40

2203 Kata
Sudah tekan love? Kalau belum silahkan tekan dulu. Jangan lupa komen, dan selamat membaca! *M a t a h a r i* "Kenapa nggak pernah cerita?" tanya gadis itu, "selama ini cuma aku yang nggak tau apa-apa, bahkan di depan Ata ... sering aku ngajak dia pulang dengan nggak tau dirinya, bodoh." Ia tertunduk. Mengingat hari-hari di mana ia selalu mencari saudara kembarnya untuk diajak pulang bersama. Tinggal satu atap seperti dulu, bersama ayah dan mama. Dengan bodoh dan tak tahu malu, Aya meminta Ata pulang ke rumah bertemu dengan keluarga yang terasa asing bagi gadis itu. Atau lebih tepatnya, keluarga yang sengaja mengasingkan Ata. Namun demikian, semua itu Aya lakukan karena hanya masa kecilnya bersama Ata yang masih membekas jelas dalam ingatan. Seperti jemuran yang direntangkan pada seutas tali tambang, matahari menyerap tetes demi tetes air yang jatuh ke tanah hingga jemuran mengering. Seperti itu pikiran dalam diri Aya. Ibarat pakaian basah, jemuran itu silih berganti untuk dipaksa masuk ke dalam pikirannya. Namun tentang Ata, gadis itu adalah prioritas bagi Aya. Karena itu pula semenjak menginjak bangku Taman Kanak-kanak ia tak pernah jengan menanyakan perihal kepergian Ata. Saudara kembar yang mendadak tak pernah lagi ia temui. Di sekolah dasar yang sama, meski kenyataannya kedua saudara itu tak pernah jauh. Akan tetapi, Aya tak pernah menjumpai sosok Ata. Walau nyatanya Ata juga selalu menjaga Aya sejak detik itu. Hingga keduanya sama-sama menginjak remaja, takdir mempertemukan keduanya lewat pandangan mata. Ata selalu menjadi malaikat pelindung bagi Aya. Dalam segala situasi, seperti dahulu saat mereka kecil. Ata selalu bisa diandalkan untuk menjaga Aya dengan baik. Walaupun pada akhirnya mereka tak bisa sedekat dulu, jauh dalam lubuk hati Aya ia senang bisa melihat saudara kembarnya lagi. Aya senang bisa bertemu Ata setiap hari di sekolah, meski sikap gadis itu selalu acuh tak acuh bahkan terkesan dingin kepadanya, tetapi setidaknya ia masih bisa melihat dengan mata kepala bahwa Ata hidup dan baik-baik saja. Saudara kembarnya itu masih ada di sampingnya walaupun tak tergapai. Setitik air mata turun bebas melewati kedua pipi putih Aya. Gadis itu tertunduk lesu meremat kesepuluh jari tangan menunggu jawaban dari Rama, ayahnya yang masih bungkam. Kemudian Aya menatap ayahnya yang duduk di depan sana. "Ayah nggak mau bilang sesuatu?" Lelaki itu bungkam, bahkan tak membalas tatapan mata dari putrinya. Rama lebih memilih untuk memaku pemandangan hijau di depan sana. Menikmati udara dingin pasca hujan yang turun dengan deras malam tadi. Meskipun waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, Aya mendadak meminta waktunya untuk bicara secara empat mata. Sehingga Rama terpaksa meninggalkan istrinya, dan Bayu yang berjaga di sana. "Apa yang mesti Ayah sampaikan, kamu tau semuanya, Aya." kalimat itu membuat Aya menyorot ayah dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan hal seperti barusan kepadanya? Padahal selama ini ia benar-benar tak ingat bahwa ayah telah menikahi wanita lain, bukan mamanya. Ia sungguh tak tau apa pun soal pernikahan juga kisah di balik semua ini. Jika bukan ayah, lalu kepada siapa Aya harus bertanya. "Im still young! Aku nggak inget apa-apa," pekik Aya. "Kamu jadi pendamping pengantin waktu itu. Di samping Ayah dan mama Anna. Kamu lihat semuanya dan baik-baik, aja." Ayah menghela napas pendek. Lelaki itu menegakkan tubuh pada sandaran kursi taman yang dingin karena udara yang mulai menguap. Kini di balas tatapan putrinya yang nyalang menantang manik hitam miliknya. Rama seperti tengah di lempar ke masa silam, menatap Aya seperti melihat Sheena, sebab sepasang manik indah wanita itu telah menurun kepada kedua anak kembarnya. "Dengerin Ayah," pinta Rama. Lelaki itu menggenggam jemari tangan putrinya dengan erat, "apa pun yang mengganggu kamu saat ini, semua itu udah lewat. Semua itu udah jadi masa lalu. Sekarang kita cuma perlu menjalani kehidupan yang udah ada. Nggak perlu ngungkit yang lama lagi, Sayang." Aya meradang mendengar penuturan Rama. Ia menghempaskan tangan lelaki itu dan semakin memicingkan mata, masih tak percaya bahwa sosok yang selama ini ia kagum memiliki sisi seperti ini. "Aku nggak percaya Ayah bisa ngomong kayak gini." Gadis itu tertawa skeptis. "Bahkan setelah ketemu dan lihat kondisi Ata. Ayah nggak sedikit pun punya perasaan menyesal?" tanya Aya. "Pantes aja, Ata segitu bencinya sama Ayah," lirihnya, "ternyata Ayah cuma lelaki egois yang nggak pernah peduli sama keluarganya sendiri." "Cahaya!" Rama memekik mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aya barusan. Ia tatap gadis itu dengan pandangan tak suka, entah sejak kapan sosok manis Aya yang selalu ia banggakan menjadi seorang gadis pembangkang seperti ini. "Kenapa? Ayah nggak suka aku ngomong kayak gitu?" balas Aya tenang. Ia masih duduk di samping Rama yang sudah lebih dulu berdiri di depannya dengan sepasang pandangan nyalang. "Tapi, kenyataannya emang begitu 'kan, Yah? Ayah nggak pernah peduli sama Ata," gumam Aya diikuti air mata yang kembali menitik. Selang beberapa detik kemudian Aya bangkit dari posisi duduk. Gadis itu segera pergi meninggalkan Rama yang membatu di sana dengan d**a bergemuruh menahan kesal karena ucapan kurang ajar dari anaknya sendiri. Tidak taukah Aya bahwa selama ini ia berjuang untuk mempertahankan keluarganya agar tetap utuh dan baik-baik saja. Menjadi sosok kepala keluarga yang mengurus istrinya sakit juga berbagai cabang perusahaan yang tentunya amat melelahkan. Rama melakaukan semua itu selama ini, sendirian. Sebab Bayu seolah tak memiliki minat pada perusahaan milik mamanya sendiri. "Kamu nggak tau, Ayah berjuang sejauh ini buat kamu juga, Ay." *M a t a h a r i* Dalam kamar yang berada di lantai dua itu terasa hangat. Ruangan sederhana bercat putih abu-abu itu terlihat lebih hidup karena dua manusia yang duduk di depan jendela kaca setinggi langit-langit kamar. Sengaja jendela kamar itu dibuka sedikit agar hawa dingin sisa hujan semalam dapat masuk ke kamar. Lantas aroma petrichor dapat mereka hirup seraya menikmati secangkir kopi tubruk yang memabukkan. Lampu tumblr berwarna warm light menjadi satu-satunya penerangan dalam ruangan itu. Baik Ata maupun Senja, keduanya duduk diam menghadap ke jendela, di depannya masing-masing tersedia secangkir kopi hitam yang diracik oleh seorang barista tampan. Siapa lagi jika bukan Senja. Cowok itu bergeming menatap Ata, menyenggol lengan Ata yang sedari tadi dipangku dengan kedua lutut di depan d**a. Sepulang dari rumah sakit, gadis itu tak banyak bicara selain tertawa kecil karena candaan bunda di depan meja makan. Tak pelak hal itu berhasil membuat Senja khawatir lagi pada Ata. "Apa lagi?" tanya Senja. Ata kontan menoleh. Sekilas. Gadis itu mengulum bibir lalu di susul dengan helaan napas pendek. Ia melipat kaki, mengubah posisi duduk menjadi bersila. Tangannya sudah terulur mengangkat cangkir kecil berwarna putih gading ke udara, menunggu dentingan cangkir Senja menyambutnya. Namun, cowok itu justru menelisik pandangannya lebih dalam. Membuat Ata menaikkan kedua alis memberi isyarat pada Senja untuk segera memulai ibadah ngopi mereka di pagi buta. Ting! Dua cangkir yang berisi kopi tubruk arabika itu berdenting pelan. Ata menghirup aroma kopi yang memabukkan seperti biasa, matanya terpejam membiarkan indera penciumannya bekerja dengan baik. Sebelum sedetik kemudian menyesapnya perlahan dengan penuh khidmat. "Ah, mantap!" gumam Senja, merasa bangga dengan rasa yang kopi yang ia ciptakan hari ini. Kalimat pendek itu menyalurkan tawa kecil di bibir Ata. Gadis itu meletakkan cangkir di tangannya, kemudian menatap Senja tanpa kata. Tentu saja hal itu berhasil membuat Senja salah tingkah, tak mengerti dengan arti tatapan cewek di depannya. "A-apa? Ngapain?" gagap cowok itu menyeruput kopinya sekali lagi, sebelum kemudian mengikuti jejak Ata untuk meletakkan cangkir miliknya di lantai. Bukannya menjawab gadis itu malah mengendikkan bahu acuh. Kembali kepada posisi semula, ia lemparkan pandangan ke luar jendela kamar. Menatap embun yang menguap membasahi udara pagi yang dingin, tetapi masih terasa segar. "Makasih banyak, Dit." Di antara keheningan itu, Ata mengucapkan kalimat itu tulus dari hati untuk Senja yang selalu tinggal menemani matahari, saat semua orang berlalu untuk pergi. Cowok itu menoleh pada Ata penuh tanya yang membengkak. "Buat semuanya," tutur Ata, "makasih selalu ada buat aku." "Makasih banyak juga Matahari. Udah kuat dan bertahan sampai di titik ini. Aku harap, kamu tetep jadi matahari yang hangat. Seenggaknya buat diri kamu sendiri," balas Senja. Cowok itu mengacak rambut hitam Ata gemas. Membuat gadis itu menunduk pelan. "Mau denger musikalisasi puisi Usman Arrumy?" tanya Senja. Ata mengernyitkan dahi heran. Entah kenapa, sejak kemarin cowok itu terlalu gemar membahas soal puisi. Padahal dulu Senja tak begitu akrab dengan segala hal berbau kata-kata mati. "Wait!" Tanpa menunggu persetujuan dari Ata, ia mengeluarkan ponsel dan mencari-cari sesuatu untuk di putar. "Demi apa pun, ini keren banget, sih, Ta." Kwatrin Tsuroysme Selain puisi, adakah jalan untuk menujumu? Aku mengandaikan kau sebagai kertas putih, yang berkenan menampung katakata sedih sebab aku percaya betapa kaulah kekasih di hadapanmu yang sentosa, seluruh kataku moksa, sefana dunia seisinya bagaimana kutulis kau, Cinta sedang tatapanmu lebih puisi, ketimbang berlaksa sang pencipta aksara Puisi adalah satu-satunya kendaraan, yang mau mengantarkan kesedihan mencapai kenangan menuju jauh ke dalam dirimu, berpaling dari masa depan di banding Pujangga terkenal tatap matamu lebih kekal nyatanya detakku fasih menyebutmu tanpa sesal sembari mengembarai semesta, aku mencari kata paling luka untuk kusampaikan kepadamu wahai sengsara Selain puisi, adakah yang lebih kenangan? aku menghayalkan jadi kata yang terselip di sela kalimatmu di antara larik lirik di balik bilik yang kaulafalkan dengan rindu aku akan tumbuh sepenuh yang tak bisa direngkuh aku akan mengembara sejauh yang tak bisa ditempuh Sabda Cinta Kelak, Tuhan akan menyentuh keseluruhanmu melalui tanganku memasrahkan penglihatanmu di sepasang mataku jika kau mendengarkan lewat gendang telingaku indra perasamu bergantung dengan lidahku bibirku sebagai pengendali senyummu hidungku mengemban endus aromamu dadaku menjadi ruang menampung rahasiamu dan hatiku adalah tempat terbaik untuk menuju Kau air dari hujanku aku cahaya dari purnamamu kau ombak dalam lautku aku bara dalam apimu kau dan aku adalah esa; Cinta yang bergema Kelak, Tuhan akan membayang di setiap bagian dari dirimu membiarkanku berlutut menghayati liuk lekuk lakumu pengembaraanku mengandung jejakmu dan diammu menyimpan gerakku airmataku sumber dari mataairmu getaranmu pangkal dari kegetiranku rohmu bermukim dalam tubuhku jiwaku semayam dalam badanmu kau bunyi dari suaraku aku arti dalam maknamu kau berdetak di jantungku aku berdenyut di nadimu kau dan aku adalah tunggal: Cinta yang kekal Dan kelak, ketika cinta bersabda kau dan aku tak ada bedanya sebab kita terlahir dari takdir yang sama kau isi dari kosongku aku penuh oleh adamu kau esa dalam diriku aku tunggal dalam dirimu Seruling Dari rumpun bambu tempatku bermukim dulu kusampaikan dendamku melalui ratapan pilu setelah tubuhku ditebas, kulitku dikerati jiwaku dibakar api, dan tubuhku dilubangi Sesungguhnya aku telah lama menanggung rindu setelah sekian waktu pisah dengan kampung halamanku betapa maklum jika kepadamu aku mendamba, sudi memanggil udara untuk menuturkan kidung duka sebab cuma dengan itu kau bisa tahu alangkah sedih sukma yang tersisih, begitu pedih jauh dari Kekasih Sekali kau tiup aku meliuk tumbuh jadi irama menghimpun diri sebagai nada renjana-dukana bunyiku lebih luwes ketimbang pinggul pesinden lebih lentur dibanding kengiluan petani gagal panen Kini, dihadapanmu, kupasrahkan keseluruhanku agar bibirmu bebas memagutku, jemarimu leluasa menjamahku biar ia yang mendengar nuraninya tergetar, jantungnya berdebar Aku muncul sebagai musik, mungkin lirih berbisik semata agar kau tak terusik, agar kau tak lagi merasa bergidik Dengan jiwa yang kepayang aku mencari sumber angin sembari menghalau rasa ingin, aku menggeliat dalam refrein Dari rumpun bambu tempatku berasal akan kukisahkan cinta yang tak terlafal bersenandung kepada kau yang berkabung melengkung jauh ke dalam jiwa-jiwa suwung Meski tak kau hirau, aku tabah menyimpan risau setelah aku merantau jauh ke ribuan pulau sebab desir angin yang menjadi nafasmu mungkin juga sempat menjadi bagian dari diriku O, Kekasih, jumpai aku di tanah kelahiranku di sana akan kautemu nutfah yang kuwariskan kepadamu sebab aku sudah tak bisa kembali, aku mesti mengembara menyapa para pecinta dengan tembang nestapa Jika suatu waktu, aku mengalun masuk ke gendang telingamu kuharap kau tak lupa bahwa gema-gendingnya bermuara darimu Demi kau yang dadanya tersungkur karena ricau sangkur aku rela cerai dari indukku untuk menjelma sebagai pelipur Aku akan melayang, memanggul kenanganku wajahmu membayang, di tengah lagu-senduku Diam dan dengarkan, Kekasih, aku akan bersiul demi menyampaikan suara batinku yang masygul "Mampus!" Senja bertepuk tangan pelan. Sedangkan Ata ikut terkekeh melihat reaksi cowok itu. Tiga buah puisi karya Usman Arrumy selesai di nadakan. Bersamaan dengan kedua cangkir kopi yang sama-sama kosong. "Kayaknya, aku bakalan belajar lebih banyak soal puisi," ucap Senja membuat perhatian Ata tertuju padanya. "Kenapa? Tiba-tiba banget." "Karena ada banyak kata yang nggak bisa aku sampaikan, makannya lebih baik ditulis jadi puisi supaya nggak mati," balas Senja tersenyum lebar. *M a t a h a r i* *B E R S A M B U N G Hai hai hai, Guys! Sudah tap love? Kalo belum buruan di tap, masih gratis kok T_T Suka sama cerita ini? Banyak kurangnya? Boleh komen kuy, gunakan bahasa yang sopan dan santun yaak! Btw, apa kabar, hari ini? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Otak saya lagi buntu banget belakangan ini, banyak hal yang nggak bisa diselesaikan dengan baik, jadi mungkin feelnya nggak dapet. Sorry :( Sepertinya saya butuh rehat sebentar, ha-ha-ha .... Semoga besok dan ke depannya saya bisa lebih baik lagi. Jadi kalau ada saran atau kritik yang ingin disampaikan, yok silahkan yok! Jangan sungkan-sungkan, asal sama-sama nyaman, ya. Dan lagi, jangan lupa baca ceritaku yang lain juga. Terima Kasih banyak, stay safe and healty! Luv u guys! Bonus, saya kasih puisi Usman Arrumy yang bikin meninggoy :v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN