikat datang menyelamatkan. Seorang cowok tinggi mengenakan celana jins, kaos putih polos dan jaket berwarna khaki, menangkis tangan si pembawa batu. "Pergi atau saya panggil Polisi?" ucapnya singkat sambil mengangkat ponsel. Umpatan-umpatan kasar terdengar jelas ketika ketiga preman itu pergi meninggalkan Keke, Ata dan juga cowok yang entah datang dari mana. "Perlu saya anter ke Rumah Sakit?" ucap cowok itu melipat sebelah kakinya sampai menyentuh aspal untuk melihat keadaan Ata. "Ng..., nggak usah. Saya nggak apa-apa. Makasih bantuannya," jawab Ata berdiri di bantu Keke yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah kanannya. "Kalau gitu cepet diobati sendiri, nanti infeksi." Bahkan cowok misterius itu masih membuntuti Ata dan Keke yang masih berjalan menuju ke halte. "Biar saya yang obati, makasih banyak bantuannya," ujar Keke Ucapan itu membuat Ata menoleh menatap Keke. Sampai-sampai ia tidak memperhatikan langkah sehingga kakinya menyandung sebuah batu. Ata nyaris jatuh membentur aspal jika saja cowok di depannya tidak menahan lengan Ata dengan sigap. Sedetik Ata terkesima merasakan sentuhan tangan di lengan kirinya. Buru-buru Ata menepis tangan cowok itu dari lengannya dan buru-buru mencapai kursi yang sudah tidak jauh di depannya. "Sekali lagi Makasih atas bantuannya, Kak," ucap Keke begitu berhasil mendudukkan Ata di salah satu kursi. Cowok misterius itu mengangguk sambil tersenyum kaku tanpa mengalihkan pandangan dari Ata. Nyatanya Ata sendiri juga berusaha menghindari tatapan cowok misterius tersebut. Sampai pada saat cowok itu berpamitan Ata baru menatapnya sekilas. "Oke, kalian hati-hati." pesannya lalu melangkah menjauh. Sesekali cowok itu masih menoleh demi menatap Ata. Ia seperti tidak asing dengan iris cokelat muda itu. Tapi, jika memang benar gadis pemilik iris cokelat muda itu adalah seseorang yang ia cari, mengapa gadis itu enggan menatapnya? Mengapa juga semuanya terlalu berbeda? Ia Bayu, berjalan menjauh mendekati motor sport hitam yang terparkir tidak jauh dari sana. Lembayung Senja. Ia kembali untuk mencari Mataharinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN