Dina terbangun di pagi itu dengan perasaan kosong yang menggumpal di d**a. Cahaya matahari menyusup melalui jendela kamarnya yang kecil dan suram, memantul di dinding kusam. Tubuhnya masih terasa nyeri, bukan hanya karena cambukan ibu tirinya semalam, tetapi juga perasaan hampa yang ia rasakan setelah pertemuannya dengan Reza.
Kehangatan sentuhan pria itu masih membekas, dan pikirannya terus mengulang-ulang momen ketika Reza berjanji untuk melindunginya. Tapi Dina tahu dunia tidak sebaik itu. Perlindungan selalu datang dengan harga. Dan Dina tak mau bergantung pada siapapun. Dia harus kuat. Demi kakaknya.
Dengan langkah berat, Dina keluar dari kamar dan menyusuri lorong panjang yang sunyi. Ibu tirinya telah menunggu di meja makan, duduk angkuh dengan senyum tipis yang selalu membuat Dina waspada.
“Kau akan menemui Tuan Hadi siang ini,” ucap wanita itu dingin, menyisipkan kopi di cangkir porselen mewahnya.
Dina mengernyit. Tuan Hadi? Nama itu tidak asing, pengusaha tua yang terkenal licik dan kotor. Jantungnya berdebar tak nyaman. “Untuk apa aku menemui Tuan Hadi?”
Senyum ibu tirinya melebar. “Dia akan membantuku menyelesaikan sebuah urusan. Kau hanya perlu mendengarkan apa yang dia katakan dan melakukan tugasnya dengan baik. Jika tidak…” Tatapan wanita itu menusuk, “…kau tahu nasib kakakmu, bukan?”
Dina menggigit bibirnya. Ibu tirinya tidak pernah berkata langsung, tetapi ancamannya sudah cukup jelas. Kakaknya adalah kelemahan terbesarnya, dan wanita itu memanfaatkan itu dengan sempurna.
Dina hanya bisa mengangguk. “Baik, Bu.”
---
Siang itu, Dina berdiri di depan sebuah gedung megah milik Tuan Hadi. Perutnya terasa mual saat membayangkan apa yang akan terjadi. Namun ia menegakkan bahu, mengingat janji pada kakaknya.
Saat Dina melangkah masuk, ia disambut oleh sekertaris yang langsung membawanya ke ruang pertemuan. Pintu besar itu terbuka, dan di dalamnya duduk seorang pria tua dengan perut buncit, wajahnya dipenuhi senyum licik.
“Tuan Hadi,” suara Dina bergetar. “Saya disuruh menemui Anda.”
Tuan Hadi mengangguk, lalu meneliti Dina dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan penuh arti. “Kau memang pantas untuk tugas ini.”
Dina mengepalkan tangan, menahan rasa muak. “Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya langsung.
Pria itu tertawa kecil. “Tenang, Nona Dina. Kau hanya perlu menemani beberapa tamuku malam ini. Itu saja. Berpakaianlah cantik dan bersikaplah manis. Jika kau berhasil, ibumu akan mendapatkan semua yang dia mau.”
Dina tertegun. “Menemani tamu? Apa maksud Anda?”
Tuan Hadi tersenyum miring. “Tidak perlu bertanya. Lakukan saja tugasmu.”
Hati Dina mencelos. Ia tahu, tugas itu bukan hal baik. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahan diri. Jika ia menolak, ibu tirinya pasti akan menghentikan pengobatan kakaknya.
“Baik, Tuan,” jawabnya lirih, sebelum ia melangkah keluar dengan langkah berat.
---
Reza sedang menunggu di kantor saat ponselnya berbunyi. Nama Dina muncul di layar, membuat dahinya berkerut. Dina jarang menghubunginya terlebih dahulu.
“Dina?” jawab Reza cepat. “Ada apa?”
Di ujung sana, suara Dina terdengar pelan. “Reza, bisakah kita bertemu sekarang?”
Reza langsung menangkap nada suara Dina yang tidak biasa—ada ketakutan di sana. “Aku akan menjemputmu. Beri tahu aku di mana kau sekarang.”
---
Dina duduk di bangku taman kecil, angin sore menerpa wajahnya. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi kebingungan. Apa yang harus ia lakukan? Tiba-tiba, mobil mewah milik Reza berhenti di depannya. Pria itu keluar, mengenakan jas rapi seperti biasa, lalu berjalan cepat menghampiri Dina.
“Ada apa? Kau terlihat pucat,” ujar Reza sambil duduk di sampingnya.
Dina menunduk, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Reza… jika seseorang meminta sesuatu yang bertentangan dengan hatimu, tapi kau tak punya pilihan lain, apa yang harus kau lakukan?”
Reza mengernyit, menatap Dina dengan tajam. “Siapa yang memaksamu? Apa yang terjadi?”
Dina menggeleng. “Tidak penting. Lupakan saja.”
Namun Reza menangkap pergelangan tangannya. “Dina, aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Jangan membuatku marah.”
Dina menatap mata Reza, dan di sana ia melihat ketulusan yang jarang ia temui dari orang lain. Setelah menarik napas dalam, ia mulai bercerita. Tentang ibu tirinya, tentang ancaman pengobatan kakaknya, dan tentang tugas yang diberikan Tuan Hadi.
Reza mendengarkan dengan rahang mengeras, tatapannya gelap penuh amarah. “Jadi wanita itu menyuruhmu melakukan hal itu? Demi keuntungan bisnisnya?”
Dina mengangguk pelan. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Reza berdiri, ekspresinya tak terbaca. “Kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku yang akan menyelesaikan ini.”
Dina terkejut, ikut berdiri. “Tidak, Reza! Jika kau ikut campur, ibu tiriku akan menghentikan pengobatan kakakku!”
Reza berbalik, menatapnya tajam. “Dina, aku tidak peduli siapa yang kau hadapi. Tidak ada yang boleh memperlakukanmu seperti ini.”
“Tapi…”
Reza mendekat, menggenggam bahu Dina erat. “Percayalah padaku. Aku akan memastikan kakakmu tetap mendapat pengobatan, dan ibu tirimu tidak akan menyentuhmu lagi.”
Dina menatap mata Reza yang serius, hatinya diliputi kebimbangan. Reza adalah pria berbahaya, tetapi di saat yang sama, ia adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa aman.
---
Malam itu, Tuan Hadi menunggu di ruang pertemuan hotel mewah, tetapi Dina tidak pernah datang. Sebaliknya, yang datang adalah Reza, dengan tatapan tajam dan senyum yang mematikan.
“Tuan Hadi,” ujar Reza dingin. “Mulai sekarang, Anda tidak akan berurusan lagi dengan Dina atau keluarganya.”
Tuan Hadi tersentak. “Apa maksud Anda? Ini bukan urusan Anda!”
Reza mendekat, suaranya rendah namun penuh ancaman. “Aku bisa menghancurkan bisnis Anda dalam semalam. Jika Anda berani mendekati Dina lagi, Anda akan menyesal. Anggap ini peringatan terakhir.”
Tuan Hadi terdiam, wajahnya pucat. Ia tahu, ancaman Reza bukanlah sekadar gertakan.
---
Keesokan harinya, Dina terbangun dan mendapati ibu tirinya di ruang tamu, wajahnya marah besar.
“Apa yang kau lakukan semalam? Tuan Hadi membatalkan semua kerjasama dengan kita!” bentaknya.
Dina menggeleng, bingung. “Aku tidak melakukan apa-apa.”
Ibu tirinya mendekat dengan tatapan penuh kebencian. Namun sebelum wanita itu sempat bicara lagi, seseorang mengetuk pintu.
Ketika pintu terbuka, Reza berdiri di sana, dengan tatapan tajam yang langsung membuat ibu tiri Dina mundur selangkah.
“Apa… apa yang kau lakukan di sini?” tanya wanita itu gugup.
Reza menatapnya dingin. “Saya hanya ingin memastikan bahwa mulai sekarang, Anda tidak akan menyentuh Dina lagi. Dan pengobatan untuk kakaknya akan saya tanggung sepenuhnya.”
Ibu tirinya tertegun. “Kau tidak punya hak...”
“Saya punya semua hak ketika menyangkut Dina,” potong Reza. Ia lalu menoleh ke Dina, yang berdiri terpaku di tengah ruangan. “Kau akan ikut denganku sekarang.”
Dina menatap Reza dengan mata berkaca-kaca. “Reza…”
“Percayalah padaku,” ujar Reza lembut.
"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, maka aku akan membuatmu menyesal!" Ancamnya.