20

1323 Kata
Dulu setiap sore dermaga tidak pernah sepi. Banyak kapal yang singgah dan pergi, sanak-saudara yang melepas keluarga atau sebaliknya. Ata selalu datang bersama teman kecilnya. Bukan untuk berlayar atau meninggalkan dermaga. Hanya singgah untuk melihat kepergian sang surya yang maha agung keindahannya. Menatap semburat jingga di angkasa yang selalu saja menawan. Saat ini, pun, Ata tengah melakukan hal yang serupa. Melepas kepergian benda langit yang menjadi bagian dari namanya. Menikmati senja bersama Senja yang tidak pernah meninggalkan dirinya. Duduk menggantungkan kaki di atas gedung pencakar langit, seolah ingin lebih dekat dengan awan. Menyentuhnya bagai permen kapas. Lama keduanya dibebat kesunyian kata, Senja mencolek lengan Ata. "Aku mau tanya." Ata menoleh sekilas, lalu berbalik lagi menatap angkasa yang sebentar lagi mulai gelap. Seolah Senja di sampingnya sama-sekali nggak menarik dibanding keindahan guratan jingga di awan. "Apaan?" "Kenapa namamu Matahari?" Ata tertawa sekilas tanpa mengalihkan pandangan. "Kenapa nanyain itu? Nggak penting banget," tutur Ata. "Jawab, aja, sih. Kemarin-kemarin kamu nanyain hal yang sama, aku nggak pakek ribet jawabnya." Senja protes. Ata merubah posisi yang semula duduk tegap, kini merebahkan tubuh. Kedua tangannya bertumpu di bawah kepala sebagai alas, sementara pandangannya tak sedikit, pun, berpaling dari langit. Senja memerhatikan gadis di sebelahnya seksama. "Cahaya Matahari." cicit Ata yang sampai ke telinga senja. "Karena, simpel, aja." ucap Ata kemudian di susul tawa kecil. Senja yang sudah memasang kedua telinga siap menunggu jawaban mendengus kesal. Andai yang berada di sebelahnya itu lelaki, mungkin Senja sudah melemparkan satu pukulan ke wajahnya. "Kampret tahu nggak?! Aku udah serius dengerin, anjir!" Kemarahan Senja itu ditanggapi dengan tawa puas oleh Ata. Hingga lambat laun dua-duanya kembali di serang kebisuan. Tidak banyak yang singgah dalam pikiran Ata, karena ia mulai menjalani semuanya dengan suka. Masa lalu biarlah seperti lagu yang harus berlalu. Ata cukup bahagia dengan Senja dan bunda. Soal rahasia yang ingin ia simpan sendirian biar saja perlahan mati di dalam hati. Lain halnya dengan Senja yang menyimpan banyak tanya tak terucap. "Hangat, indah, menerangi ribuan orang, bahkan di jaman Yunani kuno pernah dinobatkan sebagai Dewa paling tinggi. Kamu tau, itu, 'kan?" Ata berdialog sendiri. Senja masih diam menatap langit. Akan tetapi, telinganya menyimak jelas setiap kata yang diucapkan oleh Ata. "Mama pengen anaknya jadi orang yang bisa berbagi kebahagian buat banyak orang. Bisa menghangatkan orang-orang yang kedinginan. Sama kayak matahari yang maha agung megahnya. Nggak pernah berhenti menyinari bumi setiap hari. Patuh untuk tenggelam di waktu yang udah ditentukan sang Khalik. Nggak peduli meski hujan, meski mendung menghalangi, matahari tetap bersinar, Dit. Dia sendirian, tapi dia kuat. Mama pengen anaknya tetap berdiri waktu semuanya jatuh. Dengan menyandang nama Matahari, Mama pengen anaknya tetap tegar dalam menghadapi apa, pun, itu." Cerita Ata panjang. "Tapi, ternyata anak Mama cuma jadi manusia egois." Imbuh Ata tersenyum skeptis. "Kamu egois?" "Sebagai Matahari, harusnya aku bisa bikin orang-orang yang ada disekelilingku merasa hangat. Tapi, ini? Enggak sama sekali. Selama ini aku terlalu egois. Aku nggak peduli sama orang lain selain dirinya sendiri." "Emang kamu kayak gitu?" Senja di sebelah Ata murni bertanya karena ketidak tahuannya. Sedangkan Ata hanya menggendikkan bahu bahwa ia sendiri nggak yakin dengan apa yang barusan dikatakan. "Kalau dari yang aku lihat. Kamu, tuh, cuma pura-pura buat nggak peduli. Atau mungkin, nyoba untuk nggak peduli," balas Senja menatap lurus ke depan. Matahari disebelahnya bergeming. Suasana hangat sore itu mengantarkan Matahari dan Senja pada kebisuan yang menenangkan. "Mungkin itu sebabnya kenapa kamu nggak pernah mau nunjukin rasa sakit ke orang lain?" "Aku baik-baik, aja. Dan akan selalu baik-baik aja." Tawa Senja menyembur keluar. Lelaki itu turut merebahkan tubuh di sebelah Ata. Menyaksikan langit yang hampir gelap. "Munafik, itu mah." "Nggak ada orang yang baik-baik aja, yang mereka lakukan itu cuma pura-pura buat baik-baik aja. Dan berharap semua akan baik-baik aja, Ta," kata Senja menegaskan disusul kembali dengan tawa kecil. "Dan dengan begitu semuanya akan baik-baik aja." Ata melanjutkan. Membuat tawa Senja sirna bersamaan dengan langit yang semakin menggelam. Lelaki itu menoleh ke samping, pada Ata ia temukan ketegaran luar biasa. Namun, dalam diamnya Ata, Senja juga menangkap kilatan marah. Ketenangannya setajam pedang yang siap menghunus lawan. Tetapi, sejauh Senja mengenali Ata, tidak sedikit pun Senja tahu siapa musuh Ata sebenarnya. "Kamu benar kalau aku munafik. Karena menurutku semua orang di dunia ini emang munafik. Banyak rahasia yang nggak bisa mereka katakan ke sembarang orang. Rahasia yang memang udah seharusnya mereka jaga sendirian." "Sorry, tapi aku nggak sama kayak mereka." "Munafik!" tandas Ata cepat. Senja miring ke arah Ata, menopang kepala dengan tangan. Ia tatap iris cokelat yang menawan, yang tidak membalas pandangannya bak sekilas. "Kamu pikir aku nggak tahu rahasiamu?" celetuk Ata. "Apaan? Aku bukan kamu, yang punya segudang rahasia. Aku bukan cowok misterius." Ata tertawa sarkastis. Kali ini ia membalas pandangan Senja dengan tenang. Menelisik tajam pada iris hitam di hadapannya. Karena Ata memang benar-benar tahu apa yang disembunyikan Senja darinya. "Mau disebutin sekarang? Aku, sih, nggak keberatan. Cuma males, aja, kalau tiba-tiba suasananya jadi canggung," tantang Ata. Bola mata Senja mulai bergerak gelisah. Ia kembali pada posisi rebahan menatap langit. Ini lebih baik ketimbang menatap wajah Ata yang selalu sukses mengintimidasinya. Tapi, apa mungkin Ata tahu kalau Senja menyukainya? "Heh? Kok diem, sih? Mau disebutin nggak, nih?" "Sebut, aja! Paling juga ngawur," Senja menjawab sewot. Lelaki itu memejamkan mata. Mengusir gugup secara tidak ketara, sementra tawa Ata jelas sangat-sangat mengganggunya. "Yakin?" Suara Ata terdengar lebih dekat dengannya. Saat Senja membuka mata, ia sudah mendapati wajah Ata close up di hadapannya. Spontan sepasang mata Senja melebar. "Nga..., ngapain, sih?" "Gugup amat, Dit? Aku cuma mau bilang kalau sebenernya udah sejak lama aku tahu kalau ternyata kamu itu..., Senja menahan napas ketika Ata menggantungkan ucapannya. "Punya bokser gambar hello kitty, 'kan?" Senja menghela napas lega. Ternyata hanya itu yang diketahui Ata. Ya, hanya itu, syukurlah. Ia membatin. "Apa?!" teriaknya tiba-tiba. Membuat Ata menyingkir dari hadapan Senja sambil menggosok telinga. "Tahu dari mana kamu, aku punya itu? Kamu berantakin lemariku, ya?" Senja menuding Ata. Gadis itu masih menggosok telinganya yang terkejut dengan suara teriakan Senja. Ia yakin siput di dalam telinganya pasti sudah terbangun. "Biasa, aja, dong. Lagian kurang kerjaan banget aku obrak-abrik lemari orang," balas Ata sengit. "Jangan-jangan bukan cuma bokser yang hello kitty?" "Ngaco! Aku cowok tulen nih," Senja membela diri. "Lagian bokser itu punya Bunda. Dapet THR dari tukang sayur keliling tahun lalu." Ata mengulum bibir melihat ekspresi Senja yang semakin manyun-manyun saat bicara. Seperti saat keduanya kecil dulu. Dalam pertengkaran Senja selalu manyun-manyun ketika Ata merebut mainannya. "Tapi, dipakek juga, 'kan?" goda Ata. Senja melirik Ata malas. Kenapa gadis di sebelahnya mendadak kurang asem begini? "Sekali doang pas stok bokser lagi basah semua." Detik itu juga Ata tertawa kencang. Angannya sudah membayangkan Senja yang tampangnya cowok sekali memakai bokser bergambar hello kitty. "Nggak lucu!" sergah Senja dengan wajah merah seperti kepiting rebus. "Lucu. Lucu banget, Dit." balas Ata di sela tawanya. Ata masih setengah tak percaya seorang Senja mengenakan bokser bergambar kartun cute tersebut. Padahal pertemuannya dengan bokser rahasia milik Senja sangatlah tidak sengaja. Seminggu yang lalu saat Ata berkunjung ke rumah untuk menengok bunda, beberapa pakaian yang dijemur jatuh karena angin. Saat Ata memungutinya ia menemukan bokser hello kitty dan menanyakan siapa pemiliknya pada Bunda. Sejak saat itu kadang Ata merasa geli ketika mengingat pasal bokser rahasia kepunyaan Senja. Diam-diam Senja sendiri lega karena yang diketahui Ata hanyalah permasalahan bokser bergambar laknat tersebut. Bukan tentang rahasia hati yang tidak akan pernah ia katakan pada siapa pun. Ata benar soal dunia ini dipenuhi manusia munafik. Karena setiap manusia punya rahasia yang harus mereka simpan sendirian. Benar-benar sendirian. Di sisi lain Senja bahagia melihat tawa selepas ini dari Ata. Ini adalah kali pertama ia melihat Ata tertawa selepas itu. Entah apa, namun Matahari yang berada di dekatnya itu terasa berbeda. "Aku pengen selalu kayak gini, Dit." Suara Ata membuat tawa keduanya benar-benar reda. Senja mengelam lewat pandangan matanya bersama langit yang mulai gelap. Matahari disebelahnya tidak pernah bersinar terlalu terik, namun justru meredup setiap saat. Seperti saat ini. Saat Ata baru saja mengucapkan sepotong kalimat yang nggak dimengerti oleh Senja. "Kayak gini gimana?" "Kayak gini. Ketawa, ngeliat matahari tenggelam, menikmati senja berdua sama kamu. Sama Bunda." "Kita bisa ke sini setiap hari," balas Senja menyisakan senyum yang tidak biasa di wajah Ata. "Kapan, pun, kamu mau, Ta." B e r s a m b u n g! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN