Dina masih terdiam di atas ranjang besar di mansion milik Reza, tubuhnya terbalut jubah mandi sutra yang diberikan pria itu. Tatapan matanya kosong, meski dalam hatinya berkecamuk perasaan takut dan bingung. Sementara itu, Reza berdiri di dekat jendela kamar dengan ponsel di tangannya, memberi perintah pada asistennya untuk menghabisi Liam secara menyeluruh.
"Pastikan dia tidak bisa lagi mendekati Dina, bahkan jika itu berarti dia harus meninggalkan kota ini selamanya," ucap Reza dengan nada dingin, sebelum menutup telepon dan menatap tajam ke arah Dina.
Dina mengangkat wajahnya perlahan, tatapan Reza menusuk seperti pisau yang menguliti kebohongannya. Dia tahu, apa yang baru saja terjadi di kafe bukanlah kecelakaan. Dina yang merancang segalanya, meskipun dia tidak menyangka rencananya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Jelaskan," ujar Reza dengan suara rendah namun penuh tekanan. "Apa yang sebenarnya terjadi di kafe itu? Kenapa Liam bisa sampai berani melakukan hal seperti itu?"
Dina menelan ludah, berpikir keras mencari alasan yang masuk akal. "Aku hanya ingin memastikan dia tidak lagi mengancamku, jadi aku menemuinya untuk... untuk menyelesaikan semuanya," jawabnya pelan, meski jelas-jelas itu tidak sepenuhnya benar.
Reza berjalan mendekat, langkahnya terukur namun penuh ancaman. Dia berhenti di depan Dina, memegang dagu wanita itu dan memaksanya untuk mendongak. "Apa kau menganggapku bodoh, Dina? Aku tahu kau sedang bermain api. Jika kau tidak segera mengatakan yang sebenarnya, aku akan memastikan kau tidak bisa meninggalkan mansion ini selamanya."
Dina menggeleng panik, tubuhnya gemetaran. "Aku bersumpah, aku tidak berbohong! Liam yang mencoba memanfaatkan aku!"
Reza memicingkan matanya, menelusuri wajah Dina seolah mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, dia tahu Dina lebih pintar daripada kebanyakan wanita. Tidak mudah membaca pikiran wanita ini.
"Aku akan memeriksa sendiri kebenarannya," ujar Reza akhirnya. Dia melangkah ke pintu, tapi sebelum pergi, dia berbalik dan menatap Dina tajam. "Jangan coba-coba meninggalkan mansion ini tanpa izinku. Jika kau melakukannya, konsekuensinya akan jauh lebih buruk daripada yang kau bayangkan."
Setelah Reza pergi, Dina terduduk di atas ranjang. Napasnya tersengal, matanya mulai basah oleh air mata yang selama ini ditahannya. Dia merasa seperti boneka yang terjebak dalam permainan pria itu. Namun, di sisi lain, dia juga tidak bisa memungkiri perasaan lain yang mulai tumbuh di hatinya. Perasaan yang seharusnya tidak ada untuk pria seperti Reza.
---
Sementara itu, di luar mansion...
Reza bertemu dengan asistennya, Raka, yang sudah menunggu dengan laporan lengkap tentang Liam. "Dia masih hidup," lapor Raka. "Tapi dia dalam pelarian. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu untuk melawan kita."
Reza mengepalkan tangan, wajahnya penuh kemarahan. "Aku tidak peduli bagaimana caranya, pastikan dia tidak pernah lagi berani mendekati Dina. Tangani ini secara pribadi, Raka. Aku tidak ingin ada kesalahan."
"Baik, Tuan Reza," jawab Raka sambil menunduk hormat.
---
Kembali ke mansion...
Dina mencoba menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar mansion. Dia tahu, Reza tidak akan membiarkannya pergi begitu saja, tapi dia juga tidak bisa terus-menerus terkurung di dalam kamar.
Saat sedang menikmati angin sore di taman belakang mansion, Dina dikejutkan oleh suara langkah kaki yang mendekat. Ketika dia berbalik, dia melihat seorang wanita cantik dengan penampilan anggun berdiri di depannya.
"Siapa kau?" tanya Dina dengan nada curiga.
Wanita itu tersenyum tipis, namun tatapannya penuh ejekan. "Aku adalah seseorang yang sangat penting dalam hidup Reza. Namaku Larissa."
Dina merasa jantungnya berhenti sejenak. Nama Larissa terdengar familiar, meski Reza tidak pernah menyebutkannya secara langsung. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya hati-hati.
Larissa melangkah mendekat, menatap Dina dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Aku ingin tahu, apa yang membuat Reza begitu tertarik padamu? Kau bukan siapa-siapa, Dina. Hanya seorang wanita biasa tanpa latar belakang yang berarti. Apa kau pikir kau pantas berada di sisinya?"
Dina mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Jika kau punya masalah dengan Reza, bicarakan langsung padanya."
Larissa tersenyum dingin. "Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Kau mungkin berhasil memikatnya sekarang, tapi percayalah, Reza tidak akan pernah serius dengan wanita sepertimu. Dia hanya sedang bersenang-senang. Dan ketika dia bosan, kau akan dibuang seperti sampah."
Ucapan Larissa menusuk hati Dina, meski dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Namun, sebelum dia sempat membalas, suara Reza terdengar dari kejauhan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Larissa?" tanya Reza dengan nada dingin. Dia berjalan mendekat, tatapannya penuh kemarahan.
Larissa tersenyum tipis, seolah tidak terganggu oleh kemarahan Reza. "Aku hanya ingin berbicara dengan... teman barumu ini. Tidak ada yang salah, kan?"
Reza menghampiri Dina, berdiri di depannya seolah ingin melindunginya dari Larissa. "Kau tidak punya hak untuk ikut campur dalam hidupku lagi, Larissa. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."
Larissa tertawa kecil, lalu melangkah mundur dengan anggun. "Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, Reza, kau tidak bisa terus-menerus melarikan diri dari masa lalumu." Dia melirik Dina sekilas sebelum akhirnya pergi.
---
Malam harinya...
Reza duduk di ruang kerjanya, pikirannya penuh dengan berbagai masalah. Kedatangan Larissa hanya menambah beban pikirannya. Dia tahu, wanita itu tidak akan pergi begitu saja. Namun, ada hal lain yang membuatnya lebih terganggu: Dina.
Dia mengingat tatapan ketakutan Dina setiap kali mereka bersama. Meski dia mencoba mengabaikannya, dia tidak bisa menepis perasaan bersalah yang perlahan-lahan tumbuh di hatinya.
Tanpa sadar, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Dina: "Datang ke ruang kerjaku. Sekarang."
Reza memandang Dina yang kini tertidur di atas ranjangnya. Wajahnya yang biasanya penuh amarah kini terlihat lebih tenang. Tangannya dengan lembut menyentuh rambut Dina, seolah ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar aman di sisinya. Namun, di balik tatapan lembut itu, pikirannya dipenuhi rencana balas dendam terhadap Liam.
Dina menggeliat pelan dalam tidurnya, bibirnya bergerak tanpa suara. Reza mendekatkan diri, berbisik lirih, "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi." Namun, janji itu bukan hanya karena cintanya, melainkan juga karena obsesi yang kian mendalam terhadap wanita itu.
Ketika Dina akhirnya terbangun, ia merasa tubuhnya lelah, tapi ia tak bisa mengabaikan tatapan tajam Reza yang menghujam dirinya. "Kamu tahu konsekuensinya jika ada pria lain yang berani mendekatimu, bukan?" suara Reza terdengar dalam, penuh ancaman. Dina hanya mengangguk lemah, menyadari bahwa ia telah menjadi milik pria itu, baik tubuh maupun hatinya.
Namun, di balik sikap dominan Reza, Dina menyimpan ketakutan dan rahasia yang lebih besar. Ia tahu bahwa suatu saat, jika Reza mengetahui semuanya, dunianya akan runtuh. Tapi malam ini, ia hanya ingin bertahan hidup, mengikuti alur permainan Reza yang tak pernah bisa ia kendalikan.
---
Bersambung...