4

1312 Kata
Setelah mengantarkan Ata ke sekolah, juga setelah memastikan cewek itu masuk ke sekolah Senja memutar motor matic-nya hingga berbalik arah. Baru saja tangannya hendak menarik gas, seorang cewek berambut panjang menghadangnya. Senja kaget setengah mati, ia menarik rem kuat-kuat lalu melemparkan pelototan marah pada anak ingusan itu. "Heh, ngapain sih, Dek? Cari mati jangan sama gue dong!" maki Senja melotot galak. Cewek itu masih diam di tempat. Membuat Senja semakin gemas ingin mencubitnya dengan gunting rumput. "Minggir woy!" ucap Senja pelan namun menekan. Di atas motor cowok itu mulai meraup wajahnya sendiri dengan kesepuluh jari. Hari indah macam apa yang ia lewati sekarang ini? Setelah tadi pagi Ata berulang-kali menganiaya raga juga hatinya. Kini seorang cewek nggak di kenal mencoba bunuh diri di depannya. "Aku Aya?" ucap Cewek itu mengulurkan tangan. Senja cengo menatap cewek berseragam SMA itu. Senja tau ia memang sangat tampan, tapi hatinya sudah cukup berlabuh pada satu orang. Mendadak senyum tipis menghiasi bibirnya, tanpa sadar jemari panjang Senja menyisir rambut hitamnya ke belakang. "Maaf, Kak. Aku mau minta tolong sama Kakak." ucap Aya melihat ekspresi ke-PD an Senja. "Jangan GR, ya, Kak." Jika Senja berada di film animasi, ia yakin pasti sudah ada musik tuing-tuing yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Ia menghentikan aktifitasnya menyisir rambut. Lalu menatap cewek bernama Aya itu dengan lirikan. "Siapa yang GR? Orang kepalaku gatel belum keramas." ucapnya membela diri. "Udah minggir sana! Aku buru-buru, nih!" imbuhnya sambil menstater kembali motornya. "Kakak yang namanya Senja Praditya?" ucap Aya menahan lengan Senja. Mendengar hal itu Senja gemas sendiri. Cewek di sebelahnya ini sebetulnya seorang yang mengagumi dirinya dalam diam, semacam secret adminer atau bagaimana. Sampai tau namanya segala. "Iya, kenapa?" "Kenal sama Ata, kan?" tanya Aya lagi. "Iya, kenapa?" ucap Senja bertanya balik. Ia ingin memastikan apakah Ata, Matahari yang Ia kenal atau mungkin Ata yang lainnya. "Ata yang tadi boncengan sama Kakak." Senja tampak berpikir sejenak. Sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Membuat seulas senyum indah menghiasi bibir Aya. "Di mana kita bisa ketemu lagi, Kak? Soalnya bentar lagi udah bel," kata Aya semangat. "Ketemu lagi? Ngapain?" "Ada banyak hal yang mau aku bahas sama Kak Senja -- " "Adit!" potong cowok itu risih dipanggil senja. "Panggil Adit, aja." jelasnya membuat Aya mengangguk paham. Senja nggak mau ada orang lain selain Ata yang kelak akan memanggilnya demikian. "Ada banyak hal yang mau aku bahas sama Kak Adit. Aku butuh banget bantuan Kakak. Jadi, aku mohon kita harus ketemu lagi," jelasnya mengguncangkan lengan Senja kuat. "Nggak bisa, aku sibuk!" kata Senja memperingati. "Pliss, Kak. Ini soal Ata." balas Aya cepat. "Kenapa nggak ngomong langsung sama orangnya, aja, sih?" Aya terdiam sesaat. Kemudian kembali menatap Senja yang menatapnya heran. "Kali ini, aja, aku butuh bantuan Kak Adit," tuturnya. Mendengar itu, Senja tertegun sejenak. Memangnya ada apa dengan Ata? Karena terlalu lama menanti jawaban dari cowok di hadapannya. Aya meletakkan secarik kertas di tangan Senja sambil tersenyum. "Ini nomer HP-ku. Pliss kabari aku, kita bakalan ketemu di mana." ucap Aya. Senja masih bungkam. Kini menatap secarik kertas dalam genggaman tangan. Cewek itu masih berdiri di tempat menatap penuh permohonan pada Senja. "Sebelumnya, makasih Kak Adit. Aku berharap banyak sama Kakak," ucap Aya sebelum berlari masuk menuju gerbang sekolah. Lagi-lagi Senja masih termenung, menatap kertas tersebut dengan pikiran bercabang. Tanpa sadar bahunya naik ke atas namun tangannya memasukkan kertas tersebut ke dalam saku jaket. Setelah itu Senja melajukan motornya gila-gilaan seperti biasa melintasi jalanan yang ramai. Sedangkan di koridor kelas sepuluh Aya berjalan pelan. Jika biasanya ia berjalan sambil membaca buku, kali ini tidak. Aya berjalan pelan sambil terus mengamati Ata yang berjalan santai di depannya. Rambut sebahu berwarna cokelat tua itu dulunya berwarna hitam, panjang dan indah. Entah sejak kapan Ata yang dulu sangat membanggakan rambut hitam panjangnya memangkas rambut indahnya. Langkah Ata terhenti tepat di undakan anak tangga pertama menuju kelas sebelas. Begitu, pun, Aya yang spontan berhenti membulatkan mata. Ia yakin Ata pasti akan membentaknya, atau minimal melemparkannya dengan tatatapan membunuh. Dengan gerakan pelan Aya mundur dan bersembunyi di antara pilar terdekat. Saat Ata menoleh, ia tidak mendapati siapa, pun. Tapi, ia tau bahwa seseorang mengikutinya. Insting Ata tidak pernah berbohong. Cewek itu kembali fokus dengan langkah-langkah lebarnya menuju ke kelas. Di tengah perjalanan menuju kelas VI IPA 2 Ata melihat Keke yang duduk di salah satu kursi panjang di dekat pilar. Telinganya disumpal dengan earphone, dan kedua tangannya sibuk memegang buku. Tetapi, cewek berkaca mata itu ternyata juga menatap Ata sekilas. Ata melemparkan seulas senyum manis tak kentara. Keke yang pendiam dan selalu sendirian. Tidak memiliki teman selain buku dan musik yang mengalun di telinga. Hal itu membuat Ata risih. Sebab mengingatkan tentang kesendiriannya di masa silam. Saat seseorang yang pernah berjanji akan datang, nyatanya tidak pernah tampak di hadapan Ata. *** Dua orang cewek berbeda karakter itu duduk saling berhadapan. Ata yang sejak awal mengetahui siapa yang datang sejujurnya malas untuk menghampiri. Namun, malaikat di atas bahu kanannya berbisik untuk menemani walau hanya sedetik. Setidaknya Ata harus menunjukkan sisi kemanusiaannya. Sejak tadi Ata bungkam, pertanyaan-pertanyaan kecil yang di lontarkan Aya tidak satu, pun, ia jawab. Untung Kafe tengah ramai sore itu, jadi para karyawannya juga tidak begitu meperhatikan Ata dengan tamunya tersebut. "Aku kangen kamu, Ta" ucap Aya serak dengan tatapan lurus tepat di manik cokelat di depannya. "Bukan cuma aku, tapi kami semua pengen ketemu kamu, kamu pulang, ya?" Sedetik itu Ata menoleh ke arah Aya. Cewek anggun yang sore itu mengenakan baju terusan sepanjang lutut berwarna cream, dan celana jins warna biru itu terlihat cantik dengan bandana putih yang menghiasi kepala. "Udah puas ngomong?" tanya Ata menegak habis gelas berisi air soda yang di beri es batu. "Mending pulang! Nanti Bapakmu nyariin," kata Ata beranjak setelah menyelesaikan kalimatnya. "Ta, tunggu Ta, please! Sekali ini aja kita harus ngobrol. Aku nggak akan pernah tau apa sebabnya kamu kayak gini kalau kamu nggak mau ngomong," ucap Aya menahan lengan Ata yang sudah berdiri di dekat kursinya. "Kalo kamu mau tau, tanyain semuanya sama keluargamu. Bukan aku!" Selesai dengan ucapannya Ata menghempaskan tangan Aya dengan kasar lalu melangkah pergi begitu saja. Aya termenung sendirian. Beberapa pertanyaan yang ia lontarkan barusan hanyalah sekedar sapaan basa-basi karena lama tidak duduk bersama. Sepasang mata itu berkabut, pandangan memburam dan detik itu juga setitik air lolos dari matanya. Aya belum benar-benar memahami kemarahan Ata. Setelah menghapus air matanya, Aya meraih ponsel yang berada di meja. Lalu mengetikkan sesuatu di sana. Makasih bantuannya Kak Senja. Tulis Aya lalu bergegas pergi dari kafe bernuansa klasik tersebut. Meninggalkan Aya yang sendirian melenggang pergi. Ata justru sebaliknya. Sejak ia keluar dari kafe dengan wajah masam tadi, Senja tidak berhenti mengatakan maaf juga membuntutinya kemana, pun, ia melangkah. Merasa jengah Ata menghentikan langkahnya lalu balik badan. Memaksa Senja mati-matian mengerem kaki panjangnya untuk berhenti mendadak. "Maaf, Ta. Serius aku nggak tau kalau ternyata itu cewek bermasalah sama kamu." ucap Senja membalas tatapan galak Ata. Ata mengadu rahangnya kuat. Kemarahannya menguap melihat kesungguhan di wajah Senja. Memang seharusnya ia tidak marah karena Senja memang tidak tau apa, pun, soal dirinya dengan Aya. "Aku yang salah. Maaf," ucap Ata menyadari. Cowok yang tadinya menunduk mengamati sepatu ketsnya sendiri seperti tersihir mendengar ucapan maaf dari Ata. Cowok itu melongo sambil menatap Ata dengan tanda tanya besar. "Hah?" ulang Senja cengo. "Aku yang salah. Aku minta maaf! Tapi, lain kali jangan lagi. Kalau emang mereka butuh, bilang sama mereka buat langsung ketemu sama aku." jelas Ata tenang. "Nggak marah?" tanya Senja bodoh. "Mau?" tanya Ata balik. Senja buru-buru menggelengkan kepala melambaikan kesepuluh jari di depan d**a. "Enggak! Bukan gitu," katanya cepat. "Yaudah, aku cabut!" pamit Ata berbalik meninggalkan Senja. Terburu-buru Senja menahan pundak Ata, sehingga cewek tersebut berbalik menatapnya. "Mau kemana?" "Cari angin." Senja mengangguk sebeluk kemudian lupa akan wasiat mama, Senja berteriak keras di trotoar jalan. "Mampir ke Rumah. Bunda pengen ketemu!" teriak Senja menggema. Cewek yang sudah berjalan menjauh itu hanya membalas ucapan Senja dengan satu jempol terangkat ke atas kepala. Senja menggeleng prihatin, betapa acuh cewek yang berhasil membuat jantungnya ketar-ketir itu. Dengan langkah panjangnya Senja memangsa jarak untuk segera sampai di kafe. Kembali membantu para karyawan yang sibuk saat kafe sedang ramai seperti ini. B e r s a m b u n g! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN