43

1605 Kata
Sebelum baca jangan lupa tekan love! Jangan pelit untuk saling dukung ya ^^ Happy reading guys! *M a t a h a r i* Seandainya manusia bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dikehendaki, mungkin saja tak akan pernah ada yang namanya bumi seimbang. Perihal cara melewati masalah dengan cepat, tanpa sakit, tanpa sulit. Sudah pasti tak akan ada lagi manusia-manusia tangguh yang tumbuh dari rasa sakit dan luka. Mungkin ini alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan segala perasaannya yang rumit. Memberikan ujian, rintangan serta jalan keluar untuk melewatinya. Seperti roda pada sepeda, kehidupan kita juga berputar. Tak akan selamanya bahagia di atas pun sebaliknya. Ata mematut penampilannya di depan cermin. Menatap sepasang manik matanya sendiri secara intens, seperti tengah bertemu mama. Sepasang mata ini sayu nan sendu. Ata menghela napas sejenak, sebelum kemudian merapikan rambut cokelat tuanya yang mulai memanjang. Gadis itu mengangguk setelah memoles sedikit lup glouse rasa cerry di bibirnya yang ranum. "Waktunya potong!" gumam Ata menyeringai tipis. Ia bergegas turun, mengabaikan cowok yang sejak subuh tadi terlelap di atas karpet bulu dengan nyaman. Ketika berjalan melewati Senja, gadis itu mengangkat tungkai kakinya untuk meminimalisir suara yang timbul supaya tak mengganggu tidur Senja. Ia tahu sejak berada di rumah sakit cowok itu hampir tak memiliki waktu tidur karena sibuk menjaganya. Sebab itu ia membiarkan Senja beristirahat. Ia bisa menyewa jasa ojek online untuk sampai ke sekolah. Meskipun sebenarnya Ata lebih suka berjalan kaki ke sana sambil sesekali berlari. "Nda, Ata berangkat dulu, ya!" Gadis itu memeluk pundak wanita paruh baya dari belakang. Bunda yang sedari tadi sibuk di depan kompor, menoleh mengelus punggung tangan Ata khawatir. "Istirahat dulu nggak apa-apa. Nanti Bunda yang datang ke sekolah kalau perlu, Bunda minta izin ke wali kelas kamu." Kontan Ata menggeleng pelan. Gadis itu terkekeh, sebelum kemudian mengecup pipi wanita tersebut. "No. Ata udah ketinggalan banyak pelajaran. Bentar lagi juga ulangan kenaikan kelas, Nda." "Bener udah kuat? Biar Adit yang anter kalau gitu," potong Bunda. Lagi-lagi Ata menggeleng mendengar tawaran dari wanita tersebut. Kemudian berkata, "Aku naik ojek aja. Udah pesen kok barusan di atas. Biarin Adit istirahat, kasian." Tak ada pilihan lain untuk menolak permintaan Ata, sebab gadis itu tak akan pernah menyerah jika sudah yakin dengan satu pendiriannya. Pada akhirnya Bunda tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan Ata. Ia mengusap rambut Ata lembut sampai turun pada pundak ramping gadis itu. "Yaudah kalau emang kamu mau sekolah. Pesen Bunda, jangan sampai kamu kenapa-kenapa. Apa pun yang kamu rasain, jangan ditahan. Ata udah dewasa, coba berdamai sama yang di sini," tutur bunda menasihati Ata sambil menunjuk d**a Ata. Gadis itu tertegun, membuat wanita paruh baya yang selama ini telah membesarkan Ata dengan penuh kasih sayang tanpa sedikit pun perbedaan memeluk Ata dengan erat. Untuk menunjukkan pada gadis itu bahwa ia tak pernah melangkah sendirian di jalanan sepi. Karena apa pun yang terjadi Bunda akan selalu menjadi orang pertama yang berada di pihak Ata. Entah gadis itu salah atau benar, bunda akan selalu siap menjadi pembela bagi anak gadisnya. "Iya-iyaa ... udah ya, Ata berangkat dulu!" Seraya terkekeh kecil, gadis itu pergi meninggalkan bunda dengan lambaian tangan. Bunda tersenyum samar membalas lambaian tangan Ata. Ia masih ingat betapa dokter sangat mewanti-wanti kepadanya untum tetap waspada dengan kondisi mental Ata. Karena meskipun gadis itu terlihat baik-baik saja, nyatanya trauma masa kecil Ata masih sangat membekas. Meninggalkan luka paling menyakitkan sampai detik ini untuk gadis itu. Selama ini Bunda diam, bukan karena ia tak tahu bahwa diam-diam Rama mulai mencari Ata dan mencoba meluluhkan hati gadis itu. Namun ia tak akan tinggal diam jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ata. Semenjak ia melihat raut nelangsa pada sepasang mata sendu yang terlihat menawan itu, ia sudah bersumpah pada mendiang sahabatnya untuk menjaga anak gadisnya dengan sebaik-baiknya. Bunda bahkan tak menceritakan apa pun tentang rahasia yang selama ini ia simpan, meski beberapa kali ia ingin menyampaikan pada Ata bahwa ia dan Sheena adalah sahabat sejak mereka sekolah. Namun, karena trauma yang dimiliki Ata pula, Bunda tak bisa menceritakan semuanya sampai saat ini juga. "Anakmu sudah dewasa, Shee. Dia tumbuh jadi gadis cantik yang kuat. Jadi, kamu nggak perlu khawatir di sana." Hari ini ia sudah memutuskan untuk pergi mengunjungi makam Sheena. Seperti rutinitas yang tak pernah ia tinggalkan, meski ia juga kerap datang ke sana bersama Ata dan Senja. Namun, ada saat-saat bunda datang ke makam Sheena sendirian. "Apa pun yang terjadi, aku nggak akan biarin orang lain menyakiti orang-orang di sekitarku. Termasuk kamu, Ata," bisik bunda. *M a t a h a r i* Ata berlari kecil di sepanjang trotoar pagi itu. Seperti biasa, saat kendaraan lalu lalang dengan ramainya, gadis itu memilih untuk menikmati udara dingin yang sudah tercampur polusi knalpot yang tak pernah berjeda. Rasanya sudah lama Ata tak berlari seperti ini, menatap sekeliling yang ramai, tetapi tetap menikmati langkah kakinya pendek pendek. Tepat di depan kafe miliknya, gadis itu berhenti. Mengatur napas yang naik turun ia berdiri tepat di depan bangunan kafe bernuansa klasik, yang memiliki papan bertuliskan matahari dengan menggunakan aksara Jawa. Ata menatap bangunan itu dengan sepasang binar di mata. Sampai detik ini, ia bahkan tak percaya masih dapat mempertahankan usaha yang ia rintis dengan uang tabungan peninggalan mama. Ata masih setengah tak percaya bahwa kafe matahari yang ia kelola telah memiliki cabang lain di Madiun. "Kerja bagus, Ata!" bisik gadis itu. Ia menegakkan punggung lalu berjalan melewati pintu kaca seperti biasa. Masih gelap, Rahma pun belum datang. Karena memang selama beberapa hari kafe di liburan karena kejadian beberapa waktu lalu. Ata tak mau kegiatan di kafe ini terganggu karena moodnya yang sedang buruk. Karena itu Ata memilih untuk meliburkannya saja. Gadis itu segera menuju ke tempat di mana mesin kopi berada. Tempat di mana biasanya ia atau Senja berdiri di sana menjadi barista. Kemudian matanya mengelilingi seantero kafe yang masih gelap, sengaja. Ata senang menikmati pemandangan ini. Membuatnya merasa hidup kembali. Rasanya, seperti sudah lama Ata tak datang kemari. Padahal hanya dua hari ia absen mendatangi kafe ini. Gadis itu duduk di salah satu bangku favoritnya tepat di dekat meja sambil menatap ke luar jendela. Orang-orang juga sibuk di sana untuk mempersiapkan diri hari ini. Segera saja ia membuka ponsel dan memasuki ruang obrolan yang berisi dirinya dan semua karyawan kafe matahari. "I am back! Prepare for our spectacular new opening, Guys!" Tulis Ata yang tak lama kemudian mendapatkan sambutan ramai dari para karyawan kafe matahari. Gadis itu terkekeh pelan membaca pesan pesan penuh semangat dari mereka. Karena bagi Ata, orang-orang yang bekerja di kafe miliknya adalah keluarga. Ata menarik para pemuda yang tinggal di jalanan untuk bergabung dengannya menjadi seseorang yang lebih produktif untuk masa depan. "Seneng rasanya bisa kembali ke sini." Ata lagi-lagi bergumam pelan. Tak akan ada yang berubah dengan tatanan kafe ini. Hanya saja ia ingin merayakan bagaimana hatinya merasa baik-baik saja. Mungkin dengan membagikan beberapa bingkisan pada orang-orang yang berlalu lalang, kopi geratis, juga beberapa hiburan dengan mengundang band indie. Yah, sesekali kenapa tidak. Setidaknya untuk menghibur dirinya sendiri juga tak apa. Gadis itu memutar sebuah lagu dari ponselnya. Tak begitu kencang, tetapi cukup mengisi ruang kosong di kafe itu menjadi lebih hangat pagi itu. Lagu berjudul Dear God milik penyanyi luar negeri yang mempunyai nama panggung Advenged Sevenfold itu selalu sukses membuatnya merasa lebih baik setiap saat. A lonely road, crossed another cold state line Miles away from those I love purpose undefined While I recall all the words you spoke to me Can't help but wish that I was there And where I'd love to be, oh yeah Dear God the only thing I ask of you is To hold her when I'm not around When I'm much too far away We all need that person who can be true to you But I left her when I found her And now I wish I'd stayed 'Cause I'm lonely and I'm tired I'm missing you again oh no Once again There's nothing here for me on this barren road There's no one here while the city sleeps And all the shops are closed Can't help but think of the times I've had with you Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah Dear God the only thing I ask of you is to hold her when I'm not around When I'm much too far away We all need that person who can be true to you I left her when I found her And now I wish I'd stayed 'Cause I'm lonely and I'm tired I'm missing you again oh no Once again Some search, never finding a way Before long, they waste away I found you, something told me to stay I gave in, to selfish ways And how I miss someone to hold When hope begins to fade A lonely road, crossed another cold state line Miles away from those I love purpose undefined Dear God the only thing I ask of you is to hold her when I'm not around When I'm much too far away We all need the person who can be true to you I left her when I found her And now I wish I'd stayed 'Cause I'm lonely and I'm tired I'm missing you again oh no Once again *M a t a h a r i* - B E R S A M B U N G Yuhuu! Seperti biasa jangan sungkan buat kasih kritik dan saran untuk ceritaku ya, Guys. Aku masih berproses dan belajar, jadi segala jenis Kritik & saran aku terima. Dengan bahasa yang baik Wk-wk-wk. Sekali lagi terima kasih guys!. Sehat sehat kalian. Love u ? :v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN