Pengkhianatan Sang Kekasih

810 Kata
Langit malam semakin gelap, seperti menggambarkan suasana hati Dina yang bergejolak. Pemandangan yang baru saja ia saksikan di club malam itu menghantam hatinya tanpa ampun. Bayangan Rangga, calon suaminya, tengah berciuman mesra dengan seorang wanita yang sangat ia kenal terus berputar di pikirannya, mencabik-cabik perasaannya. Dina berdiri di trotoar, tubuhnya gemetar menahan tangis. Ia merasa hancur, terluka, sekaligus marah. Udara dingin malam itu terasa menusuk, tapi tidak lebih tajam dari rasa pengkhianatan yang kini menguasai dirinya. Di sisi lain, Reza berdiri beberapa langkah darinya, menatap Dina dengan ekspresi datar. Namun, mata pria itu memancarkan sesuatu yang sulit dibaca, campuran antara iba dan ketertarikan. Tapi juga merasa terganggu dengan apa yang telah ia nikmati dari Dina tadi. "Aku sudah memperingatkanmu," suara Reza terdengar dingin, namun menusuk. "Tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan." Dina menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang siap tumpah. Ia menoleh ke arah Reza, menatapnya dengan tatapan penuh emosi. "Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu harus menunjukkan penghianatan itu padaku?" Reza menyandarkan tubuhnya ke dinding, senyumnya tipis tapi menusuk. "Karena aku ingin kamu sadar siapa dia sebenarnya. Lebih baik sakit sekarang daripada terlambat." Dina ingin membalas ucapan Reza, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia tahu Reza benar. Rangga telah menunjukkan sisi aslinya. “Aku mau pulang,” gumam Dina akhirnya, mencoba memulihkan kendali dirinya. Namun, saat ia melangkah pergi, Reza menangkap lengannya. Gerakan itu tidak kasar, tapi cukup kuat untuk menghentikannya. Dina mendongak, menatap pria itu dengan tatapan bingung dan kesal. “Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku tadi, ” ujar Reza, nada suaranya penuh ketegasan. “Masuk ke mobilku.” Dina ingin menolak, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk membantah. Ia akhirnya menurut, berjalan menuju mobil Reza tanpa mengatakan apa pun. --- Di dalam mobil, keheningan terasa begitu tegang. Dina memandang keluar jendela, mencoba mengabaikan keberadaan Reza. Sementara itu, Reza terus mencuri pandang ke arah Dina melalui kaca spion. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik,” ujar Reza tiba-tiba, memecah keheningan. Dina menoleh dengan mata memerah, menatap Reza dengan tajam. “Jangan sok tahu tentang hidupku.” Reza tertawa kecil, namun suara itu terdengar dingin. “Aku tidak sok tahu, Dina. Aku hanya tahu bahwa kamu terlalu baik untuk pria seperti Rangga.” Ucapan itu, meski menyakitkan, membuat hati Dina bergetar. Namun, ia memilih untuk tetap diam. --- Malam itu terasa panjang bagi Dina. Setelah tiba di mansion keluarga Ardelino, Dina menuju kamarnya, membawa hati yang terasa berat. Namun, pikirannya terus dipenuhi bayangan ucapan ibu tirinya sebelum ia pergi ke club malam tadi. “Pastikan Rangga tetap setia padamu,” ujar ibu tirinya dengan nada tajam. “Buat dia benar-benar milikmu. Jika tidak, kamu tahu apa yang akan terjadi.” Dina tahu apa maksudnya. Ibu tirinya ingin ia merayu Rangga dan memastikan pria itu berkomitmen padanya. Namun, kini semuanya berubah. Rangga telah mengkhianatinya, dan ia tidak punya cara untuk menyelamatkan diri dari kemarahan wanita itu. Tapi kemudian, bayangan Reza muncul di benaknya. Dina tahu bahwa Reza bukan pria yang bisa dengan mudah dimanfaatkan. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Dengan tekad yang rapuh, ia melangkah keluar kamar dan menuju ruang kerja Reza. --- Reza sedang duduk di kursinya, membaca dokumen, ketika pintu diketuk. Ia menoleh, sedikit terkejut melihat Dina berdiri di ambang pintu. “Dina,” panggilnya. “Ada apa?” Dina melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri di depan meja Reza dengan ekspresi ragu, namun ada tekad yang jelas di matanya. “Aku butuh bantuanmu,” ucap Dina pelan, tapi tegas. Reza mengangkat alisnya, tertarik. “Bantuan apa?” Dina menggigit bibirnya, mencoba mengumpulkan keberanian. “Aku ingin kamu tidur denganku malam ini.” Reza terdiam. Ucapan Dina membuat suasana berubah tegang. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati gadis itu dengan tatapan intens. “Kenapa?” tanyanya, suaranya rendah namun penuh tekanan. Dina menunduk, air matanya hampir jatuh. “Aku tidak bisa menjelaskan. Aku hanya… aku butuh bantuanmu.” Reza memiringkan kepalanya, menatap Dina dengan pandangan tajam. “Dan kamu pikir aku akan setuju begitu saja?” Dina mendongak, menatapnya dengan mata yang penuh harapan dan ketakutan. “Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan.” Reza mendekatkan wajahnya, berbicara dengan nada yang hampir seperti bisikan. “Kalau aku setuju, itu akan mengubah segalanya. Apa kamu siap untuk itu?” Dina tidak menjawab. Ia tahu ini gila, tapi ia tidak punya pilihan lain. Reza menyentuh dagu Dina dengan lembut, memaksanya untuk menatapnya. “Kamu milikku, Dina. Setelah malam ini, tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Apakah kamu mengerti?” Dina menelan ludah, tubuhnya gemetar di bawah tatapan Reza. Ia hanya bisa mengangguk, menyerahkan dirinya pada pria yang baru saja mengubah takdir hidupnya. Ia ingin sekali lari dari kamar itu, tapi ada misi yang harus ia kerjakan. Dina memejamkan mata ketika Reza dengan posesifnya mencium bibirnya. "Ummm...." desahan tertahan Dina ketika Reza menghisap kuat bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN