Bab 7

1425 Kata
TETANGGA MERESAHKAN (7) Dua hari suasana kos aman terkendali, itu karena si janbol alias janda bolong Mita pulang kampung, walaupun dia memboyong serta beras milik Sari dan minyak goreng milik Ismi, setidaknya dua hari mereka dapat menghirup udara bebas tanpa polusi dari kelakuan ajaib ibu beranak itu. Konon kabarnya, Mita menikah karena dijodohkan di kampungnya dengan seorang duda, Ismi dan Sari semakin lega mendengar kabar tersebut. Mereka berharap gosip itu benar adanya sehingga mereka bisa hidup aman sentausa dan bahagia bersama keluarga masing-masing. "Ma, rumah kita sudah siap huni, kapan, ya, kita pamit?" ujar Fahmi. "Titipin kunci ke Mas Saipul aja, Mas." "Iya, aku udah gak sabar pengen nempatin rumah baru kita," kata Fahmi. "Apa lagi aku, Mas, kasihan sama Aqil setiap hari harus sempit-sempitan di kamar kos ini." "Iya, Ma, nanti sore kita beres-beres, ya! Biar cepet rapinya." Sari mengangguk sumringah. Mereka telah lama menabung, agar rumah impiannya berdiri. Mereka rela mengencangkan ikait pinggang agar rumah sederhana mereka segera terwujud. Sari tersenyum lebar melihat rumah minimalis berukuran enam kali tujuh meter dengan bangunan didominasi warna putih itu. Dia mengambil sapu kemudian mulai membersihkan sisa-sisa debu bangunan. Di halaman rumahnya , tumbuh aneka pepohonan yang mereka sengaja tanam sebelum rumahnya berdiri, ada pohon pepaya, pohon kelor, cabai dan lain-lain. "Kapan mau kita tempati, Dek?" "Secepatnya, Mas! Aku gak betah lama-lama bertetangga sama janda bolong itu!" "Iya, kita nyicil beli kasur, lemari, karpet dulu, ya! Alat dapurnya kan masih ada di kosan." "Iya, Mas." Sari langsung semangat, seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka. "Rumahnya sudah jadi, ya, Mas!" "Iya, Buk." Jawab Fahmi. "Ekhm ... umik!" ujarnya. Sari menahan tawa kemudian mengangguk. "Oh, iya, Mik," jawab Fahmi. "Perkenalkan saya Bu Hajah Isnaeni, rumah saya itu yang ada gerbangnya, satu kampung sini mana ada yang nyaingin rumah saya!" "Oh, iya, Mik, apa lagi kita yang cuma buruh pabrik, mana bisa nyaingin umik," jawab Sari. "Kamu pasti tetangga yang baik, terbukti gak sombong walaupun gak punya apa-apa, gak kayak rumah ujung sana! Ngontrak saja sombong banget bawa mobil segala!" gerutunya sambil menunjuk rumah bercat hijau. "Maaf, ya, Mik, kami mau bersih-bersih dulu, nanti Umik kena debu lagi." Bu Is pergi dari rumah mereka. Sari mengelus dadanya, spontan dia dan suaminya terbahak. "Alamat ini, Dek!" "Kamu mikirin apa yang aku pikirkan juga?" "Iya! Bhahaha, kirain cuma di kos kita ketemu tetangga meresahkan bin ajaib, ternyata di sini juga ada bibit meresahkan," kata Fahmi. Keduanya tergelak kemudian mulai menyapu dan membersihkan semuanya. *** Hari berganti, Fahmi dan Sari resmi menempati rumah barunya, seluruh keluarga dari Malang hadir, mereka membuat syukuran kecil-kecilan, mengundang tetangga sekitar sebagai awal perkenalan. Setelah semua tamu pulang dan rumah bersih seperti sedia kala, mereka betistirahat menyusul putranya yang sedang bermain di dalam kamar. "Capek, ya, Mas!" "Iya, capek banget rasanya." Tok, tok, tok! "Assalamu'alaikum!" Sari buru-buru membukakan pintu untuk tamunya, betapa terkejutnya dia melihat tamu yang datang, ternyata Mita si janda bolong. "Hallo Mbak Sari, Mas Fahminya mana, kok sepi?" tanyanya sambil mendorong pintu dan dengan lancangnya langsung masuk ke dalam rumah. Fahmi buru-buru bangun dan tersenyum kecut, "eh, Mbak Mita, mari di ruang tamu saja!" "Rumahnya enak, ya! Adem!" "I-iya, Mbak." Cindy melompat-lompat di atas kasur dalam kamar depan, Sari buru-buru menurunkan Cindy. "Main di depan saja sama Aqil, gak sopan mainan di kamar!" Cindy menurut, dia menuang keranjang mainan Aqil. Sari menepuk kepalanya. "Eh, Cindy jangan dinaiki mobilnya, itu kecil, nanti penyet kalau kamu naikin!" tegur Sari. "Maklum, namanya juga anak kecil Mbak sar! Kayak gak pernah punya anak kecil saja!" Sari mendesah, Cindy dan Aqil mulai tidak kondusif, Mita dan Fahmi ngobrol sambil ngemil kacang goreng. "Kenapa, Cin?" teriak Mita. "Mau robot yang bisa jalan! Huwaaa!" Cindy menangis histeris. "Aqil, pinjami Cindy mainan, ya! Kasihan nangis, tuh!" "Enggak!" Aqil berlari masuk ke dalam kamar sambil memegang mainannya. "Mbak Sari bujuk, dong! Gimana saya pulangnya kalau Cindy nangis gini?!" "Mana saya tahu, Mbak, kamu kan mamanya, masak kalah sama anak?!" Kata Sari. "Maaf, ya, Mbak Mita, sudah malam, kami mau istirahat, capek banget soalnya." Kata Fahmi. Mita mengambil satu buah mainan Aqil kemudian tanpa permisi diberikan kepada Cindy. "Minta ini satu, ya, Mbak! Mumpung Aqilnya gak lihat!" kata Mita, dia mengambil bungkusan yang telah dipersiapkan oleh Sari sebelumnya kemudian ngibrit pulang. *** Sari menunggu tukang sayur, sambil menyapu halaman rumahnya yang tak luas itu, kata tetangga terdekatnya yang bernama Bu Irma, biasanya setiap jam tujuh pagi akan ada tukang sayur lewat, dan berhenti tepat di seberang jalan rumah mereka. "Belanja, Bu ...." Sari meletakkan sapu lidinya kemudian berjalan menuju seberang jalan. "Warga baru, ya, Bu?" "Iya, Bu," jawab Sari ramah. "Nama saya Tinah, tapi orang-orang manggil saya dengan sebutan emak." "Iya, Mak," jawab Sari sambil membolak-balik sayuran. Sari membeli setengah kilo sayap ayam, tempe, dan kerupuk, rencananya hari ini akan masak ayam kecap dan tempe goreng untuk menu hari ini. Sedang asik-asiknya memasak, Sari kaget sekali dengan kedatangan Bu Is, Sari sedikit sebal karena tanpa permisi Bu Is masuk ke dalam rumahnya. "Aromanya tercium sampai rumahku, lho! Masak apa kamu?" tanya Bu Is. "Bikin ayam kecap, Bu, eh, Mik." Bu Is mengambil sendok kemudian mencicipi ayam kecap masakan Sari. "Kurang sedep ini!" Dengan lancangnya Bu Is menuang penyedap rasa ke dalam masakan Sari. "Nah, ini baru TOP! saya minta satu, ya! Buat abah kasihan belum ada lauk untuk makan siang!" Bu Is mengambil piring dalam rak plastik milik Sari, dia mengambil beberapa potong sayap dan mencomot tempe goreng di atas meja kemudian berlalu pergi. "Lancang!" gerutu Sari. Dia mengunci pintu depan sekaligus pintu belakangnya, dia menatap ayam kecapnya yang kini terasa asin akibat kebanyakan penyedap rasa, terpaksa dia membumbuinya lagi agar sesuai dengan selera lidah keluarganya. *** "Eh, Aqil makan kok di luar?" Bu Is datang secara tiba-tiba. Sari mendesah, dengan senyum terpaksa dia berusaha beramah tamah dengan tetangganya agar tak dicap sebagai tetangga baru sombong. "Iya, Umik, soalnya susah sekali makannya, lagi sariawan." "Halah, kebiasaan itu! Cucuku empat orang gak ada yang manja, makan diam di dalam rumah, kalau kayak gini bikin repot mamanya, dong!" "Saya gak merasa direpotkan kok, Umik, sesekali tak masalah, dari pada dia gak makan apa-apa nanti yang ada sakit malah saya yang repot." Bu Is menatap tak suka pada Sari, karena baru kali ada seorang anak muda yang berani membantah ucapannya. "Belum saja! Nanti yang ada gedenya manja dan nakal!" ketusnya. Sari hanya mengelus dadanya kesal. *** Sari cemberut, sebab pohon pepaya yang baru saja berbuah untuk pertama kalinya hilang tak bersisa. Dengan menggerutu, dia membersihkan daun-daun kering yang berserakan. "Mbak Sari, pasti pepayanya hilang, ya?" "Iya, kok Bu Irma tahu?" tanya Sari. "Sudah menjadi rahasia umum, Bu! Yang jelas ada tangan panjang yang suka sekli memetik tumbuhan orang lain, jangankan pepaya, sayuran saya saja setiap hari habis dipetikin tetangga, sepertinya saya salah tempat tinggal," kata Bu Irma sambil tergelak. "Kalau mau tanam-tanam sia-sia dong, Bu? Siapa sih, yang iseng itu?" "Ya, begitulah, Bu Sari, nanti juga tahu sendiri," jawab Bu Irma. Tiba-tiba Bu Is datang menghampiri mereka, "Sar, aku numpang buang sampah, ya! Tempat sampahku penuh, nanti dikorek kucing lagi selain itu nanti menghalangi pemandangan, kalau di sini kan gak menghalangi pemandangan rumahku." Dengan terpaksa Sari menganggku, padahal Irma sudah memberi kode dengan cara menggelengkan kepala pelan. Setelah membuang sampahnya yang ternyata satu kresek besar, Bu Is meninggalkan keduanya. "Jangan sering-seting bilang iya, Mbak Sari! Dia itu uletnya kampung sini, semua orang sudah hapal, pokoknya lindungi harta benda, Mbak Sari jangan sampai dipinjam, nanti gak akan balik!" kata Bu Irma pelan. Sari mengangguk. *** Sari mendapat kiriman nasi kotak dari Bu Is, katanya, dia baru saja menikahkan anak bungsunya, yang bernama Mulyadi, dia adalah seorang duda tiga kali, dan kini menikah yang keempat kali dengan seorang janda. Sari tidak berpikiran macam-macam sampai akhirnya dia tahu bahwa Mita adalah istri barunya Mulyono. Sari bergidig ngeri, mertuanya seperti Bu Is, mendapatkan menantu seperti Mita yang sefrekuensi dengannya. Alamak, alamat hancur dunia pertetanggaan. "Tanteeee!" Cindy tiba-tiba nongol dari belakang Bu Is. "Heh, anak tuyul! Main ngintil saja! Pulang sana!" gertak Bu Is. Sari mengernyit, "sama cucunya kok galak sekali, Mik?" "Galak bukannya gak sayang, ya, Sar! Biar dia ngerti unggah-ungguh! Geram sekali aku, gimana mau dapat cucu kalau malam masih ndusel sama emaknya!" gerutunya. "Nikah masih beberapa hari saja, Mik, nanti juga jadi," jawab Sari. "Iya, ini nasi kotaknya kamu makan, ya! Jangan lupa amplopnya!" Sari melongo, "amplop?" "Iya! Walaupun gak dirayain gede-gede aku juga mau nerima amplop, dong!" katanya. Sari mengangguk, kemudian menuju kamar mengambil uang lima puluh ribu dan memasukkannya ke dalam amplop. Cindy sudah bergerilya membuka kulkas dan asik menggigit apel dengan susah payah karena giginya ompong. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN