Dina berdiri, membereskan peralatan medis yang ia gunakan untuk merawat luka Reza. Ia tahu, pria itu tak akan pernah secara langsung berterima kasih atau menunjukkan rasa terima kasihnya, tetapi Dina sudah terbiasa dengan sikap dingin dan angkuh Reza. Baginya, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penampilan luar pria itu. Sesuatu yang selama ini Reza sembunyikan dengan rapat. “Kalau sudah selesai, kau bisa pergi,” ucap Reza dingin, nadanya terdengar seperti perintah. Dina menghela napas, berusaha menahan rasa frustrasinya. “Aku tidak akan pergi sampai aku yakin kau baik-baik saja.” Reza mendongak, memandang Dina dengan tatapan tajam. “Aku tidak membutuhkan penjaga, Dina.” “Kau mungkin tidak membutuhkan penjaga,” balas Dina tegas, “tapi kau membutuhkan seseorang yang peduli.” Reza

