Di atas tanah merah dulu seorang gadis kecil berdiri menggenggam erat pita jingga. Satu-satunya benda yang mampu menguatkan raga kecil yang rapuh seperti kamboja putih yang gugur di terpa angin. Saat itu satu kamboja yang gugur tepat di atas merahnya tanah yang basah karena air mata, menjadi saksi duka mendalam menaungi gadis berambut hitam panjang. Sepekan berlalu masih sama, gadis kumal masih berdiri di dekat pusara. Menyentuh tanah basah yang diguyur hujan juga air mata. Pita jingga di tangannya tidak lagi berwarna cerah menyala. Tangisnya di sana sendirian, di antara ribuan raga mati yang terlelap untuk sementara waktu yang lama. Dengan pakaian kotor, wajah pucat dan cemong, serta perut yang kelaparan. Kala itu ia bersembunyi di balik mata yang terpejam untuk menghilangkan ketakutan

