Beberapa saat kemudian, Dina sudah tiba di hotel di mana ia janjian dengan Liam. Dengan ragu ia membuka pintu kamar hotel tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Matanya melotot melihat siapa yang sedang duduk dengan melipat kakinya di dalam ruangan itu. Ia hendak berbalik tapi pria itu dengan cepat memanggilnya, "mau ke mana kamu?"
Tatapan mereka bertemu intens, ada ketakutan dan keterkejutan di rasakan oleh wanita itu. Langkahnya terhenti ketika Reza meminta dirinya diam di tempat.
Reza segera berdiri dan menarik tubuh Dina hingga mereka saling berhadapan saat ini. Reza yang selalu kasar, menarik tubuh Dina dan meremas tengkuknya kemudian dengan sengaja menggigit leher Dina bagaikan seorang vampir yang kehausan. Dina meringis kesakitan lalu menatap Reza dengan tatapan penuh ketakutan. Tubuhnya gemetaran di tatap Reza intens. Kemarahan jelas terpancar di wajah pria itu saat ini. "Kamu tahu apa konsekuensinya jika membohongi aku, bukan?"
Dina mengangguk patuh, "aku minta maaf. Aku tidak akan membohongimu lagi," ucap Dina.
"Kamu kesini untuk menemui Liam , bukan?" tanya Reza pada Dina yang masih ketakutan.
Dina berusaha mencari alasan yang tepat kenapa ia ingin menemui Liam agar ia tak dihukum oleh Reza. "Aku di ancam oleh Liam. Dia akan menyebarkan foto-fotoku jika aku tidak menemuinya," ucapnya lalu mengeluarkan beberapa lembaran foto dari dalam amplop berwarna coklat.
Reza memandangi foto-foto itu dan memperhatikannya dengan seksama. "Apa benar perkataanmu ini?" tanya Reza sebelum ia memberi pelajaran pada Liam tentunya.
Dina hanya mengangguk, ia berharap jika Reza akan mempercayainya.
"Apa kamu yakin kamu tidak membohongiku?" tanya Reza sambil menarik rambut Dina hingga kepalanya menengadah ke langit.
"Aku janji," jawab Dina.
Tiba-tiba Reza meraih ponselnya dan segera menghubungi asistennya yang selalu setia padanya, "buat dia mengakui kesalahannya."
Ucapannya adalah sebuah perintah yang harus segera di lakukan. Dalam sekejap, Liam telah di kejar oleh asisten dan anak buah Reza. Namun Liam yang ketakutan, segera melompat dari jembatan yang tinggi. Mereka pikir Liam telah berakhir, tapi nyatanya pria itu masih selamat dan ia berniat untuk menemui Dina lagi sebab ia sangat tertarik pada Dina sejak dulu.
Sementara itu, saat ini di dalam kamar hotel itu, Dina yang panik berusaha menetralkan detak jantungnya.
Tidak mungkin Dina mengatakan semua rahasianya pada pria itu saat ini. Bisa saja mulutnya di jahit Reza, jika ia ketahuan sedang bersandiwara lagi. Ada banyak rahasia dalam hati Dina, tapi ia tak berniat memberitahu Reza. Baginya, hubungan mereka saat ini hanya sebatas teman ranjang. Ia hanya mengikuti perintah Reza ketika pria itu ingin di temani dan selain itu ia juga hanya ingin menjadikan Reza sebagai sarana balas dendamnya. Jadi biarlah ia menyimpan semua rahasia dalam hatinya dan berharap suatu saat jika Reza mengetahui rahasianya itu, pria itu akan memaafkannya.
Reza segera melepaskan rambut Dina dan menarik tubuh wanita itu dan membawanya ke atas ranjang yang ada di dalam ruangan itu. Ia memang selalu b*******h jika melihat Dina dan rasanya tak ingin melepaskan wanita itu begitu saja. Terlalu sayang untuk dilewatkan.
Reza akhirnya mengurung Dina semalam di dalam kamar hotel itu dan melakukan penyatuan dengan wanita itu berulang kali sampai ia puas. Dina tak bisa melawan Reza yang tengah di liputi kabut gairah yang bercampur emosi saat ini, meski tubuhnya telah kelelahan.
Setelah pagi menjemput, Dina segera pulang ke rumahnya dalam keadaan yang lelah. Tapi ketika ia memasuki rumah itu, kakaknya Melisa sedang mendapatkan hukuman dari ibu tirinya karena ia tidak berhasil menggoda Reza. Dina di suruh berlutut sama seperti Melisa saat ini di hadapan wanita angkuh yang gila akan harta dan kuasa itu. Bahkan anak kandungnya tak luput dari hukuman cambuk.
Mirna terkenal dengan didikan kerasnya terhadap anak-anaknya. Tapi dibalik kerasnya didikan wanita itu, ia sebenarnya lebih mencintai harta dan kekayaan serta kekuasaan. "Kau lihat kan, bahkan putriku tak luput dari hukuman jika ia tidak berguna!" ujarnya keras.
Satu cambukkan melayang di punggung Melisa saat itu hingga membuat wanita itu menangis dan meringis kesakitan. Namun Mirna tak memperdulikannya. "Kamu akan tetap menikah meski bukan dengan Reza. Kamu akan menikah dengan Tuan Carlos sebagai gantinya."
"Tidak Bu, Carlos itu pria tua. Mana mungkin aku menikah dengannya," bantah Melisa karena ia akan dinikahkan dengan pria tua.
"Tidak ada yang bisa membantahku!" Bentaknya lalu meninggalkan Melisa dan Dina di ruangan itu.
Dina segera berdiri dan menuntun kakak tirinya itu untuk berdiri dan menuju kamarnya. Ia tahu perihnya kena cambukkan dari Mirna, karena ia sering di cambuk juga oleh wanita tua itu.
Setelah memastikan kondisi Melisa sudah tenang, Dina segera keluar dari kamar Melisa dan masuk ke kamarnya. Ponselnya berdering tanda ada pesan yang masuk.
Reza: {Jam 8 malam ini di mansion ku} bunyi pesan yang dikirim Reza untuknya.
Dina tak membalas pesan itu, ia menarik nafas berat karena setiap kali bertemu pria itu, ia selalu di buat ketakutan.
Dina teringat juga jika dia juga harus menghubungi Liam, karena ia yakin jika Liam masih selamat. "Ayo kita bertemu di kafe dekat hotel. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Dina setelah telepon tersambung.
"Baiklah aku akan datang." Jawab Liam dengan penuh semangat.
Akhirnya Dina segera bersiap dengan dandanan yang cantik dan bergegas menuju kafe di mana ia akan bertemu dengan Liam. Setelah tiba di sana, Dina segera duduk dan mengatur posisinya. Melihat Liam yang berjalan mendekatinya, Dina segera menyalakan kamera untuk merekam apa yang akan terjadi di antara mereka.
Tepat ketika Liam muncul, pria itu langsung berdiri di samping Dina dan menciumi rambut Dina yang harum. "Aku selalu menyukai harum rambutmu ini," ujarnya.
Dina semakin memprofokasi Liam dengan kata-katanya yang membuat Liam geram hingga ia nekat untuk menikmati tubuh wanita itu saat ini. Dina yang berpura-pura ketakutan berteriak ketika Liam mulai menarik tubuhnya dan berusaha menciumnya paksa. Tepat ketika gaun indah yang dipakai Dina koyak, Reza muncul dan langsung meminta asistennya memberi pelajaran pada Liam.
Reza segera mendekati Dina dan menggendong wanita itu dan membawanya ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju mansionnya.
Dina yang awalnya berpura-pura ketakutan akhirnya beneran ketakutan ketika Liam hampir saja menyentuhnya. Jika Reza tidak muncul, maka habislah dia.
Dengan penuh kelembutan Reza menggendong tubuh Dina dan membawanya masuk ke dalam kamarnya dan mulai membersihkan tubuh Dina dari sentuhan Liam.
Reza memang telah mewanti Dina agar tidak ada pria yang boleh menyentuh tubuhnya selain dirinya. Untuk itulah ia merasa perlu membersihkan tubuh Dina dari tangan pria lain. "Aku tidak akan membiarkan pria yang menyentuhmu hidup bebas!"