Dina Yang Agresif

1053 Kata
Ekpresi Reza terlihat tidak senang saat ini. "Apakah Kak Melisa tidak bisa menarik hati Reza?" lirih Dina dalam hati melihat kekacauan di dalam kamar itu. Setelah Melisa turun, Dina segera mendekati Reza yang tengah duduk di sofa tunggal sambil menatap tajam ke arahnya. "Apa ini rencanamu? Dan kejadian malam itu juga?" tanya Reza ketika Dina berdiri tepat di hadapannya. "Kejadian malam itu murni kesalahan," jawab Dina sambil tertunduk. "Lalu bagaimana dengan kejadian hari ini?" tanya Reza sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Dina mendekat dan meraih korek untuk dan menyodorkannya pada Reza namun Reza menepis tangannya. Dina merasa semakin ketakutan saat ini. Apalagi ketika Reza meraih dagu lancipnya dan meremasnya sehingga Dina meringis kesakitan. "Awww..." "Awas aja jika kamu menipuku. Sudah kuperingatkan agar jangan membohongiku sebab aku paling benci dengan yang namanya kebohongan." Tegas Reza sambil menatap tajam ke dalam mata Dina. Dina hanya mengangguk patuh. Ia sadar telah terjebak dengan permainan yang berbahaya dengan pria itu. Tapi demi balas dendam dan keselamatan kakaknya, Dina siap melakukan apa pun termasuk berhubungan dengan Reza yang terkenal kejam. Reza menarik tubuh Dina hingga wanita itu kini berada di atas pangkuan Reza. "Kamu bilang, kejadian malam itu hanya kecelakaan dan karena kamu ingin membalas Rangga, bukan?" tanya Reza dengan nada yang terdengar penuh ancaman. "Ia benar," jawab Dina sambil berusaha tersenyum agar Reza tidak menyadari kebohongannya. "Bagaimana jika aku membantumu membalas dendam pada Rangga dengan membiarkan dia melihat kamu di bawah kungkungan laki-laki lain?" ujar Reza tanpa memfilter kata-katanya. Reza meraih ponselnya di atas meja dan hendak menghubungi Rangga saat ini. Namun Dina dengan sigap mengambil benda pipih itu dan berkata, "aku akan membalas Rangga tanpa melibatkanmu. Bukankah namamu akan hancur jika Rangga melihat kita bersama di atas ranjang?" ujar Dina. "Mulutmu memang manis. Awas aja jika kamu berbohong." Reza meraih dagu Dina dan mencium wanita itu dengan buasnya. Setelah Reza melepaskan ciumannya, Dina tiba-tiba berdiri dan menarik kerah jas Reza hingga keduanya jatuh di atas sofa dengan posisi Reza di atas tubuh Dina. Wanita itu dengan agresifnya mencium bibir Reza membuat Reza tersenyum puas. "Baru kali ini aku melihat kamu begitu agresif," ucap Reza lalu memulai aksinya. Ia membawa Dina dalam hubungan percintaan yang singkat sebelum keduanya turun ke lantai dasar di mana semua orang sudah menunggu. Langkah Dina terhenti di anak tangga terakhir ketika Rangga mendekatinya, "dari mana saja kamu? kenapa membiarkan semua orang menunggumu, hah?" tanya Rangga sambil menggenggam tangan Dina erat hingga ia merasa sangat kesakitan. "Aku tadi terkena bir, makanya aku pergi mengganti pakaianku," bohong Dina pada Rangga. Untung saja Rangga percaya begitu saja pada kata-kata Dina. Sementara itu, saat ini Reza sedang berdiri di samping kakeknya dan seorang wanita yang cantik. Dina mengenal wanita itu karena dulunya, wanita itu adalah teman Dina di bangku SMA, tapi hubungan mereka tidak dekat karena wanita itu selalu saja menghina Dina miskin. Sejak saat itu konfrontasi diantara mereka terjadi. Saat ini Dina bisa mendengar jika wanita itu sengaja datang untuk menemui Reza. Tapi Reza terlihat acuh kepadanya. "Lilian khusus datang untuk mencarimu dan ia ingin menikah denganmu, Reza." Ucapan kakek Gustaf terdengar jelas di pendengaran Dina. Entah kenapa mendengar itu membuat hati Dina tersentil. Tapi ia berusaha membuangnya jauh. "Bukannya bagus kalau Reza menikah dengan Lili? Setidaknya aku bisa mencari kebenaran siapa yang melukai kakakku?" lirihnya dalam hati. Tapi, hati Dina kembali terasa sakit ketika mendengar Reza berkata, "menikah? boleh saja," ucap pria itu sambil melirik ke arah Dina. Reza ingin melihat ekspresi Dina saat itu. Tapi disaat yang sama, pria yang berasal dari masa lalu Dina tiba-tiba menghubunginya, "aku tunggu kamu di hotel Bintang jam 21.00 tepat." Mata Dina terbelalak menatap pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Ia mencari ke sekeliling dan matanya menangkap sosok pria yang tidak asing lagi baginya. Pria itu sedang berdiri dengan sombongnya di antara para tamu dan pria itu adalah Liam adiknya Liliana. Pria yang dulunya hampir merenggut kesuciannya ketika ia menolak cinta pria itu. Masih tergambar jelas perbuatan Liam waktu itu dalam ingatan Dina. "Kenapa ia memiliki nomorku?" pikirnya. Sejak menerima pesan dari Liam, Dina menjadi tidak tenang dalam ruangan itu. Ia bertanya-tanya, apakah benar Liam mengetahui kejadian yang menimpa kakaknya waktu itu atau pria itu sengaja ingin menjebak Dina lagi? Dina menatap layar ponselnya berkali-kali, waktunya sudah hampir dekat dan ia harus mencari cara agar bisa pergi dari ruangan itu secepatnya. "Aku ke toilet sebentar ya," pamit Dina lalu meninggalkan ruangan itu. Sementara itu, Kakek Gustaf bertanya apakah Reza benar-benar akan manikahi Liliana? Jika benar maka tanah yang berada di kota Timur akan diberikan kepada keluarga Liliana. Tapi dengan cepat Reza menjawab, "tanah itu tak kan kuberikan pada keluarga Atmaja." Ujarnya lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan itu, Dina kembali membaca pesan yang dikirim Liam tadi. Ia sangat bingung apakah dia akan menemui Liam atau tidak. Tanpa ia sadari, Reza sudah berdiri di belakangnya. "Apa kamu sedang menunggu Rangga di sini?" tanya Reza membuat Dina terkejut. "Aku...aku hanya..." ucapannya terhenti ketika Reza meminta ponselnya. "Berikan ponselmu padaku. Aku tahu kamu sedang mengirim pesan pada seseorang," ujar Rreza sambil menatap tajam ke arah Dina yang berdiri kaku di depannya. "Kamu salah lihat. Aku tidak sedang mengirim pesan dengan siapapum," jawab Dina gugup. "Ingat! Aku akan menghukummu jika kamu berbohong padaku!" Ancam Reza sambil berusaha untuk merebut ponsel Dina. Tapi beruntungnya, Rangga muncul sehingga Reza mengurungkan niatnya. Tapi saat itu Rangga merasa curiga pada Dina dan Reza karena posisi mereka begitu dekat. "Kak, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rangga. "Aku hanya tidak sengaja lewat dan melihat adik iparku ada di sini." Rangga menarik tangan Dina lalu pamit pada Reza. Reza merogoh ponsel di sakunya dan segera menghubungi asistennya, "carikan nomor teleponnya Liam untukku." Perintahnya. Dalam sekejap Leon mengirimkan pesan berisi nomor ponsel Liam kepada Reza. Terbayang jelas pesan yang dibaca Reza di ponsel Dina tadi. Liam meminta Dina bertemu di sebuah hotel pada jam 9 malam. Reza menatap jam di pergelangan tangannya dan sebentar lagi jam 9 malam. Ia segera menghubungi Dina dan menanyakan di mana keberadaan Dina. "Aku baru saja tiba di rumah," jawab Dina berbohong karena Dina baru saja turun dari mobil Rangga setelah berhasil membodohi Rangga. Reza menatap lokasi keberadaan Dina di ponselnya karena pria itu ternyata memasang pelacak pada ponsel Dina sehingga ia bisa tahu di mana keberadaan Dina. "Beraninya kamu berbohong padaku." Umpatnya sambil memukul setir mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN