Bab 10

1392 Kata
TETANGGA MERESAHKAN (10) Pagi yang cerah, matahari mulai menampakkan sinarnya, udara segar pagi itu membuat Sari menghirup udara dengan rakus, hari ini dia begitu bahagia, selain suaminya libur, dia juga sedang bahagia karena pagar rumahnya telah selesai terpasang, Sari tersenyum senang melihatnya, ternyata berkat ulah usil keluarga demit itu, rumahnya bisa rapi juga karena terpaksa membuat pagar, dan pastinya akan lebih aman. Sari menyapu halaman sambil menunggu tukang sayur, dia bersenandung dengan riang gembira, Bu Irma keluar membawa ember, Sari menyapa Bu Irma yang sedang menjemur pakaian. "Rajin banget Bu Irma jam segini sudah selesai cuci baju?" "Keila nih kebangetan, masak ngompol semalam, jadi mamanya kerja dobel, deh! Aqil belum bangun Bu Sari?" "Sudah, Bu, lagi jalan pagi sama bapaknya," jawab Sari sambil tersenyum. Tak berapa lama, emak tukang sayur datang, Sari memilih tempe, tahu, jagung, dan bayam, hari ini dia berencana akan memasak sayur bening bayam dan jagung, kemudian tahu, tempe goreng dan sambal. Umik datang memilih sayuran. "Ya ampun, Mak ... ini timun kenapa kisut-kisut kayak sampean gini, sih?!" "Adanya yang begitu, Mik! Dua ribuan saja, walaupun kisut tapi masih muda itu timunnya." "Begini dua ribu? Ogah! Seribu!" "Gak boleh, Mik!" "Yasudah kalau gak boleh gak jadi!" Umik melemparkan kembali timunnya ke dalam keranjang sayur. "Mak, hitung punya saya, deh!" kata Sari. Umik tertawa melihat belanjaan Sari, "Sari, habis bikin pagar rumah langsung puasa, ya?" "Maksudnya?" tanya Sari. "Lha itu langsung makan lauk tahu tempe aja, pasti sudah kehabisan dana, kan?" "Kemarin saya pesen daging sama emak sekilo, masih ada di rumah, hari ini pingin yang seger-seger aja!" jawab Sari sambil berlalu. Bagi Sari tak penting meladeni ucapan Umik yang seperti biasa sangat menyebalkan itu. "Halah, timbang beli daging sekilo saja pamer! Kelihatan sekali kalau sombongnya natural, ya!" kata Umik sambil mencolek pinggang emak. "Mbak Sari baik, lho, Mik, gak pernah nawar belanjaan ke saya!" kata emak tukang sayur. "Belum tahu saja sampean, Mak! Dia masih cari muka sama warga sini! Sudah aku ambil tahu sama terongnya! Catat, ya!" kata Umik sambil berlalu. Emak mendesah, selalu saja berakhir dalam bon yang semakin hari semakin memanjang. Sari memasak sambil menunggu suaminya pulang, setelah semuanya siap, dia mencuci pakaian sekalian mandi. "Loh, Ma, itu di depan jemuran siapa?" tanya Fahmi. "Jemuran siapa, Pa? Punyaku belum tak jemur, ini masih di ember!" Sari menunjuk ember berwarna merah dengan isi pakaian basah. Sari berjalan ke depan, betapa terkejutnya dia melihat aneka pakaian dalam yang bentuknya sudah tak beraturan berjejer rapi di atas pagarnya. Sari berlari ke rumah Bu Irma hendak menanyakan siapa pelakunya. "Bu Ir, jemuran siapa di pagar saya?" "Siapa lagi yang punya jemuran jumbo kalau bukan milik Bu Hajah itu!" ujar Bu Irma. "Ya Allah, gimana ceritanya bisa berbaris di pagar saya, Bu? Mana bentuknya udah gak karuan, kalau orang lihat disangka punya saya, dong itu?" tanya Sari gusar. "Memang kurang seons keluarga itu, Mbak! Dulu pagar saya juga digituin lalu semenjak saya kasih tanaman sekarang sudah aman, walaupun bunganya habis dipetikin tapi gak papa, dari pada memalukan kayak gitu?!" Sari mengangguk, dia pulang kembali ke rumahnya, memikirkan cara bagaimana agar dia bisa mengusir penjajah dalam dunia pertetanggaan itu. Sari tersenyum senang, dia mengorek-ngorek sampah mencari sesuatu yang bisa dia bakar. "Saking lapernya sampai ngorek sampah, Mbak?" tanya Mita. "Berisik!" jawab Sari. "Masuk Cin, mama mau ngedate dulu sama papa, nanti pulangnya mama belikan cilok!" kata Mita sambil menurunkan Cindy. Dia dan suaminya berboncengan ke arah barat, Sari terkikik geli melihat Mulyono yang duduk mojok di jok depan sedangkan Mita nemplok memeluk suaminya, sisa jok di belakang padahal masih lega, kira-kira masih muat satu keluarga kucing. Hiburan dikala sedang mumet memikirkan cara membasmi tetangga demit. Cindy 'sentrap-sentrup' menyedot ingusnya kemudian mengelapnya dengan punggung tangan. Sari membiarkan bocah itu masuk ke dalam rumahnya, baginya untuk sekarang, Cindy tidak begitu membahayakan, justru dia harus segera bertindak demi harkat dan martabat rumah tangganya, tentu saja dia tidak ingin menjadi bahan gosip satu kampung menggenai BRA b***k yang penuh jamur, dan celana dalam yang berukuran jumbo. Dia membakar plastik dan sampah lain hingga asapnya mengepul tak karuan, sebelumnya, Sari sudah memberitahu Bu Irma agar menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan memindahkan jemurannya ke timur agar tak terkena asap. Sari bergegas masuk ke dalam rumah ketika melihat umik ngamuk-ngamuk sambil mengangkati jemurannya yang setengah kering. Dia menggedor pintu rumah Sari dengan penuh tenaga. "Sariiii! Kurang ajar kamu!" "Ada apa, Mik?" "Kamu itu gak waras, ya! Sudah tahu ada jemuranku di situ kenapa kamu malah bakar sampah, ha?" "Loh, Umik apa gak waras, sudah tahu itu pagar saya, kok seenaknya naruh jemuran di situ, ya, suka-suka dong saya mau bakar sampah, kek, mau nyiram tanaman, kek, toh tidak mengganggu wilayah rumah Umik, kan?!" "Dasar tetangga medit! Biar saja nanti kamu mati kuburanmu sempit!" "Doa yang baik, Mik! Biar kembali ke diri sendiri juga yang baik-baik!" "Ngajarin aku? Aku sudah naik haji kamu masih piyik! Berani-beraninya ngajari aku!" Sari hanya mencebik kemudian masuk ke dalam rumah. Fahmi terkikik dari balik jendela melihat pemandangan itu. "Kamu ngapain, Cin?" "Ngintip," jawabnya polos sambil ngemil tempe goreng. Fahmi dan Sari terbahak, mereka kemudian menyuruh Cindy untuk pulang, Sari tidak kuat mencium aroma tubuh Cindy yang pesing bercampur asam. "Cin, kamu pulang, gih, mamamu tadi katanya mau bawa cilok, tuh, nanti diminta sama Om Fahmi, lho!" "Cindy mau pulang, tapi Cindy mau es cream dulu!" "Tante gak punya es cream!" "Bohong! Bukain dulu tempat es creamnya!" Sari membuka kulkas dan menunjukkan bahwa di dalam kulkasnya tidak ada es cream. Sari terbelalak melihat leher Cindy yang mengelupas dan basah. "Leher kamu kenapa, Cin?" "Sakit, sudah dikasih obat sama mama, jadi Cindy gak boleh mandi." "Ya Allah, sampai mengelupas kayak gini, bisa infeksi, lho!" lirihnya. "Jangan ikut campur, Ma! Kok suka sekali ribut sama tetangga!" "Bukan begitu, ini sudah parah lukanya, Pa! Bisa infeksi, lho!" "Mamanya aja diam, kamu percuma juga ngasih tahu, gak akan mempan!" "Cin, Cindy!" Mulyono memanggil Cindy, dia nyelonong masuk ke dalam ruang tamu mereka, Sari menepuk kepalanya karena dia ceroboh lupa mengunci pagar. "Eh, Mas Mul," sapa Fahmi. Mulyono duduk di ruang tamu mereka, dia menyalakan rokoknya kemudian menaikkan satu kakinya, tanpa rasa bersalah dia membuang abu rokoknya sembarangan. Sari geram bukan main, karena karpetnya pasti bolong terkena cipratan abu rokok itu. "Kering, nih, tenggorokan! Gak ada kopi, Mi?" "Oh, iya, ada Mas, Ma, tolong bikinkan kopi, ya!" teriak Fahmi. Sari membuatkan kopi untuk mereka berdua, sebentar kemudian Mita masuk membawa gelas kosong. "Mbak Sari, minta gula dong!" katanya sambil menyodorkan gelas. Sari memberikan setengah gelas gula kepada Mita, katanya abah ingin membuat teh, namun gulanya habis. "Makasih, ya, Mbak Sar!" "Iya!" jawab Sari. *** Bu Irma sedang menyapu halaman, kebetulan Pak Setyo suaminya gemar berternak unggas, mereka mempunyai hewan ternak ayam, burung dan juga angsa. Kebetulan sekali ada tukang buah langganan ibu-ibu sedang lewat yang otomatis berhenti di depan rumah Bu Irma. "Bu Irma, buah?" tawarnya. "Ada salak, gak, Pak Mamad?" "Ada, Bu! Ini lagi murah juga salaknya, lima belas ribu tiga kilo!" "Mau dong, Pak!" Bu Irma memanggil tetangganya yang biasa membeli dagangan Pak Mamad, Bu Fitri membeli salak enam kilo untuk diantarnya ke rumah mertuanya. Umik tak ketinggalan, dia mencicipi semua buah dengan merata. "Berapa rambutan Pak Mad?" tanyanya. "Lima belas ribu dua kilo, Bu Haji," jawab Pak Mamad. "Asem gini lima belas ribu?" "Udah nyicipin banyak baru bilang asem, Bu, Bu!" kata Pak Mamad. "Banyak apa cuma dua gini, kok! Sepuluh ribu dua kilo!" "Tuh sampahnya!" Pak Mamad menunjuk sampah di bawah Umik. "Sepuluh ribu, ya!" "Belum boleh Bu Haji!" "Tau, nih, Umik bisanya nyela saja! Kalau mau beli nyicipnya satu cukup ini semua dicicipi kasihan Pak Mamad, dong!" kata Bu Irma. "Ikut campur saja kamu itu!" Umik memukul pagar Bu Irma yang tidak terkunci dia terjungkal atas ulahnya sendiri, dari dalam, ternyata Pak Setyo membersihkan kandang unggasnya, dan pintu kandang terbuka lebar, angsanya berhamburan keluar, ibu-ibu berlarian ke rumah masing-masing, Pak Mamad menancap gas pergi, sedangkan Umik masih berusaha berdiri, Bu Irma panik diserang angsanya sendiri, dia pun berlari pergi, angsa-angsa itu mengeroyok Umik, dia berteriak mengumpat, sambil berlari pulang ke rumahnya. Mulyono yang sedang ngobrol bersama Fahmi mengambil sapu lidi milik Sari dan menghajar satu ekor angsa hingga mati, tentu saja Bu Irma dan Pak Setyo diam saja melihat hal itu karena mereka sadar jika mereka bersalah atas tragedi itu. Mulyono ngamuk dan memukul-mukul pagar Bu Irma hingga gagang sapu yang dibawanya patah berkeping-keping. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN