Bab 12

1527 Kata
TETANGGA MERESAHKAN (12) "Mak, minta kemanginya dikit!" kata Umik. "Beli, Mik! Satu ikat dua ribu saja!" jawab Emak. "Halah, dikit saja, lho! Buat wangi-wangian, aku lagi masak pecel terong, nih!" katanya. Pecel terong di daerah aslinya, Malang, adalah terong yang dibumbui dengan bawang putih, cabai dan kencur kemudian ditambahkan santan dan sedikit kemangi. "Gak bisa, Mik, nanti orang yang beli malah protes, soalnya kemanginya gundul," jawab Emak. Emak kesal sekali karena Umik suka usil meminta ini-itu, kadang daun jeruk, daun bawang, dan apa saja yang dibutuhkannya asal tidak keluar modal. "Halah, pelit amat!" Umik berlalu meninggalkan emak, dia berjalan ke rumah Sari, tangannya masuk ke dalam pagar kemudian memetik beberapa buah daun kemangi dan berlalu pulang. "Cindy, minta gula sama mamanya Aqil! Bilang disuruh Umik minta gula!" Umik memberikan gelas plastik kepada Cindy yang baru saja bangun tidur. Gadis kecil itu berjalan sambil mengucek matanya dan sesekali menguap, dia menutupi wajahnya dengan tangan karena silau dengan cahaya matahari. "Eh, Cindy, gaya bener kayak k*****t (kelelawar) pagi-pagi takut matahari," goda Yuda. "Om ganteng di sini?" tanya Cindy bersemangat, dia menabrak Yuda dan memeluknya erat, Yuda yang sedang berjemur kurang cepat menyelamatkan diri, akhirnya mereka berdua terjungkal masuk ke dalam got kering. "Hadoh, tiap kali ketemu awakmu, mesti aku apes! Dasar anak demit!" umpat Yuda menggunakan bahasa Jawa Timuran. Maklum, Yuda percampuran Jawa dan Betawi. "Lagi, Om lagi!" kata Cindy bersemangat. "Pinggang gue mau rontok, Lu malah mau lagi, Lu kira kita lagi akrobatik?! Sembarangan amat bocah!" Yuda bangun sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau copot. "Cindyyyyy dibilang suruh minta gula malah ngobrol!" teriak Umik sambil berkacak pinggang. Cindy berlari menuju rumah Sari, dia berteriak memanggil Sari sambil menggoyang-goyangkan pagar. Tek, tek, tek! "Tanteeeeeee, bukain pintu!" teriaknya sambil memanjat di sela-sela pagar. "Ya Ampun, pagi-pagi sudah berisik, siapa sih, Ma?" tanya Fahmi. "Suara cempreng dan melengking siapa lagi kalau bukan Cindy itu!" kata Sari sambil mematikan kompornya. "Apa sih, Cin, teriak-teriak?!" "Disuruh minta gula sama Umik!" katanya sambil menyodorkan gelas. "Tiap hari minta gula, kenapa gak beli sendiri saja, sih! Udah gak usah masuk, tante ambilkan dulu gulanya!" kata Sari dongkol. Sari tersenyum jahat, dia mengambil sesendok gula, dan dua sendok garam kemudian mengaduknya hingga tercampur rata dan memberikannya kepada Cindy. "Nih, bilang sama Umik, tadi Cindy ambil sendiri gulanya, gitu, ya!" pesan Sari. Cindy mengangguk dan berlalu pulang. "Lama banget timbang minta gula saja!" Umik sudah merebus air, dia hendak membuat kopi untuk abah yang sedang mengelus ayam-ayamnya. "Huwek! Kopi apa ini kok asin?!" Abah menyemburkan kopi yang baru saja disruputnya. "Masa?" tanya Umik sambil mencicipinya. "Cindy ...." teriaknya. "Ya, Nek?" "Siapa yang ambil gulanya tadi?" tanyanya. "Cindy," jawab bocah itu. Umik mencubit paha Cindy hingga dia menangis meraung-raung, Mita yang sedang tidur pulas langsung terbangun begitu mendengar suara tangisan Cindy. "Kenapa Umik cubit Cindy?" tanya Mita. "Anakmu bandel! Disuruh minta gula malah ambil sendiri garam!" "Ya, jangan nyalahin Cindy, dong! Memangnya kenapa gak Umik sendiri saja yang ambil, anak orang main cubit-cubit saja!" Mita berkacak pinggang. "Berani kamu sama mertua, ha?" Umik memukul kepala Mita menggunakan nampan yang dipegangnya. Abah hanya menggeleng melihat kelakuan dua wanita di depannya. "Pagi-pagi sudah ribut, gak malu sama tetangga kalian ini?" tanyanya santai sambil mengepulkan asap rokok. "Menantu kurang ajar begini mau didiemin, ngelunjak yang ada!" jawab Umik. "Dasar tua bangka!" gumam Mita. "Ngomong apa kamu?" "Enggak," jawab Mita sambil merangkul Cindy masuk ke dalam kamar. Untung saja Mulyono sedang tertidur pulas, kalau saja dia bangun pasti akan membela ibunya. *** Sari mendapatkan undangan untuk arisan PKK di kampung mereka. Dia bersiap-siap hendak datang tanpa mengajak Aqil, mumpung suaminya libur. Dia mengenakan gamis polos berwarna merah muda. Umik dan Mita tak ketinggalan, Mita mengenakan celana leging dan atasan crop top, sedangkan Umik menggunakan baju panjang dengan lengan kelelawar berwarna hitam dan jilbab instan putih, tak lupa emas permata imitasinya menghiasi leher dan tangannya. Sari hanya tersenyum melihat penampilan umik, apa lagi kalungnya berbandul gembok segede gaban. "Sar, kamu gak punya perhiasan?" tanya Umik?" "Enggak, Mik," jawab Sari. Sari menunggu Bu Irma yang sedang mengunci pintu, Mita kipas-kipas sambil menuntun Cindy. "Jadi wanita harus punya emas! Kalau gundul kayak kamu gini pasti akan dipandang remeh sama orang!" kata Umik. "Iya, Mik." jawab Sari sambil menggandeng Bu Irma. "Bu Sari, mamanya Cindy itu penampilannya kayak mau manggung, anaknya masak kumel begitu, kayak koran bekas gorengan," bisik Bu Irma. "Biar saja, Bu Ir, asal dia diam." Umik rupanya masih sebal dengan Yuda karena memacari Bela, dia mencebik ketika melihat Yuda mengeluarkan motornya. "Eh, ada Umik, mau kemana, Mik?" "PKK, ngapain tanya-tanya!" "Ya, cuma tanya aja, pantesan kok cantik." "Ya memang aku cantik, buktinya anakku ganteng, itu karena turunan dari aku! Tua-tua begini aku masih cantik, kalah nih, yang muda-muda!" katanya. "Iya, Umik memang terbuaik! Mana gamisnya hitam jilbabnya putih, mirip banget sama e*k cicak," seloroh Yuda sambil menancap gas, Umik mendelik sedangkan Sari dan Bu Irma menahan tawa. Mereka sampai di Balai Desa setempat, ibu-ibu sudah berkumpul semua, Sari berkenalan dengan tetangga-tetangga yang belum sempat bertemu. Mereka semua sangat ramah, Sari suka sekali dengan mereka. "Bu RT, bilang sama yang ngocok, Umik mau dapat duluan gitu, ya!" kata Umik. "Ya gak bisa dong, Mik, nanti gimana sama yang lain," jawab Bu RT. "Halah, bilang gitu saja! Semua pasti ngerti, Umik ini orang tua wajib didahulukan!" Bu RT hanya menggeleng sambil melenggang pergi. Mita asik selfie dengan berbagai pose, dia tidak mengawasi betul-betul putrinya yang asik bermain dengan teman sebayanya sambil melihat ikan di kolam hias Balai Desa. Cindy merebut jajanan milik teman seusianya, tentu saja anak itu tidak terima, mereka berkelahi dan berakhir nyemplung kolam berdua. Keduanya menangis, Umik dan orang tua si anak berlari menolong keduanya. "Gimana, sih, kok bisa nyemplung Yas?" tanya Mama Yasa. "Dia nakal! Dia ambil jajan Yasa!" jawab Yasa. "Eh, sembarangan! Cucuku di rumah penuh jajan mana mungkin merebut jajanan kamu! Ajari anakmu sopan santun biar gak asal tuduh keluarga Haji!" kata Umik. Mama Yasa hanya mengelus d**a kemudian membawa anaknya pulang. *** "Yud, Yuda ...." Umik berteriak memanggil Yuda. "Ya, Mik!" "Pasangkan gas milik Umik, abah dan Mul lagi pergi!" katanya dari balik pagar. "Ya!" Yuda berlari menyeberang jalan kemudian mangekori Umik masuk lewat pintu belakang. Yuda mengendus sesuatu beraroma kurang sedap, dia melirik ember bekas cat berukuran besar penuh dengan sampah basah yang menggunung, di dalam mulut tungku juga penuh dengan sampah plastik, dia menelan ludah melihat meja kayu penuh dengan kotoran minyak yang membeku dan kompor yang sangat-sangat kotor. Buru-buru dipasangnya gas dan berlalu pulang. Sebentar kemudian Umik mengantar makanan ke rumah Yuda sebagai tanda terimakasihnya. Yuda menerima dengan setengah hati. "Makan, ya! Itu enak sekali pokoknya!" "Iya, Mik, makasih," jawab Yuda. Yuda bergidig ngeri melihat masakan Umik yang nampaknya hampir basi, "ogah rugi banget ini orang, dirinya gak doyan malah dikasih ke tetangga," gumamnya. Dia memasukkan makanan itu ke dalam kresek hitam dan mengikatnya kuat kemudian dilempar di tempat sampah. "Apa itu, Yud?" tanya Fahmi. "Gue dikasih makanan sama tetangga, makanannya basi, gue lempar aja ke tong sampah, mau kasih kucing kasihan kucingnya nanti keracunan," jawabnya sambil terbahak. "Gila, makanan basi dikasih orang?" "Kalaupun baru gue juga ogah makannya, orangnya jorok." Yuda bergidig ngeri. Fahmi hanya terbahak sambil menyalakan rokok. *** Bu Irma mendengkus sebal, sendal jepitnya hilang untuk kesekian kalinya. "Nyari apa, Bu Irma?" sapa Sari. "Biasa, sendal jepit selalu hilang," katanya. "Kok bisa?" "Kerjaan siapa lagi kalau bukan nenek gayung itu, kesel aku tuh, kalau lupa nutup pagar selalu ada yang hilang." "Kok bisa kelupaan, Bu, lain kali hati-hati, ya." "Ayahnya anak-anak Bu Sari, seringnya lupa, kalau saya pasti saya gembok." "Sabar, ya, Bu ...." "Iya, Bu Sari, kayaknya kita harus mengibarkan bendera perang ini, sih! Aku sudah geram dengan mereka!" kata Bu Irma berapi-api. "Setuju! Saya kawal Bu Irma untuk menjadi kepala suku para ibu-ibu di kampung sini!" kata Sari antusias. "Baiklah, nanti kita rapatkan dulu, sekarang saya mau ke warung dulu menunaikan tugas negara!" kata Bu Irma. Sari tergelak kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sepanjang jalan Irma berpikir keras, apa yang akan dilakukannya kepada tetangga meresahkan itu hingga dia kapok dan tobat, tentu saja mereka harus main cantik agar tidak melanggar hukum. "Baru diomongin orangnya sudah ada di warung, oalah, apes!" gumam Bu Irma. Dari kejauhan nampak Umik sedang bergosip bersama nenek-nenek seumurannya. "Beli apa, Ir?" "Beli gula Bu Yanti, satu kilo sama minyak gorengnya dua liter," kata Bu Irma. "Eh, Ir, kamu tahu anak Pak Marsuki itu hamil gak ada bapaknya?" ujar Umik. "Jangan fitnah, Mik! Desti itu anak baik-baik mana mungkin hamil!" kata Bu Irma. "Kelihatan, dia lemas tak bertenaga, sering mual dan perutnya membesar, kalau gak hamil kenapa itu? Kamu kalau dikasih tahu orang gak pernah percaya!" kata Umik. "Mik, Desti itu masih kelas dua SMP, mana mungkin dia hamil! Sudah jangan ngada-ngada, ketahuan Pak Marsuki dihajar sampean!" Tanpa sepengetahuan mereka, Desti berdiri di belakang mereka, Bu Irma kikuk luar biasa, gadis itu berlari pulang ke rumahnya dengan air mata berderai. "Tuh, gara-gara sampean dia jadi nangis!" kata Irma. "Biar saja! Salah sendiri masih anak-anak sudah mainan burung!" jawabnya sambil menyedot es lilin. Bu Irma kesal bukan main, dia memilih pulang menghindari perdebatan dengan Umik. Bu Irma tidak mau berburuk sangka karena dia juga mempunyai anak gadis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN