52. Flashback

2156 Kata
Sebelum baca, jangan lupa tekan love! * ^^ *M a t a h a r i* Senja Matahari Cafe Kopi hitam tanpa gula. Bukan kopi spesial yang membuat Ata menggilai minuman berwarna hitam pekat tersebut. Kopi hitam tanpa gula itu ia ibaratkan sebagai hidupnya yang kelam. Di balik raga tegar yang seolah baik-baik saja, ada hati yang mati karena ingatan-ingatan tajam yang mematikan. Ia tidak membenci, namun juga tidak menyukai. Ia tidak dendam, namun selalu teringat hal yang melukai. Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan, dengan apa yang ia pikirkan, dengan apa pula yang ia lakukan. Semua itu terasa hanya bayangan, Ata tidak yakin bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya adalah nyata. Akan tetapi, kesadaran memukul kebingungannya hingga telak tepat di dasar luka. Ketika kedua kakinya berpijak di kafe berlantai dua yang sudah setahun kini sukses ia kelola. Ketika kedua kakinya berpijak tepat di tanah merah yang tidak lagi basah. Ketika kedua matanya menangkap bayangan nyata yang menciptakan rasa sakit, namun juga kerinduan mendalam. Ata memejam, menyeruput lagi seteguk kopi pahit tersebut dengan tenang. Seolah-olah pahit yang dirasa indra pengecapnya itu menelan semua kepahitan di masa kelam. Di sampingnya Senja memesan air soda yang di beri es batu. Hari sudah semakin siang, tapi Senja masih setia menemani Ata dalam kebisuan. Bibirnya bersiul mengikuti alunan lagu Barat, Pop juga indie yang mengalun seantero kafe. "Ta?" panggil Senja menyenggol bahu Ata pelan. Gadis itu tidak menjawab, hanya saja pandangannya terarah pada Senja yang ternyata juga menatapnya. "Laper, makan yuk!" pinta Senja menarik lengan Ata. "Tinggal pesen, repot amat." balas Ata lalu meneguk lagi kopi pahitnya. Senja berdecak pelan, minuman yang tinggal satu teguk dalam gelasnya ia tandaskan. "Lagian barusan juga makan siomay, 'kan?" "Masalahnya aku lagi pengen makan makanan berat," ujar Senja. "Batu?" balas Ata kejam. Tanpa aba-aba Senja berdiri dengan semangat sambil menarik lengan Ata secara paksa. "Mau mati, ya?!" bentak Aya menahan tubuh agar tidak mengikuti Senja. Senja menatap Ata dengan wajah datarnya. Ucapan Ata kelewat kejam, bahakan bisa saja jadi kenyataan untuk Senja detik itu juga. "Jahat banget sih, mulutnya," ucap Senja menowel bibir Ata gemas. "Makannya nggak usah maksa." "Sekali ini aja, ikut aku yuk." "Nggak mau." "Pliss Ta, aku yang traktir," pinta Senja. "Nggak!" tolak Ata tegas. Senja kembali mendengus mendengar penolakan telak dari Ata. Tapi, bagaimana, pun, juga ia tidak mau kalah hari ini dari Ata. Cowok tinggi itu memiting leher Ata dengan lengannya sambil menyeretnya dari kafe dengan sangat cepat. Tanpa mempedulikan ancaman kejam Ata, Senja berhasil membawa gadis itu keluar dari kafe. Beberapa pegawai yang mengenal kedua manusia itu dengan baik, hanya menertawakan kejadian tersebut. "Mereka pacaran?" tanya seorang barista tepat di dekat telinga Rahma. "Kok, nanya aku?" balas Rahma menautkan kedua alis. "Kamu, kan, deket sama Mbak Bos." ucap barista itu tersenyum. Rahma melenggang pergi mengantarkan pesanan kopi juga chese cake untuk pelanggan. *M a t a h a r i* Ata menekan perutnya yang terasa sakit. Ini adalah hal terkonyol yang pernah ia lakukan se-umur hidupnya bersama Senja. Cowok yang mengajaknya untuk makan di rumah makan bernama kedai Cari Mati itu justru berulang kali keluar masuk toilet. Satu porsi besar mie instan super yang di bubuhi seratus cabai ulek, martabak mini yang isinya daun bawang dan potongan cabai berhasil membuat perut Senja melilit. Cowok tinggi itu merebahkan tubuh di atas sofa berwarna cokelat tua dengan napas yang naik turun. Wajahnya sepucat cicak mati setelah bolak-balik ke WC. Ata yang dari tadi membantu Senja untuk berjalan dengan memapahnya telah kembali dari dapur membawa satu gelas s**u putih hangat. Tawanya masih terdengar jelas di telinga Senja. Andai saja Senja tidak sedang lemas karena keluar masuk toilet, ia pasti sudah membekap mulut Ata tanpa ampun. "Minum!" perintah Ata menyodorkan segelas s**u putih. Melihat gelas berisi s**u di tangan Ata, Senja melengos malas. "Emang aku bayi disuruh minum s**u," katanya menolak. "Minum, atau aku siram!" ancam Ata nggak main-main. Cowok itu memukul sandaran sofa geram, namun tetap tunduk pada ucapan Ata. Dalam sekali teguk minuman hangat itu sudah berpindah ke perut Senja. "Makannya nggak usah sok-sokan makan pedes kalau nggak doyan!" ucap Ata menempeleng lengan Senja kuat. "Ya Allah, sakit Ta! Sakit!" Ata menatap Senja yang mengusap lengannya pelan. Cowok itu menatap Ata dengan dahi berkerut. "Jadi cewek yang lembut sedikit kenapa, sih?" "Bawel!" kata Ata menampar Senja dengan bantal sofa lalu pergi memasuki kamarnya. "Pinjem bantal, Ta!" teriak Senja. Tak lama setelah itu sebuah bantal melayang dari kamar Ata tepat di atas kepala Senja. Cowok itu mengaduh lagi seraya mengerang pelan. Senja Praditya, dalam bahasa jawa Praditya memiliki arti Matahari. Cowok berusia dua puluh tahun, yang lahir di sore hari saat matahari akan tenggelam memiliki nama yang unik. Ia selalu ingin dipanggil Senja oleh Ata, tapi sampai detik ini ia tidak pernah mendengar Ata sudi mengucapkan nama tersebut. Ata sendiri lebih senang memanggil Senja dengan panggilan Adit. Karena menurut Ata itu lebih cocok dengan karakter cowok bernama lengkap Senja Praditnya tersebut. Walau sejujurnya Senja punya alasan lain tentang nama panggilannya untuk Ata. Ia ingin menjadi pelengkap Matahari. Meskipun hanya sesaat bersama sore yang indah, setidaknya senja dan matahari di langit akan menciptakan pemandangan yang luar biasa. Ia merebahkan kembali tubuhnya yang lemas di sofa. Ada kelegaan yang menelisik saat tawa Ata terdengar nyata di telinga. Meski, pun, kini perutnya melilit setengah mampus karena kebodohannya sendiri. Setidaknya Matahari yang ia kenal tidak seredup sore tadi. Sementara di dalam kamar minimalis bercat broken white, Ata menatap buku di tangannya. Kembali ia buka sampul buku berwarna biru muda yang ternyata berisi tentang catatan rumus-rumus juga berbagai macam mata pelajaran lain. Di balik sampul buku tebal itu, tepat di halaman pertama mata Ata kembali terpaku pada satu nama yang tertera. Entah kenapa ia merasa ingin mengenal cewek berambut panjang tadi lebih dalam. Dari caranya bicara tanpa ingin menatap lawan bicaranya, dari caranya berjalan tanpa benar-benar memperhatikan langkah. Ada daya tarik sendiri yang membuat Ata penasaran pada gadis bernama Keke. Sejenak Ata membolak-balik buku tersebut lalu meletakkannya di atas nakas. Ia merebahkan diri di atas kasur. Hari ini matahari bersinar sangat terang, namun kenyataannya bintang besar yang menjadi bagian dari namanya itu tidak membuat perasaan Ata membaik. Melihat seseorang yang berkali-kali ia selamatkan sama saja menancapkan belati dalam dirinya sendiri. Ini, lah, yang membuatnya malas untuk sekolah hari ini. Tanpa surat ijin juga memohon diri pada guru untuk tidak mengikuti pelajaran. Ata keluar begitu saja dari sekolah sebelum waktunya. Ia yakin, besok akan menjadi hari yang lebih buruk lagi. *M a t a h a r i* Sekali lagi ia membetulkan letak kacamata yang melorot. Matanya masih setia menyisir setiap kalimat yang menyita seluruh perhatiannya. Sebuah buku ensiklopedia bahasa Indonesia sedari tadi membuatnya fokus tanpa mempedulikan sekeliling. Sejak pagi tadi, Keke tidak langsung menuju ke kelas melainkan perpustakaan. Ia bahkan masih membawa serta tasnya ke perpustakaan. Dari balik rak-rak buku tinggi Ata menatap Keke serius. Entah kenapa raut wajah dingin tersebut justru membuatnya ingin mengenal lebih dalam sosok penyendiri di sekolahnya. Ata sering melihat Keke muncul di sekitarnya. Sebab gadis berkaca mata itu adalah peraih juara ke dua pararel di sekolahnya. Ata meneguk s**u beruang dalam kaleng sekali lagi, lalu melangkah menuju meja di mana Keke berada. Sesampainya di sana, Ata meletakkan satu kaleng s**u dan duduk tepat di hadapan Keke menatapnya secara terang-terangan. Gadis itu menatap s**u kaleng yang baru saja diletakkan Ata, sedetik kemudian mengalihkan pandangan menatap Ata tanpa ekspresi. "Kamu yang nabrak aku kemarin, 'kan?" tanya Ata setengah berbisik Lawan bicaranya diam tidak menjawab, lalu melanjutkan aktifitasnya membaca buku tanpa menghiraukan Ata yang tertawa bodoh. Mengerti bahwa gadis di depannya itu cukup arogan untuk diajak berbincang, Ata mengeluarkan secarik notes yang berada di dalam tasnya dan menuliskan sesuatu di sana. Selepas itu, Ata menyodorkan kertas yang ia lipat tepat di depan Keke. Sebelum beranjak pergi, Ata memamerkan senyum manis yang jarang ia umbar pada orang lain. Keke terdiam, menutup buku ensiklopedia bergantian dengan punggung Ata yang semakin menjauh. Setelah gadis berambut pendek itu lenyap dari pandangan mata, ia meraih secarik kertas yang sempat ditinggalkan Ata barusan. "Buku catatan sampul biru muda di roof top. Jangan buang susunya kalau nggak suka, balikin aja!" *** Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, disambut sorakan riang dari para siswa yang kelaparan ingin segera menyerbu kantin mengisi perut keroncongan. Setelah membeli satu botol minuman dingin, Ata bergegas menuju ke atap sekolah, di tangan kiri ia menenteng buku bersampul biru muda yang akan ia kembalikan pada pemiliknya. Namun, langkah Ata melambat ketika matanya menangkap seorang gadis yang duduk membaca buku di sana. Seulas senyum terukir manis di bibir Ata. "Udah lama?" ucap Ata berbasa-basi. Ia duduk di sebelah Keke yang sedang membaca buku. Baru saja Ata meneguk minuman yang ia beli di kantin, Keke menyodorkan s**u kaleng padanya. Hal itu membuat Ata menghentikan aktifitas menghilangkan dahaga. "Beneran dibalikin? Kamu nggak doyan s**u?" tanya Ata tersenyum menerima s**u kaleng tersebut. Gadis cantik berambut panjang itu bungkam. Menatap Ata datar tanpa berkedip. Ata menyodorkan minuman dingin yang baru ia teguk sedikit pada Keke. Barangkali gadis itu haus karena menunggunya. "Buku catatan?" ucapnya mengadahkan tangan. Senyum di bibir Ata makin menjadi, sesekali bahkan ia tertawa tanpa suara berhadapan dengan gadis seperti Keke. "Ata!" ucap Ata menjabat uluran tangan Keke sambil mengguncangnya seperti orang yang sedang berkenalan. Keke mengernyit bingung mendapat perlakukan seperti itu dari Ata. Ia bahkan tidak ingin tau siapa Ata. Dengan cepat Keke menghempaskan tangan Ata tidak suka. "Mana buku catatanku?" tanyanya dingin. "Siapa nama lengkapmu?" tanya Ata balik. "Balikin bukuku. Sekarang!" tegasnya tajam. Ata mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya. Buku bersampul biru muda yang sejak tadi ia letakkan di belakang punggung terselip pada rok abu-abu dan menyerahkannya pada Keke. Gadis kaku itu berlalu pergi setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Tanpa sepatah kata yang membuat tawa renyah dari bibir Ata lolos begitu saja. Langkah kaki Ata lebar mengejar gadis yang sedikit lebih pendek darinya itu lalu mencekal tangannya erat. "Sama-sama!" ucap Ata menekan dengan senyum. Keke diam tidak berreaksi. Sejurus kemudian Ata melepaskan tangan Keke sambil berjalan pergi. Memainkan botol minuman serta s**u kaleng yang berada di kedua tangan. "Lain kali kita ketemu lagi, aku harus tau siapa nama lengkapmu," ujar Ata menuruni anak tangga meninggalkan Keke di atap gedung sendirian. "Lain kali?" Keke tertawa mendengus, lalu melangkah pergi tanpa melupakan buku bacaan yang tadi sempat ia bawa serta. Sementara itu di koridor sekolah Ata melangkah santai. Gadis yang terkenal sebagai siswa pembangkang itu sudah biasa dengan tatapan tidak suka bukan hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di luar sana. Gadis yang sudah mendapatkan cap sebagai siswa trouble marker dengan kepandaian yang luar biasa itu, pun, tidak mau peduli dengan anggapan teman-teman. Atau mungkin lebih tepatnya para penghuni sekolah. Ata akan diam selama ia merasa tidak ada yang salah, selama ia merasa tidak terganggu dan masih mampu untuk bersikap tidak peduli. Tapi, Ata juga tidak akan hanya diam ketika seseorang berani mengusiknya lebih dalam. Di depannya kini Aya berdiri dengan tatapan lembut. Menyodorkan satu kaleng s**u yang sama dalam genggaman tangan. Ata meneguk habis minuman dingin yang menemaninya sepanjang jalan menuju ke kelas. Tatapannya beralih pada seseorang yang berdiri menghadang jalannya. Ata menghela napas pendek, lalu melemparkan botol kosong tepat di depannya dengan sempurna melewati Aya sampai gadis itu terpejam. Ia pikir Ata akan melemparkan botol kosong itu ke arahnya. "Nggak butuh." ucap Ata datar melewati Aya begitu saja. Namun, Aya cepat-cepat menahan lengan Ata agar tidak pergi meninggalkannya. Keduanya sempat berpandangan sejenak, sebelum Ata melepaskan genggaman tangan Aya dengan paksa. "Nggak usah pegang-pegang!" tekan Ata kaku. "Kita harus bicara." "Nggak ada yang perlu dibicarain." "Kalau gitu kenapa kamu bersikap kayak gini? Kekanak-kanakkan tau nggak." "Aku sibuk!" balas Ata tajam. Sedetik kemudian Ata berlalu melenggang pergi melewati koridor yang mulai sepi karena bel masuk sudah berbunyi sejak tiga menit yang lalu. Aya masih berdiri pilu. Ata terlalu jauh untuk direngkuh. Meski ia merindukan seseorang yang pernah menemaninya dalam kesepian, tapi pada kenyataannya yang dirindukan tidak sedikit, pun, ingin datang menghampiri. Harus, kah, Aya menelan bulat-bulat kenyataan menyakitkan ini? Setelah bertahun-tahun harapan atas do'a nya tidak pernah menjadi kenyataan? *M a t a h a r i* Desiran angin menerbangkan dedaunan kering. Malam mengelam bersama cahaya temaram. Yang mungkin tidak pernah disadari ada duka tergores karena sebilah pedang. Ketakutan bukan pada gelap malam gulita. Melainkan cahaya fajar bila esok tiba. Kelam menemani raga yang lelah di atas petilasan rasa sakit yang kian meluas. Pada akhirnya kegelapan membawa sedikit tentram pada jiwa yang sekarat di dalam. Pelan raga melemah, menyerah pada kenyataan pahit sehitam kopi tanpa gula. Jauh di dalam hati yang hampir mati, permohonan juga doa masih bersuara. Agar kekuatan selalu datang di tengah pusaran badai yang mematikan. - Cahaya Matahari *M a t a h a r i* B E R S A M B U N G! Apa kabar hari ini gais! Jangan lupa komen juga ya, kasih kritik dan saran soal cerita ini. Terima kasih banyak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN