Sepanjang jalan Agis sibuk menenangkan diri. Duduknya mepet ke jendela, tangannya terus saling bertaut, sesekali jari-jarinya saling menarik. Debaran jantungnya tidak bisa dikompromi. Meski sudah berusaha berdamai dengan rasa takut. Saat berada dekat dengan Alvin seperti ini, tetap saja rasa cemas dan takut muncul dan susah mengusirnya. Tidak sekali pun Agis berani melirik Alvin yang duduk di sebelahnya. Meski yakin Mauris akan menjaganya seperti apa yang dikatakan Wati lewat telepon. Tetap saja Agis tidak bisa menikmati perjalanan ini. Bugh. Agis terjingkat, jelas dia kaget saat tiba-tiba kepala Alvin malah jatuh ke pangkuannya. Tangannya sontak terangkat ke atas. Dengkur halus terdengar. Mauris yang mengintip dari spion depan mobil mengulum senyum. “Dia sudah biasa seperti itu.”

