38

1395 Kata
Sebelum baca jangan lupa tap love dan komen! Happy reading guys! *M a t a h a r i* "Mama pengen ketemu Ata." Gadis itu tak salah dengar. Sedikit pun tak ada masalah pada indra pendengaran Ata yang masih baik-baik saja. Hanya saja gadis itu juga masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Meskipun berulang kali ia coba pikirkan, kemungkinan bahwa ayah memang tak pernah menyayanginya seperti Aya apakah tak pernah sekali saja ayah peduli seperti apa perasaannya? Atau setidaknya, menghargai keberadaan gadis itu di atas bentala busuk ini? Ata tersenyum skeptis mendengar permintaan konyol yang dilontarkan seorang lelaki paruh baya yang terlihat begitu kuyu. Keadaannya bahkan tak jauh berbeda dari Ata yang baru saja pulih dari sakit. Rama-ayah Ata yang tak pernah menganggap keberadaannya tersebut terlihat lelah dengan kantung mata yang menghiasi wajah. Sampai sejauh ini, Ata tak bisa baik-baik saja mendapati perlakuan seperti demikian. Sebab kini ingatan Ata melayang membawanya pada kejadian di masa silam, di mana ia masih berusia tujuh tahun. Saat itu Ata harus menjaga mamanya yang tengah dilanda stress berat. "Mama?" panggil bocah kecil berambut panjang yang terurai bebas itu. Pada ujung rambut hitam tersebut terlihat begitu kusut, sebab tak ada yang menyisir rambut Ata seperti yang biasa dilakukan mama padanya. Mengikatkan pita berwarna-warni untuk membuat mataharinya lebih berwarna. Namun, setelah hari itu ... tepat setelah malam di mana ayah mengatakan ingin bercerai bahkan memukul mama tanpa iba. Wanita berdarah jawa eropa yang memiliki sepasang mata cokelat karamel indah itu patah hati tanpa jeda. Setelah disakiti, ia bahkan ditinggal pergi. Ata kecil kerap kali mengamati mama dari jauh, atau sekedar duduk di samping mama seperti hari itu. Sheena-mama kandung Aya dan Ata. Wanita cantik yang sudah terlanjur jatuh cinta dan hanya ingin kisahnya bahagia seperti kisah telenovela. Pertemuannya dengan ayah sangat sederhana, Ata masih ingat betul betapa mama sangat bersemangat saat menceritakan awal pertemuan mereka dulu. Karena keduanya menyukai alam, kerap kali Rama dan Sheena mendaki bersama, atau sekedar berlayar dan menatap senja. Sebab itu kedua anak kembarnya diberi nama Cahaya Matahari dan Cahaya Bulan, karena dua gadis manis itu lahir saat senja tiba. Dalam pergantian waktu cahaya matahari dan rembulan yang akan senantiasa berdampingan mengisi kekosongan satu sama lain. Entah itu sore menjelang malam yang menciptakan kemegahan sinar luar biasa. Atau pun malam menuju terang yang membuat langit tak kalah menawan. Ata mengenang semuanya dengan sangat baik dalam ingatan yang tak pernah ia sangka, kini malah menjadikan boomerang yang menyerang dirinya sendiri. Sayang, kehadiran orang ketiga sudah membuat mama sempat kehilangan akal sehat untuk berpikir bahwa ia masih memiliki tanggung jawab yaitu Ata. Sejak kejadian hari itu Ata jadi sering melihat mama melamun, menikmati minuman keras dan bahkan menangis sambil membanting barang-barang di rumahnya. Ata lebih senang jika mama tertawa sambil mendengarkan instrumen biola yang dinyalakan dalam piringan hitam, kemudian wanita cantik itu menari sambil tertawa sebelum kemudian menangis dan tertidur lelap setelah menelan beberapa pil tidur. Karena dengan demikian, Ata tak akan melihat mamanya menangis lagi. Sebab bagi Ata, menyaksikan hal tersebut adalah kejadian paling ia benci dalam hidupnya. Ata baru menyadari semua detik ini. Setelah dua minggu bertahan dalam kehancuran yang menyesakkan, kemudian mama Sheena menunjukkan caranya mengakhiri hidup di depan Ata. Subuh itu begitu dingin, tetapi Ata sudah terbangun di kamar mama saat merasakan belaian di kepalanya dengan hangat. Terlebih suara alunan instrumen piringan hitam itu terdengar nyaring di telinga. "Ata udah bangun, sayang?" tanya wanita itu hangat. Seperti mimpi, mendengar pertanyaan itu kedua mata bulat bocah kecil itu terbuka sempurna. Kemudian menyadari dirinya berada dalam pangkuan mama yang sudah mengenakan pakaian serba hitam dan juga gincu merah merona. Mama terlihat sangat cantik di mata Ata. "Mama udah nggak sakit lagi?" Ata malah melempar pertanyaan polos tersebut. Dengan jelas ia melihat senyum merekah di antara bibir bergincu merah menyala itu. Sialnya, sepasang mata mama masih kosong, nyalang menatap kepedihan tak berkesudahan. Di usia tujuh tahun itu, Ata sudah dapat membaca gerak-gerik yang sangat melankolis dan sarat akan kepedihan. "Sebentar lagi sembuh, Ata." Tangan halus mama membelai kedua pipi gembul yang merona tersebut. Wanita itu menurunkan Ata dari pangkuan, menyisir rambut hitam putrinya dengan sayang hingga gadis itu terlihat seperti malaikat kecil dengan dress tidurnya yang berwarna putih selutut. "Setelah ini, nggak akan ada lagi rasa sakit. Buat Mama, juga buat Matahari Mama yang paling cantik," ucap mama tersenyum di depan cermin panjang. Sheena tersenyum menyentuh kedua pundak kecil Ata dan mengecup pipi anaknya penuh sayang. "Jangan takut, Mama nggak akan ninggalin Ata sendirian." "Kita pasti baik-baik aja, Sayang," bisik Mama tepat di telinga Ata. Sedetik kemudian Sheena menggandeng tangan Ata. Keduanya berjalan menuju ke pinggiran kolam renang. Entah seperti apa mulanya, tiba-tiba saja mama sudah menarik Ata untuk masuk ke dalam kolam renang yang airnya begitu menggigilkan. Di antara kecipak kaki mungil dan tangan kecilnya kala itu, Ata berusaha menyentuh tepian kolam setelah melihat bagaimana mama tersenyum padanya sambil mengoreskan sebilah silet pada pergelangan tangan yang membuat air kolam itu mendadak merah seketika bercampur dengan air mata, juga darah mama. Hari itu pun alunan elegi esok pagi, hujan turun membasuh kepedihan juga jasad Ata yang mati di dalam hati. *M a t a h a r i* "Kayak gini kamu masih mau bilang nggak apa-apa?" marah Senja melihat Ata yang kini duduk di kursi tunggu sambil menekan dadanya kuat. Gadis itu tak bersuara, sebab ia tau menjawab pun hanya akan membuat Senja semakin murka. Ia memilih diam dan terus mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri setelah mengambil keputusan untuk menemui Anna. Wanita yang telah berhasil merubah dunianya menjadi seperti di neraka. Yah, meski tak sepenuhnya demikian. Sebab kehadiran Senja punya banyak kesan positif dalam hidup Ata. Walaupun kerap kali cowok itu juga sangat menyebalkan. Akan tetapi, Ata sungguh bersyukur akan kehadiran Senja. Kini Senja melipat lututnya hingga menyentuh lantai keramik rumah sakit yang dingin. Ia tatap wajah Ata yang tersembunyi di balik rambut sepundak, yang kini menjuntai ke depan saat gadis itu tertunduk. Jujur saja Senja masih kesal pada Rama. Lelaki paruh baya itu pertama kali melihat Ata di rumah sakit, bukan keadaan anak gadisnya yang bertahan-tahun ditelantarkan, justru sebuah permintaan konyol yang diucapkan. Bukankah Rama sengat kejam kepada Ata? Tak perlu di tanya, Senja pun yakin Ata kecewa dengan sikap lelaki itu. Meski ia mencoba terlihat biasa saja. Sekilas tadi Senja masih dapat melihat raut pias menghiasi wajah Ata. "Kamu cuma manusia biasa. Sakit itu wajar, dan bukan hak kamu buat ngebahagiain semua orang, Ta." Senja kembali mengingatkan gadis itu. Diangguki ucapan Senja dengan segaris senyum tulus. Ata menepuk tangan cowok yang kini berada pada kedua lututnya, "Sekali ini aja. Siapa tau semuanya bakalan lebih baik setelah aku denger semuanya dari ...," ucap Ata menggantung. Ia tak tau harus menyebut seperti apa. Ia sendiri tak mengerti bagaimana harus bersikap di depan wanita yang telah membuat mamanya menderita nanti. Apakah Ata harus melakukan sesuatu yang lebih kejam sehingga semua kebencian dalam dirinya terbebas. Atau bagaimana? Senja mengangkat tangannya yang ditindih jemari kecil Ata, kini ia berbalik menyentuh tangan Ata dan menggenggamnya erat. "Nggak usah maksain diri. Inget, kamu lebih berharga dari apa pun," tutur Senja lagi. Namun kali ini, cowok itu tersenyum pada Ata. "Yah, cuma bingung aja harus manggil gimana nanti," kekeh Ata yang pada akhirnya diikuti tawa kecil dari Senja. *M a t a h a r i* Sejarah Ia gadis peramah Melewati lorong gelap ia lemparkan Berkas-berkas cahaya dari matanya Yang didekap sedari lahir di luar rahim Seusai waktu bergegas Di depan makam Ia mengetuk sepi Dan sesudah pintu dibuka Terlemparlah kita pada entah Ia gadis pemarah Di dalam kulkas diawetkannya rindu Mencoba menyulam gelombang yang pecah Dari setiap gemuruh mendera Di dalam rahim Ia masih telanjur setia mengetuk sepi Sekalipun tiada harap dibuka pintu Mengabulkan setiap panjat pergi 2014 - Hans Hayon. - B E R S A M B U N G Gais, kalian suka baca puisi juga? Wajib banget kepoin karya Usman Arrumy, udah pasti bikin melted asli nggak bohong wakakak. Dan ternyata, karya Hans Hayon ini juga nusuk banget sih. Kalian wajib kepoin terus baca. Kalau kalian punya penyair favorit, boleh Sharing sama aku kuy. Bisa jadi buat referensi bacaan aku juga. Dan nggak lupa, jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Wkwkwk. Sekali lagi terima kasih guys!. Sehat sehat kalian. Love u ? :v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN