21

1593 Kata
Jangan pelit love! Selamat membaca, guys! ^^ . . . Sepatah kata pun, tak terucap sejak senja tenggelam digantikan gelap malam. Sepasang mata masih saling beradu pandang, membicarakan hal-hal yang terlalu tabu untuk diucapkan secara lisan. Meski angin malam berhembus hangat, tetapi kebekuan sama-sama menyerang keduanya yang dibebat sunyi. Raganya saling berdekatan. Namun kenyataannya, tidak dengan hati yang semakin menjauh dari rasa nyaman. Ata membuang napas pendek. Mengeratkan jaket denim milik Senja yang sengaja ditinggalkan pada kedua bahunya. Di depannya seseorang bungkam melipat tangan di d**a. Sejak tadi keduanya hanya saling diam menatap gelap yang makin mengelam di lantai dua kafe matahari. "Kamu tau? Dulu ada seorang gadis kecil dan anak lelaki sering main bareng buat nunggu kedatangan senja. Mereka sama-sama suka ngelihat semburat jingga di angkasa. Mungkin karena masing-masing dari mereka punya nama yang berkaitan sama senja." Seseorang berdialog. Seperti mendongeng matanya tersenyum manis. Ata menanggapi dengan senyum. Tangannya terkepal dalam saku jaket. Tajam mata yang menyorot gelap malam turut mengelam. "Setahuku, anak lelaki itu punya nama yang unik. Nama yang menyiratkan keindahan, dengan harapan supaya siapa, pun, yang kenal dia selalu bahagia." "Sayangnya, keindahan senja nggak pernah bisa dinikmati dalam jangka waktu yang lama. Karena mereka yang menggilai senja harus rela ngelepasin kebahagiaannnya, saat senja hilang digantikan malam," Ata menimpali tanpa mengalihkan pandangan. Lelaki itu tertegun sebentar. Mengatur napas dan degub jantung yang berdetak keras. Kepalanya mengangguk, seperti sedang memahami sesuatu yang mendadak melintasi pikiran. "Kamu benar. Karena Senja itu pergi waktu gadis kecilnya jatuh butuh teman." Lagi-lagi hanya seulas senyum yang entah Ata suguhkan untuk lelaki di sampingnya atau kebisuan malam. "Apa masih ada kata maaf buat seseorang yang pernah ninggalin kamu waktu jatuh sendirian?" Lelaki dari masa lalunya bersuara lirih. "Tuhan yang maha tinggi aja maha pemaaf. Siapa, sih, aku yang sombong nggak mau maafin?" balas Ata tertawa kecil. Pandangannya masih tidak teralihkan dari langit malam bertabur bintang. Suara piringan hitam yang mengalunkan permainan biola di sudut ruangan sepi membuat suasana terasa perih untuk Ata. Perih yang membuatnya selalu teringat peristiwa di masa silam. Perih yang mengajarinya untuk tetap bertahan. Perih yang tidak ingin ia tinggalkan "Kamu tahu siapa aku," ucap lelaki itu serak menahan gejolak yang menggebu di d**a. Matanya tidak beralih pada sosok Ata yang lebih senang menikmati gelap langit malam. Sesaat yang terlewat tanpa jawaban, Ata memutar tubuh menjadi saling berhadapan dengan lawan bicaranya. "Gimana caranya Matahari bisa lupa sama Lembayung Senja yang selalu mengiringi kepergiannya untuk kembali ke singgasana?" Keduanya saling menyembunyikan tangan yang sama-sama bergetar. Jantung yang sama-sama berdebar. Perasaan yang sama-sama lelah untuk bersabar. Hati yang letih untuk tetap tegar. Lelaki yang sore tadi mengajaknya untuk bicara adalah seseorang yang selalu mengisi hari kelamnya dengan tawa. Lembayung Senja yang selalu datang dengan hadiah hanya untuk menghibur Mataharinya. Senja yang tahu segala luka dalam Matahari paling dingin yang pernah ia temui. Matanya berkabut basah, bibirnya terkunci rapat meski sebenarnya ada banyak kata yang ingin disampaikan selain..., "Maaf." Lirih terdengar penuh sesal sepatah yang terucap itu membuat Bayu tidak mampu lagi mempertahankan dirinya sendiri untuk tetap diam di tempat. Kakinya melangkah membunuh jarak yang membentang di antara dirinya dan Matahari. Kedua tangannya memeluk erat gadis yang sampai detik ini selalu membuat malam-malamnya dihantui sesal. Ata diam, tidak membalas juga tidak memberontak dalam pelukan Bayu. Membiarkan sejenak Bayu menumpahkan tangis di pundaknya. Sebab dulu Ata pernah melakukan hal serupa. Ata berjanji setelah ini ia akan pergi tanpa harus kembali berbicara dengan Bayu. Tidak lagi meski hatinya meronta setengah mati untuk kembali. Bersama dengan lengkingan panjang dari permainan biola yang semakin terdengar mengiris di bagian akhir. Sepasang tangan Ata berusaha melepaskan diri dari Bayu. Lelaki itu melepaskan pelukan yang cukup mengobati rindu meski hanya secuil. Matanya yang basah terlihat begitu sendu dalam pandangan Ata yang begitu dingin dan kaku. Detik itu Bayu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sesuatu yang selalu mengikat bayangan mereka hingga masa kini. "Nggak apa-apa. Udah aku maafin," balas Ata. "Kami masih ingat ini, 'kan? Pita ini punya kamu, Ata. Kamu pasti masih nyimpen semua yang aku kasih, 'kan?" Bayu menatap Ata penuh harap. Agar gadis di depannya menjawab ya, atau setidaknya mengangguk. Tapi, harapannya terbunuh dengan satu senyum dan gelengan kepala Ata. "Maaf, sebenernya udah lama aku buang semuanya tentang kamu." Ada yang berbisik pada Bayu untuk tidak memercayai ucapan Ata. Dalam penantian panjang harapan yang selama ini ia genggam tidak boleh menjadi serpihan asa. Ata menyadari mimik wajah Bayu yang tertawa tidak percaya. Seolah yang dikatakan barusan hanyalah lelucon belaka. "Aku nggak bisa apa-apa waktu itu, Ta. Aku pergi bukan karena aku mau," Gadis itu diam membiarkan Bayu menggenggam sepasang tangannya erat. "Aku minta maaf. Kamu boleh marah, boleh pukul aku kayak dulu, tapi aku mohon jangan benci aku, Ta." "Nggak apa. Udah kumaafin. Nggak perlu merasa bersalah atau apa pun. Mulai sekarang jangan pernah kembali, karena Matahari yang dulu udah ketemu sama Senja yang baru." Bayu menyimak dengan d**a sesak. "Mereka sama-sama menciptakan keindahan, malah Senja yang sekarang bahkan nggak pernah biarin Matahari-nya jatuh sendirian," timpal Ata tersenyum. "Nggak boleh ada Senja yang lain!" tegas Bayu. Ata tertegun mendengar ucapan dengan nada tak terbantahkan dari lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu. Ara menyorot lemah sepasang mata yang sudah berair itu hanya sekilas. Sebelum kemudian ia memutar tubuh membelakangi Bayu. Ata kembali fokus menatap gelapnya langit malam. "Kamu nggak boleh egois. Aku juga harus bahagia buat ngelanjutin hidup kayak kamu dan keluargamu." Sekali lagi Ata menelan rasa sakitnya bulat-bulat. Gadis itu meremas pagar kayu yang menjadi pembatas di kafe lantai dua miliknya. Pada gelap dan senyap malam itu, Ata berharap bisa mendapatkan kekuatan untuk dirinya sendiri. Setidaknya agar gadis itu tak lepas kendali "Apa mereka bukan keluargamu juga, Ta?" Pertanyaan itu sontak membuat Ata meringis, perih itu bukan lagi perihal kata. Akan tetapi, kini terasa nyata di d**a Ata. "Dulunya, sih ... iya. Tapi, nggak lagi setelah ...." Ucapan Ata terhenti. Kerongkongannya kering terasa sakit. Mengingat yang dulu sama seperti mengiris nadinya perlahan. Hanya seulas senyum yang akhirnya diciptakan pada bibir merah jambunya. "Yah, aku pikir nggak perlu dijelasin lagi, 'kan?" ucap Ata kemudian. Helaan napasnya terdengar berat menghempas ke udara. Malam itu Bayu sepenuhnya mengajak Ata untuk menyelami luka yang tak pernah ingin ia ulangi lagi sakitnya. Namun sepertinya, Bayu tak sepenuhnya paham bahwa Ata benar-benar tak ingin membahas semua tentang masa lalu mereka. "Demi Tuhan, Ata. Aku nggak tau sama-sekali soal pernikahan itu. Bahkan waktu itu Mama ngirim aku ke Jakarta, Ta." "Udah, ya. Cukup!" sentak Ata kemudian. Matanya yang sudah memerah itu menolak untuk berkedip di depan Bayu. Ia tak ingin lagi menangis di depan lelaki itu. Tidak karena memang seharusnya demikian. Pertemuan ini baikan tidak seharusnya terjadi. Ata benci, ia tatap Bayu dengan nanar berharap lelaki itu paham. Bahwa di dalam sana, ia telah sekarat. "Tolong berhenti. Aku nggak mau bahas itu lagi. Masa lalu kita dan semuanya yang ada di sana. Aku nggak mau peduli," tutur Ata, "sekarang kamu pergi dan jangan pernah balik lagi ke sini. Jangan pernah muncul di depanku lagi. Tolong." Gemersik suara sayap jangkrik semakin beradu nyaring. Keduanya saling bersipandang dalam kebisuan dalam beberapa saat. Bayu yang sudah hancur luluh bersama air mata, dan Ata yang masih membentengi diri agar tak menunjukkan kekalahannya di depan lelaki itu. Tidak untuk yang kesekian kalinya lagi. "Kamu serius, nggak mau lihat aku lagi, Ta?" tanya Bayu sendu. Pertanyaan itu membungkam Ata. Yang tersisa hanya seulas senyum untuk dijadikan kekuatan bagi Ata. Gadis itu melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman Bayu. Ia mendekati piringan hitam yang sudah berhenti berputar sejak tadi, membiarkan Bayu mematung di tempat menatap punggung Ata yang amat sangat ia rindukan. Ata menutup kembali tempatnya seperti sedia kala. "Intinya kamu nggak perlu lagi datang buat ngingetin yang dulu. Karena udah seharusnya kita semua memulai hidup yang baru." "Nggak bisa, Ta. Enggak akan pernah. Sebanyak apa pun, kamu minta aku buat berhenti. Aku nggak akan pernah berhenti, Ta." Bayu masih bersikeras dengan keinginannya. Ia lupa bahwa luka dalam diri Ata tak lagi bisa dianggap tak apa-apa. "Bukan nggak bisa, cuma hati kamu yang belum mau untuk pergi," kata Ata, "Kita udah sama-sama dewasa, Yu. Hidup juga harus terus berlanjut, apa pun yang terjadi. Dan aku juga udah sarat kalau emang ternyata, kita nggak pernah ada dalam satu takdir yang sama. Jalan kita emang terlalu berbeda." Cewek itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket dan terkepal erat di sana. Bayu merasa hatinya diremas tanpa ampun. Ia tahu Ata sudah beranjak dewasa, semakin berbeda dengan Ata yang dulu ia kenal. Namun, Bayu tidak yakin bahwa segala perubahan dalam diri Ata menyertakan perasaan dan kenangan. Sekali lagi Bayu mencoba menggenggam tangan yang dingin itu penuh harap, agar supaya semua yang dikatakan adalah sebuah lelucon belaka. Akan tetapi, Ata sudah lebih dulu menghindar. Selangkah saja Bayu maju memangkas jarak, selangkah juga Ata beranjak menciptakan jarak. Ia beranjak menyambar ransel yang tergeletak di atas meja bersama dua cangkir kopi hitam sedang yang masih utuh tak tersentuh. Dua cangkir kopi yang mendingin bak perasaan Ata saat ini. Gadis itu berhenti sebentar tanpa menoleh, "Pulang. Jangan pernah temui aku lagi." Bayu tertegun diserang perih yang menjalar dari hati ke seluruh tubuh. Punggung Ata semakin menjauh, bahkan gadis itu tak menoleh sedikit pun. Lelaki itu menahan dirinya agar tidak lemah di depan gelapnya malam. Dalam hati ia berbisik sendiri, masih adakah kesempatan menjadi Senja untuk Matahari yang semakin menggigilkan setengah mati? B e r s a m b u n g! An : Gimana, guys? '-' Kasih pendapat kalian di kolom komentar, jangan lupa tap love juga ya ^^ Sankyu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN