Malam itu, suasana di apartemen Reza terasa sunyi. Dina, yang sedang duduk di sofa ruang tamu, memandang ke arah pria itu yang sibuk menatap layar laptop di meja kerjanya. Keheningan di antara mereka bukan sesuatu yang baru, tetapi kali ini, Dina merasakan atmosfer yang berbeda. Meski Reza tampak sibuk dengan pekerjaannya, Dina tahu bahwa pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Dina berdiri, berjalan pelan ke dapur untuk menuangkan segelas air. Saat kembali, ia berhenti sejenak, mengamati pria itu dari kejauhan. Sikap dingin dan angkuh Reza selalu membuatnya merasa seperti sedang berbicara dengan tembok, tetapi di balik itu semua, ia bisa merasakan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. “Aku akan pergi besok pagi,” kata Dina akhirnya, memecah keheningan. Reza mengangkat kepal

