Bab 8

1391 Kata
TETANGGA MERESAHKAN (8) "Bu Irma, tadi ngamplop berapa ke Umik?" "Dua puluh lima ribu, Bu Sari." "Segitu pantes, ya?" "Ini kampung, Bu, kondangan amplopnya segitu, kalau teman dekat beda lagi." "Saya salah dong ngamplop lima puluh ribu?" "Aduh, kenapa gak tanya-tanya dulu, lima puluh ribu cuma lauk telur doang, anak saya saja gak mau nyentuh, masakan apa itu hambar!" gerutu Bu Irma. Sari menggaruk tengkuk, dia juga merasakan apa yang Bu Irma rasakan menyesal luar biasa. Dalam hatinya, Sari berjanji tak akan diam saja setelah ini. "Eh, ibu-ibu lagi ngobrolin apa?" tanya Mita tiba-tiba. "Ngobrolin harga cabe yang meroket," jawab Bu Irma malas. "Oh, saya mau numpang ke kamar mandi dong, Mbak Sari, di rumah umik lagi mandi!" "Kamar mandinya masih macet!" Sari buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Bagaimana pun dia harus membuat pagar agar rumahnya aman dari jarahan tetangga meresahkannya itu. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak semata wayangnya, Sari juga sudah selesai mandi, dia menunggu suaminya pulang untuk membicarakan masalah pagar. "Mas Fahmi, ini ada lauk dari saya, lagi nyobain resep baru ternyata suami saya suka, kali aja Mas Fahmi juga suka!" Mita menyerahkan piring kepada Fahmi. "Oh, iya, terimakasih Mbak Mita." "Sama-sama, kok sepi kemana Mbak Sari?" "Gak tahu nih, tumben dikunci." Sari mengalihkan perhatian Aqil ke kamar belakang agar tidak sadar jika papanya di teras, bisa gagal acara persembunyiannya. "Saya temani, ya, Mas Fahmi ganteng!" "Eh, gak usah, Mbak Mita, saya mau ke rumah teman saja!" "Pak Fahmi mari mampir!" Pak Setyo suami Bu Irma memanggil atas suruhan Bu Irma. Fahmi tersenyum semangat. Mita mengekor di belakang Fahmi. "Eh, Bu Mita ngapain? Saya mau ngobrol rahasia bapak-bapak!" kata Fahmi. Mita nyengir, dan berlalu pulang. Bu Irma buru-buru menyuruh Fahmi pulang setelah Mita masuk ke dalam rumahnya. "Nih, dari Mita!" "Lho, ini kan piring aku, kok bisa dikasih nama besar gini pake cat?" Fahmi mengendikkan bahu. "Pokoknya kita harus pasang pager! Kalau bisa hari ini juga!" "Mana bisa, ya minimal besok, lah!" "Pokoknya lebih cepat lebih baik! Aku gak mau sembunyi terus di dalam rumah akibat tangan jahil mereka, Mas! Andaikan jual rumah kayak jual gorengan pasti sudah kulempar kembali rumah ini!" gerutu Sari. "Iya, aku telepon Bang Edo dulu, siapa tahu dia bisa bantu besok bikin pager dengan harga murah, jadinya batal dulu sofa ya?" "Iya, gak usah beli sofa juga gak papa dari pada makan hati setiap hari!" Fahmi mengangguk, dia menghubungi Bang Edo dan sepakat besok akan memulai pembuatan pagar. Sari bernapas lega, baru saja bersantai, Umik sudah berteriak-teriak. "Ya, ada apa, Mik?" "Mau ngambil piring!" "Lho itukan punya saya, kenapa dikasih nama gede pakai cat?" protes Sari. "Itu piring saya! Jangan ngaku-ngaku kamu!" "Lho, piring umik gimana, wong kemaren umik minta ayam kecap ke saya bawa piring itu, kok!" "Kamu pikir pabrik cuma bikin satu piring kayak punyamu gitu? Lagian piringmu sudah tak kembalikan yang nerima Aqil!" "Aqil masih tiga tahun mana bisa nerima piring?" "Mana saya tahu! Mana sekarang piringku!" gertaknya. Fahmi berdehem, Sari terpaksa memberikan piringnya kembali. "Sudah, ngalah saja, Ma! Piring satu saja, kok!" "Pokoknya aku gak ikhlas! Biar saja nanti di akhirat tak tagih!" "Huss!" *** Di depan rumah Sari ada slang yang biasa digunakan untuk mencuci motor dan menyiram tanaman. Sari dibuat geram karena tiba-tiba Umik mencuci karpet besar di teras rumah Sari pagi-pagi sekali. Coba bayangkan jika Aqil tiba-tiba keluar rumah dan berlari, pastilah dia akan terpeleset. "Kok nyuci karpet di sini, Mik?" tanya Sari dengan wajah tak suka. "Iya, numpang! Di rumah gak ada tempatnya, nanti biar aku gotongan sama Mita njemurnya. Numpang nyuci saja!" "Ya, tapi, kenapa nyucinya di teras atas gini, harusnya di bawah, di bagian semen jangan di lantai, kalau anak saya kepleset gimana?" "Buktinya gak kepleset to?" jawabnya sambil terus menggosok karpetnya. "Lain kali ijin dulu, Mik! Saya gak suka kalau begini!" Umik menghentikan aktifitasnya kemudian menatap tajam Sari, "jadi orang harus saling berbagi ke tetangga, kamu kayak gak butuh tetangga saja! Ini cuma numpang gak minta detergen juga!" "Setidaknya ijin dulu jangan main pakai apa-apa! Gak sopan!" "Kamu yang gak sopan sama orang tua kok bentak-bentak!" "Ada apa, Mik? Kok ribut-ribut?" Mulyono datang menghampiri mereka. Sari baru pertama kali melihat Mulyono. Dia berjalan ke arah Sari dengan mata merah dan wajah yang awut-awutan. "Ini pinjam teras saja gak boleh!" "Berapa biaya buat ganti air sama numpang tempat? Saya bayar!" katanya dengan mata melotot dan merah. Sari tidak menjawabnya dan buru-buru masuk ke dalam rumah. "Ada apa, sih, Ma?" "Bener-bener keluarga gak waras! Masak nyuci karpet pagi-pagi buta gini di teras kita? Ditegur bukannya minta maaf malah marah-marah!" "Sudah biarkan, biar aku yang bicara nanti!" "Jangan, kayaknya lagi mabuk Si Mulyono." "Aku ini orang waras, Ma, masak kalah sama orang mabuk?" ujar Fahmi terkekeh. "Bukan itu, cuma takut kalau ribut, malu sama tetangga." Fahmi mengalah, dia memilih tetap diam dan mengawasi dari jendela kamar, Umik nampak tidak terganggu dengan protes Sari, dia tetap menyikat karpetnya dengan santai. Mereka menunggu Umik mengepel kembali teras Sari tetapi nampaknya itu tidak akan terjadi, setelah selesai menggotong karpetnya Umik langsung pulang dan membiarkan busa-busa bekas sabun di teras Sari. Tanpa banyak kata, Sari menyirami terasnya dengan air kemudian dipelnya hingga kering. "Rajin amat jam enam sudah ngepel," kata Bu Irma. "Gimana gak rajin, saya kena musibah, subuh-subuh ada suara krek-krek ternyata tetangga depan rumah sedang asik nyikat karpet di teras saya, padahal di semen bawah juga bisa!" "Bu Is?" "Siapa lagi, Bu Irma!" "Astaghfirullah, bener-bener keterlaluan, pasang pagar aja Bu Sari biar aman kayak rumah saya!" "Iya, Bu Irma, rencananya hari ini ada orang ngukur pagar, semoga dia gak ngerecokin," kata Sari. "Bukan ngerecokin, yang ada pasti dia panas!" kata Bu Irma. *** Tiba-tiba Umik mengambil sapu dan menyapu rumahnya, Mita yang sedang asik main ponsel di teras heran, tumben-tumbenan mertuanya itu nyapu, ternyata Umik sedang mengintip mobil pick up yang mengukur halaman Sari. "Eh, Mit, itu Si Sari suaminya kerja apa, sih?" "Buruh pabrik kayaknya." "Itu ngukurin apa? Jangan-jangan mau pasang pagar lagi?" tanya Umik. Tubuhnya sampai doyong-doyong saking inginnya melihat tetangganya memasang pagar. Cindy berlari dari dalam rumah mengageti neneknya tanpa aba-aba. "Dooor!" Umik kaget bukan main, dia terlonjak hingga melompat ke dalam parit basah. Mita menahan tawa sambil menolong ibu mertuanya itu. "Anak demit! Kurang asem! Kuwalat kamu!" maki Umik. Cindy hanya terbahak melihat separuh kaki neneknya terendam lumpur. "Kenapa Mik?" teriak Bu Irma. "Sudah tahu nyebur got, masih tanya saja! Gak usah basa-basi!" ketusnya. Bu Irma tergelak. *** Sejak pindah di kampung, setiap sore banyak anak-anak bermain di teras Sari, ada Kei putri bungsu Bu Irma, Faiq putra Bu Fitri, dan Gio putra Bu Hana. Mereka semua masih tetangga dekat, semuanya berusia di atas Aqil, Aqil suka sekali bermain dengan mereka karena mereka ngalah dan ngemong. Sari pun bisa berbincang dengan para mama sambil mengawasi anak-anak bermain. Mita pun tak luput ikut bergabung dengan ibu-ibu lain serta membawa Cindy. "Mama pipis!" teriak Cindy sambil memegangi roknya. "Pipis di kamar mandi sana, Cin!" kata Sari. "Halah pipis di depan sana saja! Sini mama bukain celananya!" kata Mita. Cindy jongkok di pinggir got, Sari mengelus dadanya pelan, Cindy sudah lima tahun sepertinya sangat tidak pantas pipis sembarangan. "Mbak, malu atuh, masak udah besar suruh pipis di pinggir jalan, kalau ada orang kelainan yang suka nontonin kemaluan anak-anak gimana?" tegur Bu Fitri. "Halah, ini di kampung, Mbak! Mana ada yang kayak gitu, lumrah kalau di sini mah!" jawabnya. Ibu-ibu hanya saling pandang. "Eh, Cindy, cebok dulu itu ada slang!" tegur Bu Irma. "Gak usah!" jawabnya. Dia langsung menggunakan celana dalamnya, Sari langsung menutup pintu ruang tamunya. Dari pada najis kemana-mana batinnya. "Cindy ingusan jorok!" kata Kei. "Kei ...." tegur Bu Irma. "Iya, loh, Ma! Masak ingusnya kering di pipi gitu, jorok ih, jangan ditemenin!" kata Kei lagi. Keila berumur tujuh tahun, sudah kelas satu sekolah dasar, dia ikut bermain di teras rumah Sari karena suka sekali dengan Aqil yang lucu dan gemuk. "Apa kamu!" Cindy menjambak rambut Keila, Keila membalas hingga kunciran Cindy copot kemudian Cindy menangis meraung-raung. "Jangan nakal, dong, Kei!" tegur Mita. Keila bersembunyi di belakang mamanya, Mita mendelik ke arah Keila dan hendak pura-pura mencubitnya. "Gak usah begitu sama anak-anak, nanti kalau anak-anak takut sama kamu, anakmu gak ada temannya, kamu yang nelongso!" tegur Bu Fitri. "Gak punya temen juga biarin, bisa mainan sama mamanya dari pada banyak temen tapi dibikin nangis terus!" jawab Mita sambil menarik Cindy pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN