TETANGGA MERESAHKAN (6)
Sari memergoki Mita meletakkan piring bekasnya ke dalam tempat cucian piring tanpa mencucinya.
"Mbak, cuci sekalian! Piring yang kamu pakai itu milik saya!"
"Bukannya milik kos?" tanyanya.
"Mana ada kos menyediakan alat makan, gak papa kalau kamu mau pakai, pakai saja, asal setelahnya bereskan kembali, kemarin kamu bikin kopi, kan, dan sendoknya kamu letakkan di atas kompor?"
"E-enggak, bukan aku kali!"
"Siapa lagi, masak iya, Ismi? Ismi punya kompor sendiri selama lima tahun bertetangga gak pernah dia makai barang orang!" kata Sari berapi-api.
Mita diam, dia mencuci piringnya, "eh, sekalian itu semua cuci!"
"Enak aja nyuruh saya!"
"Lah, gak nyuruh kamu mau nyuruh Pak RT? Itu cucian piring kamu beberapa minggu yang lalu! Jangan pura-pura lupa! Kalau semua kamu kumpulkan di situ kasihan yang lain kalau makan gak ada piring, masak iya mau make daun pisang!" tegas Sari.
Mita merengut kemudian membungkus tangannya dengan kresek dan mencuci semuanya.
"Kamu sendiri saja jijik apa lagi yang lain! Hidup bertetangga jangan kebangetan joroknya, Mbak!" Sari meninggalkan Mita dengan perasaan puas. Mita kesal bukan main merasa dirinya diintimidasi.
***
Yuda jatuh terjungkal akibat terpeleset air dari dalam kamar mandi yang meluber keluar, ternyata Cindy sedang main air dan sabun di kamar mandi.
"Heh, matiin kerannya!" gertak Yuda.
Cindy tetap asik bermain dengan air dan busa-busanya, Yuda curiga jangan-jangan shamponya menjadi korban lagi, dia berdiri sambil memegangi pinggangnya kemudian melihat alat mandinya masih aman, ternyata Cindy menggunakan detergen miliknya. Yuda meremas rambutnya kesal.
"Jangan mainan detergen, amit-amit jabang bayi bandel banget sih, jadi anak!"
"Cuma dikit, kok!" jawab Cindy.
"Apaan sih, marah-marahin anak orang terus!" Mita berkacak pinggang di depan Yuda.
"Lihat! Kemarin shampo sekarang detergen, bangkrut saya lama-lama! Mana air meluber kemana-mana bikin saya kepleset, bilangin dong anaknya!"
"Eh, meluber dikit aja tinggal dikasih kain, salah sendiri gak hati-hati main nyalahin anak orang! Berapa harga detergen main marahin anakku, tak ganti?!"
"Yaudah ganti detergenku! Lagian apa gak kasihan sama yang punya kos, tiap hari terbuang sia-sia?"
"Iya, nanti aku ganti! Orang dewasa di sini gak ada yang waras, anak kecil polos dimusuhin! Memang gila kalian semua!"
Yuda kesal sekali, sudahlah tanggal tua, detergennya habis dibuat mainan anak orang, kepleset, dimaki emak-emak pula! Dia mempunyai ide cemerlang, diambilnya sikat gigi milik Mita kemudian dicelupkan ke WC, Yuda tertawa jahat.
"Sukurin, lu!"
***
Ismi terganggu sekali dengan lalat yang berterbangan mengeroyok buah potong yang sudah busuk di dalam piring depan kamar Mita. Dia mengambil kresek lalu membungkus serta bersama piringnya dan melemparnya ke dalam tong sampah.
Dengan santainya, Mita berjalan menggunakan sendalnya di teras kamar Sari hingga ke kamar miliknya yang berada paling ujung.
"Mbak, lepas sendalnya di bawah, dong! Takutnya najis kalau habis wudhu nanti!" tegurnya.
"Ribet amat! Mbak kira sendal saya najis?"
"Saya kan bilang takutnya, lagian apa gak kasihan sama yang nyapu?"
"Ribet!" Mita masuk ke dalam kamarnya tanpa rasa bersalah. Cindy malah melet-melet di depan Ismi seperti sengaja mengejeknya. Ismi geram sekali, dia langsung menyapu terasnya kemudian bermain dengan Nando melihat ikan lele di empang.
"Tante, Cindy ikut!" Cindy berlari mengekori ibu dan anak tersebut. Ismi menghiraukan bocah itu. Nando asik melihat ikan-ikan berukuran tanggung, Cindy melemparkan batu ke dalam kolam.
"Eh, Cindy jangan begitu, nanti dimarahin Pak Umar, lho!"
"Gak takut!" jawabnya.
"Kamu belum mandi, Cin?"
"Sudah!"
"Dimandiin mama?"
"Enggak, Cindy udah besar mandi sendiri," jawabnya. Ismi memandang Cindy miris, kuncirannya awut-awutan dengan karet nasi, rambutnya berbau apek, belakang telinganya nampak tebal dengan daki, pakaiannya lusuh, kakinya terdapat bekas garukan karena kulitnya kering hingga membentuk garis putih.
***
Mita menyimpan nomor telepon para tetangganya lewat grup WA kos. Dia tersenyum menyimpan nomor Boby dan Fahmi.
[Hai, Mas!] Mita mengirim pesan singkat kepada Fahmi.
Fahmi sedang istirahat, dia mengernyit melihat foto seorang perempuan cantik.
"Nomor siapa ini?" gumamnya.
[Siapa, ya?]
[Mita mamanya Cindy, Mas.]
[Oh, ada apa?]
[Save nomor aku, ya, Mas!] Fahmi terkekeh ternyata foto dengan wujud aslinya sangat berbeda jauh.
[Ok!] balasnya singkat, padat, jelas dan malas. Mita sengaja menunggu Fahmi di pinggir jalan raya, dia suka sekali dengan laki-laki sok jual mahal seperti Fahmi.
Selama satu jam dia menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.
"Mas, tunggu!"
Fahmi mengerem mendadak motornya, "ada apa, Mbak?"
"Bareng, ya! Udah malam gak ada ojek, jalan juga lumayan jauh, takut Cindy keburu bangun!"
Fahmi mendesah, dia melirik jam tangannya, tepat jam sebelas malam, andaikan ditinggal kasihan, kalau dibarengi pasti dia mendapat masalah. Tanpa menunggu persetujuan Fahmi, Mita naik ke atas jok motor Fahmi, dia memeluk pinggang Fahmi, spontan Fahmi berdiri dan menghindar, Mita terlanjur bersandar langsung terjungkal dari atas motor, Fahmi mematung beberapa detik, kemudian menahan tawa sambil membantunya berdiri.
"Sakit kali, Mas!"
Siku Mita sedikit lecet, kebetulan Bejo, teman kerjanya, lewat.
"Jo, sini!"
"Apa?"
"Anterin tetanggaku pulang, ya! Aku mau ke pom bensin!"
Mita mendelik kesal, Bejo tersenyum sambil mengangguk, "ayo, Mbak!"
"Mas Fahmi! Aku ikut ke pom aja, deh!"
"Maaf, Mbak! Eh, siapa tahu kalian berjodoh, Bejo masih perjaka ting-ting, lho, Mbak!" teriak Fahmi sambil menarik gasnya. Bejo mesam-mesem perjaka berusia tiga puluh tujuh tahun itu tersenyum malu-malu sedangkan Mita terpaksa naik ke atas motornya, dia menjaga jarak dengan Bejo, dengan cara duduk di besi ujung motor.
***
Cindy menangis kencang, dia menginjak tawon dan tersengat hingga kakinya membengkak. Ismi dan Santi berlari ke kamar Mita.
"Kenapa, Cin?"
"Kaki Cindy sakit, huwaaa!" Sari mengambil sendal dan memukul tawon tersebut hingga mati.
Ismi dan Sari menghela napas melihat pemandangan yang membuat mereka terheran-heran, baju tergeletak di atas kasur tanpa sprei, lantainya berpasir, aroma tak sedap menguar dari perpaduan iler, ompol, dan baju-baju kotor.
"Kenapa nangis?" tanya Mita dengan hanya menggunakan handuk, dia baru saja selesai mandi.
"Kakinya tersengat tawon, Mbak," jawab Ismi.
Mita langsung mengambil minyak tawon dan mengoleskannya pada telapak kaki Cindy. Bocah itu masih meraung-raung kesakitan.
"Pagi-pagi bikin heboh saja!" gerutunya.
Sari dan Ismi saling pandang, kemudian membubarkan diri.
"Anak tersengat tawon cuma gitu aja reaksinya?" tanya Ismi.
"The real emak-emak santuy, Sar!"
Mita masih menggunakan handuknya kemudian duduk di depan pintu kamar, dioleskannya body lotion secara merata ke seluruh tubuhnya.
Yuda baru pulang kerja, melihat pemandangan itu hanya menunduk.
"Hai, Om Yuda, calon papa barunya Cindy, pulang kerja penuh keringat gitu jadi bikin anu, deh!" godanya.
"Apa sih, Mbak."
"Gemes, deh, jadi pengen cepet dihalalin," kata Mita sambil mengedipkan mata. Yuda mengangkat satu alisnya dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
"Ada perempuan model gitu bukannya napsu malah geli!" gumamnya.
Mita tertawa melihat Yuda, dia menyuruh anaknya meminjam carger kepada Yuda.
"Om, pinjam cas HP!"
"Masih dipakai!"
"Ih, buruan!"
"Ngerti nanti gak, sih! Om masih makan!"
"Makan apa, Om?" Cindy melihat nasi bungkus Yuda kemudian beralih ke kresek yang berisi minuman jeruk hangat.
Srupuuuut! "Aaahh!"
Yuda mengunyah kuat-kuat makanannya kemudian mengusir bocah itu pergi dengan membawa jeruk hangatnya.
"Kebiasaan! Bawa pulang sono! Gak doyan gue bekas lu!"
Cindy melompat-lompat di depan kamarnya sambil membawa minumannya kemudian tumpah, dia menangis, dan Yuda puas melihat itu.
"Kenapa nangis?" tanya Yuda.
"Tumpah, huwaaa, beliin lagi!" Cindy duduk di atas tumpahan minuman itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"Minta emak lu sono, ngapain minta ke gue!" Cindy terus menangis Yuda mencubit pelan paha Cindy. Cindy semakin guling-guling, Yuda membanting pintunya keras.
Mita sedang teleponan di bawah pohon mangga langsung berlari menghampiri anaknya yang basah kuyup.
***
Sari menyuapi Aqil makan sambil melihat ikan di empang, setiap sore banyak sekali pedagang aneka jenis jajanan lewat depan kos merek karena di ujung gang terdapat tempat mengaji anak-anak.
"Buk, anaknya belum bayar," kata seorang penjual pentol bakar.
"Anak saya makan ini, Pak, kapan belinya?"
"Bukan, yang cewek, tadi masuk ke dalam kos situ."
"Bukan anak saya, Pak! Bentar saya panggil mamanya dulu!" ujar Sari kesal. Bisa-bisanya dia dianggap mamanya Cindy. Pantas saja dari tadi bapaknya tidak kunjung pergi.
Sari menuntun Aqil ke dalam halaman kos, dan memanggil Mita yang sedang asik dengan ponselnya.
"Mbak Mita, Cindy belum bayar pentolnya, ditungguin sama yang jual, tuh!"
"Loh, kirain sudah dibayar, gimana sih, Mbak, ngajakin anak orang jajan tapi gak dibayarin!" gerutunya sambil mengambil uang lima ribu rupiah dan memberikan kepada Sari.
"Eh, kenapa dikasih ke saya?"
"Bayarin aku lagi repot!"
Sari melempar uangnya kepada Mita kemudian menggendong Aqil pulang.
"Punya tetangga sinting!" gerutunya.
***