Pagi itu, suasana di rumah terasa berbeda. Dina menatap Reza yang berdiri di depan jendela ruang kerja dengan pandangan tajam, mengenakan setelan abu-abu gelap yang memancarkan aura kekuasaan. Di tangannya, ia menggenggam secangkir kopi, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya sedang melayang jauh. Dina, yang berdiri tak jauh darinya, merasa seolah melihat dua sisi Reza. Pria itu terkadang begitu lembut, tetapi ada sisi lain yang dingin dan penuh perhitungan. Ia tahu betul bahwa Reza bukan orang yang mudah didekati, apalagi dipahami. Namun, semakin lama ia berada di sisi pria itu, semakin ia merasakan tarikan kuat yang tak bisa ia abaikan. "Reza," panggil Dina dengan hati-hati. Reza menoleh perlahan, menatapnya dengan mata yang seolah bisa menembus pikirannya. "Apa?" "Aku tah

