Mungkin, sesuatu yang kamu perjuangkan selama ini patah dengan mudah. Mimpi yang kamu genggam untuk direalisasikan selama ini pupus tak bersisa. Hal-hal yang kamu harapkan tidak datang, justru sebaliknya.
Hari ini, kita seutuhnya patah.
Seutuhnya jatuh tersungkur, seolah dunia sedang menelan eksistensi yang kita miliki tanpa iba. Tak ada satupun tangan kawan yang terulur dan menepuk bahu kita sambil berkata, bahwa esok pasti baik-baik saja. Tak ada satupun yang datang untuk memberikan semangat yang hilang. Dunia kelam, tak adil, dan tempat yang mungkin tidak pantas bagi kita. Dunia tak lagi ramah, rumah tak lagi hangat. Semuanya mendadak datang bersamaan untuk menghancurkan kita.
Semua itu terjadi dalam sehari, dalam sekejap mata. Tanpa praduga, tanpa diminta. Bahkan, kita tak pernah berani membayangkan semua itu dalam mimpi belaka. Hancur tak bersisa hari itu, baik hati juga raga.
Mendadak semuanya pun gelap. Tak ada harapan, tak ada kesempatan, tak ada yang bisa diperjuangkan kembali. Kita mati, kisah ini selesai. Semuanya berakhir menjadi tragedi yang tidak pernah ingin dituliskan. Seperti itu kisah kita yang kelam.
Pernah di posisi itu?
Yah, aku pernah.
Sejatuh-jatuhnya dalam hidup dan merutuki segalanya tanpa ampun. Membenci orang-orang yang lebih bahagia dari pada aku. Iri pada mereka yang mampu menggapai apa yang tak pernah tergapai olehku. Menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi padaku. Bahkan, hampir pernah ingin mengakhiri hidup. Meminta agar nyawaku segera dicabut, sebab dunia gelap gulita. Matahari tak lagi terasa hangat menyenangkan, ia bersinar terlalu terang seolah ingin membakarku habis tak bersisa seperti mimpi-mimpiku.
Kebahagiaan?
Satu kata yang terlalu tabu bagiku saat itu. Karena duniaku telah hancur, mimpiku sudah mati terkubur.
Sebelum aku mengerti bahwa hal-hal baik selalu datang bersama mereka yang buruk. Tak ada yang sepenuhnya hitam, pun tak ada yang sepenuhnya putih. Duniaku tidak hancur, hanya mimpiku yang jatuh terkubur. Sebab segalanya pernah kucurahkan susah payah hanya demi mimpi itu. Sebab seluruh hidupku pernah kukorbankan hanya demi mimpi itu.
Saat semuanya tak bisa tergapai, demikianlah aku hancur dengan keputus asaan yang mengubur semua semangatku. Aku tau manusia memang tidak bisa dituntut untuk selalu baik-baik saja, untuk senantiasa bersyukur, dan berpikir positif. Aku paham, bahwa ada masanya kita hancur dan harus melewati masa itu.
Karena hidup tidak hanya bercerita tentang langit biru. Sesekali langit juga kelabu.
Baik atau buruk selalu berdampingan dalam setiap hal. Semuanya tergantung pada pemikiran kita.
Tentang bagaimana cara kita memandang dunia?
Bagaimana cara kita menghadapi dan melewati masalah?
Bagaimana caranya bertahan saat berada titik paling rapuh?
Bagaimana cara kita membuat semuanya baik-baik saja?
Atau, bagaimana cara kita menikmati luka, dan menatanya dengan apik tanpa menyalahkan Tuhan?
Bukan hanya perspektif orang kepada kita yang terpenting. Tapi, cara pandang kita juga yang utama dalam segala hal.
Duniaku tidak hancur, hanya sempat rubuh karena beberapa mimpi yang kujadikan sebagai penyangga runtuh. Aku sempat lupa bahwa di antara reruntuhan itu selalu ada puing-puing makna yang mungkin bisa menjadi impian baru.
Sesimpel itu, harusnya. Tapi, sayang aku cuma manusia biasa yang harus terluka dan putus asa dulu baru menemukan cara untuk bahagia.
Karena Bicara tentang masa depan, setiap kita pasti punya kekhawatiran. Rasa takut, kecewa, bersalah, dan lelah karena gagal. Bimbang, jalan yang sedang kita lalui ini benar, atau malah menjerumuskan. Balik lagi, kita yang berencana, Tuhan yang menentukan. Everyone loses in life. Percayalah nggak ada kehidupan yang sempurna kalau kita nggak pandai bersyukur. Meski kalah, hidup nggak berhenti sampai di situ. Dunia masih terus berputar, rezeki Tuhan nggak akan tertukar. Kalau jatuh bangkit lagi. Life must go on, gais! You're not alone! Terus berjalan, ikuti aja prosesnya. Karena Tuhan lebih tau yang terbaik buat kita.
* M a t a h a r i*
Seperti demikian bagi Ata. Kehidupan hanya perihal waktu kita untuk berputar, berpindah tempat, dan berproses menjadi manusia yang lebih baik. Karena takdir Tuhan nggak pernah salah dalam berkisah. Sedangkan Ata sangat percaya, bahwa Tuhan maha baik. Nggak akan ada jalan yang salah kalau kita percaya dan yakin sama kehendak Tuhan. Kalau pun memang semuanya terasa berat, itu hanya perihal waktu. Nyatanya, Tuhan nggak pernah ninggalin kita dalam segala kondisi.
Begitu bagi Ata.
Nyatanya pula, gadis berusia tujuh tahun yang hidup tanpa keluarga itu, kini masih tumbuh dewasa menjadi sosok yang cantik nan makin tegar.
"Makasih banyak Tuhan," bisik Ata malam itu.
Ia menutup buku yang baru saja dijadikan tempat coretan tersebut. Lantas berdiri dari kursi dan membuka jendela kamarnya. Membiarkan udara malam yang dingin masuk ke kamar. Ata suka, aroma tanah basah yang tercium setelah hujan turun.
Sangat menenangkan.
Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya menatap langit gelap, ia tersenyum menatap sebuah bintang yang bersinar redup di sana.
"Apa kabar, Ma?" bisik Ata, "Ata udah dewasa sekarang. Tapi, Ata baik-baik, aja. Ata nggak akan pernah berakhir kayak mama." Monolog dengan alam malam itu menciptakan banyak senyum di bibir Ata.
Gadis itu mengusap kedua telapak tangannya untuk mengurangi hawa dingin yang menyerang. Meski demikian, ia tak kunjung menutup jendela kamar. Karena Ata suka suasana seperti ini.
Gelap, dingin, dan sunyi. Membuat Ata merasa berarti meski sendiri.
*M a t a h a r i*
-B E R S A M B U N G-