Bab 3

827 Kata
Tara memandang pada benjolan yang muncul di celana-nya. Kemudian, ia memandang kasar ke mata Delia. Seperti menantang. Bibir Tara bergetar, ia sudah sering bermain s*x, tetapi ia belum pernah merasakan nuansa sekaku ini. Delia tidak bergerak. Sekujur tubuhnya panas. Darah berkumpul di otot vaginanya, mengemis supaya disentuh. Dada Tara naik turun. Ia berusaha mengontrol supaya detak jantungnya jangan terlalu cepat. Tapi la gagal. Delia telah membalas tatapan Tara. Mereka beradu pandang, berbicara lewat mata, mengisyaratkan betapa mereka berdua telah diterpa badai nafsu. Pelan-pelan, tanpa bergerak dari posisi duduknya, Tara mengelus benjolan di celana-nya, matanya masih kasar menatap Delia. Tara semakin bersemangat, ia yakin Delia tidak akan menolak dirinya. Tara ingin membuat gadis itu semakin gila. Ia menarik pinggiran celana pendeknya dan membuat senjatanya yang sudah tegang itu menyeruak dari celana, memamerkan diri. Mata Delia semakin melotot. Pemandangan yang menakjubkan. Tangan Delia bergerak hendak menyentuh batangan Tara itu "Deliaaa!" Tiba-tiba, seseorang memanggil dari luar.Tara Panik. Tara berdiri, "Buka pintunya!" perintahnya menyuruh Delia. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mendinginkan diri. Delia kesal. Ia tidak mengerti kenapa selalu ada yang mengganggu, saat ia sudah hampir mendapatkan apa yang dimimpi-mimpikannya selama ini. Delia membuka pintu, menemukan Erni sedang berdiri di depan pintu kamar depan. "Kak Erni!" Delia memanggil Erni memutar badan. "Delia, kenapa di kamar Tara?" "Aduh, Aku mau pindah sajalah, Kak. Aku tidak mau tinggal di situ. Kata Kak Tara, seminggu yang lalu, ada yang bunuh diri di situ," ucap Delia lemas. "Haha, kau dikerjain, Dek. itu gak benar!" Erni malah tertawa. "Beb, kurang ajar bangat ya, Kamu!" Erni bergegas masuk ke kamar Tara. "Mana dia?" Tanyanya. "Di kamar mandi, Kak!" jawab Delia. Ia patah hati, sakit mendengar kata 'Beb' yang keluar dari mulut Erni. Erni berjalan ke kamar mandi, mendorong keras pintu dan terbuka. Tara sudah telanjang bulat, tubuhnya dipenuhi sabun. Ia tersenyum licik. "Tutup pintunya! Malu tahu," ucap Tara, ia menutup senjatanya dengan kedua tangan. "Beb, kasihan Delia tahu. Dia sampai setakut itu." Erni menjauh, menghampiri Delia yang sudah duduk di sofa, depan TV. "Maaf ya, Dek! Astaga, lihat saja, aku akan membalasnya!" ucap Erni dengan sorot mata bercanda. "Sikapnya memang begitu. Dia sengaja, mungkin tidak tega melihatmu sendirian di hari pertama. Tadi pagi, aku sudah memintanya untuk membantumu." "Kalau begitu aku ke kamar saja ya, Kak." Delia dan Erni mengangkat koper dan tas ke kamar Delia di depan. Setelah Tara selesai mandi, ia bergabung ke kamar Delia. Ia belum berani menatap Delia. Sementara, Delia beberapa kali menatap jijik Tara "Dasar kamu ya!" Erni menarik tangan Tara, membuat pria itu duduk di sebelahnya. Erni menampar mesrah rambut Tara yang masih basah. "Ah, apaan sih. Kan, kamu yang bilang, supaya aku menemaninya selama kamu sibuk," ucap Tara sok tegas. "Tapi nggak harus berbohong juga kali, Beb. Dia ketakutan tahu!" "Aku tidak mungkin menyuruhnya masuk ke kamarku. Dia kan, belum mengenal aku." jawab Tara tanpa melihat ke arah Delia. "Gak, Apa-apa Kak. Justru aku senang, Kak Tara juga tadi membelikan aku makanan," ucap Delia, pandangannya tetap sinis. Ia ingin sekali membuka mulut dan mengatakan betapa Tara, kekasih Erni itu bukanlah pria yang baik. Delia melotot, seolah mengancam Tara kalau ia akan mengatakan yang sesungguhnya pada Erni. Tapi, Delia juga teringat kalau dialah yang sebenarnya memulai semua itu. Seandainya saja, ia menukar baju di kamar mandi, pasti Tara tidak akan menunjukkan p***s tegang itu padanya. Setelah jam 12 malam, Delia sudah ngantuk berat. Erni dan Tara memutuskan untuk membiarkan Delia beristirahat. Erni masih ingin mendengar banyak cerita tentang kampungnya, tetapi, ia tahu kalau Delia pasti butuh istirahat. Tara masih panas. Entah kenapa nafsunya malam ini begitu kuat. Setelah masuk ke dalam kamar, ia langsung menarik kasar wajah Erni dan melumat habis mulut kekasihnya itu. Erni kaget dan membalas ciuman Tara. Mereka saling mencumbu sambil berjalan tidak teratur ke ranjang. Tara mendorong Erni ke ranjang dan langsung menindih wanita itu, menciumi bibir, mata dan d**a Erni. "Ahhh," Erni mendesah panjang. Delia menatap langit-langit. Hatinya sakit. Ia tidak kuasa menahan pisau yang seolah menikam nikam hatinya. Ia menutup telinga dengan bantal supaya suara desahan Tara dan Erni, dari kamar sebelah tidak membunuhnya malam ini. Lekuk tubuh dan wajah yang disentuh oleh Tara adalah milik Erni, kekasihnya. Tapi ia sadar, bawah nafsunya membludak justru karena sosok Delia masih memenuhi pikirannya. Wajah Delia begitu liar di imajinasinya. "Ahhh," Tara mendesah hebat, menghujamkan kasar senjatanya ke v****a Erni. Pantatnya maju mundur cepat. Ia sengaja mendesah lebih kuat supaya Delia mendengar. Erni bahagia. Sejak la mengenal Tara, pemuda itu belum pernah sebrutal itu ketika bercinta. Erni sampai kewalahan, ia begitu menikmati perlakuan kasar Tara. tidak bisa melakukan apa-apa. Delia tidak Selangkangannya begitu sensitif, bahkan disentuh sendikit pakai guling saja langsung terasa nikmat. Delia membalikkan badan, menindih guling, kemudian menekannya kuat. Delia menggigit bibir. Desahan Tara dari kamar depan, membuatnya melayang kemana mana. Tubuh Delia maju mundur menindih kasur. Delia tidak kuat lagi, ia memasukkan jari ke dalam celana tidurnya. Jari itu menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Delia bergetar hebat. Ia menutup mulut dengan bantal supaya suaranya tidak terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN