Jangan lupa tekan love! *^^
Selamat membaca ....
*M a t a h a r i*
"Kenapa kamu benci aku?"
"Aku nggak benci siapa pun, tapi bukan berarti aku suka sama kamu. Aku nggak dendam, tapi aku nggak bisa lupain semuanya gitu aja," ucap Ata tenang.
Kini giliran Aya yang tersenyum mengejek.
"Nggak bisa lupain?" Aya mengulang.
Keduanya bersipandang dalam bisu. Aya mengernyitkan dahi menatap kembarannya heran.
"Kamu bukan nggak bisa lupain, tapi kamu justru ngelupain semuanya Ata. Semua orang-orang yang sayang sama kamu."
Sepasang mata Ata memicing. Menatap saudara kembarnya yang hampir selama sepuluh tahun dijadikan asing oleh dirinya sendiri.
"Terserah, aku nggak peduli sama apa yang kamu pikirin," balas Ata melengos.
"Kenapa?"
Ata mendengus jengah. Ia tidak tahu bahwa kembarannya itu adalah gadis dungu.
"Udah aku jawab pertanyaanmu, sekarang giliran kamu untuk cari tahu kenapa aku kayak gini." Ata berucap datar. "Aku nggak tahu kalau ternyata kamu telmi banget."
"Maksud kamu apa sih, Ta? Aku nggak ngerti."
Jelas kamu nggak ngerti, karena kamu nggak pernah ada saat aku sendirian. Saat Ayah pukul mama!
Gadis di depannya itu misterius. Ata sangat abu-abu di mata Aya. Dari mata Ata, Aya juga tidak sanggup menemukan celah kecil untuk masuk lebih dalam dan membaca apa yang Ata rasakan.
"Kamu peduli, Ta. Kamu masih peduli sama Aku, sama Ayah. Kamu masih peduli sama keluarga kita, 'kan? Terus kenapa kamu begini? Aku pengen kita kumpul di Rumah lagi, sama-sama lagi, bahagia kayak dulu, seperti keluarga yang utuh!"
Ata hampir aja tergelak kencang jika ia tidak menahan bibirnya untuk tetap terkatup rapat. Hanya dengusan tawa kecil yang terdengar, gadis itu memainkan tusuk gigi di tangannya setelah mendengarkan ucapan Aya.
"Omong kosong apa lagi, sih?" tanya Ata menatap Aya. "Kamu bilang apa? Keluarga kita?" ulang Ata lagi-lagi mendengus. "Kita yang mana?"
Aya dibuat bingung dengan tingkah serta ucapan Ata. Namun, Aya masih memerhatikan apa yang kini tengah ata lakukan.
"Ini keluarga."
Ata mengangkat tusuk gigi di tangannya tepat di depan wajah Aya. Lalu mematahkannya dengan mudah menjadi dua bagian saat itu juga.
"Ini, Kamu sama Ayah," jelasnya meletakkan satu bagian tusuk gigi di depan Aya.
Satu bagian lagi yang ada padanya ia patahkan pula, lalu ia buang bagian ujung runcingnya. Kini tinggal satu bagian kecil berujung tumpul dikedua bagian tersebut. Lantas Ata mengangkatnya tepat di depan wajahnya sendiri.
"Ini aku, jangan tanya siapa yang barusan patah," jelas Ata dengan nada sarkas.
Aya mengerutkan dahi bingung. Ia mengerti siapa yang dimaksud Ata, namun ia tidak mengerti apa maksud Ata.
"Aku udah mati, Aya!"
Keduanya saling berpandangan lagi. Mengaburkan sekeliling dan mengunci sepasang iris yang sama itu tanpa berkedip. Seolah seluruh objek di belakang mereka terlempar jauh di alam lain. Hingga salah satu dari dua pasang mata itu mulai berkabut.
Aya mengedip membiarkan setetes air matanya jatuh seperti derai air hujan. Ini rumit, teramat sangat rumit untuk dimengerti seorang diri. Ia bertanya, meskipun Ata menjawab namun kenyataannya Aya masih tidak sanggup menyimpulkan apa pun.
"Pulang Ta. Mama pengen ketemu sama kamu," ucap Aya menyentuh tangan Ata yang berada di atas meja.
Menyadari hal itu Ata menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Aya. "Nggak bisa."
"Kenapa nggak bisa? Jawab pertanyaanku."
Ata mengeram dalam hati, ia tatap Aya dengan lirikan tajam. Tidak tahukah Aya, bahwa ia menahan gejolak amarah dalam dirinya sendiri. Menahan kemarahan agar tidak mencuat keluar detik itu juga? Sayangnya Aya justru menantang, gadis itu terus menekan Ata untuk mengatakan alasan yang tidak sepenuhnya Aya mengerti.
"Jawab aku Ta!" pinta Aya menekan.
"Kamu minta aku pulang? Satu atap sama wanita yang udah bikin Ayah ninggalin Mama? Satu atap sama Ayah yang nggak pernah mau ngelihat kalau aku itu juga anaknya? Itu mau kamu? Iya, Cahaya?!" Ata berucap penuh penekanan.
Dalam ketenangan itu tersimpan ribuan belati yang siap menghunus hingga mati. Aya diam, namun sepasang matanya masih menantang untuk penjelasan yang sepenuhnya.
"Aku nggak gila. Aku lebih baik tidur sendirian dari pada harus satu atap sama kalian. Sama orang-orang yang udah bikin Mama meninggal! Aku nggak mungkin balik ke Rumah itu, Aya! Kamu tau kenapa?" tanya Ata mengadu rahang. "Karena aku bukan Ata yang dulu." sambungnya.
Aya menggeleng tak mengerti dengan ucapan kembarannya itu. "Maksud kamu apa sih Ta? Wanita mana yang kamu maksud? Siapa yang meninggal? Ayah masih setia nemenin Mama yang sekarat pengen ketemu kamu."
Mendengar penuturan Aya barusan. Membuat Ata terdiam bodoh. Setengah tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Aya. Apa mungkin Aya tidak pernah tahu bahwa mama yang melahirkan mereka berdua sudah sejak lama meninggalkan dunia? Lantas, Ayah juga tidak pernah menceritakan kisah yang sebenarnya pada Aya? Satu kenyataan yang membuat Ata benar-benar serasa di hantam gada tepat di kepala.
"Aku peduli sama kamu. Kita semua pengen kamu kembali ke sana Ta. Pengen kita kumpul kayak dulu lagi," balas Aya menangis.
"Lupain, Ya. Kita sama-sama udah dewasa. Buang harapan kamu tentang keluarga yang utuh. Anggap aja aku udah mati, kalau pun kamu ngelihat aku atau saat aku bantuin kamu anggap aja aku arwah yang gentayangan. Atau ... Seseorang yang nggak pernah kamu kenal." ujar Ata mencoba tenang. "Lagian, apa Ayah pernah peduli sama aku?" tanya Ata masih terlihat tenang.
Meski di dalam hati mati-matian ia berdoa agar ketakutan yang selama ini menghantui hanya sebatas pemikirannya sendiri. Namun, Aya membisu. Membuat Ata mau tidak mau menelan bulat-bulat kenyataan yang ditakutkan olehnya.
"Enggak pernah, 'kan?"
Aya menggeleng perlahan. Ia menolak mengikuti apa yang Ata ucapkan. Ata melemparkan jaket parasut yang ia kenakan. Jaket tersebut jatuh tepat di pangkuan Aya membuat gadis itu semakin terisak.
"Pulang. Jangan pernah ke sini lagi," ucap Ata mengakhiri.
Ata beranjak dari kursi. Hendak meninggalkan Aya untuk mencari pelarian demi melepaskan sesak yang melukai dadanya.
"Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa menghapus hubungan darah di antara kita, Matahari."
Lirih ucapan Aya itu terdengar jelas membuat kemarahan Ata semakin berada pada puncaknya. Akan tetapi sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ata menuruni satu persatu anak tangga dengan tangan terkepal sempurna. Di ujung tangga Senja yang melipat tangan di depan d**a berjalan menghampiri Ata. Belum sempat lelaki itu bertanya atau mengucap sepatah kata. Ata telah lebih dulu berbicara.
"Ikut aku!"
*M a t a h a r i*
Ia pernah berkata padaku.
Tentang indahnya awan di langit biru.
Di sebuah padang rumput luas yang dipenuhi ribuan bunga yang mekar.
Ia pernah berjanji padaku.
Untuk berlari bersama di tengah hujan.
Pergi bersama kala hujan reda.
Saling menguatkan untuk mendengar elegi esok pagi.
Juga berdiri di bibir dermaga menyaksikan indahnya lembayung senja.
Ketika semburat jingga menghiasi angkasa.
Saat matahari akan kembali ke singgasana.
Tenggelam membiarkan gelap datang mengirimkan kesunyian.
Lambat laun kusadari bahwa semua hanya delusi.
Mempertahankan harapan yang entah tergenggam bersama atau sendirian.
Yang mungkin kini tidak kamu sadari.
Aku masih menanti seorang diri.
- Matahari -
Secarik nota yang penuh coretan tinta itu ia tempelkan pada dinding. Persis bersebelahan dengan secarik nota yang ia temukan di kafe lusa, tepat di bawah tempat tisu. Tulisan itu mati, tetap saja benda mati yang tidak akan pernah berlari bersamanya. Namun, dalam setiap tulisan yang Ata ciptakan adalah hal-hal yang mengisi tempurung kepalanya. Seseorang yang selalu berbisik di dalam kepala, bayangan yang ada, namun tidak sepenuhnya ia yakini semua itu adalah nyata.
*M a t a h a r i*
Sayangnya semua percakapan yang pernah dilontarkan Ata itu tak pernah sampai pada pengertian Aya. Selama ini ia tak menyangka bahwa Ata memendam semua luka itu sendirian, tentang mama yang tak lagi ia kenali, juga kejadian yang tak pernah ia temui. Aya berjanji akan mencari tahu semua hal yang pernah hilang dalam pikirannya. Lewat Senja atau pun Ata yang nantinya sudah pasti tak akan memberinya izin untuk sekedar mengingat kelam yang menenggelamkan gadis itu.
"Aku janji, Ta. Aku bakal nebus semua dosa-dosa itu. Semua rasa sakit yang selama ini kamu simpan sendirian, aku janji ... nggak akan lama lagi," bisik Aya.
Jemarinya terukur mengusap sebuah foto yang terpasang pada pigura kecil. Di sana mereka berdua tertawa tanpa jarak, memegang sebuah lolipop untuk berbagi tawa bersama.
Aya mengeraskan volume earphone yang terpasang pada kedua telinganya. Alunan lagu keroncong dari band indie Payung Teduh yang menenangkan itu, membuatnya merasa sedikit lebih baik. Sambil memandangi foto masa kecilnya bersama Ata, gadis itu seperti tengah berhadapan dengan saudara kembarnya yang manis. Dan selalu dirindukan dalam setiap saat.
Payung Teduh - Berdua Saja
Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata
Ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya?
Malam jadi saksinya
Kita berdua di antara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban
Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan janji takkan berpisah selamanya?
Malam jadi saksinya
Kita berdua di antara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban
Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan janji
Takkan berpisah selamanya?
*M a t a h a r i*
B E R S A M B U N G!
Yuhuu!
Seperti biasa jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Wkwkwk.
Sekali lagi terima kasih guys!.
Sehat sehat kalian.
Love u ? :v