Kenikmatan Sesudah Hukuman

1010 Kata
Dina berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dingin di rumah ibu tirinya. Tangannya gemetar, tapi ia menegarkan diri. Pikirannya penuh dengan bayangan kakaknya yang terbaring lemah di ruangan isolasi. Dokter mengatakan bahwa kakaknya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi pengobatan intensif masih dibutuhkan. Ketika Dina membuka pintu ruangan kakaknya, ia berdiri di tepi ranjang, matanya berkaca-kaca menatap wajah kakaknya yang pucat. Dina meraih tangan kakaknya yang dingin, menciuminya dengan penuh kasih. “Kak, aku berjanji akan menyembuhkanmu. Aku akan melakukan apa saja,” bisiknya dengan suara bergetar. Namun, momen itu tak berlangsung lama. Ketika Dina keluar dari ruangan, ibu tirinya telah menunggu di lorong. Tatapan wanita itu penuh kebencian. “Beraninya kau masuk tanpa izin!” bentaknya. Dina tidak sempat membela diri ketika dua pelayan langsung menyeretnya ke aula besar. Di sana, cambuk berlapis kulit telah menunggu. Dina berusaha melawan, tetapi sia-sia. Cambukan bertubi-tubi mendarat di punggungnya, membuatnya menjerit kesakitan. Saat tubuhnya lemah dan hampir ambruk, ibu tirinya mendekat, mencengkeram rahangnya kasar. “Kau mau menebus kesalahanmu?” tanya ibu tirinya dengan senyum dingin. Dina hanya mengangguk, air matanya bercucuran. “Baik. Besok kau akan menjalankan tugas yang aku tentukan. Jika gagal, aku pastikan kakakmu tak akan mendapat pengobatan lagi,” ujar wanita itu penuh ancaman. Namun, ibu tirinya tidak mengatakan apa tugas itu. Dina hanya bisa meringkuk di lantai, tubuhnya penuh luka, menunggu hari esok yang kelam tanpa kepastian. Dina mengangguk dengan lemah di hadapan ibu tirinya. Tubuhnya masih terasa perih dari cambukan semalam. Namun, ia meneguhkan hati. Demi kakaknya, ia rela melakukan apa saja. “Aku akan melakukan tugas itu. Tapi tolong, tetap lanjutkan pengobatan kakakku,” pintanya dengan suara serak. Ibu tirinya menyipitkan mata, seolah menimbang-nimbang kesungguhan Dina. “Baik. Tapi jika kau gagal, aku tidak akan segan-segan menghentikan pengobatan itu. Kakakmu bisa menderita lebih lama atau bahkan…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi ancamannya sudah jelas. Dina mengangguk lagi, menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya. Dina kembali bertemu dengan Reza atas permintaan pria itu. Hatinya dipenuhi kegelisahan, bukan hanya karena tugas yang menanti, tetapi juga rasa takut Reza akan mengetahui apa yang telah terjadi semalam. Di ruang kerja Reza yang megah, pria itu duduk di belakang meja besar, mengamati Dina dengan mata tajam seperti biasa. Dina berdiri di depannya, tangannya tersembunyi di balik punggung. “Kau terlihat aneh hari ini, Dina,” ujar Reza dingin, namun matanya memancarkan kecurigaan. “Aku tidak apa-apa,” jawab Dina, berusaha terlihat tenang. Namun, tatapan Reza semakin tajam. Ia bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat, membuat Dina semakin gugup. “Katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi?” tanyanya, nada suaranya lebih serius. Dina menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja.” Namun, Reza tidak mudah percaya. Dalam sekejap, tangannya meraih tangan Dina yang disembunyikan di balik punggung. Dina tersentak, mencoba menarik tangannya, tetapi Reza terlalu kuat. Tatapan Reza berubah ketika melihat jari-jari Dina yang memar dan membengkak. Bekas luka di punggung tangannya juga masih terlihat jelas. “Apa yang terjadi pada tanganmu?” tanya Reza, matanya menyipit. “Tidak apa-apa. Aku hanya… terkena air panas tadi pagi,” jawab Dina tergagap, mencoba menghindari konfrontasi. Namun, Reza bukan pria yang mudah dibohongi. Ia menatap Dina tajam, seolah ingin menembus kebohongannya. “Dina, kau pikir aku bodoh? Katakan yang sebenarnya, sekarang.” Dina terdiam, tubuhnya gemetar. Ia tahu, berbohong pada Reza hanya akan memperburuk keadaan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata dengan suara pelan, “Ini… ini karena ibu tiriku. Dia menghukumku semalam.” Mata Reza menyala penuh amarah. Rahangnya mengeras, dan genggamannya pada tangan Dina semakin erat, meskipun ia berusaha untuk tetap lembut. “Dia melukaimu? Seperti apa hukumannya?” Dina menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Jangan khawatirkan aku.” Namun, ucapan itu hanya membuat Reza semakin marah. Ia menarik Dina untuk duduk di sofa di sudut ruangan, lalu mengambil kotak P3K dari laci meja kerjanya. Tanpa berkata-kata, ia mulai membersihkan luka di tangan Dina dengan hati-hati. Dina terdiam, hatinya berdebar melihat sisi lembut Reza yang jarang ia tunjukkan. Pria itu biasanya begitu dingin dan mendominasi, tetapi kali ini ia menunjukkan perhatian yang berbeda. “Berhenti mengatakan bahwa kau baik-baik saja, Dina,” ujar Reza akhirnya sambil membalut tangan Dina dengan perban. “Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, bahkan jika itu keluargamu sendiri.” Dina hanya bisa menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia ingin berkata banyak, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Setelah selesai membalut luka Dina, Reza duduk di hadapannya. Tatapannya berubah, dari penuh amarah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan intens. Tanpa peringatan, ia mendekatkan wajahnya ke Dina. “Reza… apa yang kau...” Sebelum Dina sempat menyelesaikan kalimatnya, Reza sudah mencium bibirnya. Ciuman itu lembut pada awalnya, tetapi perlahan berubah menjadi penuh gairah. Dina membeku, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun, semakin lama, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa ia tolak. Tangan Reza yang besar memegang wajah Dina dengan lembut, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa wanita itu tidak akan lari darinya. Dina akhirnya menyerah, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman itu. Ketika ciuman itu berakhir, Reza menatapnya dengan mata yang berkilat. “Dina, kau milikku. Tidak ada yang berhak menyakitimu, termasuk ibu tirimu. Jika dia berani melakukannya lagi, aku tidak akan tinggal diam.” Dina terdiam, wajahnya memerah. Hatinya bergejolak, tetapi ia tahu bahwa hidupnya akan semakin rumit jika terus berada di bawah bayang-bayang Reza. Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa bersyukur karena setidaknya ada seseorang yang peduli padanya, meskipun pria itu penuh dengan sisi gelap yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Reza menarik Dina ke dalam pelukannya. Tatapannya membara penuh gairah. Dalam keintiman yang memabukkan, ia membawa Dina dalam percintaan panas. Reza menelusuri seluruh inci tubuh Dina yang kini polos di hadapannya. Dina ingin sekali melawan sentuhan Reza, tapi tubuhnya tidak bisa menolaknya. "Apa yang terjadi denganku. Kenapa aku tidak bisa menolaknya?" gumamnya. Setiap sentuhan Reza membuat Dina kehilangan akal sehatnya. Baginya Reza seperti candu yang tak bisa ia hindari. Meski ia tahu hubungan mereka berbahaya. "Dina, kau membuatku gila," bisik Reza tepat di telinga Dina. "Aku tak bisa sehari pun tidak menyentuhmu." Ucapnya sambil terus menghujami tubuh Dina dengan kecupan-kecupan basah yang membangkitkan gairah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN