5

960 Kata
Senja Yang Kembali Cahaya matahari.  Seseorang pernah bernyanyi tentang elegi esok pagi.  Membawa setangkai lili sebagai tanda duka hati.  Nyanyian sunyi menyayat hati dalam sepi.  Mengadah penuh doa dengan segenap air mata yang tersisa.  Anak kecil berpita jingga menari tanpa rasa gembira.  Ada banyak peristiwa atas terjadinya luka-luka.  Pagi syahdu menjadi duka yang tidak berujung.  Anak kecil menari namun menangis tanpa bisa dibendung.  Memohon pada angin agar kepedihan turut serta dibawa pergi bersama lara, tetapi tak ada jawaban pasti.  Angin membisu, namun semesta tahu seseorang tengah membutuhkan teman agar tak sendiri.  Lantas turunlah hujan yang menjadi saksi kelu di pagi itu. Seorang cowok tinggi berkaca mata hitam. Duduk melipat sebelah kaki dan menumpukan pada pahanya. Ia masukkan sebuah notes beserta pulpen ke dalam saku blazernya. Dan melipat notes yang sudah penuh dengan coretannya rapi. Cowok itu meletakkan lipatan notes itu di bangku kosong di sebelahnya. Menanggalkan jejeran kata yang melintas begitu saja di benaknya. Matanya mengelilingi tempat parkir namun belum menemukan seseorang yang menjemputnya. Cowok tinggi berhidung mancung itu berdiri, menyeret koper hitam metalik dengan langkah gagahnya. Hingga tiba-tiba seseorang memeluk lengannya erat. "Mas Bayu!" jerit cewek yang memakai bandana putih, tak lain ialah Aya. Cowok tinggi yang dipanggil Bayu itu menoleh ke samping. Menatap Aya seraya melepaskan kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. "Aya?" tanya Bayu. "Iya!" jawab Aya senang. "Beneran Aya?" ulang Bayu tidak yakin. "Bener!" "Cahaya Bulan?" katanya lagi. Aya memberengut kesal. Melayangkan satu tinjuan kuat di lengan Bayu membuat cowok tinggi itu tertawa geli. Detik berikutnya Bayu mengacak gemas rambut Aya penuh sayang.  "Kok nggak bertumbuh, sih? Malah makin kecil deh kelihatannya," tutur Bayu mengamati adiknya. "Ck! Jangan mulai deh, mentang-mentang tinggi."  Bayu hanya tertawa kecil sambil melanjutkan langkahnya. Ia mengikuti Aya yang menyeretnya menuju parkiran. "Sendirian?" tanya Bayu saat mendapati taksi yang sudah siap mengantarkannya. Aya mengangguk sambil mendorong Bayu untuk masuk terlebih dulu. "Mama sama Ayah nggak bisa ikut," tutur Aya. "Nggak masalah, Mas juga masih inget jalan pulang, kok. Kamu, aja, yang ngotot pengen jemput." "Biarin," balas Aya menjulurkan lidahnya. Bayu tersenyum samar. Sedetik kemudian keduanya telah duduk di dalam kursi penumpang. Lantas pak supir yang sudah diberi tahu alamat rumah mereka segera melajukan taksi dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Aya tidak banyak bicara, cewek itu justru terlelap sambil memeluk lengan Bayu.  Sedangkan Bayu sendiri asik menatap keluar jendela. Setelah tiga tahun meninggalkan Surabaya, ada kerinduan akan suasana tanah kelahirannya. Matanya terus menatap jalanan yang ramai. Pagar pembatas jurusan dua arah yang kini semakin rapi dengan setiap lampu jalan berjarak tiga meter sekali tinggi menjulang.  Surabaya semakin indah, namun rasanya masih sama. Bayu tersenyum tipis saat hujan gerimis membasahi kaca taksi. Kerinduan yang tidak kunjung terbias akan pertemuan, masih saja menjadi satu alasan mengapa Bayu pulang ke Surabaya. Bukan untuk mama, juga Ayah. Selain Aya, ada seseorang yang selalu menghantuinya setiap malam.  Seseorang yang selalu hadir dalam setiap mimpi tidurnya. Seseorang yang ia rindukan dalam tangis tertahan. Seseorang yang telah lama ia tinggalkan tanpa kabar. Bahkan saat ini pun Bayu tidak lupa bagaimana wajah sendu saat terakhir kali ia menatapnya. Gadis kecil berpita jingga, Ia bertekad untuk menemukannya. *** Perempuan paruh baya sibuk berkutat di dapur. Menyiapkan makan malam spesial untuk gadis kecil yang ia rindukan. Sedangkan di depan televisi, Senja sibuk menggonta-ganti chanel sambil mengunyah keripik jagung dalam toples. Bunda melemparkan jaket yang tersampir di kursi makan tepat di wajah Senja. "Apa sih, Nda?" tanya Senja sebal. "Jemput Ata, Dit. Nanti kalau dia kenapa-kenapa di jalan gimana? Dia, kan, cewek. Tau sendiri, kan, kamu gimana kelakuan preman-preman pinggir jalan itu?" kata Bunda panjang sambil mengaduk-aduk makanan di atas wajan. "Yang ada premannya pada bonyok. Ata, tuh, modelnya doang cewek, Nda. Kalau masalah berantem, sih. Dia nomer satu," kata Senja menolak halus sambil meraup keripik jagung dan memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh. Cowok itu kembali tertawa menatap TV yang menampakkan kartun Tom and Jerry. Bunda berdecak, meletakkan spantula di dekat penggorengan lalu berjalan cepat mendekati Senja. Perempuan yang menyandang status sebagai emaknya itu dengan ganas menarik colokan televisi hingga padam. Senja berdecak keras. "Yah ... yah!" eluh Senja mengubah posisi tiduran menjadi duduk tegak. "Jemput Ata!" ucap Bunda. Dengan gemas Senja meraup lagi keripik jagung lalu memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh. Ia berdiri setelah meletakkan toples camilan dan memakai jaketnya. Ia sambar kunci motor di atas kulkas dan mencium tangan bunda setengah kesal. Kalau sudah menyangkut Ata, Senja selalu di-anak tirikan. "Bunda, tuh, kebiasaan maksa, deh! Nggak tau apa aku juga capek, Nda. Lagian Ata juga bukan anak-anak lagi. Dia udah pinter jaga diri sendiri," celotehnya sambil mengenakan jaket. Meskipun celotehan protes dari mulutnya tidak berhenti tapi cowok itu berangkat juga mengikuti perintah Bundanya. "Aku berangkat!" pamit Senja melenggang mendekati pintu. "Hati-hati, sayang!" Baru saja ia menyentuh knop pintu untuk membukanya, seseorang lebih dulu mendorong pintu yang otomatis mengenai dahi Senja dengan kencang. Cowok itu beringsut ke bawah mengaduh sambil menekan dahinya yang merah. Ata yang tanpa sengaja mendorong pintu ikut meringis seolah merasakan sakit. "Eh?! Sorry, sorry." ucap Ata menatap Senja yang mengaduh sakit. "Lagian ngapain, sih, berdiri di depan pintu? Kurang kerjaan banget." tanya Ata ikut berjongkok dan memeriksa dahi Senja. "Mau eek!" jawab Senja gemas. Menjawab yang sebenarnya, pun, ia yakin hanya akan mendapat tawa juga ledekan dari bunda dan Ata.  "Nggak apa-apa cuma merah doang," ucap Ata lalu berdiri. "Nggak apa-apa udelmu. Nyut-nyutan begini rasanya," balas Senja sengit. Ata mendengus pelan. Lalu berjalan melewati Senja sambil menepuk dahi Senja yang memerah karena ulahnya. "Lebay!" seru Ata sambil berlari kecil mendekati bunda. Senja mengerang sepenuhnya. Kali ini bukan akting semata, dahinya benar-benar terasa nyeri. Melihat Senja yang masih mengerang di depan pintu, Ata tertawa bersama bunda. Selalu seperti itu, ketika Ata datang. Maka penderitaan Senja akan bertambah dua kali lipat. "Udah-udah. Ketawanya ditahan dulu. Sekarang makan dulu!" ucap bunda merangkul lengan Ata perhatian. "Dit, buruan! Nanti jatah kamu Bunda kasih Ata, loh." ancam bunda masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Tak ayal ancaman itu, pun, masih berefek sama pada Senja. Cowok itu melangkah mendekati meja makan dan menarik kursi di dekat Ata berhadap-hadapan dengan bunda. B e r s a m b u n g! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN