39

1518 Kata
Sebelum baca jangan lupa tekan love dan komen. Happy reading, guys! *M a t a h a r i* Seandainya jatuh adalah sebuah kesalahan, maka sudah pasti ia memiliki banyak dosa-dosa yang tak terampuni dari masa lalu hingga detik ini. Seandainya pula dari awal ia mengerti bahwa mencintai juga perihal melukai, maka sudah pasti dari awal ia tak akan pernah membiarkan hatinya jatuh pada siapa pun. Namun, bagaimanapun juga kesalahan adalah sesuatu yang tak pernah bisa ia sangkal. Jika hari ini ia menyalahkan Tuhan atas semua perihal luka yang terjadi sejak sepuluh tahun silam, hingga kejadian detik ini. Maka sudah pasti ia akan menjadi manusia paling dilaknat di muka bumi juga kehidupan selanjutnya. Sorot mata cokelat kayu itu menduhkan. Mengantarkan ingatan Rama kepada masa di mana ia hanya mencintai seorang gadis saja. Di mana ia mulai mengenal apa itu cinta dan bahkan mengerti arti sebuah komitmen, sebelum kemudian ia sendiri yang telah menghancurkan ikatan janji suci itu dengan sebuah pengkhianatan. Saat ini, ia tak tau harus berkata apa lagi pada sosok gadis belia yang sudah terlalu lama menyimpan luka di dadanya. Mungkin saja di balik d**a tangguh yang tetap tegak itu tersimpan ribuan luka bernanah yang tak pernah tersentuh untuk disembuhkan. Sudah pastinya demikian, tak perlu lagi sebuah perkiraan karena kenyataan bahwa ia adalah penoreh luka paling dalam pada diri Ata, tak bisa lagi dipungkiri. "Nggak perlu. Semuanya udah selesai. Mulai hari itu, saat anda pergi ninggalin saya dan mama." Meski sadar akan keterlambatan itu, ia mencoba memahami ucapan gadis berusia tujuh belas tahun yang tak sanggup lagi ia rengkuh. Ucapan Ata terlalu jauh, bahkan lewat perkataan itu Rama sadar bahwa Ata sedang menunjukkan betapa gadis itu ingin membentangkan jarak yang amat jauh di antara mereka berdua. Pria itu tertunduk, malu pada diri sendiri karena selama ini telah menyebutnya sebagai ayah. Meninggalkan bocah berusia tujuh tahun dengan seorang yang ia sakiti, bahkan menelantarkan anak gadisnya yang masih sangat kecil waktu itu. Rama pantas dihukum dengan hidup dipenuhi rasa bersalah sepanjang napasnya. Pria itu kemudian mengangguk pelan, melepaskan tangan hangat Ata kemudian berpindah di pundak gadis itu. Setidaknya ia harus bersyukur bahwa gadis cantik di depannya telah tumbuh sangat tegar seperti pohon akasia yang telah berusia puluhan tahun. Anak gadisnya telah tumbuh dewasa dalam segala hal. "Kamu benar. Ayah nggak pantas disebut sebagai ayah buat kamu," ucap Rama menepuk pundak Ata pelan. Gadis itu menatap tangan Rama yang berada di pundaknya. Sebelum kemudian menepisnya pelan. "Saya permisi," pamit Ata berjalan melewati Rama dan Senja terlebih dahulu. Hanya berselang beberapa detik, saat Senja menyempatkan diri menatap Anna pandangannya justru bertubrukan dengan Bayu. Lelaki itu seperti memberikan isyarat padanya, sebuah permohonan seperti biasa agar ia bisa memiliki waktu yang sebentar bersama Ata. Namun, dengan cepat Senja sudah melengos lebih dulu. Ia bergegas pergi sebelum lagi-lagi tangan Rama meraih pundaknya membuat lelaki itu memutar tubuh menghadap Rama. Pandangan keduanya saling bertemu, cukup lama sebelum Senja bersuara, Rama telah lebih dulu berkata, "tolong jaga Ata." Jika saja cowok itu tak mengerti sopan santun dan cara mengendalikan diri di depan orang tua tak tahu diri itu, Senja sudah pasti menyemburkan tawanya detik itu juga. Akan tetapi, tak demikian. Cowok itu membungkuk sekilas sebelum kemudian mengangguk pelan. "Pasti." Cowok itu berucap dengan matang. "Tolong jaga keluarga Om juga, supaya nggak nyakitin Ata lagi," imbuh Senja sebelum kemudian berpamitan pergi. Di tatap punggung Ata yang semakin menjauh, juga Senja yang menyusul dari belakang. Rama mendesah pelan meski ia tahu dengan hal itu tak sedikit pun mengurangi sesak di dadanya. *M a t a h a r i* Setelah kepergian Ata dan percakapan singkat yang terasa panjang itu, Anna masih sesenggukan. Sesekali memegangi dadanya. Ia pikir setelah mengatakan maaf bahkan mendapatkan penampungan dari gadis belia itu perasaannya akan lebih membaik. Namun, kini yang ada rasa sakit itu kian merajam dirinya tanpa permisi. Bukan lagi perihal membenci cara bicara Ata. Melainkan ia sadar sudah sedalam apa luka itu tumbuh dalam diri Ata. Karena bagaimana pun juga Anna adalah seorang ibu untuk anak-anaknya. Sebanyak apa pun ia melindungi buah hatinya, rasanya sangat tak adil saat ia telah melukai perasaan seorang anak lain. Bayu mengusap punggung mama dengan pelan demi menenangkan perasaan wanita tersebut. Sedangkan Aya, meski banyak sekali tanya yang ingin ia lontarkan pada sosok mama yang ia anggap lebih dari segalanya selama ini. Gadis itu hanya memeluk Anna sangat erat. Ia tak ingin memperburuk keadaan Anna, setidaknya untuk sekarang kesehatan mama adalah yang utama. "Kita balik ke kamar dulu, di sini makin dingin." Bayu mengusap pundak Aya dan Anna bersamaan. Gadis itu tak banyak bicara hanya mengangguk sekilas, ia mengusap air mata yang membekas di kedua pipi Anna lalu mengukuhkan senyum lagi pada wanita paruh baya tersebut. "Jangan nangis lagi, nanti Aya ikutan sedih," rengek Aya seperti anak kecil, yang kemudian berhasil mengundang kekehan kecil di bibir Anna. Tangan wanita itu terukur menyentuh surai hitam Aya yang ditata rapi, diusap dengan penuh kasih saudara Ata yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu. "Kalau gitu Mama nggak akan nangis lagi, supaya Aya nggak pernah sedih," balas Anna membalas genggaman tangan Aya yang hangat. Keduanya berjalan mendorong kursi roda Anna. Dengan posisi Aya berada di sisi wanita itu, dan Bayu yang berada di belakang. Sebelum tak lama kemudian Rama menghampiri dan mendampingi istrinya untuk kembali ke kamar dan segera beristirahat. Ia harus kuat untuk Anna, untuk wanita yang telah ia cintai sampai detik ini. Setidaknya Rama tak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan melukai perasaan wanita lain seperti yang terjadi di masa lalunya. Karena itu adalah salah satu cara Rama untuk menebus dosa-dosa yang telah ia lakukan. "Udah lebih baik?" tanya Rama. Anna tersenyum tipis sambil mengangguk, "nggak semudah yang aku kira. Nyatanya semua malah tambah rumit." "Udah, jangan dipikirin dulu. Yang penting sekarang kamu istirahat dan sehat. Kalau kita udah pulang ke rumah nanti kita cari cara lain supaya Ata luluh," hibur lelaki itu mengacak puncak kepala istrinya hangat. Bayu ikut tersenyum tipis melihat kedua wanita tersebut. Meski batinnya sendiri tersiksa dengan apa yang baru saja terjadi, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan kedua kakinya agar tak berlari mengejar Ata. Bayu berusaha sekuat tenaga untuk tak memeluk gadis yang tengah rapuh menghadapi keluarganya. Meski ia sendiri sadar betapa ia tak tahu malu karena dengan beraninya mengkhawatirkan Ata, sementara itu keluarganya sendiri yang telah melukai perasaan gadis tersebut. "Nggak akan semudah itu buat lupain kamu, Ta," batin Bayu. Cahaya matahari. 'Seseorang pernah bernyanyi tentang elegi esok pagi. Membawa setangkai lili sebagai tanda duka hati. Nyanyian sunyi menyayat hati dalam sepi. Mengadah penuh doa dengan segenap air mata yang tersisa. Anak kecil berpita jingga menari tanpa rasa gembira. Ada banyak peristiwa atas terjadinya luka-luka. Pagi syahdu menjadi duka yang tidak berujung. Anak kecil menari namun menangis tanpa bisa dibendung. Memohon pada angin agar kepedihan turut serta dibawa pergi bersama lara, tetapi tak ada jawaban pasti. Angin membisu, namun semesta tahu seseorang tengah membutuhkan teman agar tak sendiri. Lantas turunlah hujan yang menjadi saksi kelu di pagi itu.' - Lembayung Senja. Deretan kalimat yang pernah ia susun saat pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya itu kembali terngiang di kepala Bayu seperti rentet kejadian yang tak berujung kesudahan. Tepat saat ia kembali dari perjalanan panjang yang tak pernah ia kehendaki, Bayu menulis puisi tersebut untum Ata. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa selama napasnya masih berderu, bak sedetik pun cowok itu tak dapat menghapus Ata dari benak dan ingatannya. Kenangan Ata terlalu melekat sangat dalam pada diri Batu, sehingga untuk melupakan Ata sudah seperti suatu ketidakmungkinan bagi cowok itu. *M a t a h a r i* Now Playing : Payung Teduh - Rahasia. Tak ada sore dan udara menjadi segar Tak ada gelap lalu mata enggan menatap Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit Tak ada fajar hanya remang malam Semua tlah hilang terserah matahari Harum mawar membunuh bulan Rahasia tetap diam tak terucap Untuk itu semua aku mencarimu Berikan tanganmu jabat jemariku Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu Berikan suaramu balas semua bisikanku memanggil namamu Atau kau ingin aku berteriak sekencang kencangnya Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suara ku Harum mawar membunuh bulan Rahasia tetap diam tak terucap Untuk itu semua aku mencarimu Berikan tanganmu jabat jemariku Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu Berikan suaramu balas semua bisikanku memanggil namamu Atau kau ingin aku berteriak sekencang kencangnya Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku B E R S A M B U N G! Hai hai hai, Guys! Sudah tap love? Kalo belum buruan di tap, masih gratis kok T_T Suka sama cerita ini? Banyak kurangnya? Boleh komen kuy, gunakan bahasa yang sopan dan santun yaak! Btw, apa kabar, hari ini? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Otak saya lagi buntu banget belakangan ini, banyak hal yang nggak bisa diselesaikan dengan baik, jadi mungkin feelnya nggak dapet. Sorry :( Sepertinya saya butuh rehat sebentar, ha-ha-ha .... Semoga besok dan ke depannya saya bisa lebih baik lagi. Jadi kalau ada saran atau kritik yang ingin disampaikan, yok silahkan yok! Jangan sungkan-sungkan, asal sama-sama nyaman, ya. Dan lagi, jangan lupa baca ceritaku yang lain juga. Terima Kasih banyak, stay safe and healty! Luv u guys!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN