TETANGGA MERESAHKAN (11)
Mulyono mengambil angsa yang telah mati itu kemudian membawanya pulang dengan wajah penuh amarah, Bu Irma mengira Mulyono akan menguburkan angsa tersebut, nyatanya, Mulyono merebus air dan mencelupkan bangkai angsa itu ke dalam kuali yang berukuran jumbo.
"Mas mau ngapain?" tanya Mita.
"Mau bikin angsa bumbu pedes!" jawabnya sambil memasukkan kayu ke dalam tungku.
"Buat apa, Mas?"
"Buat makan, lah! Nanti kita bagi tetangga baru kita di ujung itu!" katanya.
"Mbak Sari?"
"Bukan! Yang katamu ganteng kemaren!" jawabnya sinis.
"Oh, Om Yuda?" jawab Mita sambil terkikik.
"Kenapa tertawa? Kesenengan kamu dapat tetangga ganteng?!"
"Dia tetanggaku dulu di kosan. Jadi katanya, tiga serangkai itu beli tanah di sini dibagi bertiga, yang duluan nempati malah Mbak Sari padahal Yuda rumahnya lebih dulu jadi, kayaknya dia patah hati gitu, Mas, soalnya dia dulu suka sama aku dan aku milihnya kamu," kata Mita.
"Kenapa kamu gak milih dia, dia kan masih muda dan ganteng?"
"Aku lebih seneng sama duda tiga kali kayak kamu, lebih berpengalaman!" jawab Mita sambil gelendotan. Mulyono mesem-mesem.
"Aduh, Mul, kaki umik sakit semua."
"Kasih minyak telon, Mik! Tapi ada bagusnya juga umik disosor angsa, jadinya kita bisa makan angsa yang gemuk ini!" kata Mulyono.
"Iya juga, ya! Kapan lagi bisa makan daging angsa gratis!"
"Siapkan bumbunya, Mik!"
"Enak saja! Suruh istrimu itu siapkan bumbu, untuk apa aku punya mantu kalau masih harus kerja keras!"
Mita mendengkus sebal, dia membuka 'botekan' tempat menyimpan bumbu, dengan terpaksa.
"Apa yang mau disiapkan kalau gak ada bumbu sama sekali?" tanya Mita.
"Ya, beli, dong!"
"Uangnya?" Mita menengadahkan tangan.
"Minta sama suamimu!" bentak Umik.
Mulyono merogoh sakunya kemudian melemparkan uang dua puluh ribu.
"Cukup-cukupin!" katanya.
Mita tersenyum, dia berjalan ke depam rumah, kemudian menuju rumah Bu Irma untuk meminta segenggam bawang merah.
"Bu Irma, kata Umik saya disuruh minta bawang merah satu genggam!"
"Oh, iya, Mbak Mita, sebentar, ya!" kata Bu Irma. Mita duduk di ruang tamu Bu Irma dan membuka toples yang berjejer rapi di meja ruang tamu. Dengan lahap dia memakan rengginang sambil menunggu Bu Irma mengambil bawang merah. Mita mengantongi segenggam permen sebelum Bu Irma datang.
"Ini Mbak Mita," kata Bu Irma, dia melirik rontokan rengginang di sofa dan karpetnya dengan hati dongkol.
"Makasih, ya, Bu Irma, oh, ya, rengginangnya enak, saya bawa pulang, ya!" katanya sambil memeluk toples rengginang.
"Bo-leh," jawab Bu Irma terpaksa.
Mita tersenyum riang membawa toples itu keluar, Bu Irma berteriak meminta toplesnya dan buru-buru menggantinya dengan kresek bekas cabai, biar kepedasan sekalian.
"Lumayan dapat rengginang dan bawang merah, sekarang cari bawang putihnya dulu!" gumamnya. Mita meletakkan rengginang dan bawang merahnya di atas pagar milik Sari. Dia memanggil Sari berkali-kali.
"Mbak Sari," teriak Mita sambil menggoyang-goyangkan pagar.
Sari mendesah, siapa lagi pengganggu disiang bolong begini kalau bukan keluarga demit itu pikirnya. Sari membetulkan kuncirannya kemudian dengan malas membukakan pagar untuk tetangganya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Minta bawang putih segenggam, dong, Mbak!" katanya sambil nyengir.
"Tunggu!" jawab Sari.
"Eh, bukakan pagarnya dulu, di sini panas!" kata Mita. Sari membukakan pagarnya kemudian Mita duduk di teras rumah Sari sambil menunggu Sari. Dengan kekuatan sepuluh jari, dia memetik cabai dan kemangi yang tumbuh subur di halaman rumah Sari, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Nih, Mbak!" kata Sari.
"Makasih, Mbak Sari!"
"Ya!" jawab Sari. Dia buru-buru mengunci pagarnya, dan melanjutkan acara santainya. Mita mencari kresek tempat rengginang, ternyata kresek tersebut jatuh kemudian rengginangnya dimakan kucing.
"Husss! Kucing sialan!" gerutunya, dia memunguti sisa rengginangnya kemudian bergegas pulang. Dia memberikan rengginangnya kepada sang mertua.
"Rengginang siapa ini kok enak? Kerasa banget terasinya!" kata Umik. Dia lahap sekali memakan rengginang bekas kucing itu.
"Punya Bu Irma, Mik," jawab Mita.
"Mana bumbunya?" tanya Mulyono.
"Ini! Sebanyak ini aku bisa dapatkan hanya dengan nol rupiah!" kata Mita bangga.
"Oh, ya?"
"Iya, dong! Dua puluh ribunya bisa buat aku jajan!" katanya. Mendengar itu, tentu saja Umik keberatan.
"Enaknya jajan itu cuma di mulut! Gak usah jajan! Mending disimpan uangnya buat naik haji!"
Mita merengut sebal, Mulyono hanya melirik istrinya tanpa berani membela.
***
Umik bersiap-siap hendak pengajian bersama ibu-ibu lain, dia menggunakan abaya berwarna putih dengan lengan tiga per empat, full payet di bagian depannya, dipadukan dengan jilbab berwarna ungu terong, tak lupa, dia memakai perhiasan di kedua tangan, jari dan lehernya. Dia kemudian membawa tas kertas bekas tempat souvenir dari kondangan tetangga sebagai wadah untuk kipas dan dompetnya. Dia duduk di terasnya sambil menunggu Bu Yuni tetangganya untuk pengajian bersama.
Umik menghampiri rumah Yuda yang pintunya terbuka lebar, di sana ada Yuda, Boby, dan beberapa orang rekan kerja mereka.
"Eh, sudah ditempati?" tanya Umik.
"Sudah, Buk!" jawab Yuda sopan.
"Umik! Saya sudah pernah naik haji!" Umik menepuk dadanya sambil memperlihatkan gelangnya.
"Oh, iya maaf, Umik!" jawab Yuda.
"Gak ada acara makan-makan?" tanyanya lagi.
"Nanti, ya, Mik, kalau sudah resmi dihuni kita makan-makan," jawab Yuda sopan.
"Iya, kalau bisa nanti lauknya daging, atau minimal ayam, jangan telur terus, ya! Bosen!" katanya.
"Iya, Mik!" jawab Yuda.
Sari tidak tahu jika Umik berada di rumah Yuda, dia mengantarkan kopi untuk mereka atas suruhan Fahmi, kebetulan Fahmi sedang mandi sore, sebelum bergabung dengan kawan-kawannya.
"Waduh, kalung baru, Mik?" tanya Sari.
"Iya, dong! Dua puluh gram ini!" katanya bangga.
"Keren banget, Mik! Itu jarinya juga emas semua?" tanya Yuda.
"Jelas, dong! Lihat, gede-gede, kan? Ini namanya berlian, kayak punyanya artis-artis itu, punya mereka cuma seiprit sedangkan punyaku segede ini!" Umik memamerkan perhiasannya dengan antusias.
"Widih, pantes tangannya sampe LDR Jatim- Jabar gitu, ya! Saking gedenya!" seloroh Yuda.
"LDR itu makanan apa, Le?" tanya Umik.
"Umik gak tahu LDR?"
"Enggak, apa itu?"
"Vitamin biar tulang kuat, Mik!" jawab Yuda sekenanya. Sari terkikik geli, Yuda memang sekonyol itu, apa saja yang keluar dari mulutnya sangat menghibur. Jangankan berbicara, dia diam saja membuat orang tertawa.
***
Yuda membawa calon istrinya untuk melihat rumahnya, Yuda hendak menikah dengan seorang perempuan bernama Bela.
"Mas, kamu yakin rumahmu daerah sini?"
"Iya, kenapa, Dek?"
"Em ... enggak, kok," lirihnya.
Dalam hati, Bela berharap jangan sampai melewati rumah orang yang paling dibencinya, ternyata nasib baik tak berpihak pada Bela.
"Ayo masuk, Dek!"
"I-iya, Mas."
Bela mengucapkan salam kemudian masuk ke dalam rumah calon suaminya, dia gusar, matanya terus memandang rumah tetangga Yuda.
"Kamu kenapa, kok kayaknya gak nyaman gitu?"
"Hmm ... itu rumah Pak Mulyono bukan, ya?"
"Iya, kamu kenal dia?" tanya Yuda.
Bela mengangguk, dia menghela napas, "Pak Mulyono itu temannya Mas Afif, dulu dia pernah melamar aku, otomatis aku nolak, dong, dia kan sudah berumur, dan lagi saat itu belum resmi cerai dengan Mbak Rumi, tetanggaku, itu yang belakang rumah, ibunya Mas Mul marah-marah karena merasa direndahkan sampai nyumpahi aku mandul, mati ngenes, jadi perawan tua dan lain-lain, aku benci banget sama keluarga itu!" katanya berapi-api.
Yuda mengelus kepala calon istrinya, "udah gak usah dipikirin, nanti ada Sari yang akan nemenin kamu di sini, ada juga Ismi tapi rumah Ismi masih mandek," katanya sambil nyengir.
"Iya, Mas, lagian gak waras memang mereka itu, sekeluarga kurang seons semua. Masak iya aku harus ngeladeni orang gila."
Yuda terkekeh, tiba-tiba Umik menghampiri mereka.
"Eh, mau kumpul kebo, ya!" tunjuknya.
"Enak saja! Kalau kumpul kebo pintu saya tutup, Mik! Ngapain dibuka lebar gini, lagian saya gak suka kumpul kebo, saya lebih suka kumpul orang ... hutan!" jawab Yuda sambil menunjuk Umik.
Umik mendelik, "Eh, ternyata kamu, Bel? Ya ampun, nolak Mulyono dapatnya buruh pabrik?" tanyanya dengan nada meremehkan.
"Memang kenapa kalau cuma buruh pabrik, Mik?" tanya Yuda santai.
"Mana bisa memenuhi kebutuhan gadis matre ini!"
"Jangan sembarangan nuduh saya matre, Mik! Saya pernah minta apa sama Umik, kok bisa-bisanya bilang begitu!" ujar Bela.
"Sudah-sudah, jangan bikin ribut di sini, mending Umik pulang saja, masak-masak atau apa sana, Mik!"
"Eh, ngusir saya kamu!"
"Udah, ya, Mik, silahkan pulang, dari pada kesabaran saya habis," kata Yuda berusaha serius.
"Kamu kira saya takut? Saya bisa silat, kalau kesabaranmu habis ayo kelahi sama saya!" kata Umik sambil melingkap lengan dasternya.
"Saya juga bisa silat, kok, Mik!" kata Yuda.
"Silat apa kamu, ha? Sini lawan aku! Walaupun aku tua begini, tapi jago silat, kamu yang krempeng begitu, sekali tendang langsung lewat!"
"Silat lidah!" kata Yuda sambil mendorong Umik keluar dari pagar rumahnya, dia buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Umik mencak-mencak di depan rumah Yuda sambil memakinya di siang bolong hingga ngos-ngosan. Yuda dan Bela terkikik melihat pertunjukan orang ngamuk.
***