Sebelum baca, jangan lupa tekan love!
*M a t a h a r i*
Matahari melemparkan satu bogem mentah tepat di pipi kiri seorang cowok bertubuh besar yang memakai seragam sekolah dengan badge yang sama dengannya. Tiga cowok di belakangnya mendelik marah, salah satu dari mereka membantu temannya yang tersungkur tadi, sementara dua lainnya menyerang Ata secara bersamaan. Dengan gesit Ata menghindari tendangan atas yang hampir mengenai kepalanya, bersamaan itu juga seseorang dari belakang menarik kerah kemeja Ata hingga gadis itu tertarik mundur.
Cowok jangkung yang berhasil menarik kerah seragam Ata tertawa puas, sementara seseorang yang sempat melayangkan tendangan gagal tadi kembali hendak meninju Ata. Secepat kilat saat jarak antara Ata dengan cowok di depannya hanya tinggal selangkah, gadis itu meloncat. Kakinya menjejak cowok di depannya mengenai perut dan wajah hingga lawannya tumbang, sementara cowok yang berada di belakangnya sempat terkejut lengah. Ata yang sudah mendarat tepat di belakang cowok yang menarik seragamnya tadi memelintir lengan cowok tinggi itu hingga menyentuh punggung atas, lalu menendang bagian selakangannya dengan kuat.
Dua dari empat lawannya telah tumbang. Kini tinggal cowok berbadan kecil berkulit hitam juga satu yang bertubuh besar tadi. Seringai tipis menghiasi sudut bibir Ata.
"Maju!" tantangnya tanpa takut.
Benar saja, kedua cowok itu berlari cepat. Salah satu dari mereka membawa balok kayu berukuran sedang. Ata siap melompat, namun saat itu cowok berbadan besar berhasil melayangkan satu pukulan keras di pipi kirinya.
"Gua balikin apa yang udah lu kasih!" ucapnya senang dengan nada yang sangat medok.
Ata terjembab, tetapi seringai itu semakin lebar. Meski sudut bibirnya berdarah, tawa mengejek itu jelas ia tujukan pada cowok bertubuh besar di depannya. Ata mengangguk beberapa kali sambil kembali berdiri.
"Kita punya prinsip yang sama kalau gitu." kata Ata datar
Mendengar ucapan Ata dua cowok itu tertawa saling berpandangan. Saat itu juga Ata melemparkan kerikil berukuran sedang yang ia ambil dari jalanan tepat mengenai dahi cowok berbadan besar hingga si korban menekan dahinya kuat sambil membungkukkan badan untuk meredakan rasa sakit. Satu lagi yang berbadan kecil berlari melayangkan balok, Ata menangkapnya dengan sempurna lalu balik memukul cowok itu dengan balok yang berhasil ia rampas tepat di bagian b****g sebanyak tiga kali.
Cowok bertubuh kecil itu mengerang. Kedua tangannya menyatu di atas kepala mirip seseorang yang minta ampun. Kini langkah Ata santai, mendekati cowok berbadan besar lalu mengayunkan balok di tangannya penuh kekuatan.
Buk!!!
Balok itu menyentuh aspal hitam sedangkan cowok berbadan besar melongo dan memberanikan diri menatap Ata yang menatapnya tanpa berekspresi.
"b*****t!" umpatnya, ketika Ata menendang tulang keringnya sekuat tenaga.
"Sekali lagi aku liat kalian malak, kepalamu yang bakal jadi sasaran!" ucap Ata datar, namun penuh penekanan.
"Pergi sana!" bentak Ata keras.
Keempat cowok itu lari terbirit sambil memegangi bagian yang terasa sakit.
Ia geleng-geleng kepala, jaman sekarang masih ada aja, manusia yang doyan malak seperti mereka.
Ata berbalik menatap seorang gadis yang berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca di pinggir jalan yang juga tengah menatapnya. Ia berjalan tanpa melepas kontak mata dengan gadis di depannya yang kemarin dan lusa selalu mengumpankan diri pada bahaya. Tangan Ata meraih ransel hitam yang tadi ia lemparkan ke sembarang arah saat akan berkelahi.
Setelah ransel hitam tergantung di sebelah pundaknya, mata Ata beralih menatap buku yang berserakan di aspal. Kakinya menendang ransel cokelat yang berada dekat dengannya. Membuat gadis yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip itu meloloskan setetes air mata.
Ata jengah, ia menghela nafas kasar sambil sekali lagi menendang tas cokelat tersebut dengan kencang. Ini lebih baik, dari pada ia memukul seseorang.
"Sialan!" umpatnya.
Gadis di depannya itu berjalan mendekat sambil terisak. Masih saja sama, tidak pernah berubah. Dia Cahaya, memunguti buku serta alat tulis yang berserakan karena ulah keempat siswa k*****t tadi. Sedangkan Ata hanya menyaksikannya dalam kebisuan. Ia ingin marah, ingin berteriak juga memukul. Namun, semua itu ia urungkan. Mengikuti nasehat Senja yang diucapkan tempo lalu. Tangannya mengepal menahan marah.
Ata memutar tubuh lalu melangkah pergi. Terlalu menyebalkan menatap Aya yang masih menangis. Langkah kaki ketiganya terhenti saat tangannya di tarik ke belakang. Reflek Ata berbalik dan memelintir tangan yang menyentuhnya barusan. Tatapan Ata semakin tajam melihat siapa yang kini mengerang kesakitan. Aya, lah, yang menyentuhnya barusan.
"Nggak usah pegang-pegang!" teriak Ata sambil menghempaskan lengan Aya.
"Kamu berdarah, Ta," ucap Aya mengulurkan tangan hendak menyentuh sudut bibir Ata.
Secepat kilat Ata menepis tangan Aya kasar. Berbeda dengan Aya yang melepas kontak mata karena terkejut dengan perlakuan Ata. Ata justru terus memandangi gadis di depannya penuh kekesalan.
"Nggak usah peduli sama orang lain, kalau kamu nggak bisa jaga diri sendiri!" sentak Ata keras.
Selesai dengan satu kalimat panjang itu, Ata berbalik. Langkahnya lebar mendekati gerbang sekolah yang tinggal beberapa langkah dari posisinya. Sementara Aya mematung dengan kedua tangan yang terkepal di sisi tubuh.
"Munafik!" teriak Aya berhasil menghentikan langkah Ata.
"Sampai kapan kamu mau kayak gini? Jangan egois, Ta. Kalau kamu terus bersikap kayak gini bukan cuma kamu yang ngerasain sakit," suara Aya terdengar jelas di telinga Ata.
"Dasar egois! Munafik! Nggak usah sok peduli lagi sama aku!" teriak Aya tanpa digubris.
Seringai tipis muncul di bibir Ata, tawa kecil menyusul dari bibirnya juga. Ia tau Aya berbicara seperti itu untuk memancingnya agar membalas ucapan Aya barusan. Namun, Ata tidak peduli. Ia berjalan pergi meninggalkan Cahaya yang meremas baku tangannya penuh kekesalan.
Yang egois itu, aku atau kalian?
***
Setiap tahun adalah masa kritis untuk Ata dan hatinya. Pada saat kenaikan kelas, dan kehadiran wali murid untuk mengambil rapor, adalah masa sulit untuk Ata. Bukan persoalan nilai, sebab cap sebagai siswa trouble marker tidak membuat Ata lengser dari juara pertama. Bahkan nama Ata selalu masuk ke dalam daftar juara pararel di sekolah. Meski banyak para pengajar yang kurang menyukai Ata karena penampilan dan sikapnya, tetapi tidak semua guru bersikap serupa.
Salah satunya Pak Salim yang kerap menasehati Ata seperti anaknya sendiri. Guru Konseling yang berusia separuh abad itu kerap memberikan cokelat untuk Ata.
"Selamat ya, Matahari. Jadi diri sendiri itu emang perlu, tapi kamu juga harus bisa menyesuaikan diri di manapun, kamu berada, oke nggak?" Nasihat Pak Salim sembari menyerahkan sebatang cokelat bermerek.
Ata cuma tersenyum sekilas. Tangannya meraih cokelat pemberian pak Salim tanpa ragu. Karena hal seperti ini bukan kali pertama terjadi.
"Makasih, Pak."
"Kembali kasih, Ta. Pertahankan posisi!" sahut guru yang selalu terilhat akrab dengan para siswanya itu seraya mengepalkan tangan.
Lagi-lagi Ata hanya mengangguk. Ia pandangi cokelat pemberian Pak Salim. Sebuah hal kecil yang berarti besar untuk Ata. Meski tidak begitu mahal, namun apa yang telah diberikan oleh gurunya tersebut adalah suatu penghargaan terbesar untuk hati Ata. Yang menjadi penyemangat dan pelipur lara. Selain Pak Salim, dua orang malaikat yang dihadiahkan oleh Tuhan juga tidak pernah lupa memberikan hadiah untuk Ata.
Gadis itu menatap perempuan paruh baya yang berjalan cepat sambil tersenyum lebar, diikuti seorang cowok tinggi yang mengenakan topi secara terbalik di belakangnya. Bunda merentangkan tangan dari jauh, lalu Ata berlari mendekat dan memeluk perempuan yang bersedia dipanggil Bunda meski ia bukan anak kandungnya.
"Nggak usah lebay deh, Nda. Dilihatin banyak orang, malu tau. Kayak anak TK, aja."
Kalimat itu membuat Ata dan Bunda yang sedang berpelukan manja menghentikan aktifitas. Keduanya menatap cowok berjaket levis yang kini memutar topinya ke depan.
"Aduh! Sakit Nda," eluhnya menggosok lengan yang baru saja dicubit Bundanya.
"Makannya jadi orang jangan sirik Mas," sahut Ata menjulurkan lidah pada Senja.
"Bunda nggak tau, dulu Mama kamu makannya apa sampai kamu bisa dapet rangking satu terus kayak gini," ucap Bunda mengusap rambut cokelat Ata.
Mendengar ucapan tersebut Senja memutar kedua bola matanya mencibir. Selalu saja, dia menjadi anak tiri dadakan jika Bunda sudah bertemu Ata.
"Pulang yuk, laper Nda!"
"Selamat, ya, Ata sayang. Kamu hebat, Bunda jadi tau rasanya punya anak berprestasi, banyak orang tua yang iri sama Bunda," tuturnya disusul tawa kecil tanpa mendengarkan ucapan anak lelakinya.
Senja tertawa mendengus menatap seantero sekolah tersebut. Ia sudah amat sangat terbiasa diabaikan oleh ibundanya sendiri.
"Makasih udah jadi super hero-nya Ata," balas Ata seraya mengecup berkali-kali pipi wanita tersebut.
"Cuekin aja tross," celetuk Senja yang sejak tadi berdiri mematung di antara keduanya.
"Cari makan yuk, Bunda laper, Ta."
Ata mengangguk, mengikuti Bunda yang menggaet tangannya untuk melangkah pergi. Sementara Senja ditinggalkan begitu saja sambil memegangi rapor milik Ata. Cowok itu sudah terbiasa dengan momen seperti ini. Ia melangkah mengikuti dua wanita yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Namun, hanya beberapa detik berlalu tiba-tiba saja Ata menggandeng tangan Senja lalu menariknya.
"Lama deh!" seru Ata.
Untuk beberapa saat kaki yang mengikuti langkah lebar Ata itu seperti terbang mengambang. Perasaan kesal yang tadinya memuncak ke ubun-ubun, langsung luluh ke tanah. Selalu seperti itu. Kemarahan Senja, memang tidak pernah bertahan lama.
Sama seperti keindahan senja yang singkat. Dengan keindahan memikat hati, lantas pergi tanpa bisa dihentikan.
***
Matanya menatap luas ke depan penuh dengan gedung-gedung tinggi. Sementara matahari mulai kembali pulang. Pulang ke singgasananya untuk tenggelam dan beristirahat sejenak setelah seharian memancarkan sinarnya. Untuk esok kembali lagi menjadi satu-satunya cahaya paling terang.
Meski kehadiran Bunda dan Senja selalu berhasil mengusir kesunyiannya, namun tidak sepenuhnya pergi. Ata masih merasa sendiri. Dengan ingatan yang pelan-pelan merengkuhnya untuk tetap tinggal dalam kesakitan. Dengan kenangan yang tanpa ia sadari membunuh hatinya di dalam. Termasuk orang-orang dari masa lalunya. Juga seorang Senja yang lenyap tanpa jejak meninggalkan seuntai janji pada Ata.
Gadis itu tersenyum mengingat serangkaian kejadian yang melintasi pikirannya. Ia tidak pernah tau bahwa masa remajanya akan menjadi rumit seperti saat ini. Atau mungkin Ata sendiri yang membuat semuanya semakin rumit? Ia mengacak rambut yang panjangnya sebatas bahu, membuat seseorang yang sejak tadi sibuk dengan obat merah menarik tangannya dari sudut bibir Ata.
Dia Senja, Senja yang tidak pernah meninggalkan Mataharinya. Cowok itu bahkan sesekali meringis ketika mengobati luka Ata. Justru, Ata yang terluka tidak mengerang sedikit, pun, gadis itu bungkam sejak memutuskan untuk pergi dari sekolah sebelum jam pulang sekolah.
"Sakit?" tanya Senja meringis.
Ata tersenyum, lalu menatap Senja yang setia di sampingnya. Keduanya duduk di atap bangunan gedung yang belum sepenuhnya selesai di kerjakan, yang kerap Ata datangi kala kalut melanda.
"Biasa aja," ucap Ata tersenyum tipis.
"Biasa aja tapi meringis gitu. Jangan bohong kalo udah ketauan. Kebiasaan banget, sih?"
Ata hanya tersenyum menanggapi Senja.
"Kamu tuh, sebenernya kenapa, sih? Hobi banget berantem? Punya cita-cita jadi petinju? Iya?" tanya Senja sambil merapikan kotak obat yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Nggak tau lega aja, kalo udah gebukin orang."
Senja menghela nafas pendek. Jika sudah begini Senja tidak tau lagi apa yang harus dilakukan juga diucapkan. Ini adalah pembicaraan rumit bersama Ata. Senja mengerti, meski tidak sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi. Ia cukup baik dalam memahami perasaan Ata.
"Ada apa, sih, Ta? Sampai kapan mau kamu simpen rahasia itu sendirian," Senja menurunkan tangannya dari wajah Ata.
"Kalau aku kasih tau, namanya bukan rahasia lagi dong."
"Yaudah, jadiin itu semua rahasia kita berdua aja. Gampang, 'kan?" kejar Senja nggak mau kalah.
"Bukan rahasia namanya kalau aku nggak bisa simpan ini sampai mati," sambung Senja menirukan ucapan Ata.
"Itu, tau."
"Ribet, ah. Ngopi aja, yuk!" ucap Senja.
Ata mengangguk, ia berdiri di bantu Senja yang meraih tangannya untuk bangkit. Untuk pergi dari rasa sakit.
"Selain kopi, kamu juga harus tau selalu ada aku yang siap nyembuhin lukamu kapanpun. Inget itu!"
"Apaan, sih? Jijik dengernya," balas Ata tertawa mendengus
"Serius kali ini Ta. Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian. Kayak orang-orang yang pernah kamu ceritain," ucap Senja sembari mengikuti langkah Ata menuruni anak tangga.
Tapi, cowok itu mendadak mengerem langkah ketika Ata yang berada di depannya berhenti. Untung saja Senja sigap, jika tidak mungkin Senja sudah menubruk Ata hingga keduanya guling-guling sampai ke bawah seperti adegan sinetron.
"Ngapain sih, berhenti di sini? Untung pakem, nih kaki. Kalo enggak, pasti kita udah guling-gulingan sampai bawah jadi satu!" ucap Senja kesal.
"Tadi, kamu bilang apa?" tanya Ata serius.
Raut wajah Senja terlihat bingung. "Bilang apa emang?" tanya Senja membuat Ata memutar bola matanya malas.
"Lupain deh."
Mendadak langkah Senja semakin cepat melewati dua-dua anak tangga hingga kini ia berada di depan Ata.
"Yang duluan sampai di bawah harus di traktir makan!" ucapnya sambil terus berjalan mendahului Ata.
Seketika senyum manis merekah di bibir Ata melihat kelakuan Senja yang selalu seperti anak kecil. Ia masih berjalan perlahan melewati satu-satu anak tangga tanpa mempedulikan Senja yang masih mengoceh tak jelas.
"Curang anjir!" balas Ata terkikik.
- B E R S A M B U N G