Agis duduk sendiri dalam kamar. Lamaran memang terkesan dadakan hingga tidak ada satu pun temannya yang datang menemani di hari spesialnya ini. Ah, mengingat kata teman, otaknya terpikirkan Dara. Biarlah selesai semua rangkaian acara lamaran dan pernikahan, baru akan dia mengonfirmasi pada Dara akan chat yang dimaksud Marni pagi tadi. Bisa jadi semua hanya bualan Marni, chat buatan dan tidak ada sangkut pautnya dengan Dara. Atau mungkin Dara sengaja berkata semacam itu untuk membantunya membongkar kedok Marni di depan Rando. Apa pun itu, untuk saat ini Agis masih percaya kalau Dara adalah sahabatnya. Tidak mungkin Dara melakukan sesuatu yang mengecewakan Agis. “Mbak berdiri dulu.” Agis menurut, dia berdiri dan membiarkan sang perias melakukan tahap finishing di rambutnya. “Sempurna.

