TETANGGA MERESAHKAN (9)
Sari senang sekali, akhirnya hari ini terpasang juga pagar rumahnya. Dia menyiapkan kudapan untuk tukang yang membantu membuatkan pagar. Umik mendekat ke arah rumah Sari.
"Pager kayak gini berapa per meternya, Le?"
"Tiga ratus lima puluh ribu Bu Haji!"
"Wah, murah, ya! Dulu punyaku itu saja sudah tujuh ratus, jaman sekarang bagus luarnya saja pagar ini tapi dalamnya kopong!" katanya. Bibirnya mencor-mencor melirik ke arah Sari yang pura-pura tidak mendengar percakapan mereka.
"Bang Edo, ini camilannya dimakan, ya! Saya tinggal ke dalam dulu," kata Sari ramah. Umik membuka kertas bungkus yang digunakan untuk menutupi kudapan tersebut. Ada kue basah dan gorengan. Umik mencomotnya dan memakan satu buah pastel.
"Kopinya cuma seiprit gini, to?" tanyanya dengan mulut penuh makanan.
"Itu sudah dibuatkan dua kali sama Mbak Sari, Mik!"
"Mleki dasar!"
"Biar tetap hangat, Mik, kalau bikin banyak-banyak keburu diringin kurang sedep!" jawab Sari sambil membawa buah semangka yang telah dipotong-potong. Warnanya merah merekah membuat umik menelan ludah, ditambah cuaca memang sedang terik-teriknya.
"Eh, ajaran siapa kopi dicampur sama semangka? Gak boleh! Nanti perang di lambung, banyak kasus orang makan semangka bareng kopi terus langsung mati! Mending semangkanya buat saya saja!" Tanpa menunggu jawaban dari Sari dia langsung membawa semangka itu, Sari mengekorinya, bukan dia hendak protes soal semangka yang dibawanya, melainkan dia ingin langsung mengambil piringnya agar tidak ditandai miliknya lagi.
"Piringnya saya bawa sekalian, Mik!"
"Nanti saja, biar dicuci dulu sama Mita."
"Gak usah, Mik! Saya cuci sendiri saja, buat piringnya tukang, piring saya sedikit soalnya."
Dengan berat hati umik memberikan piringnya. Cindy bersorak melihat semangka dan langsung melahapnya dengan rakus. Sari bergidig melihat ruang tamu yang acak-acakan, bantal penuh jamur, dan bau apek kelambu menyambut kedatangannya.
"Masuk Mbak Sar, Umik di dapur, nanti lupa lagi piringnya!" kata Mita. Dia sedang asik selonjoran di ruang tamu mengenakan pakaian yang sangat tidak pantas. Sari hanya tersenyum, dia sedikit berjinjit melewati lantai yang lengket akibat minuman tumpah yang telah mengering. Betapa kagetnya Sari melihat kondisi dapur mereka, semuanya berantakan, sampah di depan pintu dapur berserakan, seperti habis disapu namun tidak dibuang sekalian membuatnya berserakan kembali, cucian piring hingga aromanya tak sedap menggunung di bak tempat cucian piring. Kepala Sari pening seketika. Dia bergegas membawa pulang kembali piringnya.
"Ya Allah Gusti .... bener-bener keluarga demit, segitu banyaknya orang di rumah itu apakah tidak terganggu dengan bau menyengat itu?" gumamnya. Dia bergidig sambil berlari pulang, sebelum masuk rumah Sari mencuci kakinya dengan air mengalir dan sabun kemudian berganti pakaian sekalian.
"Eh, Edo, ini Si Sari bayar berapa kali?" tanya Umik lagi.
"Yo satu kali, lho, Bu Haji."
"Masa? Punya duit juga dia, ya! Kelihatannya kere!" kata Umik.
Sari hanya mencebik dari dalam rumah, diawasinya dengan mata seawas mungkin dari balik jendela agar tak ada yang diangkut oleh tetangganya pulang.
Cindy datang menyusul neneknya membawa boneka lusuh kesayangannya yang aromanya begitu menggugah selera untuk muntah.
"Mana Aqil, Nek?"
"Di dalam kali, masuk aja!" kata Umik.
Sari buru-buru menutup pintu kamar dan menyembunyikan mainan Aqil yang masih sehat, dari pada seperti yang sudah-sudah menjadi tumbal tangan jahil Cindy.
"Tante, mana Aqil?"
"Itu lagi nonton TV, main yang bagus, ya! Gak boleh bertengkar! Kalau bertengkar nanti tante suruh pulang!"
"Iya!" jawab Cindy. Dua menit duduk anteng menikmati serial kartun, Cindy sudah tak betah, dia melompat-lompat di atas kasur kemudian salto, Sari hanya menggeleng sambil mengawasinya, "kenapa gak sekalian kayang saja, sih, Cin!?" gumam Sari.
Hidung Cindy kembang kempis, Sari langsung menepuk kepalanya, "kecolongan ini!" gumamnya. Cindy membuka tudung saji dengan cara berjinjit dia mengambil dua buah sate untuk makan siang tukang membuat pagar.
"Sudah, ya, jangan ambil lagi, itu milik Pak Tukang, nanti bapaknya marah!" kata Sari sambil menutup tudung sajinya.
"Lagi!"
"Minta mama, sana! Atau minta nenek juga boleh, bilang minta sate, ya!" bujuk Sari.
"Gak mau, mau sekarang!" Cindy mengelap tangannya yang terkena bumbu sate ke daster Sari.
"Dasar anak demit!" kata Sari tangannya sudah siap hendak mencubit paha Cindy. Bocah itu menangis histeris.
Sari mendesah, dia sengaja membeli dua puluh tusuk sate untuk tiga orang yang bekerja, walaupun ada menu lain, tetapi dia ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang bekerja di rumahnya.
Ismi yang sudah janjian hendak datang hari itu terkejut mendengar tangis Cindy yang khas seperti suara sirine ambulance.
"Kenapa, Sar?"
"Minta sate terus, tuh! Aduh gimana udah mau makan siang tukangnya?!" Sari mulai panik.
Tiba-tiba Ismi pura-pura kesurupan, dia pura-pura menjadi banteng sambil merangkak, dia hendak menubruk Cindy. Cindy diam seketika, kakinya sampai bergetar, tangisnya berhenti, dia terkencing-kencing di celana saking takutnya melihat Ismi yang rambut panjangnya sudah awut-awutan. Sari menahan tawa, akhirnya mengantar Cindy pulang. Nando dan Aqil tak luput paniknya, dua balita itu berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Ismi menyemburkan tawa ketika ketiga tukang pagar masuk dan melihat atraksi aneh Ismi.
"Kesurupan, Mbak?"
"Kesarapan, Mas! Kalau gak pura-pura gini anak demit itu gak akan takut!" jawab Ismi sambil menahan malu.
"Maaf, Bang, saya pel dulu bekas ompolnya anak demit itu, ya! Nambahin kerjaan orang saja!" gerutu Sari.
"Emaknya gak marah-marah Sar?"
"Lagi gak ada, pergi sama mertuanya, yang di rumah cuma abah."
"Diem aja?"
"Iya, abah kan cuek."
***
Umik meminta antar Mita ke pasar, dia hendak membeli perhiasan untuk pergi ke arisan PKK nanti sore.
"Perhiasan Umik sudah banyak gitu, yakin mau beli lagi?" tanya Mita.
"Gak usah banyak tanya! Aku mau beli emas imitasi! Apa kata orang kalau Bu Haji Isnaeni polosan!"
Mereka langsung menuju sebuah toko Aksesoris yang mana terdapat gelang imitasi mulai yang betul-betul mirip emas asli hingga yang sama sekali tak mirip emas. Umik membeli gelang keroncong hingga sikut, kalung rantai kapal dan juga cincin dengan mata besar. Tak lupa dia membelikan Cindy kalung, gelang, dan juga cincin.
Setelah puas berbelanja, mereka pulang, Mita antusias memakaikan perhiasan di tubuh anaknya.
"Cin, main sana ke rumah Aqil, pamer baru dibelikan nenek perhiasan! Bilang gitu, ya!" pesan Mita. Cindy mengangguk riang.
"Tante, perhiasan Cindy baru dibelikan nenek!"
"Wah, bagus sekali, tapi, kalau Cindy sekalian mandi pasti lebih cantik!" puji Bu Irma.
"Enggak, ah!" jawabnya. Dia asik bermain dengan Keila dan Aqil, beberapa kali Cindy garuk-garuk lehernya karena gatal.
"Kamu kenapa, Cin?" tanya Sari.
"Gatel!"
"Ya, itu karena kamu jarang mandi! Mandi sana biar gak gatel lagi!" kata Sari. Cindy tidak menggubris ucapan mereka dia asik dengan mainannya.
"Kalian gak ikut PKK?" tanya Umik sambil beberapa kali menggoyang-goyangkan tangannya.
"Enggak, Mik, kita ada anak-anak nanti rewel lagi," jawab Bu Irma.
"Eh, lihat, deh, cincin baru saya! Bagus, ya! Ini berlian asli, lho!" katanya sambil menunjukkan cincin dengan mata sebesar biji salak.
"Masyaallah, bagus banget, Mik, kirain batu akik!" jawab Sari.
"Sembarangan ini berlian, kalau kalian gak pernah lihat ya, ini rupannya!" katanya lagi.
"Ya ampun, Bu Sari ada-ada saja, mana ada batu akik begitu modelnya, saya kira malah kolang-kaling." Bu Irma tergelak.
"Ih, kalian orang susah mana tahu barang bagus, karena sudah tercium tidak mampu! Yasudah, saya mau pergi dulu, Cindy, awas perhiasannya hilang!" pesannya.
"Iya, Nek!" jawab Cindy.
Sari tidak tega melihat leher Cindy yang memerah karena digaruk secara kasar, dia mengoleskan lotion gatal ke leger Cindy.
"Cin, ayo mandi!" Mita menyusul anaknya.
"Sebentar!"
"Mbak Mit, kayaknya Cindy alergi deh sama kalung emasnya, lehernya sampe nerah-merah begitu, saran saya lepas deh, nunggu baikan baru pakaikan lagi," kata Sari berhati-hati.
"Ih ... sirik aja! Orang anaknya nyaman-nyaman aja kenapa situ yang repot! Pasti situ mikir kalau kalung anak saya bukan emas, kan? Sok-sokan ngasih saran!"
"Cuma ngasih saran, aku gak nuduh kalung Cindy bukan emas, lagian emas atau bukan juga bukan urusan saya!" jawab Sari.
"Ciye ada yang gak bisa beli perhiasan terus sirik sama tetangga ciye!" kata Mita.
Sari hanya terkekeh, "mana ada saya sirik sama anak kecil, Mbak! Mau Cindy dipakaikan rante kapal juga suka-suka Mbak Mita, saya mah selow."
"Alah, sirik bilang, Bos!" Mita menarik Cindy pulang sambil terus mengejek Sari. Braaak! Tubuh Mita terpental, dia menabrak tiang pagar Sari yang setengah jadi. Saking malunya, Mita tidak menoleh ketika mendengar derai tawa Bu Irma dan Sari.
***