Sebelum baca jangan lupa tekan love!
Happy reading, guys!
*M a t a h a r i*
Seruling
Dari rumpun bambu tempatku bermukim dulu
kusampaikan dendamku melalui ratapan pilu
setelah tubuhku ditebas, kulitku dikerati
jiwaku dibakar api, dan tubuhku dilubangi
Sesungguhnya aku telah lama menanggung rindu
setelah sekian waktu pisah dengan kampung halamanku
betapa maklum jika kepadamu aku mendamba,
sudi memanggil udara untuk menuturkan kidung duka
sebab cuma dengan itu kau bisa tahu alangkah sedih
sukma yang tersisih, begitu pedih jauh dari Kekasih
Sekali kau tiup aku meliuk tumbuh jadi irama
menghimpun diri sebagai nada renjana-dukana
bunyiku lebih luwes ketimbang pinggul pesinden
lebih lentur dibanding kengiluan petani gagal panen
Kini, dihadapanmu, kupasrahkan keseluruhanku
agar bibirmu bebas memagutku, jemarimu leluasa menjamahku
biar ia yang mendengar nuraninya tergetar, jantungnya berdebar
Aku muncul sebagai musik, mungkin lirih berbisik
semata agar kau tak terusik, agar kau tak lagi merasa bergidik
Dengan jiwa yang kepayang aku mencari sumber angin
sembari menghalau rasa ingin, aku menggeliat dalam refrein
Dari rumpun bambu tempatku berasal
akan kukisahkan cinta yang tak terlafal
bersenandung kepada kau yang berkabung
melengkung jauh ke dalam jiwa-jiwa suwung
Meski tak kau hirau, aku tabah menyimpan risau
setelah aku merantau jauh ke ribuan pulau
sebab desir angin yang menjadi nafasmu
mungkin juga sempat menjadi bagian dari diriku
O, Kekasih, jumpai aku di tanah kelahiranku
di sana akan kautemu nutfah yang kuwariskan kepadamu
sebab aku sudah tak bisa kembali, aku mesti mengembara
menyapa para pecinta dengan tembang nestapa
Jika suatu waktu, aku mengalun masuk ke gendang telingamu
kuharap kau tak lupa bahwa gema-gendingnya bermuara darimu
Demi kau yang dadanya tersungkur karena ricau sangkur
aku rela cerai dari indukku untuk menjelma sebagai pelipur
Aku akan melayang, memanggul kenanganku
wajahmu membayang, di tengah lagu-senduku
Diam dan dengarkan, Kekasih, aku akan bersiul
demi menyampaikan suara batinku yang masygul
-Usman Arrumy
Selepas mendengar musikalisasi puisi yang dilantunkan oleh sang penyair, Senja menandaskan kopi. Mulanya cowok itu hanya merebahkan diri di atas karpet berbulu warna putih yang menjadi alas duduk keduanya sedari tadi. Namun, entah sejak kapan cowok itu sudah menutup mata terlelap dengan dengkuran halusnya. Membiarkan Ata terjaga sendirian menatap hujan yang kembali turun saat pagi mulai datang.
Dilirik Senja sekelebat, sedetik kemudian ia menarik selimut dari atas kasur dan menutupi tubuh Senja dengan selimut tersebut. Gadis itu kembali duduk di posisi semula, membiarkan setiap tetes air yang jatuh ke bumi mengundang kembali ingatan yang pernah terlepas dari kepala.
Pada kejadian beberapa bulan silam. Sosok Rama yang bahkan memang tak pernah mengenali dirinya sedikit pun. Artinya lelaki itu pasti tak pernah merasa memiliki ikatan apa apa dengan Ata. Bahkan, tak pernah merasa kehilangan atas sosok putrinya. Yang juga berarti, kata-kata dan permohonan maaf di kafe beberapa hari yang lalu ... Ata tersenyum samar.
"Omong kosong!" bisik gadis itu.
Pada kejadian di mana ia menyelamatkan dompet Rama saat lelaki itu hampir saja kecopetan. Ata menelan bulat-bulat kekecewaannya.
*M a t a h a r i*
Surabaya diguyur hujan sejak subuh tadi. Jalanan yang biasanya ramai di hari Minggu terlihat lenggang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang memeluk diri sambil memegang payung. Rintik gerimis tipis itu bagaikan air mata dewa yang sedang murka. Meski hanya setitik kecil, namun dinginnya menusuk tulang. Sejak tadi Ata berdiri di dekat tiang lampu jalan yang dicat warna hitam. Pandangannya terbagi pada dua orang yang berbeda, yang posisinya tidak jauh darinya.
Jaket parasut hitam melekat di tubuhnya, tudung jaket yang ia kenakan sampai menutupi sebagian wajah. Mata cokelat muda itu semakin terlihat tajam di bawah alis tebal yang indah. Kini fokus Ata tertuju pada seorang pria paruh baya yang membawa paper bag, pria itu sedang memilih bunga di sebuah kios bunga yang letaknya di pinggir trotoar. Pria setengah tua itu tampak senang mengamati macam-macam bunga yang dipajang untuk dijual. Sesekali ia berbincang dengan nenek berkebaya jadul untuk bertanya jenis bunga yang tersentuh jemarinya.
Fokus pandangan Ata terbagi lagi dengan seorang gadis kecil yang mungkin masih berusia sepuluh tahun membawa koran di dekat kios bunga. Bajunya compang-camping, dekil, dan matanya sayu. Ata yakin gadis kecil itu adalah salah satu dari banyaknya gelandangan di kota besar. Saat itu juga mata Ata menangkap pelototan tajam dari lelaki botak berwajah sangar yang berdiri di sebrang jalan tepat di depan gadis kecil itu. Langkah Ata cepat menghampiri pria setengah tua yang menyadari bahwa gadis kecil di sebelah kios itu merampas paper bag dari tangannya. Sebelum sempat pria itu menyentuh gadis kecil tersebut, Ata sudah lebih dulu meraih lengan bocah itu dan menyembunyikan gadis itu di balik tubuh.
Pria paruh baya itu menatap Ata yang menunduk tanpa ingin menunjukkan wajah. Pelan, Ata meraih paper bag yang digenggam erat oleh si gadis kecil. Awalnya gadis itu menolak untuk memberikan, tetapi kemudian ia menyerahkannya pada Ata setelah melihat segaris senyum bersahabat.
"Masih kecil udah berani nyopet. Besar nanti mau jadi apa kamu?" ucap pria paruh baya itu berteriak.
Ata masih menunduk seolah meminta maaf, tetapi sebenarnya tidak. Ia menyerahkan paper bag yang entah apa isinya pada pemiliknya. Pria itu tidak segera menerima barang yang diserahkan Ata. Hingga kemudian Ata memberikannya secara paksa dengan menekan paper bag tersebut dengan pelan di d**a pria paruh baya itu.
"Kamu siapa? Jangan ikut campur, dia salah harus dikasih pelajaran biar nggak keterusan!" bentak pria tersebut.
Namun, Ata justru sibuk mengamati lelaki botak yang mendekati pria paruh baya tersebut dari belakang. Gerakan Ata secepat kilat menendang lutut belakang lelaki botak berwajah sangar yang mengambil dompet pria paruh baya itu saat sedang memaki dirinya. Sejak awal Ata tau, gadis kecil itu hanyalah umpan untuk mengalihkan perhatian korban.
Sebuah kepalan tangan terarah pada perut, tetapi masih bisa dihindari. Gadis kecil, nenek penjual bunga dan pria paruh baya itu menyaksikan pergulatan Ata dan juga lelaki botak dengan ekspresi kaget. Telak satu tendangan melayang atas mengenai kepala botak dan membuat lelaki itu tersungkur ke jalan. Dengan napas memburu Ata merampas dompet dari saku celana jins kumal lelaki itu dan menyerahkannya pada pria paruh baya yang terkesima dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Lain kali anda harus lebih berhati-hati," pesan Ata meletakkan dompet tersebut di tangan kanan pria itu.
"Ka-kamu?"
Meninggalkan ketercengangan pria paruh baya tersebut, Ata meraih lengan gadis kecil yang ketakutan melihatnya. Niat Ata untuk membawanya pergi dari sana tertahan karena gadis kecil itu justru menangis tidak mau melangkah bak sejengkal.
"Kamu bisa sakit kalau keras kepala buat berdiri di sini terus," ucap Ata berjongkok di depan gadis kecil.
"Ayo ikut aku, nanti kubelikan s**u cokelat yang enak," sambungnya tersenyum.
Gadis kecil itu luluh karena ucapan lembut Ata. Ia berjalan mengikuti Ata yang masih menggandeng tangannya erat. Rasa takutnya hilang, ketika sebuah senyum diberikan. Rasa takutnya lenyap saat tangan hangat bersedia menggenggam tangannya.
Di balik tudung jaket hitam, mata cokelat yang menyusuri jalanan itu dihiasi setitik air mata. Pria paruh baya yang ia tolong barusan adalah ayahnya. Ayahnya dulu, sekarang ... entahlah. Ata bahkan tetap tidak mengerti setelah berkali-kali berusaha untuk memahami. Bahkan lelaki itu, mungkin tidak mengenali Ata.
*M a t a h a r i*
Sebuah lagu dari band indie jenis pop jaz menyapa indera pendengaran Ata juga gadis kecil yang kini sudah berada di dalam kafe. Musik itu terdengar di seantero kafe, Ata melemparkan senyum pada gadis kecil yang tidak ia ketahui namanya itu lalu kembali menggandengnya untuk mencari tempat duduk. Seperti biasa tempat favorit Ata adalah sebuah meja di dekat jendela. Dengan begitu ia bisa melihat titik-titik air hujan yang mengenai jendela kaca.
"Ma, s**u cokelat anget dong, satu!" ucap Ata melambaikan tangan pada Rahma.
Gadis berkucir kuda itu mengangguk lantas bergerak cepat untuk membuatkan pesanan bosnya. Sementara itu lima karyawan yang pagi itu sudah berada di kafe menatap Ata serta gadis kumal dengan heran.
"s**u cokelat hangatnya, Kak. Selamat menikmati," ucap Rahma sopan meletakkan sebuah mug putih besar berisikan s**u cokelat. "Ada lagi, Kak?"
"Tolong bawain makanan, apa aja."
"Oke siap, Kak."
Hening tercipta, Ata sibuk memerhatikan gadis kecil tersebut sambil berkelana ke masa lalu. Tatapan memelas itu membuatnya teringat akan dirinya sendiri yang dulu begitu menyedihkan.
"Diminum gih, jangan dilihatin aja," ucap Ata, "aku nggak akan gigit kamu, kok." sambung Ata tersenyum manis.
Dengan gerakan malu-malu gadis kecil itu menyentuh mug tersebut. Menciptakan senyum tipis di bibir Ata. Ia tidak akan bertanya mengapa anak itu berani melakukan hal seperti tadi. Padahal jelas sangat membahayakan diri. Karena Ata mengerti, gadis kecil itu melakukannya hanya karena ingin semua baik-baik saja. Meski tidak mendapatkan upah, setidaknya ia tidak menerima satu pukulan yang menyakitkan. Tak lama kemudian Rahma datang membawa nampan berisi chese cake juga singkong mentega. Dua makanan favorit Ata.
"Makasih ya, Ma."
Gadis itu mengangguk lalu beranjak setelah permisi. Ata mendorong dua jenis makanan yang berbeda itu hingga berada di dekat anak kecil di depannya. Memperintahkannya untuk makan lalu ia sendiri kembali sibuk dengan segudang pikiran yang menikam.
"Dihabisin, abis itu aku anterin kamu pulang."
Tanpa sengaja sepasang mata cokelat muda milik Ata menangkap seseorang yang berdiri di sebrang jalan bersama wanita paruh baya. Orang yang menatapnya tanpa ekspresi, tetapi di balik manik mata sehitam jelaga itu Ata tahu. Ada banyak hal yang tersembunyi. Gadis berkaca mata itu melengos setelah lama saling bicara lewat pandangan mata, tanpa payung melewati rinai hujan yang hanya berupa titik-titik kecil.
Ata tak berniat mengejar, tidak seperti biasanya. Karena ia tau, setelah sepasang mata hitam itu mengatakan bahwa ia sedang ingin sendirian. Sungguh-sungguh sendirian.
Di belakang Ata, Aya terus memperhatikan Ata. Sejak tadi, sejak kejadian di mana ia menolong pria yang hampir kecopetan di kios bunga. Yang tak lain adalah ayah dari mereka berdua. Satu cangkir cokelat hangat menemani Aya yang sibuk dengan sederet pernyataan yang memenuhi kepala. Ata selalu keras, bersikap seolah tidak peduli tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Ata peduli, lebih dari siapa pun, tetapi ia enggan menunjukkan. Lantas untuk apa Ata bersikap demikian padanya? Kasar, dingin dan kaku. Namun, ia bisa menjadi orang yang lembut, hangat dan bersahabat saat bersama orang lain. Aya benci kenyataan itu.
Seseorang yang dulu pernah berbagi tempat di rahim mama. Seseorang yang dulu menjadi teman untuk melihat indahnya dunia bersama-sama. Bahkan kedua kembar tidak identik itu memiliki kesamaan meski tidak ketara. Sepasang mata cokelat Aya dan Ata mirip seperti mama.
Cahaya Matahari dulu adalah seorang gadis kecil yang lebih banyak diam. Ia hanya tersenyum sesekali, itu pun hanya ketika Aya berada di dekatnya. Sedangkan Cahaya Bulan adalah gadis kecil yang selalu ceria. Bahkan terlalu sering mengusili kembarannya. Cahaya Matahari menyukai warna jingga begitu pun dengan Cahaya Bulan. Satu hal yang membedakan keduanya. Ata kecil lebih senang bersama mama menatap bintang di tengah kegelapan. Sedangkan Aya kecil lebih senang bersama ayah menyaksikan matahari yang terbenam.
Pintu kaca terbuka oleh Senja yang menguap lebar sambil meneriakkan sapaan selamat pagi pada seluruh pemghuni kafe.
"Waalaikum salam!" teriak Senja menyapa dengan jenaka.
Lukman yang mengelap meja dengan semprotan, menyemprotkan cairan pembersih di tangannya hingga mengenai Senja.
"Wo, b******n kon!" umpat Senja mengeplak punggung Lukman kencang.
"Assalamualaikum, Dit."
Senja mencebik lalu menyusul Ata yang duduk membelakanginya sambil menjawab salam Lukman sialan.
"Anak siapa, nih?" Senja bertanya sambil menjatuhkan b****g di atas kursi tepat di samping Ata.
"Kamu anter dia pulang. Aku mau cabut."
"Loh, heh! Aku nggak tau Rumahnya di mana."
"Punya mulut bisa tanya, 'kan?" balas Ata memutar tubuh menatap Senja yang banyak bicara itu.
"Thank U!" imbuh Ata menepuk bahu lelaki itu pelan.
Semua tingkah serta ucapan Ata tidak sedikit pun terlewatkan oleh Aya. Bahkan saat Ata melangkah pergi meninggalkan kafe, Aya buru-buru meletakkan selembar uang lima puluh ribuan di atas meja. Membiarkan minuman dalam cangkir itu tetap utuh tak disentuh. Kenyataannya Aya yang berniat menguntit Ata justru dikuntit oleh dua orang sekaligus. Senja juga Ata yang sedari tadi bersikap pura-pura tidak tahu apa pun.
Sejauh kaki melangkah Ata tidak sedikit pun menoleh ke belakang. Meskipun ia sendiri tidak yakin kemana kakinya akan membawanya pergi. Ata masih berjalan, melewati trotoar sambil menatap pedagang-pedagang yang menjajakan dagangan mereka. Di dekat lampu merah seorang anak yang seharusnya duduk di depan TV menonton kartun dengan kue bolu, menghampiri mobil yang berhenti untuk menawarkan koran. Sampai pada akhirnya ia berhenti di sebuah taman kota yang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Ata melepaskan tudung jaket, melirik sang surya yang bersinar terik setelah pagi gerimis. Udara basah yang hangat menyejukkan, selalu menjadi favorit Ata, meskipun sejujurnya ia tidak begitu menyukai hujan di pagi hari. Terlebih ketika fajar menyingsing.
Gadis itu menyeringai tipis. Entah kenapa ia begitu peka dangan keadaan sekeliling. Ia bahkan masih merasakan seseorang menguntitnya. Dia Aya, yang bersembunyi di balik bunga Desember.
Sejak tadi pandangan Aya tidak lepas dari punggung Ata. Tadinya ia ingin mengikuti Ata bersama Bayu, tapi kakaknya itu ternyata sibuk mengurus sesuatu di kantor ayah. Dengan jelas Aya menangkap percakapan Ata yang baru saja dimulai dengan seseorang di seberang. Ata menempelkan ponsel warna hitam itu ke telinganya.
"Kamu di mana?" suara Senja menyapa dari seberang.
"Taman," jawab Ata singkat.
"Masih dikuntit?"
"Masih. Tuh, berdiri kayak manusia geblek di belakang," ucap Ata menoleh sedikit sambil menciptakan seringai tipis di bibirnya.
Aya mendadak kaku di tempat. Jadi, sejak tadi Ata tahu ia mengikutinya. Gadis berambut panjang itu meremas jemarinya resah.
"Kasih kesempatan dia buat ngomong. Kasian, Ta."
"Gitu ya?"
"Iyalah. Kamu nggak liat mukanya me-"
Ata mematikan sambungan telepon secara sepihak dan memasukkan benda pipih tersebut dalam saku jaketnya. Ia yakin di seberang sana, Senja misuh nggak karuan. Meskipun begitu, Ata mendengarkan ucapan Senja kali ini. Dari awal ia memang berniat untuk membiarkan Aya bicara. Entah nanti ia akan menjawab atau tidak, tergantung pada dirinya yang nanti mampu atau tidak untuk mengontrol dirinya sendiri. Ia menoleh, menatap Aya yang tertegun dengan wajah pucat. Meski muak dengan ekspresi ketakutan semacam itu, Ata mendekat diiringi umpatan dalam hati.
"Ayo kita ngobrol." Ata berucap dingin tanpa menatap Aya.
Keduanya berdiri dalam satu garis yang sejajar. Namun, dengan arah yang saling membelakangi. Aya yang tadinya menunduk takut, mengangkat kepalanya demi melihat kembarannya tersebut dengan ekspresi tidak percaya.
"Ngobrol?" ulang Aya tidak yakin.
"Soal-soal yang mau kamu tanyain itu, jangan mikir lebih jauh," ucap Ata jengah. "Itu yang kamu mau, 'kan?" tuturnya yang kali ini menoleh demi menatap saudaranya.
Sehingga sepasang manik mata berwarna serupa itu saling bertemu. Pada Aya, Ata seolah melihat mama di sana. Sedangkan pada Ata, yang didapat Aya hanyalah kebekuan yang menggigilkan.
Sepersekian detik yang terlewatkan keduanya bungkam dengan meredam perasaan masing-masing. Kali ini Ata bertekat untuk tidak akan lari. Apa pun yang ditanyakan Aya, ia akan menjawabnya. Meskipun ia tidak yakin bahwa jawabannya akan membuat Aya menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya. Ata berusaha tidak peduli. Setidaknya saudaranya nanti tidak akan lagi mengikutinya setiap hari.
*M a t a h a r i*
B E R S A M B U N G!
Buat yang lupa mereka pernah ketemu, wkwk.
Kalau kalian punya penyair favorit, boleh Sharing sama aku kuy. Bisa jadi buat referensi bacaan aku juga.
Dan nggak lupa, jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Wkwkwk.
Sekali lagi terima kasih guys!.
Sehat sehat kalian.
Love u ? :v