bab 9

2009 Kata
“ tok . . . . . . . . Tok . . . . . . . . . “ suara ketokan di pintu kos Deolinda “ ceklek “ “ Rio ? “ kata Deolinda “ he . . . . . . he . . . . . . Maaf enggak bilang kalau mau jemput. “ kata Rio “ ah merepotkan kamu saja. Masuklah, kamu sudah makan pagi belum ? “ kata Deolinda “ sudah tadi minum seral. “ kata Rio “ enggak kenyang dong. Mau aku gorengkan telur ? “ kata Deolinda “ enggak usah, De. Thank. “ kata Rio “ baiklah, tunggu sebentar ya aku mau ganti baju dulu. “ kata Deolinda. Setelah beberapa menit berganti pakaian Deolinda dan Rio segera melaju ke kantor. Sampai di kantor Deolinda dan Rio selalu di penuhi keakraban dan senyum bahagia. Dan itu membuat orang yang menyukai Rio geram dan Abian juga menjadi semakin panas. “ nanti makan siang bareng ya De, di kantin . “ ajak rio “ ha ? ehm . . . . . . . . enggak Yo. Seperti biasa aku sudah bawa bekal. “ kata Deolinda “ ya enggak apa - apa. Bawa aja ke kantin kita makan sama - sama di sana. “ kata Rio “ oke. “ jawab Deolinda berjalan ke ruangannya “ Deolinda ! “ Abian memangil Deolinda dengan nada bass nya. Seketika Deolinda berhenti dan membalikkan badan pelan. Kalau bukan Abian sebagai bosnya mungkin Deolinda mengabaikan panggilan itu. Karena hati Deolinda masih kecewa dan sakit peristiwa semalam yang meninggalkan dirinya di restoran dan membayar makanan yang begitu mahal menguras kantong Deolinda. “ Pagi Pak. “ jawab Deolinda menundukkan kepalanya tanpa mau melihat wajah Abian “ ke ruangan saya sebentar. “ kata Abian langsung pergi. Sementara Deolinda melihat kanan kiri di mana karyawan lain sudah memandanginya penuh penasaran. Karena jarang dan hamper tidak pernah bos besar mereka Abian memanggil sendiri karyawan biasa. Biasanya Abian akan memanggil karyuawan biasa melalui supervisor devisi kantor masing – masing. “ ya Tuhan. Apa lagi ini. tolong hamba Mu ini. “ gumam Deolinda dalam hati dengan hati berdebar Deolinda memasukki ruangan Abian “ ini buat ganti uang kamu tadi malam. “ kata Abian memberikan amplop yang berisi uang di atas meja. Deolinda hanya diam bingung apakah akan mengambil uang itu atau tidak. Sejujurnya Deolinda membutuhkan uang itu namun Deolinda memikirkan harga dirinya. “ ehem ! “ Abian menyadarkan keheningan Deolinda “ hem maaf pak, saya rasa tidak perlu Pak Abian menggantinya. Saya ikhlas dengan traktiran itu. “ jawab Deolinda “ kamu yakin ? bukankah itu uang kamu untuk hidup satu bulan ? “ kata Abian dengan sinis. Deolinda terkejut karena Abian mengetahui hal rpibadinya “ kenapa ? kamu terkejut aku mengetahuinya ? ambil saja uang itu, aku tahu kamu membutuhkannya. “ kata Abian lagi “ bapak benar, saya lebih membutuhkannya. Tapi ada yang lebih membutuhan lebih dari saya pak. Jadi saya tidak mengambil uang ini. em … kalau tidak ada yang lain saya minta ijin kembali bekerja, Pak. “ kata Deolinda “ kamu emang keras kepala dan sombong. Sudah tahu kamu membutuhkan uang itu. Dan sudah tahu kamu miskin tapi masih saya bersikap sombong. Terserah kamu. Ke luarlah ! “ kata Bian marah “ baik pak, saya permisi. Maaf. “ kata Deolinda menundukkan kepala menahan air amatanya agar tidak menetes. Deolinda segera ke luar dari ruangan Abian dan pergi ke toilet untuk melepaskan air matanya. “ ihiks . . . . . . . . ihiks . . . . . . . hik . . . . . . .Tuhan. apakah aku sesombong ini ? Tuhan kalau Engkau mengijinkan aku dengan kondisi seperti ini, ajarkan aku untuk lebih kuat dan mampu menjalaninya dnegan tetap dalam kendali Mu. Ihik …. Ihik sss …. “ kata Deolinda di dalam kamar mandi dengan mengusap air mata yang selalu jatuh di pipi. Setelah merasa air matanya tidak jatuh lagi, Deolinda ke luar kamar mandi dan bekerja dengan mata sembab. “ De, kenapa kamu di panggil pak Abian ? “ Tanya salah seorang temannya “ enggak ada apa - apa. Hanya Tanya soal data kemarin saja. “ kata Deolinda berbohong “ yakin ? tapi . . . . . . . . . . Mata kamu sembab habis menangis. Kamu di katain apa sama pak Abian ? “ Tanya temannya lagi penasaran “ aku enggak apa - apa. Tenang saja. Aku hanya kangen keluarga saja. “ jawab Deolinda dengan senyum tipis “ baiklah. Kalau ada sesuatu bilang ya , De. “ kata temannya “ oke. thank ya. “ kata Deolinda kembali bekerja fokus pada layar komputer. Yang sesekali mengingatkan kata - kata Abian yang menyakitkan. “ De, makan siang bareng ya nnati. Aku traktir di kantin. “ kata Rio melalui pesan whatshap “ tapi aku lagi malas makan siang, yo. Terima kasih ajakan kamu. “ balas Deolinda “ ayolah De, jangan begitu. Kamu bilang kita enggak boleh malas. Apalagi malas makan. Jadi tidak ada penolakan untuk ku siang ini. “ kata Rio mendesak “ hem . . . . . . . . . baiklah. “ jawab Deolinda. Dan rio membalas dengan emot jempol dan senyum “ De, kamu masih banyak kerjaaan ? “ Tanya salah seorang teman “ kenapa memangnya ? “ Tanya Deolinda lembut dan senyum “ bantu aku dong, ini aku dapat tambahan kerjaan dari bapak kita. “ kata temannya “ oke, gampang. Nanti aku bantu, asal ada pengganti lelahnya he . . . . . . . he . . . . . . he . . . . . . Bercanda kok. “ kata Deolinda “ tenang aja De, aku kasih pengganti lelahnya. Serius ini. “ kata temannya “ aku bercanda, aku tetap bantu kamu. Nanti habis istirahat kerjaan aku sudah selesai kok. “ kata Deolinda “ syukurlah, thank banget ya , De. Kamu memang teman yang sellau ada untuk aku. “ kata temannya “ kayak pak satpam saja selalu ada. He . . . . . . He . . . . . . . he . . . . . . . “ canda Deolinda “ ah bisa saja kamu De. “ kata temannya senyum “ Satu - satunya yang kuandalkan Satu - satunya yang kupercaya Engkau sumber kekuatan Sumber pengharapan sumber kedamaian Satu - satunya yang kuandalkan Satu - satunya yang kupercaya Engkau Tuhan memberkati Tuhan penyembuhku Tuhan pemulihku “ nada dering handphone Deolinda bordering “ halo “ jawab Deolinda “ De, aku bisa pinjam uang ? aku sedang butuh banget. “ kata sesorang di telepon “ aduh aku sedang enggak ada uang. Aku enggak bohong, kemarin uang ku habis ke pakai. “ kata Deolinda “ kamu enggak bisa tolong aku, De ? aku butuh banget. Aku enggak tahu harus telepon siapa lagi. “ kata seseorang “ untuk saat ini, maaf aku enggak bisa menolong kamu. “ kata Deolinda kemudian menutup teleponnya. Deolinda mengambil nafas panjang setelah menerima telepon itu. Itu adalah mantan pacarnya yang selalu memorrotinya. “ De, ? kamu kenapa ? “ Tanya Rio yang sudah berada di ruangannya “ astaga ! kamu mengagetkanku saja. Ada apa ? “ kata Deolinda “ kok balik Tanya. Kamu kenapa begong begitu, apa yang kamu lamunkan ? “ Tanya Rio “ o … enggak ada, hanya ambil nafas saja setelah memandang komputer. Kamu sendiri kenapa ada di sini ? “ Tanya Deolinda “ ini kan jam istirahat, makanya ak ke sini. Menagih janjiku. Ayo kita makan siang di kantin. “ ajak Rio “ sudah jam dua belas ? “ Tanya Deolinda “ sudah nona cantik. He . . . . . . He . . . . . . . he . . . . . . “ kata Rio dengan senyum manisnya “ ah sampai tidak sadar istirahat. Baiklah. Ayo ke kantin. “ kata Deolinda bangkit dari duduknya Setelah berada di kantin, Deolinda bingung ingin memesan apa. Hanya terdiam bingung. “ kamu pesan apa De ? “ Tanya Rio “ em . . . . . . . . . . Aku ? . . . . . . . . . Aku pesan . . . . . . . . . nasi rames saja lauk telur dadar sama es teh ya buk. “ kata Deolinda “ hanya itu saja ? kamu enggak mau dadar jagung, sama itu ada kesukaan kamu cumi bakar. “ kata Rio “ terima kasih, Yo. Aku sedang enggak makan itu. “ jawab Deolinda senyum “ oke, baiklah. Buk tambah dadr jagungnya enam ya. “ kata Rio kemudian mereka berdua memilih duduk di dekat jendela agar terasa angin. “ thank ya Yo. “ kata Deolinda “ ya sama - sama. Aku juga terima kasih kamu mau menemaniku makan siang. Eh . . . . . . tadi pagi pak Abian panggil kamu ada apa De ? “ Tanya Rio “ oh itu, itu pak Bian minta data. Ada data yang salah dan harus diperbaiki. “ jawab Deolinda “ kok ke kamu, biasanya kan lewat atasan kamu. “ kata Rio “ iya sih, enggak tahu juga. Aku manut saja daripada kena semprot. Masak di panggil enggak respon. Iya enggak ? he . . . . . . . he . . . . . . “ kata Deolinda “ iya juga sih. Tapi kamu enggak kena marah kan ? “ kata Rio “ enggak. “ jawab Deolinda berbohong “ permisi, ini pesanannya. “ kata pelayan kantin “ terima kasih ya mbak. “ jawab Rio dan Deolinda dan pelayan kantin senyum menganggukkan kepala “ aku paling suka dengan dadar jagung ibu ini, nasi liwetnya enak banget. Dan anehnya enggak pernah bosen makan nasi liwet. He . . . . . . he . . .. . . . He . . . . . . . Kalau kamu apa yang kamu suka di kantin ini De ? “ Tanya Rio “ aku sih suka semuanya, masakannya enak. Apalagi dadar jagungnya ini. he . . . . . . he . . . . . . he . . . . . . .“ kata Deolinda “ siang pak “ sapa karywan pada sesorang yang baru saja muncul di kantin dan menghebohkan kantin. Sampai Deolinda dan Rio ikut menoleh. “ pak bian ? ngapain di ke kantin De ? tumben sekali . “ kata Rio terkejut begitu juga dengan Deolinda yang mulai gugup dan sedikit ketakutan karena Abian selalu membuat kejutan yang emnakutkan bagi Deolinda “ e . . . . . . . . enggak tahu, Yo. Mungkin bosan di dalam kantor. “ jawab Deolinda sedikit gugup " boleh saya bergabung ? " tanya Abian pada Deolinda dan Rio. " silahkan pak. " jawab Rio sementara Deolinda terdiam menunduk pura - pura tidak mendengar " apa yang kamu makan sampai tidak tahu ada pendang di meja ini nona ? " kata Abian sinis. Rio paham dengan situasi ini dan tahu, Deolinda tidak nyanan dengan adanya Abian. Rio masih berpikir postif yang ada di depannya adalah bos besarnya. buka pesaing cintanya. " uhuk . . . . . . . . uhuk . . . . . . . . uhuk . . . . . . . . " Deolinda tersedak " minumlah. " kata Abian datar sambil memberikan Deolinda minumannya. " terima kasih pak. " jawab Deolinda lembut dan sopan " ehm . . . . . . . . permisi pak. saya ijin permisi karena saya sudah selesai makan. De, kamu sudah selesai makan ? " kata Rio berusaha menyelamatkan Deolinda dari amukan Abian " kamu boleh pergi. dan kamu tetap di sini. " kata Abian menatap Deolinda dengan hati yang kesal. Deolinda duduk dan diam sambil melihat sekeliling, karyawan lain membicarakan dirinya. " itu kenapa si bos sama Deolinda berduaan ? " kata karyawan bisik - bisik " iya sudah dua kali ini, bos ke kantin dan bersangkutan dengan Deolinda. " sahut karyawan lain pelan Sedikit rumit ya menjadi Deolinda, kalau itu terjadi pada kalian pasti juga bingung kayak Deolinda ya guys . . . . . . . he . . . . . . He . . . . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN